
Sarah mengangguk dan menerima tawaran Dante.
Senyuman lebar tergambar jelas di wajah Dante, dia memeluk gadis itu sampai dia tak sadarkan diri karena demam tinggi dan kepalanya pusing tak karuan.
“ Dan?” panggil Sarah, dia menepuk dada pria itu, tapi tak ada respon sama sekali.
“ Dante? Hei.. kau pingsan? Ya ampun....” Sarah cepat ceapat bangun. Wajahnya panik saat tak mendengar respon dari Dante setelah dia menerima tawaran pria itu.
Dengan sigap dia mengganggu seniornya di kemiliteran, “ Kak Xavier bantu aku...” teriak gadis itu melalui panggilan teleponnya. Pria itu adalah orang yang selalu dia panggil setiap kali dia butuh bantuan. Dan tentu saja Xavier mau membantunya karena hubungan mereka sangat dekat.
Sarah memeriksa denyut nadi pria itu, “ sangat lambat,” gumamnya dengan wajah khawatir.
Dengan cepat dia mengepak semua barang milik Dante dan merapikannya ke dalam tas pria itu. Hanya ada dua pasang pakaian dan barang barang penting lainnya.
Dia tak berani membuka bathrobe pria itu, dia tak mau melihat pemandangan asing disana. Beberapa menit menunggu, yang dinanti pun tiba. Bel kamar hotel dibunyikan, cepat cepat Sarah melangkah dan membukakan pintu.
“ Ada apa? Kenapa kau kesini lagi? Semalam kau marah marah sekarang minta tolong?” tanya Xavier sambil memeriksa keadaan Sarah bahkan sampai membolak balik tubuh gadis itu.
“ Bukan Aku kak, tapi dia, pria itu demam, dia orang penting kalau sampai kenapa kenapa aku bisa dituduh membunuh orang kepercayaan kakakku,” jelas Sarah dengan nada khawatir. Tatapannya pada Dnate mengatakan segalanya bahwa dia benar benar panik dengan kondisi pria itu.
Xavier menatap ke arah kasur, seorang pria dengan Bathrobe tak sadarkan diri disana,” siapa dia? Apa baru saja kau pukuli sampai pingsan begitu? Apa dia pacar mu?” celetuk Xavier.
Sarah terkejut, dia tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat Xavier mengucapkan hal itu dan Xavier tahu kalau itu benar,” wah jadi setan kecil ini sudah berani melangkahiku mendapatkan seorang kekasih? Kau benar benar gadis gila...” ucap Xavier sambil mengacak acak rambut Sarah.
“ Ck.. cepatlah bantu dia, ini salahku juga karena meninggalkan dia semalam disini, di bawah pengaruh obat gila itu,” jelas Sarah.
“ apa?” mata pria itu terbelalak,” jadi dia tidak menuntaskannya?” tanya Xavier terkejut. Sarah hanya mengangguk lemah,” dia dijebak ular beludak, salahku juga meninggalkannya di area itu semalam, dia demam tinggi, tangan dan kakinya terluka,” jelas Sarah.
Xavier buru buru mendekati Dante , jelas dia melihat bekas cubitan yang sangat banyak di paha Dante,” dia tidak menyentuhmu semalam?” tanya Xavier . Matanya membulat sempurna .
“ tidak, dia sepertinya tidak terkena efek separah itu,” ucap Sarah.
“ kau salah Sarah, dia menahan diirnya agar tidak menyerangmu, dia berusha tetap sadar, sangat sulit menahan sesuatu seperti itu, aku pernah terjebak dan melakukan kesalahan, sampai sekarang aku masih mencari gadis yang kutiduri waktu itu, sudah tiga tahun dan aku belum menemukannya,” jelas Xavier.
__ADS_1
Mendengar hal mengejutkan itu, tentu saja Sarah terkejut. Pantas saja Xavier sangat paham dengan cara kerja obat itu, ternyata dia pernah terjebak dengan hal seperti itu.
“ Dia sangat menjagamu Sarah, kau beruntung memiliki pacar sehebat dia, dia menyiksa dirinya sendiri untuk menghilangkan pengaruh obat itu.. kau.. kau selamat Sarah, jika tidak dia mungkin sudah menggunakan tubuhmu untuk menuntaskannya,”jelas Xavier sambil menaikkan pria itu ke atas punggungnya.
Dia salut pada Dante yang benar benar menghargai Sarah. Padahal menahan sesuatu seperti itu sangat sulit, bahkan akan ada kemungkinan pecah pembuluh darah melihat betapa banyak memar di tubuh Dante akibat cubitan untuk membuatnya tetap sadar.
Sarah terdiam terpaku, rasa bersalah semakin menghantui diri gadis itu, tetapi dari sisi ini dia jelas tahu bagaimana Dante sangat menjaga dan melindunginya. Jika tidak, bisa saja Dante menariknya dan merebut kesuciannya malam kemarin.
“ apa yang kau lakukan disana, cepat ikut aku.. kita harus ke rumah sakit..” teriak Xavier.
Sarah tersentak,dia mengangguk sambil menahan air matanya. Tak dia sangka, dia bertemu dengan pria yang tepat, pria yang membuat jatuh hati dan menjaganya dengan baik.
“ aku merasa bersalah padanya, seharusnya aku tidak memiliki pikiran sedangkal itu..” batin Sarah.
Xavier dan Sarah buru buru pergi ke rumah sakit dimana Alesha dirawat dan dimana kakak laki lakinya berada.
Xavier mengemudi dengan kecepatan kilat, melewati mobil mobil di depannya dengan tatapan fokus ke depan. Sedangkan Sarah memastikan tubuh Dante di belakang tidak terbentur.
Tak butuh waktu lama dengan keahlian mengemudi seperti orang gila yang dimiliki Xavier mereka tiba di rumah sakit.
“ Sarah ada apa?” teriak Phineas.
Sarah menoleh dan menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca , sedangkan Xavier langsung melarikan Dante ke ruang gawat darurat agar segera mendapat penanganan.
“ bicaralah dnegannya, akan kuurus orang ini,” ucap Xavier sambil berlari karena dia kenal dengan kakak laki laki Sarah.
Sarah berlari dan memeluk kakaknya sambil menangis, kopral ini akan berubah jadi gadis cengeng ketika bertemu tempatnya untuk mengadu dan menangis, dia adalah Phineas dan juga Cherry pastinya.
“ hei ada apa ? dan kenapa Dante di bawa orang itu?” tanya Phineas sambil memeluk adiknya yang menangis sesenggukan.
“ Dante dijebak perempuan gila semalam, dia menahan dirinya agar tidak menyerangku karena dipengaruhi obat, tapi aku salah paham dan malah meninggalkannya di hotel, dan sekarang dia demam tinggi, dia pingsan, tangan dan kakinya terluka hiks hiks... aku yang membuatnya seperti itu...” Sarah menangis dan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Dante.
Phineas tentu terkejut mendengar ucapan Sarah. Dia tak menyangka kalau Dante akan terkena jebakan dan mengalami semua ini,” tenanglah, yang penting sekarang dia sudah dibawa ke rumah skait, kita menunggu kelanjutannya saja, jangan salahkan dirimu...” tegur Phineas.
__ADS_1
Kakak beradik itu berjalan menuju gedung rumah sakit menemui Xavier yang tekah mengurus Dante.
Sementara mereka sibuk di negeri itu, Di negara tetangga, Elton sedang menyibukkan diri di sebuah klub untuk membuang semua rasa suntuk yang menghantui pikirannya. Tak mendengar suara Rania selama hampir seminggu membuat pria itu gila.
Dia menyibukkan dirinya dan memenuhi perutnya dengan minuman beralkohol dan berpesta ria di bar tersebut bersama rekan rekan bisnisnya.
“ hahaha... ayo semuanya minum.. ayo kita minum...” teriak Elton sambil mengangkat gelasnya yang diisi dengan vodka.
Para perempaun bayaran tentu langsung mendekati pria itu dan memeluk sampai menjamah tubuh Elton sesuka hati mereka , mencari kesempatan untuk bisa bermain dengan pria tampan berambut biru itu.
“ PERGI KALIAN SEMUA DASAR CACING KEPANASAN SIALAN, BERANINYA MENYENTUH KAKAKKU...” suara teriakan mak lampir alias ibu kos yang sedang mengamuk berhasil membuat seisi klub itu tercengang.
Elton yang masih sadar terdiam kala melihat nyonya muda Cornelius berdiri di seberang sana dengan wajah marah dan memerah seperti banteng yang sedang mengamuk saat melihat dirinya membiarkan perempuan lain menyentuhnya.
“ Cher...
“ kak.. kau bodoh sekali... “ ucap Cherry dengan mata berkaca-kaca.
“ Sayang kenapa kau datang kesini sendirian? Ini bahaya...” Grape ternyata menyusul sang istri yang nekat pergi sendirian ke bar itu untuk menemui kakaknya.
“ Tuan ayo lanjut berpesta, jangan pedulikan dia, hanya perempuan gila tak perlu di pikirkan,” bisik salah satu rekan bisnis Elton.
“benar tuan, jaman sekarang banyak perempaun yang sesuka hati melarang kita berpesta, jangan hiraukan dia, ayo berpesta...”
Bukannya melunak, Elton malah naik pitam kala mendengar ucapan mereka tentang adiknya,” Siap kau berani menghina adikku seperti itu keparat bajingan!!” pekik Elton yang langsung menarik salah satu dari mereka dan memukuli orang itu dengan brutal. Pikirannya kacau, hatinya hancur dan dia bingung dengan kekacauan besar ini.
“ Ya ampun si bodoh ini... “ Philip dan Daniel yang juga ada disana langsung berlari dan menarik Elton sebelum dia membunuh orang itu.
Elton mengamuk disana, sedang seorang gadis baru saja pingsan di dalam ruang perawatannya saat penyakitnya kembali menggerogoti tubuhnya. Rania tidak sadarkan diri saat akan mengikuti serangkaian pemeriksaan, para dokter panik, gadis itu langsung ditangani, wajahnya pucat, dia kehilangan berat badan secara drastis, dan mengalami kerontokan rambut dalam waktu yang sangat singkat, hanya hitungan hari.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen