
Hampir saja ia berteriak sekencang-kencangnya kala mendengar suara desakan dari gadis bermasker hitam yang sangat Badas dan mengagetkan itu.
Lia tetap berdiri di depan mereka dengan tubuh tegap, tak mau merendahkan dirinya di depan Presdir grup itu. Padahal sudah dua tahun Dante memimpin disana tetapi Lia sama sekali tidak pernah menunjukkan rasa hormat pada Dante setelah kematian tuan Laurent yang aneh.
Perempuan itu mengepalkan kedua tangannya sambil menundukkan kepalanya, enggan memberikan penghormatan yang sopan pada Dante yang menurutnya tidak layak berperan sebagai seorang Presdir.
"Dia bahkan tidak layak untuk dihormati, Presdir macam apa yang cacat dan buruk seperti ini, menjijikkan, sangat tidak sesuai standar orang kalangan atas, dasar manusia rendahan, " gumam Lia.
Tak.... Tuk... Tak..... Tukk...
Langkah kaki yang begitu kuat dan menggema di ruangan itu terdengar, Lia bergumam gumam kesal, menurutnya dia sudah makukan yang paling tepat .
tetapi tiba-tiba....
Bughh..... brukkk...
" Memberi hormat lah dengan cara yang benar sialan!!!" Umpat gadis itu tepat setelah menendang kaki Lia dan membuatnya duduk berlutut di depan Dante sebagai tanda penghormatan paling besar.
Lia terkejut, dia masih berusaha menjaga citranya di hadapan pada eksekutif agar dia terpilih menjadi pemimpin selanjutnya," a..apa yang anda lakukan nona, ini tidak layak, ini tidak pantas dilakukan di kantor yang sakral ini," ucap Lia yang berusaha mencari perhatian para pemegang saham.
"Memberi hormatlah sekarang, atau kau akan kubuat berjalan dengan lututmu sampai selamanya!" Nada mengancam, suara datar dan dingin tetapi aroma tubuh wanita itu sangat elegan. Justru aroma itu membuat Lia merasa terdesak.
" si..sial!!!" Batin Lia yang tidak bisa berkutik lagi dengan kelakuan bar bar perempuan misterius bermasker itu.
Lia mengepalkan kedua tangannya, " Cepatlah, kami mau duduk!" Ketus gadis itu.
Dante menatap apa yang terjadi, tidak dia sangka momen seperti ini bisa terjadi di perusahaan yang menurutnya memang sejak awal sangat aneh. Sejak dia diputuskan menjadi pimpinan baru dengan wasiat ayahnya, dia tidak diterima dengan baik oleh Lia dan para eksekutif pemegang saham perusahaan itu.
"Siapa dia? Suaranya?"Dante terus menatap ke arah gadis misterius itu dengan tatapan penasaran. Suara itu terdengar familiar baginya, tetapi dari segi penampilan tidak mungkin mereka orang yang sama.
Lia menggigit bibirnya, dia kesal dan geram. harga diri dan keanggunan yang selama ini dia junjung tinggi seolah dihancurkan begitu saja oleh gadis penuh misteri itu.
__ADS_1
"CK... Itu saja sulit, kau ini dungu ya dasar ibu tua keriput kayak siput!!!" Gadis bermasker itu berjongkok lalu menarik kepala Lia dengan bar bar dan kasar. Mempermalukan perempuan di depan semua orang dan merusak citra wanita itu di depan semua orang.
"BERI. HORMAT. SEKARANG!" bisiknya sambil menekankan setiap kata yang keluar dari bibirnya.
Lia mau tidak mau menurut," Se....selamat datang tu..tuan muda..." Ucap perempuan itu dengan suara menahan kesal.
Dante tidak menjawab, dia duduk di kursinya setelah semua orang memberi hormat, hal yang seharusnya dia terima sejak awal tiba disana.
Dante tidak diterima oleh mereka hanya karena fisik dan bisikan beberapa setan yang ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menggulingkan posisi Laurent dalam perusahaan.
Sejak kecelakaan itu, Dante memilih menghindar dari dunia sosial kematian ayahnya memaksanya untuk ambil alih perusahaan Laurent grup. Dia tidak bisa sembarang memecat karyawan yang bertindak tak sopan padanya, sebab mereka yang tahu pengendalian perusahaan itu, tanpa mereka perusahaan tidak akan bertahan ketika masa Krisis saat ayahnya meninggal.
