Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh

Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh
74


__ADS_3

Rumah sakit,


Philip menatap Bella dengan tatapan kesal mengingat kejadian kemarin. Pria itu menaikkan lagi harga dirinya di depan sekretaris yang membuatnya mengalami hal ini. Dia menatap bella yang juga memberinya tatapan menantang sambil menggendong Hansel yang memeluknya dengan erat.


“ Pak dimana Cherry? Di ruangan mana, jangan menatap saya seperti itu, kan bapak juga yang salah,” ketus Bella sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menatap kesal ke arah Philip.


Philip memutar malas kedua bola matanya, jika tak ada Hansel disini, dia mungkin akan mengajak gadis itu berkelahi sekarang juga untuk membalas kejadian tadi pagi. Dia masih kesal dan marah dengan kelakuan Bella sampai dia sengaja tidak memberitahu gadis itu tentang posisi Cherry dan baru memberitahunya 30 menit yang lalu. Tak dia sangka kalau kedua gadis aneh itu akan datang secepat ini.


“ jangan mengajakku berdebat Bella, kau sekretarisku, setidaknya tunjukkan rasa hormatmu sedikit saja, kau ini bekerja untuk siapa sih?” kesal Philip. Kali ini kata katanya terdengar tajam dan dia terlihat dewasa apalagi saat dia mengusap usap punggung Hansel Kecil dengan lembut. Aura kebapakannya keluar begitu saja .


Bella mantap pria itu , tiba tiba saja jantungnya berdebar, sungguh aneh di saat seperti ini dia malah berdebar karena melihat kharisma Philip yang berbeda dari biasanya. Telinganya memerah dan dia menatap Philip dengan tatapan melongo. Alesha jelas tau apa yang terjadi pada Bella, dia geleng geleng kepala melihat Bella yang jelas menunjukan kalau dia berdebar melihat presdir yang selalu membuatnya pusing tujuh keliling itu.


“ heh jatuh cinta neng terus yang di persimpangan kafe kantor gimana? Yang di restoran A? Trus yang di kantor kementrian waktu itu? Pilih yang manah nih?” ucap Alesha tiba-tiba dan jelas di dengar oleh Phineas dan Philip. Kalau gadis itu sudah berubah sikap, dia akan terlihat sangat mengesalkan.


Bella terkejut, dia menatap Alesha, saking kenalnya dengan gadis itu, dia tau kalau Alesha sedang dalam suasana hati yang buruk karena perubahan sikap yang tiba tiba seperti saat ini.


“ Lesh lo gak apa apa kan?” tanya Bella yang malah mengalihkan pembicaraan.


“ nggak apa, selesaikan saja dulu!" ucap Alesha sambil melirik Philip yang menatap Bella sejak tadi.


“ ehh.. oh iya, pak dimana kamar Cherry , kalau bapak kasih tau saya gak akan ajak debat lagi deh, janji, saya akan jadi sekretaris yang baik dan penurut,” ucap Bella sambil menatap pria itu berusaha untuk menenangkan Pak Presdir yang akan segera mengamuk karena kejadian tadi.


“ walau Cuma sehari sih,” batin gadis itu.


“ Ruangan VVIP lantai 2, kamar nomor 20,” jawab Philip dengan singkat.


“ baik pak, kami pergi dulu,” ucap Bella sambil menatap Hansel yang ada dalam pangkuan Philip.


“ Ayo Sha, kita temui Cherry, gue udah kangen berat,” ucap Bella.


“ Yakin lo? Masa iya? Kayaknya lo baik baik aja deh selama Cherry gak bisa dihubungin, lo bisanya Cuma meracau aja pas lagi tidur dan marah marah gak jelas,” ucap Alesha tiba-tiba. Tatapan matanya semakin menunjukkan kalau dia sedang dalam suasana hati yang buruk. Bella terdiam sebentar menatap gadis itu, dia tau Alesha pasti sedang dalam masalah.

__ADS_1


“ Sha lo mabuk ya?” tanya Bella.


“ mabuk? Gue bukan lo Bel, udah ayo ketemu Cherry, dan...” Alesha menatap Phineas,” stop ngeliatin gue dengan tatapan itu, gue gak perlu dikasihani, urus diri lo sendiri,” ucap gadis itu sambil menatap Phineas dengan tatapan menantang.


“ hahahha... ayo ketemu malaikat gue.. aihh kangen banget sama Cherry, Cherry i’m coming...” racau gadis itu sambil berjalan dan menarik tangan Bella menuju ruangan yang disebutkan oleh Philip sebelumnya.


Philip dan Phineas menatap kedua gadis itu dengan tatapan heran terutama Alesha yang sangat berbeda dari yang terakhir mereka temui.


“ Nanas, kenapa tuh kembaran lo? Lagi pms ya? Kok aneh?” tanya Philip sambil menatap Phineas.


“ Ya mana kutahu Philip, lagian dia bukan kembaranku!!” ketus Phineas.


“ ahhh terus kenapa sikapmu pada Bella tadi, kupikir kau akan mengamuk pada gadis itu tadi, kenapa tak jadi marah? Kau bilang akan menghukumnya tapi lihat sikapmu tadi, kau jadi korban, “ ucap Phineas.


Philip menghela nafas, dia duduk sambil membawa Hansel di sekitar taman itu.


“ Aku masih butuh sekretaris loh, “ ucap Philip dengan gamblang.


“ lah kau jadi korban, dan dia malah marah marah padamu, kau ini bodoh atau gimana sih?” celetuk Phineas.


“ Jika bukan karena melindungi si cerewet itu, aku tidak akan mau terkena serangan sengatan tawon itu, cihh kurang baik apa coba aku sebagai seorang Presdir rela memberikan tubuhnya diserang oleh tawon biar sekretarinya yang bar bar gak terkena sengatan, aku baik kan? Tapi dia gak lihat itu sama sekali, kayaknya dia emang gak senang jadi bawahanku, huh.. terserah sih,” celetuk Philip.


“ Hahahahah drama apa ini? Presdir lolipop melindungi Sekretaris bar-barnya dari sengatan tawon hahhaa... kau bisa juga ya bikin drama,” ejek Phineas.


“ Ck... diamlah, kasihan kalau sekretarisku terkena sengatan tawon, gimana dia mau kerja coba, belum lagi urusan Cherry belum selesai, anak anak ini juga masih butuh pendamping, aku belum bisa kebali ke kantor, setidaknya Bella bisa handel si kantor, kalau kena sengat 'kan wajahnya yang kayak mak lampir itu jadi bendol bendol,” ucap Philip.


“ jangan terlalu sering mengejeknya, nanti jadi ada rasa,” ucap Phineas.


“ rasa apa? Rasa asin? Upilku yang asin,” celetuk Philip.


Pletak...

__ADS_1


“ dasar si dodol ini, berikan Hansel padaku, kau memberikan contoh yang buruk pada Hansel!"


“ Ehh jangan diambil, anak ayamku masih mau tidur,” tolak Philip.


“ Ck.. berikan padaku,” kesal Phineas.


“ Siapa kau...


Tanpa mereka sadari, Bella berdiri dengan tubuh membatu di belakang mereka dan menatap pria itu dengan tatapan tak percaya atas apa yang diucapkann oleh Philip barusan. Sebenarnya Bella kembali ke sana ingin memberikan salep bengkak yang dia bawa dari apotek tadi karena mengingat kebiasaan presdirnya yang kalau terluka pasti tidak akan langsung berobat, sudah jadi kebiasaan gadis itu menyiapkan segala hal yang berhubungan dengan Philip.


Hanya saja kata kata Philip tadi membuatnya sadar kalau dia sudah melakukan hal berlebihan , dan cara pria itu melindunginya dari serangan tawon sampai harus mengorbankan dirinya sendiri di kejar oleh kawanan tawon membuat Bella merasa bersalah meski masih mendengar ejekan dari bibir si presdir lolipop itu.


“ ya ampun, tak kusangka presdir ini masih punya hati nurani meski sedikit, aku jadi merasa bersalah atas kejadian tadi pagi..” gumam Bella sambil menepuk nepuk dadanya yang malah berdebar debar saat menatap punggung Philip dengan rambut warna warninya yang begitu nyentrik itu.


“ haihhh... “ gadis itu menghela nafas, cepat cepat di berjalan menghampiri mereka lalu meletakkan salep itu di tangan Philip,” dipakai pak, kalau sampai gak dipakai saya bolos kerja besok, itu bengkak bengkaknya udah seperti terkena tonjok orang, diobati supaya tidak semakin parah,” ucap Bella sambil memberikan salep itu di tangan Philip.


Philip melongo,” lah mak lampir datang dari mana dah? Tiba tiba aja nongol?” ucap Philip dengan tatapan heran.


“ dari mars pak, udah ahhh saya ke Cherry dulu, “ ucap gadis itu sambil permisi.


“ saya permisi pak, tuan,” ucapnya sambil menunduk hormat tak seperti biasanya.


“ heh.... kerasukan dia Nas,” ucap Philip sambil menunjuk Bella yang sudah beranjak dari sana.


“ kerasukan apanya, kau yang kerasukan,” ucap Phineas sambil mengambil Hansel dari pangkuan Philip dan pergi dari sana .


“ Ehhh mainan gue dodol..”


“ obati dulu wajahmu, kau terlihat seperti monster...” ucap Phineas.


.

__ADS_1


.


Like, vote dan komen


__ADS_2