
Elton dengan setia duduk di samping brankar Rania, kabar mengejutkan tentang kondisi Rania terpaksa diberitahu oleh Grape dan Cherry sekalipun tau resikonya.
Elton sudah pingsan sebanyak tiga kali dan bolak balik di beri bantuan oksigen karena gangguan kecemasan saat melihat Rania berbaring di atas brankar..
Hati kecil Elton ingin berteriak, trauma yang dia miliki dan dia bawa sejak dia kecil menyebabkan dirinya sangat mudah takut. Apalagi jika sebuah kejadian tak mengenakkan terjadi pada anggota keluarganya.
Elton duduk dengan selang oksigen yang terpasang di hidungnya, dia menggenggam tangan Rania sambil menangis. Mungkin bagi sebagian orang, akan terllau berlebihan jika seorang pria menangis, tapi tidak ada gengsi bagi Elton untuk menunjukkan perasaannya pada mereka.
" Sayang bangun.... kau menyembunyikan semua ini karena memikirkan aku, tapi kau jadi sakit lagi kan? sayang... please bangunlah.... ini sudah terlalu lama, " lirih Elton.
Tangannya yang kekar berkali kali mengusap wajah cantik dan indah milik Rania.
Di saat yang sama, setelah tidur selama 3 hari, Rania membuka matanya.
Jelas telinganya mendengar suara pria itu, suara sang kekasih yang sangat dia rindukan suara Elton yang takut tak akan dia dengar lagu karena dia diserang penyakit ini.
" El... ton..... Sa..sayang...." Suaranya parau, terdengar lirih.
Mendengar suara Rania, Elton terkejut," Sayang kamu bangun, hiks hiks hiks... akhirnya kamu bangun... Dokter.... siapa pun , Rania sudah bangun!!!!" teriak Elton.
" Bagaimana keadaanmu? apa yang sakit? butuh sesuatu... ayo minum dulu, kau pasti lapar kan???" Dengan penuh semangat Elton membantu Rania, memberinya minum dan memeriksa tubuh gadis itu.
Netra hitam milik Rania menangkap wajah sang kekasih hati. Bulir air mata tak kuasa dia tahan, air matanya jatuh begitu saja kala melihat sang pujaan hati begitu panik di sampingnya.
" Maaf ...." Satu kata yang keluar dari bibir Rania, berhasil menghentikan kepanikan Elton. Padahal pria itu juga tidak dalam kondisi yang baik.
Tangan Rania dengan lembut menggenggam tangan Elton, menatapnya dengan tatapan haru.
Elton mengulum bibirnya, dia berhenti.
" Rania..... " Elton menangis, kesekian kalinya dia menangis di depan kekasihnya, langsung saja pria itu memeluk Rania, sama halnya dengan Rania, dia memeluk erat pria yang sangat dia cintai.
" Hiks hiks hiks....... Maafkan aku.... aku tidak bermaksud membuatmu khawatir Elton, aku tidak ingin membuatmu panik, makanya ini terjadi, maafkan aku.... aku takut kau sakit dan sekarang apa yang aku takutkan terjadi, kau sakit karena melihat kondisiku seperti ini," Rania langsung menjelaskan semuanya pada Elton.
Sepasang kekasih yang saling merindukan itu berpelukan dengan erat. Sedang Cherry dan Grape menatap mere dari luar kamar rumah sakit.
" Aku sempat khawatir hubungan mereka tidak akan membaik, tapi keduanya saling memahami, ini cukup melegakan," ujar Cherry.
__ADS_1
Grape memeluk istrinya dan mengusap perut Cherry yang mulai mengalami perubahan bentuk," Kau benar sayang, syukurlah, pengobatan Kak Rania akan aku urus dengan baik," balas pria itu.
Rania dirawat dengan intensif di rumah sakit dengan dampingan penuh dari Elton dan yang lainnya.
Seluruh anggota keluarga akan mengusahakan pengobatan terbaik bagi Rania. Bian dan Grape terutama, saudara kandung Rania tentu saja khawatir dengan keadaan kakak perempuan mereka.
Gadis yang sejak dia muda sudah berjuang sendirian menghidupi dan menuntun kedua adiknya. Menjaga Grape dan Bian dengan segenap hatinya, masakan dia harus menderita seperti saat ini.
Apa pun akan mereka lakukan agar Rania kembali sehat. Bagi Grape dan Bian, berita itu adalah tamparan keras bagi keduanya. Seolah alam hendak mengatakan agar mereka menjaga kakak perempuan mereka dan memastikan gadis itu bahagia.
Grape menghubungi siapa pun yang bisa dia hubungi, Bian mencari dokter dokter terbaik untuk pemulihan kakak perempuannya.
Kekeluargaan mereka yang erat sekalipun tidak seibu dan sebapa, mereka tunjukkan melalui dukungan yang besar bagi anggota mereka yang mengalami musibah.
Mulai dari kejadian yang menimpa Cherry, Alesha, Bella, Sarah, Philip, bahkan sampai Rania, mereka memberikan dukungan besar bagi keluarga mereka.
Selama seminggu lebih Rania menjalani perawatan intensif di rumah sakit, selama itu juga rekan rekannya bolak balik luar negeri untuk menemui gadis itu.
Terapi dan operasi dilakukan ,hasilnya menunjukkan perubahan yang positif terlihat dari berat badan Rania yang berangsur-angsur pulih.
Sama dengan Alesha gadis itu sudah kembali sehat, namun harus berhati-hati dalam beraktivitas.
Jelas kedua orang ini sangat dekat jika dilihat dari kejauhan. Sepasang mata tampak mengawasi mereka, tentu saja ada api cemburu, tapi dia tau pekerjaan kekasihnya tentu melibatkan banyak pria lain yang bahkan sudah mengenal Sarah lebih dari yang dia ketahui tentang gadis itu.
"Kapan kita akan berangkat?" tanya Sarah.
" Besok, tim kita akan membantu pasukan Australia dan USA di perbatasan Amerika Selatan, sebaiknya kau katakan pada mereka," jelas Xavier.
Sarah menghela nafas, rasanya sedikit kecewa karena dia harus meninggalkan keluarganya di sini, tapi tugas tetap harus dijalankan dan dia harus menurut.
" Baik, aku akan bicara dengan mereka," balas gadis itu menurut.
Di saat yang sama Dante menghampiri mereka, wajah segar, rambut biru dan netra biru tua itu kelihatan sangat mempesona.
Saat seluruh anggota keluarga tau hubungan Dante dengan Alchemis mereka sangat terkejut, pasalnya selama ini Dante tidak bicara.
Tetapi Elton,sama sekali tidak terkejut, sebab sejak awal dia sudah tau siapa saja keturunan asli dan keturunan Campuran Alchemis, tentu saja dia mengawasi mereka semua setelah kejadian pembantaian itu.
__ADS_1
Elton membiarkan Dante menutupi identitasnya Kren pria itu memilihnya, sebab keluarga Alchemis diberi kebebasan untuk menyembunyikan identitasnya baik untuk sementara maupun selamanya.
"Sarah, ada apa? tampaknya pembicaraan kalian sangat serius," Dante datang dan langsung duduk diantara Xavier dan Sarah, membatasi jarak keduanya.
Xavier tergelak, jelas pria itu cemburu tapi Xavier bukan seseorang yang akan merebut kekasih orang lain apalagi gadis itu sudah dia anggap sebagai adiknya.
" Kalian bicaralah, aku ke kamp, banyak yang harus dipersiapkan, aku akan menjemputmu besok, beritahu mereka dan habiskan waktu bersama tukang cemburu itu!!" celetuk Xavier.
"Hei siapa yang pencemburu, jangan sembarangan!!" teriak Dante tak terima.
Xavier hanya melambaikan tangannya sambil berjalan keluar dari rumah sakit.
" Hei sudahlah, ada yang ingin ku sampaikan," ucap Sarah yang tidak ragu menggenggam tangan Dante.
" Ada apa? sepertinya ini akan jadi berita paling buruk sepanjang tahun," ucap Dante.
" Mungkin, karena aku akan pergi selama lima bulan ke perbatasan Amerika Selatan, aku mau pamit, besok kami akan berangkat, " jelas gadis itu.
Dante terdiam...
Baru menjalin hubungan seminggu lebih, tapi dia langsung ditinggal dinas oleh sang kekasih, apakah ini benar benar adil!??
" Jadi kau akan pergi!??" tanya Dante.
Sarah membalas dengan anggukan kepala.
Tiba-tiba Dante berdiri dan melepaskan tangan nya," Lalu bagaimana denganku!? apa kau tidak memikirkan aku!? Lima bulan!? yang benar saja!!!"
Sarah terdiam mendengar ucapan Dante, terlihat jelas kalau Dante tak terima dengan hal ini.
" Ini tugasku, dan aku tidak bisa menolak, bukannya kau sudah tau resiko jika menjalin hubungan dengan seorang Anggota Militer?? " Sarah berdiri dan menatap Dante berharap pria itu mengerti.
" Tidak, aku tidak paham, kenapa harus kau yang pergi, aku bahkan belum tau apa apa tentang dirimu, tapi kau... kau akan pergi selama 5 bulan, apa kau pikir aku bisa!?? maksudmu kita harus LDR padahal baru memulai!? itu sulit Sarah!!!"
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen