
“ Apa kau memasukkan racunnya secara rutin?” jari yang begitu lentik, kelopak merah di ujung tiap jari tengah menari-nari di atas udara sambil berbicara melalui sambungan telepon dengan seseorang di seberang sana.
Sesekali dia tersenyum melihat betapa indahnya ukiran di kesepuluh ujung jarinya yang dihias dengan pewarna yang sangat tebal dilengkapi dengan butiran permata di ujung masing-masing.
Ruangannya yang lagi-lagi diganti dengan warna lain dan sudah kesekian kali dia dalam kurun waktu sebulan mengubah semua furnitur dalam ruangan kerjanya sesuai dengan seleranya.
Seolah tidak pernah puas dia selalu meminta untuk mengganti barang-barang yang menurutnya sudah membosankan dan usang padahal baru tiba dalam dua minggu atau beberapa hari, boros dan sangat tergila gila dengan yang namanya kecantikan dan seni.
Setelah kedatangan si gadis pembuat onar, dia mengubah total penampilannya agar tidak kalah saing dengan perempuan yang berhasil membuatnya naik darah karena meminta banyak hal. Jika bukan karena posisi gadis itu sebagai pemegang kepentingan terbesar kedua di perusahaan itu, dia tidak akan menerima permintaan dan menuruti keinginan Sarah yang bermacam macam.
“ Akan kupastikan, setelah aku memiliki perusahaan ini, bahkan si gadis pembuat masalah itu tidak akan bisa menginjakkan kakinya di perusahaan ini sama sekali, aku yang berkuasa dan mereka harus bertekuk lutut dan menyembahku sebagai seorang ratu. Aku adalah ratunya dan aku adalah bintang utamanya, tidak ada yang boleh menyaingi kecantikanku, siapa pun tidak!" ucapnya setelah dia memutuskan panggilan telepon.
Asisten Lia, orang kepercayaan Presdir terdahulu, memiliki obsesi yang aneh, padahal di awal bekerja dengan tuan Laurent dia adalah orang yang kompeten dan sangat menghargai orang lain, tetapi keserakahan dan obsesinya akan kekuasaan dan kecantikan membuatnya lupa diri dan melakukan segala macam cara untuk memperoleh fantasinya yang tidak akan mungkin bisa digapai.
Gaya elite, ekonomi sulit, begitulah kiasan yang menggambarkan wanita ini setelah beberapa bulan baru masuk di perusahaan itu. Di awal bekerja dia sudah mulai menunjukkan sifat ini, begitu menerima gaji pertama dia langsung membeli sepasang pakaian kantor bermerek mewah untuk menunjang pekerjaannya, padahal harga benda itu sangat mahal dan menguras habis kantongnya.
Selalu ingin jadi yang paling atas. Namun tidak ada yang tahu dengan kelainan jiwa dan obsesi gadis itu, mereka kira penampilan ikonik dan panas yang sering ditunjukkan oleh Lia hanyalah sebagai bentuk profesionalitas wanita itu dalam bekerja sebagai asisten seorang presiden direktur, namun nyatanya ada tujuan lain di balik semua itu.
Dia hanya ingin memenuhi fantasi tidak logisnya yang justru merugikan perusahaan.
Dia mengikat siapa pun yang bisa dia ikat untuk bisa bertekuk lutut di bawah kakinya dan menuruti semua permintaannya.
“ hahahahha... begini rasanya menjadi seorang penguasa, ya aku layak mendapatkan ini setelah bekerja sepuluh tahun bersama si tua bangka sialan yang sudah jadi debu tanah itu, hahahahha beruntungnya aku menemukan racun itu, dia memakannya setiap hari tanpa tahu kalau tubuhnya sudah aku rusak hihihih... tidak terdeteksi, tidak berasa dan tidak berbau hihihi... rasakan kau tua bangka sialan, siapa suruh kau menulis surat wasiat dan menyerahkan perusahaanmu pada anakmu yang tidak berguna itu, akhirnya dia kubuat cacat hahahhahaha......” Wanita itu tertawa cekikikan di dalam ruangannya seperti orang yang sedang kerasukan setan atau memang dia adalah setannya.
Berbagai cara akan dia lakukan untuk menghancurkan Dante termasuk membunuh penerus utama perusahaan itu demi mendapatkan apa yang tertulis di surat wasiat tuan Laurent.
__ADS_1
Surat wasiat yang menyatakan bahwa perusahaan akan di berikan kepada Dante tepat ketika dia meninggal dunia, tetapi jika terjadi sesuatu pada Dante maka perusahaan akan dikendalikan oleh asisten Lia untuk sementara waktu sampai para eksekutif memutuskan siapa yang memegang kendali perusahaan itu.