Philip dan teman-teman nya yang lain sudah berkali-kali menawarkan bantuan pada Dante terkait sikap mereka pada Dante, tetapi pria itu bersikukuh bahwa dia akan mengurus perusahaan itu sendiri. Teman temannya juga punya kesibukan dan rumah tangga yang harus mereka urus, Dante bisa mengurus masalahnya sendiri tanpa harus melibatkan temannya.
Tentu saja Philip dan yang lain tak terima, tetapi mereka menghargai keputusan pria itu dan member kesempatan padanya untuk mengurus masalahnya.
Dante bukan pria bodoh yang membiarkan dirinya dihina dan direndahkan, ada sesuatu yang sedang dia cari tahu tetapi sepertinya memberi sedikit api pada mereka mungkin akan memunculkan kebenaran di balik kematian ayahnya yang aneh.
" Giluranku sudah selesai, sekarang giliran mu perempuan sinting!!!" Dengan berani tanpa menghiraukan Presdir, dia berjalan dengan cepat menghampiri gadis yang berjalan bak.model itu.
" Kemari kau!!!" Teriak perempuan itu dengan wajah memerah sambil berlari dan mengangkat kedua tangannya ingin menarik rambut gadis itu.
Namun tiba-tiba....
" Upsssiiii.... Salah jalan!" Celetuk gadis itu sambil mengubah arah jalannya hingga Lia malah terperanjat ke atas lantai.
"Grakkhhhhhh beraninya kau!!!" Teriak Lia yang bertingkah seolah ruangan itu adalah ruangan pribadinya dan bisa berteriak sesuka hatinya.
Brakkkk...
Tiba-tiba meja dipukul dengan begitu keras. Dante menatap tajam ke arah Lia maupun gadis bermasker itu.
__ADS_1
"Beraninya kalian membuat keributan di ruangan ini, rapat dibatalkan, aku akan mengatur ulang jadwal sesuai keinginanku, dan aturanku, jangan membawa aturan liarmu di ruangan ini, termasuk siapa pun yang memiliki niat gila disini!!!!" Ucap Dante dengan wajah kesal dan marah.
Dia menatap seisi ruangan itu dengan tatapan nanar. Jelas di hadapannya par eksekutif berbisik-bisik dengan ucapan Dante. Selama dalam kondisi terpuruk, pria itu jarang memerintah, hanya menurut dengan semua ucapan Lia dan para pemegang saham terkait keputusan terhadap perusahaan.
Menurutnya cukup dua tahun ini dia tidak menggunakan wewenangnya sebagai Presdir, saatnya untuk membongkar aksi busuk orang orang di dalam ruangan itu dengan cara nya sendiri.
Dante berdiri, dia berjalan keluar dari ruangan itu dengan wajah datar dan dingin tanpa menoleh sama sekali setelah mengucapkan perintah.
Lia menatap geram pada Dante, " beraninya kau memerintah kami dasar manusia cacat tidak tau diuntung, sekalinya jadi boneka, seharusnya kau tetap diam jadi Boneka, jangan berlagak karena ada pembuat onar yang akan segera kusingkirkan disini!!!" Geram Lia sambil menggeretakkan giginya menatap Dante.
"Pffthhh bwahahahhahahhahahahah...... Kasihan sekali hahhahahahahahha....." Gadis misterius bermasker itu tertawa cekikikan kala melihat Dante yang mulai menggunakan kuasanya.
"Niat hati jadi direktur, nyatanya malah jadi babu pfthhh hihihihihi.... Jelek jelek kayak Kunti kasihan deh Lo hahhahahahah... Wleekkk...see you later nenek nenek!!!" Celetuk gadis itu sambil menenteng tasnya dan brlenggak lenggok keluar dari dalam ruangan itu.
Lia mengepalkan kedua tangannya," siapa kau sebenarnya, kenapa kau baru muncul dalam pertemuan ini!? Aku tidak pernah mengundang mu!!!" Teriak Lia.
Langkah kaki gadis itu berhenti, dia berbalik sambil membuka kacamatanya dan membuka maskernya.
"Penasaran siapa aku?? " Ucap gadis dengan parutan memajang dari atas alis sampai ke bawah matanya, tersenyum sinis menatap Lia yang terkejut dan dia gemetar ketakutan kala melihat wajah di balik masker itu.
"Aku adalah bom waktu yang sewaktu-waktu bisa menghancurkan para penghianat di perusahaan ini! Jangan bilang-bilang soal wajahku ya!?" Serunya sambil memakai maskernya kembali dan mengedipkan sebelah matanya ke arah mereka.
Gadis itu melenggang keluar setelah berhasil membuat semua orang syok dengan wajahnya yang dihiasi dengan bekas luka.
" Siapa dia!??"
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 🤗