
“ ka.. kau...
“ aku serius, menikahlah denganku, kita rawat Esther bersama, seperti janji kita hari itu,” ucap Xavier sambil menggenggam tangan Aurel dengan penuh kelembutan.
Aurel hanya terdiam, tidak bisa dia berucap kala mendengar janji itu diingatkan kembali oleh Xavier. Padahal sudah belas tahun lamanya mereka tidak bertemu.
“ Xavier, jangan bercanda, kau tidak mungkin kan... dan .. a.. apa kau pikir aku tidak punya pasangan?” tanya gadis itu sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Xavier.
“ Kan kau memang tidak punya pasangan, kau pikir aku bisa di bohongi, pokoknya kita akan menikah, dan memenuhi janji itu, janji dibuat untuk mengikat takdir, dan tidak kusangka benang merah kita terhubung hanya karena janji itu, kau membuatku berusaha untuk berubah karena kau adalaha...
“ Papa kita sampai!" teriakan Esther menghentikan pembicaraan mereka. Xavier tersenyum penuh, dia menepuk pucuk kepala Aurel lalu berjalan dan meletakkan galah panjang juga termos dan keranjang itu di bawah pondok dimana Bi Yuni berada.
“ wahhh pagi sekali kalian datangnya, sudah tidak sabar untuk panen ya?” celetuk Bi Yuni yang sedang mengupas jengkol untuk diolah.
“ tentu saja semangat Bibi!" seru Esther.
Alvaro dan Hansel menatap kebun itu dengan mata berbinar-binar, sontak mereka teringat dengan adik kembar dan orangtua mereka di kota.
“ Wahhh bang Alva, Mom pasti akan sangat senang melihat banyak pohon, si kembar juga, kalau Daddy mah sibuk sama gawainya, Mommy pasti suka kalau datang kesini,” celetuk Hansel dengan wajah terkesima dengan kebun yang diisi dengan begitu banyak pohon buah buahan itu.
“ Benar, wahh, aku hubungi Mom dulu ya, mudah mudahan sinyalnya bisa,” ucap Alvaro. Pasalnya setelah 5 hari disana, hanya satu kali mereka berhasil menghubungi ibu dan ayah mereka di kota itu pun sinyal terganggu dan dengan kecewa mereka menunggu sampai sinyal ada.
“ Bibi Yuni, yang mana yang mau di panen biar saya bantu,” Ucap Xavier dengan senang hati.
Mereka bekerja dan memanen rambutan tetapi Aurel malah melamun seperti orang bodoh menatap mereka dengan jantung berdebar.
“ Aurel ayo, kenapa kau melamun, mau kerja atau tidak?” teriak bibi Yuni.
“e h,.... i.. iya... baiklah,.. maaf au melamun..” ucapnya tersentak kaget dengan suara cempreng Bibi Yuni.
__ADS_1
Mereka memanen buah rambutan dan mengumpulkannya dalam keranjang. Hasilnya cukup banyak dan memuaskan belum lagi yang membantu panen adalah sang jendral.
Tenaganya berkali kai lipat jika dibandingkan dengan para perempuan membuat pekerjaan ini dengan cepat terselesaikan.
Alvaro yang tidak bisa menghubungi Mommynya bergabung dengan yang lain memungut buah rambutan yang terjatuh di atas tanah. Xavier memanjat ke atas pohon rambutan, melompat dari pohon yang satu ke pohon yang lain, licah seperti tupai.
Semua buah terkumpul dengan baik.
“ arrhhhh selesai juga, “ Xavier mendaratkan tubuhnya di atas kursi di bawah pohon dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Dia kelelahan tetapi rasanya sangat memuaskan saat melihat lima keranjang buah berjejer di depan mereka penuh dengan buah rambutan yang dipanen.
“ Lenganmu lecet,” Aurel terkejut saat melihat darah mengalir dari lengan pria itu karena tercabik ranting pohon yang tajam .
“ ahhh.. ini.. tergores ranting pohon, bukan masalah, “ ucap Xavier smabil mengusap darah itu dan membersihkannya.