Lia hanya mendapatkan fotokopi wasiat tuan Laurent, dia jelas tahu titah pria itu, tetapi bertahun tahun dia mencari surat wasiat itu, dia tidak bisa menemukannya di mana pun.
Hanya dengan membunuh Dante maka dia bisa menguasai perusahaan itu dan mewujudkan keinginannya menjadi seorang penguasa yang harus dipuja dan disembah oleh karyawannya.
Menganggap dirinya sebagai yang terbaik dan berhak mengatur seisi perusahaan itu .
“ Hanya dengan membunuh pria itu secara perlahan lahan sambil menarik perhatian seluruh anggota perusahaan ini, aku bisa meraih semua keinginanku, perlahan lahan namun pasti dan akhirnya aku akan berdiri sebagai seorang pemenang,” gumamnya sambil menyesap rokok berwarna hitam favoritnya.
Lia menikmati waktunya yang sangat santai di dalam ruangan kerjanya. Di saat yang sama seseorang mengetuk pintunya dan langsung masuk ke dalam ruangan itu.
“ aku sudah melakukannya, bagaimana dengan bayaranku, bagaimana kalau mereka mencurigaiku padahal kau yang jadi pelakunya,” Suara Stevani terdengar menggelegar di dalam ruangan Lia.
“ Ckkkk dasar si berisik ini, kau membuat telingakubpecah Stevani!!"pekik Lia.
Prangg.....
Tanpa takut Lia melemparkan vas buang berbahan kaca yang terletak di depannya tepat ke arah Stevani .
“ sialan kau jal4ng gila, kau mau membunuhku juga hah? Dasar bajingan ,kau tidak tahu kalau aku mati maka semua kejahatanmu akan langsung terbongkar hah?” kesal Stevani yang bisa menghindar dari vas bunga yang dilemparkan oleh wanita itu.
“ Sialan. Perempuan sialan ini memang tidak bisa diajak main-main, dia terlalu gila dan pembunuh berdarah dingin, jika ingin memanfaatkannya aku harus pintar cari kesempatan untuk menemukan titik lemahnya, aku tidak akan membiarkan kau menjadi penguasa di perusahaan ini, kau pikir aku sebodoh itu mau menerima tawaran kerja sama dari seorang mantan narapidana yang melarikan diri seperti dirimu? Tidak akan Lia.. jangan harap kau bisa!" batin Stevani.
Stevani duduk di kursi dalam ruangan Lia,” berikan bayarannya sekarang , maka urusan kita selesai, selanjutnya kau melakukannya dengan tanganmu sendiri!" ucap Stevani.
__ADS_1
Lia memutar malas kedua bola matanya,” yang benar saja, bukan kah kau butuh uang banyak untuk memperbaiki p*yudaramu yang sudah kendur itu?” ejek Lia.
“ apa? Ke.. kendur?” mata Stevani membulat sempurna, dia sampai berdiri dan menatap Lia dengan tatapan tidak terima.
“ hahahaha... jadi beneran sudah kendur ya? Baiklah baik, ini uang untukmu!" Lia berjalan menuju brankas pribadinya dalam ruangan itu dan mengambil segepok uang yang dia gelapkan dari dana perusahaan itu.
Lia meletakkannya di atas meja , uang yang jumlahnya berkisar sampai 100 juta dalam bentuk tunai.
“ Wahhh kalau begini kan kerjanya menyenangkan,” ucap Stevani dengan senyuman semringah menatap benda itu.
“ ngomong-ngomong soal perubahan jadwal itu , apa yang akan kau lakukan?” tanya Stevani sambil menghitung lembaran uangnya.
“ Ahhh masalah itu, rahasia.. hahhahahah, aku tidak mau memberitahumu,” ucap Lia sambil mengedipkan sebelah matnaya.
Stevani mendengus kesal.
“ cihh.. baiklah, kerja sama kita berakhir sampai di sini, aku tidak tahu niatmu apa, yang pasti aku telah mendapatkan yang aku mau,” ucap Stevani sambil mengangkat uangnya dengan ringan tanpa curiga apa pun terhadap wanita itu.
Stevani pergi dari ruangan itu, dia melangkah dengan senyuman licik, dengan cara seperti ini dia bisa mengancam Lia dan memberikannya banyak uang sementara perempuan itu memikirkan cara menghancurkan Dante yang masih memegang saham 35 % dari perusahaan itu.
“ Saatnya menemui perempuan pembuat masalah itu, akan kubuat kau menuruti keinginanku dan membuatmu berada di bawah perintahku,” batin Lia membayangkan sang pembuat onar.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen.