Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh

Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh
284 Penginapan


__ADS_3

Aurel berjalan dengan cepat, selain membuka warung kopi dia juga menyediakan penginapan bagi pengunjung yang datang ke tempat itu di penginapan yang dia bangun dengan uang hasil novel online yang sudah dia kumpulkan bertahun tahun.


Sinyal memang susah disana, tetapi tidak menghalangi niat gadis itu untuk berkembang dan menjadi orang yang lebih maju dibandingkan dengan orang-orang seusianya yang memilih berleha-leha atau memilih jalur yang lebih mudah menghasilkan uang seperti cara yang dilakukan ibu kandung Esther.


Tidak ada yang tahu kalau ibu kandung Esther adalah sahabatnya yang bekerja di kota, semua orang berpikir kepergian Aurel dulu adalah untuk melahirkan putrinya Esther. Tetapi yang tahu kebenaran tentang ibu kandung Esther hanyalah Bibi Yuni yang begitu dekat dengan mereka.


Tak peduli dirinya dihina sebagai perempuan yang tidak baik, Aurel melakukan semua pekerjaan dengan tulus dan berharap yang terbaik untuk putrinya.


Bukan tidak bisa dia pindah ke kota, tetapi dia terlalu takut karena hanya dia yang akan berjuang untuk Esther. Mana ada pria yang mau bersamanya sekalipun dia memiliki paras yang sangat cantik.


Banyak yang menggodanya karena dia seorang perempuan, bahkan beberapa kali dia hampir dilecehkan oleh pemabuk yang lewat di kampung itu. Terkadang hal yang paling mengerikan terjadi seperti beberapa pakaian pribadinya hilang dari jemuran belakang rumah, dan ada pesan-pesan menohok yang membuatnya bergidik ngeri .


Entah itu disengaja atau memang langsung disampaikan oleh orang yang bersangkutan.


Jarak rumah tidak seberapa jauh dengan sawah, dalam hitungan beberapa menit dia sudah tiba di rumah. Dia melepaskan sendal jepitnya, menggulung rambut panjangnya tinggi ke atas, menyingsingkan kedua lengan bajunya dan masuk ke rumah sambil membawa buah-buahan dan sayur mayur yang sia bawa dari sawah.


“ ahhhh, masih sempat membuat nasi goreng untuk anak gadis ku,” gumamnya. Dengan lihai perempuan itu memotong sayuran segar yang dia bawa, menanak nasi hasil panen padi , menggoreng ikan dan telor ceplok kesukaan putrinya.


Dengan cepat dia menyediakan nasi goreng yang sedap untuk anak itu. Porsinya cukup banyak dan bisa dibagikan pada tetangga dan beberapa orang yang ingin dia bagikan juga hidangan bagi pengunjung penginapannya nanti.


Setelah selesai memasak dia membersihkan diri lalu membuka warung tepat pukul 6 sore. Bersamaan dengan itu cahaya indah dari mentari yang mulai bersembunyi terlihat begitu indah. Langit jingga sore hari menjadi pemandangan yang khas di desa itu.


Warung dibuka, disaat yang sama Esther datang dengan membawa ikan di dalam kantongan plastik berisi air dan menenteng kantongan lain berisi kecebong yang akan dia jadikan mainan.


“ Mama, Esther dan upik pulang,” seru anak itu yang langsung berjalan ke samping rumah lalu membersihkan kedua kakinya sebelum masuk ke rumah, hal yang selalu diajarkan oleh Aurel. Sederhana namun bermakna.


Rumah mereka terbuat dari papan kayu semi beton, namun ditata dengan apik dengan tanaman-tanaman yang begitu segar di sekitarnya. Banyak bunga yang ditanam disana.


Tapi jangan salah, bunga itu bukan hasil tanaman Aurel, yang menanamnya adalah Esther bersama Upik anjing mereka. Saking senangnya berkebun, Esther menanam banyak jenis bunga dari benih yang dia dapatkan dari orang -orang kampung.

__ADS_1


Sekalipun rumor buruk tentang ibunya terus bertebaran dimana-mana, tetapi banyak yang menyukai Esther karena sifatnya yang ramah dan pemberani juga omongannya yang pedas dan bibirnya yang cerewet.


“ Sayang, mama sudah masak, kamu tolong antarkan untuk bibi Yuni ya, sisanya buat pengunjung kalau ada yang datang nanti, kalau nggak dimakan nanti kita bagi,” ucap Aurel.


“ baik Ma..” seru anak itu sambil tersenyum dengan pipi gemuknya yang menggemaskan.


Meski pakaiannya lusuh, anak itu dirawat dengan baik dan diajari etika yang benar oleh Aurel.


“ Semoga hari ini ramai, dan ada pengunjung,” gumam Aurel sambil membuka warung kopinya.


Esther dengan jari- jari kecilnya melahap nasi goreng buatan ibunya dengan penuh semangat, memberikan Upik si anjing kampung yang setia sebagian . Hari harinya diisi dengan hal-hal menarik.


Setelah selesai makan, dia membersihkan dirinya dengan mandiri dan memakai pakaian bersih. Kaos oblong berwarna cokelat sedikit pudar dengan bercak bekas pemutih di tepinya, serta celana panjang berbahan katun dan kaos kaki warna-warni yang berbeda corak di kedua kakinya.


Dia tersenyum menatap cermin, mengambil topi polisi yang tertinggal di penginapan mereka lalu memasang benda itu di kepalanya.


“ Heheh... muahhh.. Esther akan jadi perwira hebat, akan melindungi Mama dan Upik, menjauhkan orang jahat dari rumah dan penginapan dan menjaga Mama sampai selamanya,” celetuk anak itu.


“ ayo upik, kita ke rumah Bibi Yuni,” ucapnya sambil meletakkan topi polisi itu di atas meja dan merapikannya dengan benar.


Sementara itu, di jalanan desa itu, Daniel sudah berkali kali memutar mobil melaju kesana kemari mencari alamat sesuai dengan apa yang ditemukan tim Alpha, tetapi tampaknya Daniel lupa jalannya sampai mereka hanya berputar-putar sampai matahari terbenam.


“ yahhh kau ini bagaimana sih? Kenapa sampai lupa alamatnya?” kesal Xavier sambil menatap jalanan yang sudah berulang kali mereka lewati .


“ heheh maaf tuan, saya kira kita lewat ke kiri saja,” ucap Daniel menunjuk jalan sebelah kiri.


“ ck... sudah lah hentikan, hari sudah mau malam, sebaiknya kita cari penginapan,” ucap Xavier dengan wajah masam.


“ paman, kapan kita akan sampai, Hansel lapar...” rengek anak itu. Sedangkan Alvaro terlelap dengan tenang di sisi lain.

__ADS_1


“ Sabar ya Hansel, sebentar lagi akan sampai,” ucap Xavier.


“ ahhh benar, penginapan, rumahnya memiliki sebuah penginapan, anak itu tinggal disana,” seru Daniel yang kini mengingat arahnya setelah diberi kode.


“ Kenapa tidak dari tadi Daniel, kami sudah kelelahan di dalam mobil ini,” kesal Xavier.


Daniel hanya tertawa cengengesan, dia memutar setirnya dan melaju menuju arah kanan mengikuti jalanan yang dia ingat,”wahh benar arahnya dari sini,” ucapnya dengan senang hati.


“ Dari tadi kau bilang dari sini terus dari sini terus nyatanya kita nyasar, jangan membuat kami banyak berharap Daniel,” kesal Xavier.


Daniel terdiam, dia melaju dengan cepat mencari penginapan diaman alamat itu berada.


Hingga beberapa menit kemudian mereka tiba di penginapan yang dimaksud.


Sebuah warung kopi terlihat sudah buka dan mulai dikunjungi para pemuda. Daniel berhenti disana dan menatap area itu,” kenapa kau berhenti?” kesal Xavier.


“Kita sudah sampai tuan,” ucap Daniel sabil menunjuk warung milik Aurel yang sedang ramai pengunjung di sore menjelang malam.


Di saat yang sama pesan masuk ke ponsel pria itu, padahal pesannya dikirim tadi siang sampainya sore ini, benar-benar susah jaringan.


“ Ini hasil tes DNA nya, dia adalah putri kandungmu,” isi pesan Grape yang membuat Xavier terdiam.


.


.


.


Like, vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2