
Beberapa hari telah berlalu sejak kejadian yang menimpa Alesha. Keadaan gadis itu kini sudah membaik. Tubuhnya sudah bisa digerakkan dengan sempurna dan lebih berisi sejak hari dia dibawa dari rumah sakit.
Perawatan yang diberikan membuat gadis itu cepat pulih. Di dalam ruangan kamarnya, Alesha duduk sambil menatap ponselnya yang diambil oleh Phineas dari rumah bibinya secara diam diam. Gadis itu membuka pesan yang dikirim oleh sahabat - sahabatnya.Selama pemulihan dia hanya bisa membalas pesan mereka dan berlaku seolah tak terjadi apa apa.
Dia juga tak ingin ketiga sahabatnya khawatir. Sebelum kondisinya benar benar pulih, dia tak akan menunjukkan diri ke hadapan Cherry dan yang lain. Phineas juga setuju dengan ha tersebut.
Gadis itu membuka pesan pesan kamar yang dikirim oleh sahabat -sahabatnya. Banyak cerita yang telah mereka ukir bersama. Tawa, kesedihan dan perjalanan yang beragam telah mereka lalui. Dia juga sangat senang saat mendapati kabar kalau Sarah sudah kembali. Jujur saja dia ingin menemui temannya itu tetapi harus dia tahan sampai kondisinya benar benar baik.
Sambil duduk di bibir ranjang, gadis itu mengusap benda pipih itu seraya tersenyum. Dia hanya mengenakan kaos polos berwarna hijau pastel dan celana senada. Kepalanya di tutupi dengan topi kupluk untuk menjaganya tetap hangat.
Seutas senyuman kecil tergambar di wajah yang mulai kemerahan itu.
"Aku merindukan mereka..." ucapnya sambil menyapa foto foto kebersamaan mereka. Cherry, Sarah dan Bella rutin mengirim pesan kepadanya setiap hari. Mengirim foto kebersamaan mereka dan memberitahukan kalau mereka merindukan Alesha.
Saat gadis itu sedang asik menatap ponselnya, tiba-tiba seseorang masuk diam diam ke dalam kamar gadis itu. Pintu di buka pelan sekali sampai Alesha tidak sadar kalau ada seorang perempuan yang masuk sambil mengendap-endap ke dalam kamarnya.
"Siapa dia?" pikir perempuan itu sambil menatap Alesha dengan tatapan penasaran. Sambil merunduk, dia berjalan mendekati Alesha. Rambut panjangnya tergerai begitu saja, wajahnya yang sudah mulai keriput tak sesuai dengan tingkahnya yang seperti anak anak.Dia adalah Nyonya Dalton yang tanpa sepengetahuan seisi rumah itu keluar dari kamar tanpa pengawasan.
Nyonya Dalton terus berjalan sambil menatap Alesha dengan mata berbinar-binar.Rasa penasarannya semakin besar. Belum lagi melihat wajah cantik dan berseri gadis di hadapannya membuat hatinya berbunga-bunga. Sejak didiagnosis mengalami gangguan jiwa,nyonya Dalton mengalami mood swing sangat ekstrim. Terkadang dia bisa sangat bahagia dan mengingat kedua putranya. Ada kalanya dia menangis seperti orang gila dan menghancurkan segala sesuatu yang ada di depannya. Ada kalanya dia mengamuk dan marah bahkan sampai mengancam keselamatan orang lain. Terkadang dia hanya duduk diam di dalam kamar mendiang Rara sambil menatap kosong foto putrinya. Dan ada kalanya dia kembali normal meski tiga tahun belakangan tak pernah kembali normal.
Wanita itu berjalan tanpa melihat apa yang ada di depan hingga...
Brukk....
Nyonya Dalton terjauh karena tersandung meja kecil saking fokusnya melihat Alesha dengan rasa penasaran yang besar.
" Akhhhr..... sakit!! sakit !! sakit!!!" teriak wanita itu sambil menangis kesakitan mengusap usap kakinya yang terbentur sudut meja dan lantai.
Alesha tersentak kaget saat mendengar suara terjatuh dan teriakan kesakitan. Spontan dia meletakkan ponselnya dan mencabut selang infus dari pergelangan tangannya sampai membuat pergelangan gadis itu berdarah karena terlalu panik saat melihat seorang wanita paruh baya terjatuh di dalam ruangan itu.
" Ya ampun ibu... ibu baik baik saja!??" Alesha langsung merangkul dan memeriksa kondisi nyonya Dalton seraya menatap bagian tubuh mana saja yang terluka.
__ADS_1
"Hiks hiks hiks... ini sakit... huwaaaaa... sakit... kaki sakit... meja jahat!!!" teriak wanita itu. Nyonya Dalton merengek kesakitan seperti anak kecil sambil mengusap usap kakinya yang terlihat memar.
Melihat tingkah nyonya Dalton, Alesha sebenarnya cukup terkejut. Bagaimana bisa seorang wanita paruh baya memiliki sifat seperti itu. Kekanakan dan cengeng seperti anak kecil.
" Ada apa dengan ibu ini?" pikir Alesha yang sebentar terlihat bengong dengan kelakuan nyonya Dalton.
"Sakit!!! Sakit!! sakit!!!" pekik wanita itu lagi sambil meronta-ronta seperti orang kesetanan.Dia malah menarik penutup kepala Alesha dan tampaklah kepala Alesha yang tak memiliki rambut dan terdapat beberapa bekas luka yang masih diplester.
"Hahahhaha... botak hahhaha.... gadis botak, ada alien disini ahhahaha... kenapa kau botak seperti bakso ikan hahahha... gadis bakso hahahhaha.... jelek jelek jelek!!!! huawahahahaha....." Melihat kepa Alesha, nyonya Dalton tertawa terbahak-bahak melupakan rasa sakit di kakinya.
Dia mengejek gadis itu sampai membuat Alesha berkecil hati. Nyonya Dalton tertawa cekikikan sambil bertepuk tangan. Air mata yang keluar bukan lagi air mata karena kesakitan tetapi karena tak bisa menahan tawa melihat wajah Alesha yang aneh.
" Hahahahha.... Alien...ada alien kepala bakso hahhaha... alien kepala bakso! Alien kepala bakso! Alien kepala bakso hahahhaha....." celoteh nyonya Dalton seraya bertepuk tangan dan menyentuh kepala Alesha dengan pelan.
" Kepala bakso!" celeyuk wanita itu sambil mencolek kepala Alesha.
Melihat kelakuan nyonya Dalton, Alesha terdiam dengan wajah murung.
" Tenang Lesha, kan emang kamu botak, kepala bakso? mirip sih hahahaha....tenang Lesha tenang, sepertinya ibu ini pasien gangguan jiwa,mari kita hadapi dengan tenang, dia bisa saja mengamuk kapan pun!" batin gadis itu.
" Heh... apa ini akan berhasil!?" pikir Alesha.
Mendengar sebutan Alesha membuat nyonya Dalton terdiam sejenak dengan jarinya yang masih menyentuh kepala botak Alesha.
" Mi!??" ucap wanita itu sambil mengangkat rambutnya yang bergelombang.
" Keriput!?" ucapnya sambil beranjak menuju cermin.
Dia terdiam menatap wajahnya yang mulai berkeriput lalu menoleh ke arah Alesha dengan wajah cemberut. Melihat itu Alesha berdiri perlahan lahan sambil menyentuh kepala botak nya.
" Alien kepala bakso," Alesha menunjuk kepalanya ," Mi keriput!" ucapnya sambil menunjuk nyonya Dalton.
__ADS_1
" Alien kepala bakso!??" Nyonya Dalton mengikuti ucapan Alesha," Mi keriput!?" celetuk wanita itu.
" Hahahah..... kepala bakso, mi keriput hahhahaha.... Mi keriput Kepala bakso!!!" wajah nyonya Dalton langsung berubah bahagia. Dia terlihat senang dengan sebutan itu.
Sambil melompat lompat wanita itu mengelilingi kamar itu, tertawa dan berteriak seperti anak kecil yang sedang bermain di taman bermain.
Alesha tersenyum geli melihat tingkah nyonya Dalton. Dia dan Cherry pernah menghadapi orang orang seperti nyonya Dalton, pendekatan pada mereka sangat sulit dilakukan, tergantung seberapa parah gangguan yang dialami pasien.
Menjadi sukarelawan di sebuah pondok penyandang disable dan penampung pasien seperti nyonya Dalton memberikan pengalaman yang luar biasa bagi kedua gadis itu.
" Ayo menari!!!" seru nyonya Dalton sambil menarik tangan Alesha membawa gadis itu melompat lompat bersamanya. Alesha tertarik, dia belum bisa bergerak sebebas itu, tetapi nyonya Dalton tidak tau risikonya dan malah memaksa gadis itu untuk melompat bersama sama.
Tiba-tiba pandangan Alesha kabur,semuanya terlihat semakin gelap dan kepalanya terasa berat hingga...
Brukk...
Gadis itu terjatuh dan kehilangan kesadarannya karena terlalu banyak mendapat goncangan.
" Alien kepala bakso mati!!! mati!? tidak... jangan mati arrhhhhkkkk mati !?? jangan mati!!!!!!"
drap... drap... drap...
langkah kaki yang begitu cepat terdengar menaiki tangga menuju lantai dua.
Brakkk....
Pintu dibuka dengan kasar, tampak Phineas berlari dengan wajah panik memasuki kamar itu," Apa yang Mom lakukan!!!!"
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 🤗