Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh

Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh
147


__ADS_3

Punggung itu terlihat lusuh. Menanggung beban berat selam bertahun tahun akibat luka setelah bagian dari hidupnya diambil dengan paksa dari sisinya oleh orang-orang tidak bertanggung jawab.


Wajah itu terlihat sembab karena menangis semalam suntuk, meratapi kepergian adiknya dan meratapi kedua orangtuanya.


Mata itu terlihat abu abu kala hujan deras kembali mengalir dengan begitu deras dari kedua pelupuk matanya. Menangisi hidupnya yang menyedihkan, menangisi hidupnya yang kesepian, menangisi keadaannya yang tersisihkan, menangisi keberadaannya yang tak dianggap, menangisi seluruh hidupnya yang tak berguna.


Tangan kekar itu tak lagi kuat menahan sakit yang mencengkram hatinya, mencabik-cabik perasaannya dan melumpuhkan pikiran nya. Kaki itu tak sanggup lagi menjalani kehidupannya yang sepi, seluruh tulangnya bagai rontok dan hancur karena insiden mengerikan itu.


Wajah cantik dan lembut sang adik, suara lembutnya, tawa indahnya, tingkah jenakanya, candaannya, wajah marahnya, kebaikannya dan perhatiannya telah hilang dari nya. Hati itu merindukan sosok yang lahir dari rahim yang sama dengan dirinya. Pikiran itu terus tertuju pada Rara. Bibirnya terus menyebut nama sang adik meski yang empunya tak mungkin lagi menjawab panggilannya.


Rasa bahagia Phineas terkubur bersama tubuh adiknya. Terkubur rapat di telan sang Pertiwi. Semua yang mereka lewati kini tinggal kenangan. ingin rasanya kedua tangannya memeluk erat tubuh sang adik walau pun hanya sekali dan mengatakan bahwa dia sangat menyayangi adiknya.


Phineas duduk di balkon rumah itu dengan sebotol bir yang dia tenggak begitu saja sambil menatap langit yang mendung seperti hatinya. Tanpa mengenakan kaos, hanya memakai celana kerjanya dia duduk disana melepaskan stresnya karena kejadian yang menimpa dirinya.


Malam sudah larut, tetapi dirinya tak bisa terlelap dan terus memikirkan kedua orangtuanya yang tak ada di rumah itu.


" Sampai kapan? Rara... Abang kangen Rara... boleh abang ikut kesana? Abang juga ingin bahagia, kamu pasti senang ya disana? tapi Abang malah sedih setiap malam, Abang rindu pada kamu... kenapa pergi sendirian? seharusnya ajak Abang Ra.. kamu harusnya ajak abang, kita mati bersama hiks hiks hiks... Abang gak sanggup Ra... rasanya sakit... hati Abang sakit melihat Mom dan Daddy seperti itu...." lirih Phineas sambil menatap foto Rara yang dia taruh di atas meja menghadap ke arah langit.


" ini kan langit yang kamu sukai? langit malam dengan bulan bersinar? kenapa kamu pergi sayang kenapa meninggalkan kami!!!" Phineas kembali menangis, dia menenggak minumannya lagi dan lagi.


Sementara itu, Cherry tampak mengemudikan mobil bersama salah satu anggota tim Alpha yang ditugaskan menjaga keluarga mereka. Elton sudah memberitahu kondisi Phineas dan Alesha pada gadis itu tetapi belum diketahui oleh Bella dan Sarah.


Cherry tak bisa tinggal diam, melihat kepribadian Phineas dia jelas tau pria itu menyimpan luka yang sangat besar di dalam dirinya. Cherry belum bertemu orangtua Phineas, mereka berdua ditempatkan di apartemen Elton tak jauh dari rumah utama keluarga Dalton.


Setelah malam tiba, Cherry sama sekali tak bisa menunggu hari esok. Dia merasakan firasat buruk. Jika sudah seperti itu pasti akan ada kejadian yang bisa terjadi jika dia tak segera menemui orang yang dia khawatirkan.


Dengan kecepatan gila gilaan, Cherry mengemudikan mobilnya dengan Daniel tim Alpha terbaik yang duduk di sampingnya sambil menggenggam pegangan mobil karena nyonya mudanya terlihat panik sambil membawa mobil itu seperti orang gila.

__ADS_1


" nyonya pelan pelan, kita bisa mati, tidak... saya bisa mati di tangan tuan muda jika beliau tau anda mengemudikan mobil secepat ini!!!" teriak Daniel dengan wajah panik.


" Diamlah Daniel, kau cerewet sekali, kita harus cepat, perasaanku tidak enak!!!" tegas Cherry .


Di belakang mereka, Philip menyusul Cherry bersama tim Alpha yang mengawasi Cherry. Sedangkan Elton sudah kembali ke apartemennya untuk menemani tuan dan nyonya Dalton. Anak anak dititip pada Bella dan Sarah. Mereka semua sudah terlelap dan Cherry keluar rumah pada dini hari.


" Astaga si Cherry sudah benar benar gila ya!? bisa bisanya dia membawa mobil seperti sedang kesetanan begitu!!!' pekik Philip yang berusaha menyesuaikan kecepatan nya mengejar Cherry yang sudah berjalan lebih dahulu.


Semua tim Alpha juga terkejut melihat skil mengemudi nyonya muda mereka yang tak bisa dianggap remeh Hanya orang orang tertentu yang bisa memiliki skil sehebat itu.


Mereka melaju menuju kediaman keluarga Dalton. Cherry mengikuti petunjuk Daniel dan tiba disana dalam waktu singkat.


Setibanya disana Cherry keluar dari mobil dan menatap rumah mewah itu dengan tatapan khawatir.


Daniel keluar dari mobil dan muntah muntah karena ulah Cherry.


huweekkk....


"be..benar nyonya...ughhh huwekkkk...


Jawab Daniel sambil muntah muntah saking mualnya.


" Dasar lemah!" ejek Cherry sambil melangkahkan kakinya memasuki rumah itu bersama tim Alpha yang mengenal wanita itu. Melihat kedatangan Tim Alpha dan Phillip juga, para pengawal langsung membuka pintu untuk mereka.


Cherry masih berdiri di halaman, matanya menangkap sosok seseorang yang berdiri di bibir balkon sambil menata langit dan menangis sesenggukan dengan botol alkohol di tangannya.


" Kak Phineas!!" Cherry panik sontak gadis itu berlari secepat kilat menuju lantai dua.

__ADS_1


" Cepat siapkan matras, tuan kalian berdiri di pinggir balkon!!" pekik Cherry dengan wajah panik. Seisi rumah juga ikut panik. Kepala pelayan keluar dar kamarnya saat mendengar suara ribut-ribut. Betapa terkejutnya Pak Andre saat mendengar apa yang sedang terjadi pada tuan mudanya.


" A..anda siapa!? apa yang terjadi!??" tanya Pak Andre. Cherry mengacuhkan pria itu, tak ada waktu menjawab, dia berlari sekencang-kencangnya menuju lantai dua.


" Dia adik kami pak, tenang saja ,sekarang siapkan matras, si Bodoh itu sudah mulai gila!!" ucap Philip yang juga panik dan langsung mengejar Cherry.


Sementara itu, Cherry berjalan dengan langkah cepat tanpa kedengaran. Dia sampai melepaskan sepatunya agar langkahnya tak terdengar oleh Phineas. Benar feeling nya yang mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk pada Phineas. Dia melihat pria itu melakukan tindakan bodoh.


Perlahan Cherry mengendap-endap menuju ruang depan dimana balkon utama tempat Phineas berdiri.


" Hahaha... aku akan menyusulmu Ra... Abang akan datang sayang, Abang rindu Rara... Abang ikut ya... hahahha... mari kita berpesta malam ini!!!" racau pria itu sambil mengangkat botol alkoholnya. dia berdiri di bibir balkon dengan kondisi mabuk sambil berjalan kesana kemari dengan keseimbangan yang hampir hilang.


" ehh hampir terjatuh hahahha...


" Ra... Abang gak kuat, Mommy dan Daddy gak sayang sama Abang, Mom dan Dad cuma mikirin kamu, lalu Abang mau gimana Raa... ahahahahha.... Abang gak kuat!!!!" pekik pria itu dengan air mata yang membasahi kedua matanya.


Di saat yang sama, pria itu kehilangan keseimbangannya Karena pengaruh alkohol dalam tubuhnya.


" Aku akan mati... aku akan menyusulmu Ra....


" Tiiidaak, kak Phineas!!!" pekik Cherry yang langsung menangkap tangan Phineas hingga mereka berdua terjatuh bersama.


.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen 🤗


__ADS_2