
Salah satu warga langganan warung Aurel berlari pontang panting menuju sawah dimana gadis itu dan yang lainnya berada sekarang. Pria itu berlari dengan wajah panik kala melihat Dian dan pasukan berbaju hitam itu mengobrak-abrik rumahnya.
“ Aureeell... Dian datang ke rumah mu...” teriak pria itu yang berlari sambil mengangkat sendal jepitnya dan berlari menerobos rerumputan menyampaikan berita itu pada Aurel.
Auurel bersama Xavier sedang memanen buah tomat di pinggiran sawah dan beberapa sayuran lainnya. Mendengar nama itu sontak membuat Aurel terdiam dengan tubuh kaku begitu juga dengan Xavier. Keduanya berdiri tegap dan saling menatap satu sama lain kala mendengar nama perempuan jahat itu.
“ perempuan jahat, usir dari rumah, nggak boleh ke rumah Mama Aurel...” teriak Esther yang juga mendengar ucapan pria itu.
Aurel berbalik dan menatap anaknya, jika benar ucapan Xavier tentang rencana Dian, maka Esther dalam bahaya dan tidak boleh bertemu dengan perempuan itu.
“ Xavier... Esther, jika ucapanmu benar soal Dian, maka dia tidak boleh melihat Esther dan dirimu disini, aku takut terjadi sesuatu,” ujar Aurel dengan tatapan takut dan panik. Hanya mendengar nama perempuan itu saja sudah membuat Aurel takut membayangkan apa yang akan dia lakukan terhadap Aurel dan Esther.
Xavier menggenggam tangan Aurel, dia menarik gadis itu dari sana dan membawanya menemui anak-anak,” apa di sekitar sini ada pegunungan? Ayo ke sana?” ajak Xavier.
“ pegunungan tapi Dian?” Aurel menatap pria itu dengan wajah khawatir, tidak terbayangkan apa yang akan perempuan itu lakukan jika dia melihat Esther disana.
“ tenanglah, ayo anak anak kita berkeliling dulu sebelum pulang,” teriak Xavier.
“ Ke gunung?” celetuk Esther yang langsung menarik kedua anak ayam yang sedang asyik mengumpulkan keong air untuk dimasak bersama si upik yang malah menangkap kodok.
“ Ehhh Nenek sihir kami hampir jatuh kenap main tarik tarik segala sih?” ketus Hansel.
“ kita mau ke gunung, ayo kakak kakak yang cerewet,” seru Esther dengan senyum semringah.
“ Iya tapi jangan di tarik Esther nanti kita jatuh,” ucap Alvaro dengan pelan.
“ tuhh dimarahi kulkas kan? “
“ Hummm,.... iya iya.. ayo kita pergi.. semua ikut jalan Esther,” seru anak itu dengan riang gembira berjalan ke arah pegunungan di desa itu .
“ hahah.. ayo kita berangkat,” teriak Xavier.
__ADS_1
“ Bi Yuni ikut tidak?” tanya Xavier.
“ Kalian saja, Bibi banyak kerjaan,” balas wanita yang sedang menjaring ikan di kolam dekat sawah itu.
Mereka berangkat menuju pegunungan tanpa peduli dengan Dian yang mengobrak abrik rumah Aurel mencari dokumen yang dimaksud.
Aurel masih panik dan khawatir,” Xavier, apa yang harus kita lakukan, dia bisa saja melakukan hal hal buruk,” ujar Aurel yang masih khawatir.
“tenang saja, Kau menyimpan dokumen di bank dokumen kan?” tanya Xavier yang dibalas anggukan kepala oleh gadis itu.
“ Iya aku menyembunyikannya jauh supaya tidak ada yang mengambilnya karena aku tahu kemungkinan seperti ini akan terjadi apalagi saat kau datang hari itu,” jelas Aurel.
Dia tidak menyimpan dokumen penting itu di rumah karena bisa hilang dan dicuri orang. Dengan bijak gadis itu menyimpan dokumennya di bank dokumen meski harus membayar mahal untuk itu, tetapi dia tidak peduli yang terpenting dokumen itu aman.
Xavier tersenyum,” gadis pintar, kalau begitu kita aman, biarkan dia lelah mencarinya, lagi pula hari ini dia akan ditangkap,” ucap Xavier.
“ ditangkap karena apa?” tanya Aurel.
“ Ditangkap karena....
“ bagaimana sih cara kerja kalian? Kenapa tidak ada?” teriak Dian dengan wajah masam dan kesal, ,dikira akan semudah itu ternyata Aurel gadis bijaksana yang bukan tandingan Dian.
“ nyonya kami tidak menemukannya dimana pun,” ujar salah satu pengawal tersebut.
Dian mengepalkan kedua tangannya, dia benar benar di buat marah saat mendengar penjelasan orang tersebut,” sialan, dimana perempuan sialan itu menyembunyikannya, “ geram Dian.
Mereka tidak menemukan di mana pun benda itu berada, tak kehabisan akal, Dian masuk ke dalam rumah dan menyalakan kompor gas lalu mendekatkan pemantik gas di dekatnya dengan tujuan untuk membuat ledakan,” jika tidak menemukannya di mana pun maka hancurkan sarangnya, dengan demikian semua bukti akan terhapus termasuk ponsel dan barang-barangnya,” gumam Dian dengan senyuman licik bak iblis di wajahnya.
Mereka keluar dari rumah itu dan meninggalkan rumah serta memastikan tidak ada yang melihat aksi mereka. Tetangga Aurel dibayar untuk tutup mulut tetapi mereka tidak tahu orang orang di kampung itu seperti apa.
Dian keluar dari rumah itu, “ Sekarang menyebarlah sebagai orang biasa, kalian cari anak kecil sesuai dengan foto itu lalu bawa dia, dan temukan juga perempuan sialan itu, jika beruntung kita bisa membawanya langsung dan memenuhi keinginan bos,” ucap dian.
__ADS_1
“ Siap Nyonya,” jawab mereka.
Semuanya berubah menjadi orang biasa dengan pakaian yang telah disiapkan sebelumnya, mereka menyusuri seluruh daerah itu mencari Aurel dan Esther tanpa tahu kalau mereka sudah menjadi target sasaran kakak beradik dari kemiliteran dan kepolisian dengan tim yang berpencar sejak sebelum kedatangan mereka.
“ Ughhh apa itu yang menusuk nusuk bokongku, saki tahu... kenapa juga di tusuk tusuk dasar ranting pohon mesum...” suara cempreng Philip yang sedang memanjat di atas pohon jengkol dengan teropong di kedua tangannya terdengar mengganggu konsentrasi pasukan yang sedang mengawasi Dian dan kelompoknya.
“ ya ampun Kak Philip bisa diam tidak? Akak apa naik ke puncak begitu? Ngga bisa turun tahu rasa...” kesal Sarah yang berada di dahan bagian bawah.
“ Biar kelihatan semua Sarah, tahu nggak kakak melihat pemandangan gila disini wahahahhahah ini sangat menyegarkan,” celetuk Philip sambil mengarahkan teropongnya ke salah satu sisi pegunungan.
“ apa yang kau lihat kampret?” bisik Phineas yang berada di pohon lain, “ Lihat ke arah utara jam 6,” teriak pria itu.
Phineas mengikuti arah pandangan yang dimaksud Philip.
“ ya ampun dasar bangsat kau, sialan kau, apa yang kau tunjukkan padaku Philip sialan...” teriak Phineas kesal, jika bisa dia sudah melompat dari pohon jambu air itu ke pohon jengkol tempat monyet boxer kodok itu berada.
“ Apaan sih?” balas Sarah yang ikut melihat ke arah yang dimaksud Philip begitu juga dengan anak buah yang lain yang juga penasaran dengan maksud si gila Philip.
“Ya ampun PHILIP...” teriak mereka semua sampai membuat burung burung terbang ke udara saking terkejutnya dengan pemandangan yang ditunjukan pria itu, sekelompok nenek nenek sedang mandi di sungai sambil bercengkrama.
“ hahahah nenek gigi palsunya terbang...” teriak pria itu sambil tertawa terbahak bahak.
“ Philip mati kau di tanganku, sialan kau, dasar orang gila, beraninya kau mengintip nenek nenek yang sedang mandi, dasar orang gilaaa....”
“ hahahh siapa yang mengintip nenek nenek? Kalian melihat kemana sih? Ahhhaku bilang utara jam 6? Maksudku jam sepuluh ada nenek nenek sedang mengejar bocah yang mencuri kolor ijo bolong bolong dari jemuran, giginya sampai ikut melompat lompat, lucu sekali hahahhahahaha...” seloroh pria itu.
“ Phillip sialan....” pekik mereka semua yang tertipu dengan ucapan pria gila itu.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen.