Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh

Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh
288


__ADS_3

Xavier membawa ketiga anak itu ke dalam kamar di dekatnya, sepertinya itu kamar Esther terlihat dari banyaknya mainan yang diletakkan disana.


Bukan mainan mahal tetapi makanan buatan yang sepertinya dibuat oleh Aurel untuk putrinya.


" Nak, istirahat lah dulu, Papa akan bicara pada Mama Aurel," ucap Xavier dengan lembut sambil mengusap pucuk kepala anaknya.


Sebuah kecupan mendarat di kening gadis kecil itu begitu juga dengan dua anak ayam.


" Alvaro, jaga adik adikmu, kalian tidurlah," ucap Xavier.


" Baik paman," jawabnya.


Xavier beranjak dari sana, tetapi Esther menghentikan langkah kakinya dengan memeluk betis pria itu," Pa..." Lirih anak itu.Dia masih terpukul dan bersedih karena dibentak oleh Aurel.


" Ada nak?" Xavier berjongkok dan menatap Aurel.


" Jangan bertengkar dengan Mama, ini salah Esther, kasihan Mama selama ini menjaga Esther tapi dia malah diejek warga kampung, Esther nggak mau melihat Mama menangis diam diam lagi, Esther cuma mau Mama dan Papa bahagia," ucapnya sambil menangis sesenggukan.


Sekali lagi Xavier memeluk putri kecilnya dan menepuk kepalanya dengan lembut.


" Tenang sayang, Papa akan bicara baik-baik dengan ibumu," ucap Xavier.


Esther mengangguk lalau mempererat pelukannya pada Xavier.


Setelah itu, Xavier menutup pintu kamar dan memastikan anak-anak bersiap untuk tidur.


Dia keluar dari kamar itu dan....


Plakkkk...


Wajahnya dihadiahi tamparan keras dan renyah dari tangan Aurel yang sejak tadi berdiri dan memperhatikan tingkah Xavier di rumahnya.


" Tuan,"


"Beraninya kau nona!!" Senggak Daniel.


" Tenanglah Daniel, akan kuatasi sendiri!" Ucap pria itu sambil menatap kesal ke arah Aurel yang sembarang memukul wajahnya.


"Pergi!" Ucap Aurel dengan suara penuh penekanan.

__ADS_1


Dia menatap dengan tegas dan tajam tetapi jelas di mata Xavier, gadis itu tengah gemetaran.


"Kita bicara!!" Ucap Xavier sambil menarik tangan Aurel.


Tetapi dengan cepat gadis itu menepis tangan Xavier dan menatapnya lagi dengan tatapan tajam.


" Tidak ada yang perlu di bicarakan, pergi dari rumahku sekarang!!" Tegasnya lagi.


" Kalau aku tidak mau, kau mau apa Aurelia Amora Jovanka!??" Xavier mendekatkan tubuhnya dan menatap tajam gadis itu sambil mencengkram tangannya dengan kuat.


Aurel terdiam, sudah lama dia tidak mendengar seseorang menyebut nama lengkapnya bahkan sampai ke nama keluarganya.


Xavier menarik tangan gadis itu lalu masuk ke kamar lain di rumah itu, lebih tepatnya kamar Aurel.


Tanpa basa basi, Xavier menarik tangan Aurel dan masuk ke kamar itu.


“ Daniel, istirahatlah dan pastikan semua aman,” ucap Xavier sebelum dia menutup kamar itu .


“ Mau apa kau hah? Keluar dari sini,” bentak Aurel lagi sambil menatap Xavier yang mengunci pintu kamar .


Pria itu berbalik, tinggi badannya yang jauh berbeda dengan Aurel membuat dirinya semakin menunjukkan aura mendominasi. Dia menatap gadis itu, berjalan perlahan mendekati Aurel tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Aurel terdiam dengan tubuh gemetaran, tidak berani dia menatap mata pria yang menurutnya begitu menyeramkan dan membuat bulu kuduknya sampai merinding.


“ Ma.. mau apa kau...” ucapnya yang kini tersudut ke meja di samping tempat tidurnya. Dia menatap pria itu dengan tatapan takut dan kebingungan di saat yang sama.


Xavier berhenti di tempat, dia menatap Aurel, sudut wajahnya yang tadinya ditekuk kini berubah menjadi sendu.


Kedua bola mata berwarna cokelat itu terus menatap netra Aurel sembari tubuhnya perlahan lahan mendarat ke lantai dengan posisi lutut di bawah.


Xavier duduk berlutut di depan seorang gadis, untuk pertama kalinya seumur hidup pria itu.


“ A... apa yang sedang ka.. kau lakukan, ke.. kenapa kau melakukan hal ini padaku?” ucapnya gemetaran.


Xavier menengadah,” terima kasih dan maaf,” tiga kata itu keluar dari bibir sang letnan Jenderal yang dihormati semua orang.


Mendengar ucapan Xavier, tentu saja Aurel terkejut dan bingung,” Ka... kau kenapa? Ja.. jangan begini,” ucap Aurel. Siapa yang tidak kebingungan dengan sikap Xavier yang sangat mengejutkan ini.


Xavier menatap gadis itu,” maaf untuk kedatanganku yang tiba-tiba dan membuatmu ketakutan, tetapi aku datang kesini bukan mau mengambil Esther dari dirimu, tetapi untuk melindunginya,” jelas Xavier pelan” dan kau juga pastinya,” lanjutnya di dalam hati.

__ADS_1


“ Aku seorang ayah yang buruk, aku baru menemukannya setelah lima tahun usia gadis kecilku itu, terima kasih sudah merawat dan melimpahkan kasih sayang padanya sekalipun ibu kandungnya menjualnya padamu, aku berterimakasih dari lubuk hatiku yang paling dalam,” ucap Xavier dengan sungguh-sungguh.


Aurel terdiam sambil mengulum bibirnya, mengepalkan kedua tangannya dan menahan air matanya saat mendengar ucapan dari Xavier. Air mata kelegaan dengan fakta bahwa putrinya tidak akan diambil dari dirinya.


“ Ke.. kenapa kau mencarinya sekarang? Apa kau tahu yang dilakukan perempuan itu pada Esther? Dia.. dia tidak mengakui gadis kecilku bahkan memukulnya, Esther tumbuh tanpa tahu siapa ayahnya dan menerima begitu banyak hinaan, seharusnya yang dihina bukan dia tetapi kalian berdua, orangtua yang tidak bertanggung jawab,” ucap Aurel sambil menangis.


“ Esther, tumbuh dengan menyimpan luka hatinya, sekalipun dia tidak mengatakannya, aku tahu kalau dia bersedih hati, kenapa kau datang sekarang dan menghancurkan kebahagiaannya, jika orang kampung melihatmu maka entah apa lagi yang akan mereka katakan pada Esther, seisi kampung tidak boleh tahu siapa ibu Esther, jika mereka tahu, Esther mungkin akan diusir,” jelas Aurel dengan air mata bercucuran.


Mendengar itu tentu saja membuat Xavier terdiam, dia bukannya tidak tahu hal ini. Semua informasi tentang putrinya dan juga Perempuan yang mengasuh Esther sudah dia baca, sudah diberikan dengan lengkap oleh Grape.


Dia tahu bahwa bukan hanya Esther yang mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari orang-orang desa itu tetapi Aurel juga mendapatkan lebih banyak hinaan dan cacian dan dicap sebagai wanita tak bersuami.


“ Berdirilah, jangan duduk di sana,” ucap Surel.


“ Terima kasih,” balas pria itu sambil beranjak dan duduk di atas kursi ,” ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa ibu kandungnya meninggalkan Esther,” ucap Xavier.


Aurel terlihat ragu, cerita itu sudah lama berlalu, dia ingin menguburnya dan tidak ingin mengungkit kejadian kelam itu. Tetapi yang bertanya saat ini padanya adalah orang yang lebih berhak dari dirinya sekalipun dia sudah memiliki dokumen resmi adopsi gadis kecilnya.


Aurel duduk berhadapan dengan Xavier,” Dian tahu dirinya hamil, saat itu dia adalah teman baikku yang memilih merantau ke kota. Setelah setahun dia menemukan pekerjaan katanya, tapi tidak kusangka dia bekerja sebagai gadis bayaran,”


“ namun, disaat aku mengunjunginya di apartemen perempuan itu, dia menjual Esther kepadaku dan mengatakan kalau dia membenci anak hasil hubungan satu malam itu, dia ingin menyingkirkan Esther berkali-kali tetapi janinnya sangat kuat dan berhasil lahir dengan sehat, singkat cerita aku membawa Esther setelah mendapatkan persetujuan dari pengadilan serta dokumen resmi agar suatu hari nanti dia tidak bisa mengambil Esther dari diriku,”


“ Dia tidak menjelaskan siapa ayah Esther, dia bahkan tidak ingat dengan pria yang tidur dengannya malam itu, aku membawa Esther ke desa ini dan mengaku pada warga kalau kepergian yang kusengaja per lama adalah untuk melahirkan Esther,” jelasnya dengan singkat.


Xavier sebenarnya sudah tahu, tetapi dia ingin mendengar kejelasannya dari Aurel untuk menguji apakah gadis itu jujur atau tidak, dan hasilnya, Xavier tahu dia adalah perempuan baik yang jujur.


“ Jadi selama ini kau merawatnya dengan siapa? Bagaimana caramu membiayai hidup kalian?”


“ Aku bekerja serabutan, bertani, membuka warung , menulis novel dan banyak yang bisa kukerjakan karena aku merencanakan pendidikan yang baik untuk Esther, sebentar lagi dia akan masuk sekolah, aku berencana pindah dari desa ini, uangku sudah lumayan, rumah ini akan kusewakan juga penginapannya akan dikelola Bi Yuni, setidaknya itu adalah rencanaku untuk saat ini,” jelasnya .


Xavier menghela nafas,” Apa Dian yang mengusulkanmu keluar dari desa ini? Apa dia mengiming-imingkan rumah murah dan uang tunjangan untuk Esther? Lihat aku dan jawab yang jujur,” ucap Xavier.


Aurel tersentak kaget, bagaimana bisa Xavier mengetahui hal itu, dia bahkan tidak mengatakannya pada siapa pun, hanya dia yang tahu hal itu. Tetapi kenapa Xavier bisa tahu semuanya?


“ Jawab aku...”


.


.

__ADS_1


.


Like, vote dan komen


__ADS_2