Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh

Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh
132


__ADS_3

Alesha tampak mengedipkan kedua matanya. Dia bangun dari tidurnya dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Gadis itu mengerang kesakitan, seluruh luka di badannya seolah disiram dengan garam cair .


"Akhhh..... sshh.... ahhhkkk........" lirih gadis itu. Alesha menggelinjang di atas kasur dengan tubuh kesakitan dan air mata yang mengalir dengan begitu deras.


Sontak Phineas terbangun dari tidurnya. Dia terkejut saat mendengar suara rintihan seorang gadis. Matanya tertuju pada Alesha yang mencengkram.kuat perut bagian bawahnya, tepat ada posisi dimana salah satu ginjalnya diambil dengan paksa oleh Bibinya.


"Alesha kau baik baik saja!? ada apa!?" Phineas tampak terkejut jelas terlihat dari gerak tubuhnya yang langsung sigap memeriksa tubuh Alesha.


"Dok cepat masuk!!!" pekik Phineas dengan suara lantangnya.


Alesha semakin mengerang kesakitan. Pedih dan berdenyut di sekujur tubuhnya membuat dia benar benar lemah.


" emphhh..... hiks hiks hiks...."yang terdengar dari bibir gadis itu hanya suara tangisan dan erang kesakitan yang begitu menyiksa. Dia menekan perutnya berusaha untuk meredam rasa sakit di bagian bawah. Phineas tampak khawatir padahal semalam Alesha terlihat baik baik saja.


"Cepat periksa dia, apa yang terjadi padanya!?" titah Phineas.


Dengan segera para medis mengecek kondisi alesha. Mereka memberikan obat pereda nyeri dan penenang agar gadis itu tak kesakitan lagi. Benar saja setelah beberapa menit mendapatkan suntikan, Alesha menjadi lebih tenang dan tak kesakitan lagi.Bahkan wajahnya sudah tak sepucat itu lagi.


"Apa yang terjadi? kenapa dia kesakitan seperti itu!?" tanya Phineas sambil menatap petugas medis dengan tatapan menyelidik. Jiwa detektif nya selalu hidup dan berhasil membuat lawan bicaranya merasakan sensasi di interogasi oleh seorang psikopat.


"Apa yang sebenarnya kalian lakukan, apa kalian tidak bisa becus merawat seorang gadis saja, kalian dibayar untuk membuatnya lebih baik bukan malah membuat keadaannya semakin buruk, lakukan yang benar!!" kesal pria itu.


Phineas yang dulu tak berbicara sebanyak itu pada orang lain tetapi demi seorang gadis yang tak tau asal usulnya dari mana dia mengomeli semua bawahannya.Tampaknya bakat mengomel dari Ibu Kost dan tingkah jenaka Philip dan Elton yah berbaur dengan kepribadian dingin si Siberian Husky.


Para petugas medis terlihat ketar ketir menghadapi tempramen gila Phineas yang sangat mudah berubah ubah.


"Jelaskan, apa mulut kalian itu hanya pajangan hah!??? dasar bodoh!" umat pria itu.


"Ma.. maaf kan kami tuan, nona ini harus segera mendapatkan donor ginjal dan melakukan operasi, rasa nyeri di bagian bawah perutnya berasal dari luka operasi yang tidak steril, tetapi kami sudah memberi antibiotik untuk mempercepat penyembuhan. Dengan mengkonsumsi antibiotik dan vitamin secara rutin akan memperbaiki keadaan nona ini sampai kita menemukan donor yang tepat,"jelas dokter itu.


"Lalu suaranya!?" tanya Phineas.


"Peradangan di tenggorokannya membuatnya susah menelan, kami akan memberikan dosis obat rutin melalui cairan infus, selain itu cairan obat juga harus masuk melalui bagian mulut alias dosis obat oral" jelasnya lagi dengan suara ketakutan.


"Lalu!?"

__ADS_1


"Kapan kalian mendapatkan ginjalnya!?" tanya Phineas dengan nada dingin.


"eh.. i..itu... setelah kami melakukan pemeriksaan darah, butuh waktu seminggu, sembari menunggu nona pulih kami akan menemukan donor yang tepat," jelasnya lagi.


"Lalu makannya bagaimana? minumnya!?.kenapa kau menjelaskan bertele-tele sih, merepotkan sekali!" ucap Phineas berdecak kesal.


"Ma..maaf tuan masalah makanan nona belum bisa makan dengan benar, yang bisa dilakukan hanya memberikan minuman nutrisi dan air untuk membantu pemulihan,"jelasnya lagi.


"Dasar merepotkan, sudah tangani dia dengan baik, kalau sampai keadaannya memburuk maka aku akan membunuh kalian satu persatu!" ancam Phineas sambil beranjak dari sana.


Tiba-tiba Alesha menangis histeris saat melihat Phineas pergi dan menyisakan para petugas medis di dekat.


"hiks hiks.. hiks... aarhhhh.... Rrhhhhh.... Rhhhh....." Alesha menangis sesenggukan bahkan sampai membuat petugas medis terkejut.


"Tuan Muda, nona menolak kami urus!" ucap dokter tadi dengan wajah ketakutan.


Seketika Phineas terdiam dan menatap mereka, bagaimana bisa dia lupa kalau Alesha butuh pendamping jika berhadapan dengan petugas medis saat dia sadar.Gadis itu tampak trauma dengan petugas medis seperti mereka.


Benar saja, tatapan ketakutan dan berharap pada Phineas jelas tergambar di wajah Alesha. Dia menatap Phineas dengan air mata berjatuhan.


Gadis itu hanya menatap Phineas, tangannya terangkat pelan lalu menggenggam tangan Phineas yang bertengger di atas kasur.


"Apa kau takut?" tanya Phineas dan dibalas dengan anggukan kepala.


"Baiklah akan ku temani tapi hanya sampai satu jam ke depan, aku masih harus bekerja!" jelas pria itu.


Alesha paham, dia dengan lembut menggenggam tangan Philip dan menatap pria itu dengan tatapan tulus.


"Terimakasih banyak terlah menyelamatkan aku, terimakasih banyak tuan!" batin Alesha sambil terus menatap Phineas dengan serius.


"Kau berterima kasih?" tanya Phineas dan dibalas anggukan kepala oleh Alesha.


" Simpan dulu sampai kau benar-benar pulih total Alesha," ucap Phineas seraya menggenggam tangan gadis itu.


Pada akhirnya Alesha diperiksa dengan Phineas yang menjaganya di samping.

__ADS_1


Setelah Alesha terlelap karena efek obat, Phineas keluar dari dalam ruangan itu dan membiarkan gadis itu beristirahat dengan benar.


Ddrrtt...


Ponsel Phineas berdering, terlihat nama dan fotonya bersama Cherry muncul di ponselnya.


"Halo Dek, " jawabnya singkat.


"Kak... kakak dimana? Cherry khawatir, kakak gak pulang semalaman, apa terjadi sesuatu? Kakak sudah makan pagi? " tanya gadis itu dengan suara lirih dari seberang sana.


Phineas tersenyum lembut, dia sangat senang mendapat perhatian seperti ini terutama dari adiknya.


"Kakak sedang di rumah orangtua kakak, ada beberapa urusan yang harus kakak selesaikan, mungkin beberapa hari ini kakak nggak sering kesana, ada yang harus kakak urus, kamu baik-baik saja kan?" tanya Phineas sambil berjalan menuju sebuah kamar di lantai satu.


"Ohh.... baiklah, Cherry baik baik saja, ya sudah Cherry tutup ya kak, jaga kesehatan, Titip salam buat Tante dan om," ucap gadis itu dengan suara tak bersemangat seperti biasanya lalu mengakhiri panggilan tanpa mendengar jawaban dari Phineas.


Pria itu menatap ponselnya, dia merasa aneh dengan sikap Cherry hari ini. Tak biasanya gadis itu berbicara dengan singkat, Jiak bertelepon, pasti selalu ada banyak hal yang akan mereka bahas, dan Phineas menunggu hal itu. Namun anehnya Cherry malah berbicara singkat lalu mengakhiri panggilan.


"Ada apa dengannya? tumben sekali dia seperti ini?" pikir Phineas.


Sembari masuk ke dalam sebuah kamar yang cukup besar dan memiliki Serangkaian komputer , dia membaca pesan masuk ke dalam ponselnya.


"Tolong lindungi istri dan anak-anak ku selagi aku di luar, aku akan melakukan pemulihan total untuk kakiku, jadwal operasi sudah ditentukan, hari ini aku dan Rania akan berangkat ke Finlandia, wanita sialan itu terus mencoba menghubungi ku, aku takut dia menemukan info tentang Cherry dan Anak-anak," isi pesan Grape beberapa menit lalu.


Wajah Phineas langsung berubah, " Pantas saja suara Cherry seperti itu!" gumam Phineas.


"Apa si bodoh ini tak bisa menyingkirkan satu sampah tak berguna sampai adikku terusik?? awas saja kau sampai Cherry terluka!" geram Phineas.


.


.


.


like, vote dan komen 🤗

__ADS_1


__ADS_2