“ Apa setiap hari kalian bekerja seperti ini? Siapa yang membantu?” tanya pria itu sambil merobek kain di ujung kaosnya lalu mengikat lukanya dengan benda itu.
“ tergantung musim panen, jika tidak disini, maka kami akan bekerja di sawah dan mengolah lahan , ada beberapa tanaman untuk kebutuhan rumah disana sehingga tidak perlu membeli, terkadang untuk panen besar, Bibi akan membayar pekerja pemuda kampung,” jelas Aurel sambil mengambil beberapa daun yang dikenal sebagai obat luka lalu menghancurkannya dan menarik lengan Xavier.
“ ada satu hal yang tidak pernah berubah darimu, apa kau tahu itu?” tanya Xavier.
“ apa? “
“ Sifat keibuanmu selelu sama sejak kita pertama bertemu, itu yang membuatku jatuh cinta padamu ,” aku Xavier sambil menahan tangan Aurel yang tengah mengikat lengannya dengan potongan kain.
Deg... deg... deg...
Kedua netra mereka beradu, tidak Aurel sangka kalau Xavier akan mengakui persaaannya secepat ini.
“Xa.. Xavier.. kau jangan bemrain main dengan perasaan, yang benar saja, bagaimana bisa pria sepertimu menyukai gadis yang tidak ada apa apanya seperti aku?” ucap Aurel dengan suara pelan seraya melirik Bibi Yuni dan ketiga anak yang sedang bermain di sudut sana.
__ADS_1
“ Tentu saja bisa, sama seperti dirimu yang bisa mencintai dan mengasihi seorang anak yang bahkan bukan darah dagingmu, aku mencnitamu tanpa alasan dan memang tak perlu alasan untuk itu karena ini cinta, sesuatu yang kusimpan sejak lama,” ujar Xavier.
“ Saat aku sadar aku telah merenggut mahkota Seorang perempuan aku menyimpan perasaanku dan hendak bertanggung jawab tetapi perempuan itu malah membuat keputusan salah dengan menjual putriku, tidak kusangka aku malah dipertemukan dengan cinta pertamaku,” ujarnya pelan, dia masih menggenggam tangan Aurel.
“ ja.. jangan begini... aku tidak bisa Xavier...
“ Kenapa tidak? Kau ingin tetap bersama Esther bukan? Maka akan lebih baik dari sisi manapun jika kau menikah dengan ayah kandungnya, usia kita juga sudah dalam usia yang layak untuk menikah,” jelas pria itu.
“ Papa kemari ada kelinci nyasar...” teriak Esther .
“ ahh iya sayang, Papa kesana,” balas Xavier.
Dia menatap Aurel lagi, menepuk kepala gadis itu dan menatapnya dengan tatapan hangat,” pikirkanlah apa yang terbaik untuk putrimu, dia butuh orangtua yang lengkap, jangan egois, kau kan sudah tahu bagaimana sakitnya hidup tanpa orangtua, mari kita wujudkan keinginan Esther dan membangun keluarga yang bahagia,” ucap Xavier.
Dia beranjak dari sana dan berlari menghampiri anak-anak .
Aurel terdiam dengan tubuh kaku, dia menatap punggung bidang milik Xavier yang telah melangkah jauh dari sana meninggalakn dirinya yang dibuat salah tingkah dnegan pria tampan itu.
“ A.. apa apaan itu? Di... dia selalu saja tidak bisa ditebak,” gumam Aurel.
Sementara itu, beberapa pria berpakaian hitam tengah masuk ke lingkungan rumah Aurel dan mengobrak abrik rumah itu.
“ temukan dokumen adopsinya dan hancurkan sampai tidak bersisa, aku akan menuntutnya atas penculikan anak dan dia akan menuruti semua keinginanku , hehehehe... benar benar rencana yang sangat matang, sekali mendayung, seratus pulau terlampaui,” Dian, wanita berpakaian kurang bahan itu membuat gempar seluruh desa dengan kedatangannya dengan gaya bak istri bos besar ditemani puluhan pengawal yang mengikutinya membongkar rumah Aurel.
Dian menatap rumah itu sambil tersenyum licik, “ apa pun akan kulakukan selama kau mengikuti perintahku,” ucapnya di dalam hati.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen