
Seisi rumah sakit sedang bersuka cita dengan kelahiran dua pasang anak dari rahim yang berbeda. Bian dan Azura dikaruniai anak laki-laki sedangkan Asraf dan Helena dikaruniai anak perempuan yang cantik dan menggemaskan.
Mereka semua berkumpul di depan ruangan bayi menatap dua mahluk kecil menggemaskan yang baru saja lahir ke dunia dalam kondisi sehat.
Di ruangan Azura, Bian tampak setia mendampingi Istrinya, dia terus menggenggam tangan Azura sejak wanita itu masuk ke dalam ruang persalinan. Tidak sedetik pun Bian meninggalkan istrinya, dia menemani wanita itu dengan setia.
Bian menunjukkan dukungan besar bahkan rasa terimakasih yang begitu besar pada istri yang sangat dia cintai karena telah mengandung dan melahirkan putra pertama mereka.
Bian tampak lebih tenang, sebelumnya dia banyak menangis karena melihat perjuangan istrinya melahirkan dengan cara normal, sangat menyakitkan dan bertarung dengan nyawanya sendiri.
Namun alam mendukung mereka, baik bayi dan ibunya dalam keadaan selamat.
Air mata Bian tak terbendung, ayah dan Ibu mertuanya juga mendampingi mereka disana, terharu melihat perjuangan pasangan muda itu.
Bian terus mendampingi Azura, membuat Azura tidak merasa kesepian bahkan setelah putra mereka lahir, Bian tetap mendampingi Istrinya.
Jika suasana haru terlihat di ruangan Azura maka Di ruangan Helena kedua orangtua Helena juga mertuanya malah dibuat tergelak dengan Asraf yang menangis tersedu-sedu setelah bangun dari pingsannya saat menyaksikan istrinya melahirkan dan mengeluarkan banyak darah.
Ketika Helena melakukan dorongan pertamanya, Asraf langsung jatuh pingsan tak kuasa melihat istrinya. Dia malah menyalahkan dirinya yang membuat Helena hamil dan harus berjuang bertaruh nyawa demi melahirkan putri mereka.
Di depan ranjang Helena, Asraf menangis sambil memeluk lengan istrinya. Para orangtua hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan bapak satu anak itu.
" Sayang itu pasti sakit kan!? hiks hiks hiks... ini semua salahku harusnya aku tidak menghamili kamu...." rengek pria itu. Di depan koleganya dia seperti singa liar yang mengaum dan siap memangsa buruannya tetapi di depan istrinya dia seperti anak kucing yang merengek di samping ibunya.
Para orangtua tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Asraf, ini memang momen pertama mereka setelah menanti buah hati mereka tapi tak mereka sangka justru Asraf pria dingin dan datar itu malah menangis seperti anak kecil.
"Sayang nggak apa-apa, kamu kok jadi cengeng sih, putri kita saja tidak menangis, dia akan tertawa melihat Papanya menangis seperti ini," ucap Helena sambil mengusap wajah suaminya.
Jujur saja, Helena sadar kalau Asraf memang orang yang sangat mudah tersentuh hatinya. Sekalipun orang lain mengatakan kalau dia pria dingin, seram dan gila kerja, bagi Helena pria itu adalah pria tampan yang sangat lembut dan baik hati, selalu memperhatikannya dan membuatnya merasakan kasih sayang tak pernah dia dapatkan, kasih sayang yang berbeda.
"Aku hanya terharu sayang, terimakasih banyak ... aku bangga jadi suami kamu, aku bangga jadi ayah putri kita," ucap Asraf sambil mengecup kening istrinya.
Momen ini akan dikenang selamanya. Cherry dan Grape menatap mereka semua dengan mata berkaca-kaca, terharu melihat perjuangan kedua wanita yang telah menjadi ibu bagi mahluk menggemaskan yang sedang diajak bercanda oleh Philip dan gengnya.
__ADS_1
Grape memeluk istrinya dar belakang, menaruh tangannya di atas perut istrinya," Semoga kamu dan bayi kita sehat sampai proses melahirkan sayang, aku jadi sedikit khawatir saat melihat mereka tadi," ucap Grape.
Cherry tersenyum, dia mengusap tangan suaminya," Seorang ibu akan berjuang untuk anak mereka sekalipun bertarung dengan nyawa. Itu harkat kamu dan kebanggaan kami sebagai seorang wanita, sekalipun nyawa kami mungkin akan melayang tetapi kebahagiaan kami sebagai seorang ibu yang mengandung anak adalah ketika anak itu berhasil lahir dengan selamat ke dunia ini," jelas Cherry.
" Jadi, kalau nanti saat aku melahirkan terjadi sesuatu, kamu harus siap sayang," ucap Cherry. Sontak Grape terkejut mendengar ucapan istrinya, dia membalik tubuh Cherry dan menatapnya dengan nanar.
" Tidak, tidak akan terjadi apa apa padamu, aku tidak bisa menerima keadaan kalau kamu tidak selamat, aku juga bisa mati!!" ucapnya dengan wajah panik.
Dari sisi ini, Cherry bisa mengetahui kalau suaminya sangat mencintai dirinya," iya sayang kan aku bilang kalau, aku juga tidak mau mati secepat itu tetapi semua ada di tangan sang Pencipta," ucapnya.
" Ahhh jangan membicarakan kematian sekarang, aku tidak suka, tidak akan terjadi apa-apa pada kamu maupun putri kita!!" ucap Grape sambil mendekap istrinya dalam pelukan.
" Putri kita!? dia masih sebesar kacang polong, darimana kamu tau dia seorang putri!?" tanya Cherry.
" Aku tau sayang, aku tau semuanya, dia akan jadi seorang putri yang hebat, cantik dan mirip denganku hahahahha..." ucap Grape sambil tertawa bahagia.
" Kok mirip kamu, ya mirip akulah sayang, kan aku yang hamil," ucap Cherry sambil menyerngitkan keningnya.
Pukk...
" Dasar bapak-bapak mesum kamu!!;" celetuk Cherry.
" Wajar sayang, aku punya istri secantik kamu gimana gak mesum coba, iya kan Mommy!?" bisik Grape seraya mengecup telinga Cherry. Sontak jantung Cherry berdebar kencang, matanya membulat sempurna, bisa bisanya Grape menggodanya di rumah sakit seperti ini.
" Sayang ihhh maluuu...." gerutu Cherry dengan wajah yang memerah seperti keping rebus dan itu adalah hak yang paling disukai oleh Grape.
"Hahahahhaha maaf sayang, nanti deh aku godain lagi, Mommy cantik banget kalau lagi tersipu malu," Goda pria itu lagi.
Kemesraan kedua insan ini tentu tak luput dari perhatian sahabat- sahabatnya. Elton tengah menggandeng tangan kekasihnya, menatap Cherry dan Grape yang saling menggoda," Sayang aku mau kita menikah secepatnya, aku iri dengan mereka!!" celetuk Elton tiba-tiba.
Rania terkekeh," Iya iya kita nikah deh, emangnya urusan kamu udah selesai semua hmm? aku kan nunggu kamu sayang," balas Rania sambil menyandarkan kepalanya di bahu Elton.
Elton terdiam sejenak, dia menggenggam tangan kekasihnya dengan erat dan Rania paham perubahan emosi kekasihnya," Apa masih belum selesai?" tanya Rania dengan lembut.
__ADS_1
Elton berbalik dan menatap pacarnya," Sudah, semua sudah berakhir, Alchemis akan dipulihkan keluarga Hong sudah dibereskan, tapi aku takut kalau aku harus pergi selama sebulan ke London, masalah dengan keluarga Paman terkait warisan dan keturunan keluarga sangat mendesak, apa yang harus kulakukan Ran..."ucap pria itu dengan wajah lelah.
Rania menepuk bahu kekasihnya, dia paham beban besar yang ada dalam hati pria itu, sebenarnya Rania juga tak ingin berlama-lama tapi Elton masih harus mengurus beberapa masalah internal keluarga Alchemis.
" Tak apa, aku akan menunggu," ucap Rania sambil tersenyum.
Elton memeluk kekasihnya, dia memeluk Rania dengan penuh cinta,"Tak perlu menunggu sayang, kita menikah saja, persetan dengan orang-orang itu, aku tidak mau berlama-lama!!" ucap Elton.
" Tapi urusan kamu...
" Kamu lebih penting,Selian itu aku mau menutup mulut rekan kerjamu yang selalu bergosip ria dan mengatai kamu, lihat saja akan kuhajar mereka nanti, beraninya mengatai kekasihku dipermainkan laki-laki!!" kesal Elton..
" E..El.. dari mana ka..kamu tau?" Mata Rania membulat.
" Tentu aku tau sayang, aku tau semuanya, sekalipun kamu diamkan aku akan tetap tau karena semua tentang kamu adalah bagian dari diriku," ucapnya.
" Jangan khawatirkan apa pun, kita akan menikah, akan kutampar mereka dengan pernikahan megah dan besar, cih.. dipermainkan!? mereka yang dipermainkan nasib!!! dasar orang sinting, berani mengganggu kesayanganku..." ucapnya lagi.
Rania terdiam dia menatap Elton air matanya mengalir begitu saja, dia banyak ditanyai soal hubungan nya dengan Elton bahkan beberapa mengatakan kalau dia hanya dijadikan mainan dan Elton akan meninggalkan dokter gila kerja seperti dirinya.
"yang .. Rania? kenapa menangis!??"
Rania menggelengkan kepalanya dia memeluk Elton sambil menangis haru," Aku sayang kamu, sangat menyayangimu..." lirih gadis itu.
Elton tersenyum, " aku juga Ran... aku sangat sayang padamu...
.
.
.
like, vote dan komen
__ADS_1