
Xavier membaca informasi yang di berikan oleh Grape. Sangat detail bahkan surat adopsi putrinya juga tertera dengan lengkap disana.
Dia sadar, perempuan yang waktu itu dia tiduri memang tenaga profesional yang setelah tidur dengannya semakin liar menjadi arena pencoblosan di sana sini.
Padahal jelas Xavier mengatakan hari itu, bahwa dia akan bertanggungjawab dan menikah dengan Dian. Tetapi perempuan itu melarikan diri dan mengambil semua uang milik Xavier saat dia tertidur.
Mungkin Dian bahkan tidak kenal dengan wajah ayah putrinya, sebab setelah bekerja dengan Xavier dia melakukannya lagi dengan pria pria lain bahkan saat kehamilannya.
Dian adalah perempuan yang dibayar untuk menjebak dan merusak reputasi Xavier dalam dunia kemiliteran, tetapi siapa sangka Xavier bukanlah lawan yang sebanding bagi musuh-musuhnya.
Saat itu Xavier belum resmi naik pangkat, karena persaingan yang ketat, saingannya melakukan segala cara untuk menjatuhkan Xavier yang namanya bersih bahkan dari perempuan di luaran sana.
Saking bersihnya, saking banyaknya prestasi dan bakat alami mereka sama sekali tidak bisa menemukan celah sedikitpun mengenai kelemahan Xavier. Satu pun tidak!
Sehingga dikaranglah sebuah acara sebelum pengangkatan letnan jenderal berikutnya yang jelas telah menunjuk Xavier sebagai Letjen yang baru dan termuda menggantikan Letjen yang telah pensiun.
Acara yang dihadiri oleh Letjen terdahulu dan orang penting lainnya.
Awalnya Xavier tidak curiga, tetapi perasaannya tidak enak. Instingnya mengatakan akan terjadi sesuatu yang besar dan berbahaya bagi karirnya.
Akhirnya dia memasang kamera kecil di seluruh sudut ruang pesta. Bahkan di kamar dimana dia dibawa langsung oleh orang yang menjebaknya.
Sialnya, yang menjebaknya hari itu adalah teman dekatnya sendiri.
Dengan bantuan Sarah dan beberapa bawahan yang lain dia mengawasi semua orang.
Akhirnya dia kecolongan, dia meminum soda yang sudah disuntik dengan obat dan membuatnya mabuk juga membuat gairahnya meningkat.
Dan jelas, Soda itu diberikan oleh orang yang jelas tidak di curigai Xavier sama sekali.
Ketika Xavier terkena jebakan dia dibawa menuju sebuah kamar di hotel tempat acara berlangsung, lalu memanggil Dian, perempuan bayaran yang memang pekerjaan sebagai gadis joki, gadis bar dan perempuan malam.
Dia anak baru dan masih perawan tak disangka efek obat itu membuat Xavier menggagahi ibu kandung Esther.
Semua itu mereka ketahui dari rekaman CCTV yang diletakkan secara tersembunyi oleh Sarah dan beberapa rekannya.
Akhirnya teman dekat Xavier dan beberapa orang lainnya dipecat secara tidak hormat karena kasus ini, masalahnya meluas sampai pada pemakaian obat terlarang.
Xavier diangkat menjadi Letjen tetapi perempuan itu jelas hilang bak ditelan bumi.
Dengan erat pria itu menggenggam ponselnya, mengeraskan rahangnya dan menatap tajam ke depan.
"Jadi dia membuang anakku? dan melanjutkan pekerjaan kotornya itu!??" Xavier mengeraskan rahangnya.
__ADS_1
Dia melemparkan pandangannya ke luar mobil dan menatap warung di depannya.
Menyimpan setiap detail informasi yang dia dapatkan di dalam lubuk hatinya terdalam.
Matanya tertuju pada gadis yang sedang tersenyum ramah melayani pengunjung warungnya.
Dia mencari dimana gerangan putrinya, anak yang sudah pasti adalah keturunannya tetapi ditelantarkan oleh ibunya sendiri.
Di saat yang sama, kedua netra cokelat terang itu menangkap sosok putri kecil yang dia cari.
Gadis kecil yang berhasil mencuri perhatiannya dan membuatnya tidak berhenti memikirkan anak itu sampai satu bulan lamanya.
"Paman Xavier, itu dia, gadis cerewet yang mengomeli Hansel saat di pesta!!" celetuk Hansel sambil menunjuk Esther yang berjalan bersama si Upik anjing peliharaannya.
Xavier, Daniel dan kedua anak ayam keluar dari dalam mobil dengan posisi Xavier menggendong Alvaro yang terlelap dengan tenang dalam pangkuannya.
Matanya tertuju pada Esther dengan mulut cerewetnya sedang mengomeli para pengunjung yang merokok di kawasan warung mereka.
"Wahh pelanggan hari cukup banyak juga, " gumam Aurel sambil tersenyum.
" Permisi Nona," Xavier menyapa Aurel.
Mendengar pria itu berbicara, Aurel yang sedang membersihkan meja berbalik dan menatap sosok pria bertubuh tegap dan kekar itu.
Sejenak dia terdiam melihat paras tampan dan berkharisma itu. Jantungnya berdegup kencang saat melihat wajah tampan nan mempesona tetapi memiliki aura dingin itu.
Belum sempat dia menjawab, suara melengking Esther menyela pembicaraan mereka.
" Uwahhhh anak nakal rakus di pesta waktu itu, kenapa kau datang kesini!?? mau menghabiskan nasi goreng kami ya!!!!" teriak Esther yang terkejut melihat Hansel berdiri di samping Xavier sambil memegang ujung pakaian pria itu.
Tentu saja suara melengking dan lantang gadis kecil itu berhasil membuat semua orang terkejut,tak ayal Mamanya sendiri sampai bergidik mendengar suara anak itu.
" Ya ampun Esther, suara kamu nak, nggak sopan begitu, Mama dan paman ini lagi berbicara," Tegur Aurel dengan lembut.
Esther menutup mulutnya dengan kedua tangannya sambil memutar bola matanya menatap Xavier yang hanya diam menatapnya sejak tadi.
" Maaf Mama, Maaf Paman," ucap anak itu sambil terus melihat wajah Xavier.
Hati kecil Xavier bergetar, ingin rasanya dia memeluk gadis kecil nan malang itu. Tampaknya, Aurel melimpahkan kasih sayang pada Esther sehingga dia tumbuh menjadi anak yang ceria sekalipun tidak mengenal siapa ayah kandungnya.
" Bukan Paman sayang, tapi Papa, ini Papa kamu,maafkan Papa..." batin pria itu di dalam hatinya.
"Ma, Paman itu tampan sekali, tapi sepertinya orang jahat!" celetuk Esther seraya menatap penampilan Xavier yang berbeda.
__ADS_1
Dia memakai kaos hitam yang sedikit pas Pasan, celana loreng khas militer kebanggaannya dan sepatu Militer hitam berbahan kulit yang terlihat keras dan kuat.
Tentu saja mereka terkejut mendengar ucapan Esther.Anak kecil itu seolah sangat anti dengan orang dewasa apalagi jika mereka adalah laki-laki.
"suutttt sayang, jangan bicara begitu, " ucap Aurel tidak enak. Dia sontak menutup mulut Esther dengan tangannya.
Xavier menatap Esther, gejolak di dalam hatinya tak tertahankan. Dia membungkuk dan mendekati putri kecilnya yang belum mengenalnya.
Tetapi Esther cepat-cepat bersembunyi di balik tubuh ibu angkatnya.
" Saya bukan orang jahat gadis kecil, saya pengunjung, mau menginap, " ucap Xavier.
Esther sama sekali menolak melihat Xavier, benar kata Grape sangat sulit untuk mendapatkan hati gadis kecil itu.
Hansel yang sudah diajari oleh Mommynya pun bertindak, dia berjalan menghampiri Esther," Halo namaku Hansel, salam kenal!" celetuk Hansel.
Kepala gadis kecil itu muncul dari balik kaki ibunya," Aku Esther, salam kenal juga kelinci rakus!" celetuk anak itu.
" Huh...aku bukan kelinci, dasar nenek sihir cerewet!" balas Hansel seraya mengerucutkan bibirnya.
Xavier sangat senang melihat interaksi mereka, tetapi hal itu justru aneh di mata Aurel.
" Siapa dia sebenarnya? kenapa wajahnya mirip dengan Esther? A... apa dia? ti... tidak mungkin, ke...kenapa baru muncul sekarang, aku harus menjauhkan dia dari putriku!!" batin Aurel.
" em... ma..maaf tuan, ada apa sebetulnya?" tanya Aurel yang menarik putrinya ke belakang, seolah ingin melindungi Esther dari orang jahat.
" Seperti yang ku katakan tadi, kami akan menginap," ucap Xavier dengan nada dingin.
"Ti... tidak ada penginapan, sudah tutup!" ucap Aurel dengan tegas" Silahkan pergi tuan, kami tidak membuka penginapan lagi, semuanya sudah penuh!" ucap Aurel sambil menggenggam erat tangan putrinya.
" Mama... Tangan Esther sakit, Mama pegang nya terlalu kuat," lirih Esther.
" Diamlah Esther, jangan banyak bicara, sana pergi ke dalam rumah dan jangan keluar!!" tegas Aurel yang sedikit mendorong putrinya menuju rumah.
"Tapi Ma...
" Menurut pada Mama!!" bentak Aurel untuk kali pertama sejak dia merawat Esther.
HUWAAAAAAA.......... Mama...........
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 🤗