
Di ruangan utama apartemen Phineas tampak suasana hening. Tak ada suara, tak ada candaan bahkan Hansel dan Philip yang sama bobroknya terdiam sejenak setelah mendengar semua penjelasan dari tuan dan Nyonya Dalton serta segala fakta yang akhirnya mereka ungkapkan di depan semua orang.
Tuan dan Nyonya Dalton menatap Phineas dan Elton, anak-anak yang menjadi korban akibat kejadian di masa lalu mereka. Terutama Phineas yang terlihat murung dan kecewa dengan cara mereka menghadapi masalah.
Alesha menatap Phineas. Pria itu menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dadanya bergejolak, rasanya sangat sakit, ingin dia berteriak dan menangis di depan kedua orang tuanya dan mengatakan betapa tersiksanya dia selama ini. Hidup merasa bersalah dengan semua kejadian yang harus dia alami.
Hati Phineas hancur dan remuk, dia sangat merindukan kedua orangtuanya. Mereka telah kembali dengan pribadi yang normal, namun entah kenapa Phineas malah merasa asing dengan orangtuanya. Entah kenapa dia tak bisa menerima semua ini. Hanya karena kejadian di masa lalu, Phineas harus hidup dalam kesepian selama bertahun-tahun. Dan lagi, fakta tentang adiknya yang hilang, yang bahkan baru dia ketahui setelah dia hampir berumur 30 tahun.
Dia terus diam, rahangnya mengeras, pandangannya berubah menjadi datar dan sendu. Jika orang lain melihatnya, mungkin akan mengatakan kalau Phone tidak peduli dengan semua perkataan mereka karena dia memang dingin seolah tak punya ekspresi lain. Tetapi bagi sahabat-sahabatnya, dan bagi Cherry pria itu sama sekali tidak baik-baik saja.
Alesha juga berpikir demikian. Dia tau pria d samping nya itu sedang berada di titik yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Persis seperti dirinya, mendengar penjelasan yang malah membuat hati dan pikiran semakin sakit.
Alesha mengulurkan tangannya, menggenggam dengan lembut kedua tangan Phineas yang sejak tadi saling dikepal. Kakinya sedikit gemetar, ada rasa sedih yang tak bisa dijelaskan.
Tangan Alesha menggenggam tangan Phineas. Pria itu sedikitnya terkejut, dia menoleh dan menatap Alesha, namun Alesha menatap ke arah depan seolah ingin membuat Phineas tenang tanpa membuat pria itu merasa canggung. Tangan gadis itu menggenggam tangannya dengan lembut, jari jempolnya mengusap lembut punggung tangan Phineas.
Entah apa yang bergemuruh di dalam hati Phineas, tetapi sentuhan tangan Alesha membuatnya merasa tenang dan nyaman. Hati kecilnya merasa hangat, sentuhan lembut tanpa ucapan apa pun berhasil membuat sebuah gunung es mencair.
Phineas mengangkat kepalanya, menarik nafas dengan pelan. Menenangkan dirinya dan berusaha menyembunyikan kesedihannya. Tangannya membalas genggaman Alesha lalu matanya menatap ke depan, ke arah kedua orang tuanya.
" Nak... maafkan Mommy...." ucap Nyonya Dalton untuk kesekian kalinya. Wanita itu merasa bersalah, dia merasa sedih dengan kondisi yang harus dihadapi oleh putranya. Selama ini mereka berusaha melindungi keluarga mereka dengan cara apa pun termasuk menjauhkan Phineas dari rumah itu. Tapi apa daya, ternyata langkah yang mereka ambil adalah langkah pengecut, seharusnya mereka yakin dengan kemampuan anak mereka tapi keduanya malah menjauhkan diri dan membuat hidup Phineas kehilangan kasih sayang orangtua selama bertahun-tahun.
__ADS_1
Mendengar itu, tatapan Phineas semakin sendu, rahangnya mengeras, dia memegang erat tangan Alesha.
"Kami bersalah, seharusnya kami memberitahukan kepada mu lebih awal, kami memang bukan orangtua yang baik, maaf nak, maafkan Daddy dan Mommy, semuanya karena kelalaian kami, Rara meninggal juga karena kesalahan kami yang terlalu sibuk bekerja sampai tak memperhatikan kalau dia telah di bully, kami terlalu egois dan serakah, bahkan mengorbankan kalian berdua, anak kedua kami juga hilang, ini mungkin kutukan bagi kami, Daddy tidak berguna, maafkan Daddy..." Pria tua itu bangkit dari kursinya lalu duduk berlutut di depan mereka dengan hati yang hancur sambil menangis pilu.
Sejujurnya sangat sakit hatinya saat ini. Semuanya telah terjadi, nasi telah menjadi bubur dan tak ada yang bisa diubah.
" Maafkan Daddy... tidak... jangan maafkan Daddy, Daddy tidak pantas disebut sebagai orang tua... Daddy....
Grepp.......
Phineas menangis, dia berlari dan menghamburkan pelukannya pada Mom dan Daddynya sambil menangis sesenggukan. Pria itu menurunkan egonya,pria itu menerimanya dengan lapang dada. Sekalipun perbuatan mereka kejam, tetapi satu yang Phineas pahami, bahwa mereka berdua terpaksa melakukan itu, demi keselamatan Phineas dan Elton..
Di saat yang sama, Sarah dan Alvaro masuk ke dalam rumah itu dan mendapati semuanya sedang menangis. Alvaro hanya diam dan menatap tajam ke arah Grape yang memeluk Cherry. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh anak itu, tetapi dia terlihat tidak senang dengan Grape saat ini.
Phineas menatap kedua orangtuanya, dia mengusap wajah mereka dengan lembut," Phineas setidaknya bisa tau alasan kalian melakukan itu mom, Dad... Phineas sudah menantikan hari hari ini, Phineas sangat merindukan kalian... Aku sangat merindukan Mom dan Dad... kumohon jangan seperti dulu lagi, aku kesepian, hatiku hancur, beruntung aku bertemu dengan mereka, jika tidak aku mungkin saja sudah gila, hiks hiks hiks.... kumohon, jika ada sesuatu yang terjadi, bicarakan pada kami, semua bisa diselesaikan dengan tenang, bukan mengorbankan hubungan kita selama bertahun-tahun...." lirih pria itu.
" Kalian harus bertanggungjawab, kalian harus mengganti waktu yang hilang itu, " ucapnya sambil memeluk mereka sekali lagi.
" Kami berjanji nak, kami janji akan membalas semuanya, kami akan memperbaikinya, anakku sayang, anak Mom tersayang, " ucap Nyonya Dalton.
Sarah menatap mereka dengan tatapan dingin. Tangannya dikepal erat-erat, menahan gemuruh di dalam dadanya.
__ADS_1
" Kapan aku akan mendapatkan kasih sayang itu? kalian bahkan tak mengingat ku, tak mengenal wajahku, apa aku harus menunjukkan tanda itu?? kenapa mereka tak mengenaliku, mereka bilang aku hilang tapi tak mencariku sama sekali, apa aku dianggap anak!?hah... kenapa aku jadi begini? seharusnya aku tetap tenang, toh mereka tidak tau, seharusnya aku tidak mengharapkan lebih, lebih baik tetap diam seperti ini," batin Sarah yang tanpa sadar air matanya mengalir.
Bella terkejut melihat gadis itu, biasanya Sarah tidak akan menangisi hal seperti ini, Bella berdiri dan memeluk Sarah dari Samling," hei ada apa? kenapa menangis?" bisik gadis itu dengan lembut. Sarah menoleh, dia tersenyum melihat Bella ada di sampingnya," Nggak apa apa," jawabnya sambil memeluk Bella.
" Ahh kamu harus kuat Sarah, bersyukur ada Cherry, Bella dan Alesha, itu saja sudah cukup, itu saja cukup rahhh..." batinnya sambil memeluk Bella dengan erat.
" Rahhh kesurupan ya? atau lagi kangen mantan kamu yang pegawai negeri itu, atau mantan kamu yang selalu mikirin status itu!?? atau mikirin si Unyil yang belum makan? kenapa ihh? tumben mewek, biasanya keras kayak batu!?" celetuk Bella.
" Diam bawel, gak usah banyak tanya, peluk aja!" ketus Sarah sambil tertawa geli.
Bella mengangguk," hmm ya sudah!" balasnya sambil memeluk Sarah.
" Aku tau rahh kamu pasti merindukan orangtuamu, aku tau rah... kamu pasti akan mendapat kebahagiaan, aku akan jamin itu," batin Bella seraya mempererat pelukannya pada Sarah.
.
.
.
like, vote dan komen 🤗
__ADS_1