
Pertempuran itu selesai namun mereka belum menyelesaikan semuanya sampai ke akar-akarnya. Makcik Nyonyo dan anak buahnya pergi begitu saja dari area pertempuran setelah beberapa orang memergoki mereka. Hari sudah gelap dan Cherry pasti khawatir, itulah satu-satunya yang mereka pikirkan saat bertarung.
Grape dan Philip berangkat menuju rumah Grape sedangkan Elton mengemudikan motornya menuju rumah sakit calon istrinya untuk mendapatkan perawatan disana, dia ingin melakukan sesuatu di rumah sakit.
Philip sendiri tak suka diobati di rumah sakit, dia akan membawa dokter pribadinya dan tidur di lantai atas agar Cherry tak melihat penampilan buruknya.
Grape tiba di rumah, dia mengendalikan kursi rodanya dan masuk ke ruang bawah tanah. Membasuh tangan, wajah dan kakinya setelah dari luar lalu masuk perlahan ke dalam kamarnya.
Pria itu mengintip Cherry dan anak-anak yang sudah terlelap. Cherry memeluk keduanya dengan begitu erat. Segurat senyuman tergambar jelas di wajah pria itu. Hatinya sedikit lega melihat istri dan anak-anaknya sudah tidur dengan lelap.
Perlahan dia mendorong kursi rodanya lalu membuka tongkat yang tersambung ke kursi rodanya. Dia berdiri dengan perlahan. Pria itu melangkahkan kakinya dengan lancar. Rasa sakit yang semakin lama semakin memudar membuatnya berjalan dengan mudah.
"Aku harus segera sembuh, demi anak-anak dan istri ku, aku yakin wanita sialan itu tidak akan berhenti sampai dia berhasil mengusik aku," batin Grape yang mengingat pesan yang dikirimkan oleh Zio padanya.
Pria itu berjalan dengan tenang mendekati anak-anak dan istrinya. Dia melepaskan tongkatnya dan berdiri dengan kokoh.
Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh mereka bertiga. Cuaca cukup dingin bahkan Grape sendiri juga merasa dingin.
Cup... Cup... Cup...
Dikecupnya satu persatu manusia yang sangat dia sayangi itu. Keluarga yang membuatnya paha arti cinta yang sebenarnya, keluarga yang membuat harinya menjadi penuh dengan warna. Seketika dia mengingat kejadian yang menimpa Alesha tadi.
Grape dan sahabatnya sudah sepakat untuk merahasiakan hal ini sementara waktu dari para gadis hanya sampai keadaan Alesha sedikit pulih dan dia mendapatkan suaranya kembali.
Grape tak ingin mereka panik terlebih istrinya yang sudah jelas dia ketahui tempramen nya sangat brutal dan nekat.
Pria itu menghela nafas, dia berbaring di samping Hansel, tempat tidur yang besar dan luas itu cukup nyaman untuk digunakan tidur berempat.
Dia memeluk mereka sambil memejamkan matanya," Selamat malam keluargaku sayang," gumam pria itu.
Hansel yang merasa seseorang memeluknya dari belakang langsung berbalik dan memeluk Pria itu seolah tau kalau dia adalah Daddynya," Selamat malam Daddy, ancel sayang Daddy and Mom!" gumam anak itu sambil mengisap jempolnya saat terlelap.
Malam Grape ditemani dengan senyuman kebahagiaan karena keluarganya.
__ADS_1
Sementara itu Phineas membawa Alesha ke tempat yang aman.Gadis itu trauma dengan rumah sakit, satu satunya tempat teraman bagi gadis itu adalah rumah utama keluarga Dalton dimana selama ini Phineas dan saudara angkatnya Elton tumbuh bersama.
Grape sudah menyiapkan tenaga medis di rumah Dalton. Sesuai permintaan Grape, Alesha akan tinggal disana sampai gadis itu pulih.Dan untuk pertama kalinya, Phineas tidak menolak seorang gadis sembarangan masuk ke rumahnya.
Phineas yang di kawal ketat oleh para penjaga keluar dari dalam mobilnya dan menggendong Alesha yang tertidur di dalam mobil. Dia mengangkat gadis itu dengan pelan agar tidak membangunkannya.
Phineas menatap rumah yang selalu dia kunjungi setiap hari. Rumah dimana Ibu dan Ayahnya tinggal dengan penjagaan ketat. Rumah yang selalu membawa nya pada memori kelam kematian sang adik perempuan yang sangat dia cintai.
"Tak kusangka aku akan membawa seorang gadis ke rumah ini, kupikir perempuan pertama yang kubawa adalah Cherry, nyatanya gadis ini jadi yang pertama," gumam Phineas sambil menatap rumah itu dengan tatapan haru. Rasanya memorinya kembali berputar kala sang adik masih hidup.
" Hai kak Phineas, udah punya pacar belum, hahaha....
"Kak ini lihat cocok kakak pakai, ayo pasang bandananya kita kembaran!!"
"Kak... Si Doli gigit sendal Rara Huwaa....."
"Kak Phineas, ayo jalan yuk"
"Kak Phineas Rara lapar...."
"Kak Phineas kesini yuk hahhahaha... kakak tampan ihhh kakak jelek, jangan malas makan kak, makan sama Rara, Rara sayang kakak,"
Seketika ingatan dan suara gadis cantik itu berkeliaran dengan sesukanya di kepala Phineas. Tanpa sadar pria itu menitikkan air matanya. Dia masih belum terima dengan kematian adiknya. Dia masih belum bisa melepaskan kepergian Rara.
"Rara... Kakak kangen sayang... kakak ijin bawa gadis ini ya, dia sedang terluka," batin Phineas.
Pria itu berjalan dengan cepat memasuki rumah, air matanya mengering begitu saja. Rumah itu masih sama seperti sejak terakhir adiknya tinggal disana, rumah itu masih dalam kondisi seperti 12 tahun lalu.
Tim medis sudah menunggu kedatangan Phineas dan Alesha di dalam rumah itu. Segera Alesha ditangani oleh tim medis begitu juga dengan peluru yang bersarang di punggung Phineas.
"Tangani dia dengan baik, pastikan dia sudah membaik besok!" titah Phineas seraya melirik Alesha yang sedang diperiksa oleh tim medis.
Para medis memeriksa dengan teliti. Karena kedua orang tua Phineas tinggal di rumah besar itu, dia dan Elton menyiapkan 'rumah sakit' pribadi dengan fasilitas lengkap dan para medis yang siap dipanggil Kapan pun dibutuhkan.
__ADS_1
Ibunya Phineas mengalami depresi berat dan sering melamun setelah kejadian besar itu dan sudah bertahun-tahun tak bisa bertingkah layaknya orang normal. Ayahnya juga jadi pendiam dan hanya berbicara jika butuh sesuatu. Perusahaan dilanjutkan oleh sepupu Phineas atas ijin pria itu dan Phineas sampai saat ini masih hidup dalam dendam kematian adiknya itu.
Petugas medis begitu terkejut saat melakukan Scan menyeluruh pada Alesha. Mereka tak percaya dengan apa yang baru saja mereka temukan.
"Tuan muda Dalton kami menemukan sesuatu yang mengejutkan!" ucap dokter yang menangani Alesha.
Phineas terkejut, dia sudah selesai diperban dan diberi jahitan pada lukanya. Pria itu bangkit dari brankar lalu mendekati dokter itu dengan wajah penasaran.
"Ada apa!?" tanya nya dengan wajah datar.
"Nona ini... Hanya memiliki satu ginjal, dia juga pernah melakukan transplantasi hati, pencangkokan hati yang dilakukan dengan memotong sebagian hati kalau mendonorkannya pada orang lain, dan bagian ini...." dokter itu menunjuk bagian ginjal Alesha yang terlihat seolah utuh.
"Bukankah ada dua?" tanya Phineas.
"Sekilas memang terlihat seperti itu, tetapi jika diperbesar maka akan jelas tampak kalau itu hanya kasa yang dibentuk menyerupai ginjal, tidak terhubung dengan kandung kemih, dan bekas jahitan operasi masih baru," ucapnya sambil menunjukkan bagian perut bawah Alesha yang dibedah.
"Lalu bagian ini," dia menunjukkan luka lebam di bagian bawah dada kanan Alesha, luka yang masih belum kering," Tampak cedera akibat benturan benda keras, mungkin dipukul atau terjatuh!" jelasnya lagi
Phineas benar-benar tidak menyangka dengan apa yang terjadi pada gadis malang itu. Sejak Awal dia sudah curiga kalau Alesha sedang mengalami sesuatu. Termasuk ketika dia sering memegangi bagian pinggangnya sebulan terakhir mereka bertemu.
"Jadi wanita bau jengkol itu bermain main dengan nyawa orang lain!? dasar manusia jahanam!" umpat Phineas.
Kesal, marah, khawatir dan kasihan memenuhi hati pria itu saat ini. Seorang gadis tak berdaya yang selalu ditekan dan dipaksa sampai membuat kepribadiannya menjadi tertutup seperti ini.
"Temukan pengobatan terbaik dan Carikan donor untuknya, lakukan apa pun untuk mengembalikan gadis ini seperti orang normal! ingat ini, aku tidak ingin ada cacat sedikitpun!" tegas Phineas sambil menatap para medis yang berdiri di hadapannya.
Mereka menenggak saliva masing-masing secara kasar saat melihat tatapan mengerikan dari pria itu.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 🤗