
Kabar bahagia kehamilan Cherry sampai ke telinga semua rekan-rekan dan keluarga mereka. Semuanya sangat antusias mendengar kabar baik ini, bahkan Azura yang akan segera melahirkan pun begitu bahagia mendengar kabar kakak iparnya mengandung.
Sama halnya dengan rumah Phineas, pria itu baru selesai berpakaian hendak pergi melakukan rencana mereka untuk memberikan hukuman yang setimpal atas perbuatan Ziora pada keluarga mereka selama ini termasuk membaskan kematian Rara beberapa tahun yang lalu.
Beberapa saat lalu dia menerima panggilan video ari si heboh Philip yanhg menghubngi semua orang dan mengabarkan kehamilan Cherry. Pria itu tersenyum dan mengucapkan selamat pada Cherry dan Grape, dia juga sangat antusias dengan kehamilan Cherry.
Setelah melakukan panggilan video, dia bersiap untuk pergi ke lokasi pemusnahan hama wabah paling berbahaya yang tak bisa dibiarkan hidup tenang karena telah memberikan banyak penderitaan bagi mereka selama ini.
Phineas mendesis saat luka di bagian kepaanya yang masih basah terkena sentuhan tangannya, luka itu masih belum diobati, luka karena pukulan botol minuman keras yang dipukulkan oleh anak buah Big Mouse beberapa hari lalu.
Semua orang yang terlihat hari itu telah diamankan, anggota keluarga Alchemis yang menjadi korban Big Mouse telah di rawat di rumah sakti dengan pengawasan ketat oleh anak buah Elton. Pria itu yang mengurus semua anggota Alchemis yang terpisah.
“ Lukanya dalam juga, ck.. seharusnya aku meminta mereka menjahitnya,” gumam Phineas sambil berjalan keluar dari kamar dan mengusap ujung kepalanya untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya walaupun tidak berpengaruh sama sekali.
Pria itu berjalan dengan pelan, beberapa luka di lengan dan kakinya juga belum diobati, dia terlalu sibuk mengurus semua penjahat samapi melupakaj kesehatannya. Di seberang ruangannya, Alesha menatap Phineas yang sejak hari kemarin sibuk mengurus para penjahat sampai melupakan kesehatannya, jarang makan dan sering pulang larut karena pekerjaan.
Gadis itu menatap Phineas, matanya menangkap darah Phineas yang itba-tiba mengalir dari luka di kepalanya dan menodai kaos putih yang dia pakai, siapa sangka luka yang tidak diobati itu ternyata semakin parah.
“ Kenapa dia tidak berobat? Kepalanya masih berdarah?” Alesha tampak panik, cepat-cepat dia melangkah ke dapur menemui Pak Andre yang sudah kembali. Setelah di rawat seminggu lebih di rumah sakit, Pak Andre kembali pulih seperti sedia kala dan memilih bekerja di apartemen Phineas daripada dia pulang dalam kondisi banyak bekas luka di tubuhnya, dia tak ingin membuat keluarganya di kampung khawatir dan berpikir majikannya menyiksa dirinya.
“ pak Andre...” suara Alesha terdengar bergetar, siapa pun yang mendengarnya bisa tau kalau gadis itu sedang dalam kekhawatiran saat ini. Pak Andre yang sedang mengawasi pelayan memasak di dapur menoleh ketika mendengar suara gadis itu.
“ nona ada apa? Kenapa Anda panik?” tanya pak Andre yang jadi ikutan panik.
“ Luka.. itu... p3k... dimana pak? Kotak p3k?” tanya Alesha.
Pak Andre dengan cepat mengambil kotak p3k di dalam lemari di sudut ruangan itu dan memberikannya pada Alesha,” ini non, emangnya ada apa ya?” tanya pak Andre penasaran.
“ itu, tuan Phineas.. darah... nanti saya jelaskan ya pak, saya ke tuan dulu..”ucap Alesha yang langsung berlari ke arah ruangan depan, mengejar Phineas sebelum pria itu pergi dari rumah itu.
__ADS_1
Alesha berlari sekuat tenaga sambil membawa kotak p3k itu di tangannya. Mencari keberadaan Phineas. Dia berlari ke arah ruangan paling depan, matanya menangkap sosok Phineas yang duduk di ruangan depan sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit dan berdenyut, dia pikir lukanya akan langsung sembuh dalam beberapa hari karena sebelumnya juga begitu, namun imunnya menurun karena tidak makan dengan teratur selama beberapa hari ini.
Alesha berjalan dengan cepat, matanya menatap kaos phineas yang ternodai dengan darah dari kepalanya, cepat-cepat gadis itu mendekati Phineas. Dia meletakkan kotak itu di atas meja dan menatap Phineas dengan tatapan kesal,” tuan itu lukanya kenapa belum diobati?” omel Alesha sambil berkancah pinggang menatap Phineas yang terlalu sepele dengan kesehatannya. Gila kerja tapi lupa jaga tubuhnya.
Phineas terkejut saat melihat Alesha berdiri dengan wajah merah seperti banteng karena marah padanya.
“ Alesha, aku...
Alesha langsung menarik Phineas sampai pria itu duduk menyamping, gadis itu naik ke atas sofa dan menatap luka di kepala Phineas,” ini berdarah, apa Anda sadar?” tanya gadis itu.
Phineas tak tahu, dia memegang luka itu lalu menatap jarinya, benar saja lukanya berdarah.
“ aku tidak sadar, jawabnya pelan.
“ Ck... Anda gila kerja tapi tubuh sendiri tidak dijaga, dasar orang gila,” ejek Alesha.
“ Biar kuobati, boleh kan? “ tanya Alesha tetapi tangannya sudah mengambil cairan pebersih luka dan mulai bekerja.
“ iya, akan ku obati, tenang saja dan jangan bergerak, ini sangat parah, lukanya dalam,” ucap Alesha.
Phineas tersenyum, wajah pria itu sangat tampan ketika bibirnya melengkung ke atas, senyuman yang sangat jarang dia tunjukkan padaorang lain.
Alesha dengan lembut mengobati luka Phineas sambil bertanya apakah dia melakukannya dengan benar, apakah lukanya sakit, dan hal hal lainnya.
Dengan cepat luka itu sudah ditutup dengan pelster,” sudah selesai,” ucapnya sambil menatap luka itu dengan puas.
“ lain kali kalau terluka langsung diobati, ini akan infeksi jika tidak melakukannya tuan,” ucap Alesha yang hendak turun dari sofa, namun tiba-tiba Phineas menahan tangannya dan membaik posisi mereka. Alesha berada tepat di hadapan Phineas yang memeluk pinggangnya sambil tersenyum menatap kedua manik mata gadis itu,” tu... tuan apa yang...
“ terimakasih Alesha,” ucap Phineas sambil tersenyum dengan wajahnya yang tampan. Ini kali pertama Alesha melihat senyuman merekah di wajah Phineas, senyuman bahagia tanpa beban. Belum lagi tangan Phineas yang diletakkan di pinggangnya membuat gadis itu berdebar tak karuan, semburat merah muncul di kedua pipinya bahkan telinganya sampai memerah seperti tomat. Dia menatap Phineas dengan mata membulat sempurna, gugup, malu dan bergejolak dirasakan gadis itu di saat yang sama.
__ADS_1
“ Terimakasih a... Le...” bisik Phineas yang malaj mempereat pelukannya pada pinggang Alesha sampai membuat jarak diantara tubuh mereka semakin menipis.
Jantung gadis itu semakin berdebar tak karuan, sejak kapan Phineas jadi seagresif ini, bayangkan saja wajah pria itu tepat berada di depan dadanya, posisi yang pasti akan membuat Bella, Elton dan Philip bersumpah serapah.
“ Ya Tuhan.... tampan sekali....” celetuk gadis itu tanpa sadar . Mungkin dia hendak mengatakannya dalam hati tetapi malah keceplosan.
Phineas tergelak,” tampan? Benarkah cantik?” balas pria itu dan Alesha yang masih terhipnotis dengan wajah Phineas mengangguk tanpa sadar,” iya... eh...”
“ ti.. tidak,..... arhhhhhh apa yang kulakukan...” teriak Alesha panik saat menyadari apa yang terjadi, wajahnya sangat merah, dia benar benar malu dengan sikapnya tadi, cepat-cepat gadis itu berusaha melepaskan diri, tetapi Phineas tampaknya tidak mau melepasnya.
“ Tu.. tuan lepas... “ ucapnya pelan sambil menutup wajahnya karena malu.
Phineas tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah Alesha yang menurutnya sangat menggemaskan, ini juga yang pertama kalianya pria itu tertawa begitu puas setelah sekian lama. Bahkan Pak Andre dan para pelayan sampai berlari ke depan untuk melihat siapa yang tertawa begitu bahagia di pagi ini, dan ternyata mereka mendapati tuan muda mereka sedang memeluk Alesha yang tak lagi bisa menahan malu.
“ Tuan.. malu ... “ ucap Alesha berusaha melepaskan tangan Phineas. Pria itu tergelak, dia melepaskan Alesha dari pelukannya . Tangannya yang besar menepuk kepala Alesah dan menatapnya dengan tatapan sayang.
“ terimakasih, jangan malu-malu, aku pergi dulu ya, nanti akan kuhubungi, kamu akan diantar Pak Andre ke rumah sakit, kita bertemu disana, Azura akan melahirkan, sudah tahu kan?” tanya Phineas yang kini berdiri dan menatap mata Alesha.
“ i... iya... ba.. baiklah.... tuan...” jawabnya dnegan suara gugup sambil mengalihkan pandangan matanya.
Phineas tersenyum,” aku pergi, telepon aku jika terjadi sesuatu, ingat makan obatmu,” ucap Phineas setelah dia memeluk Alesha sekali lalu pergi dengan santai seolah tak terjadi apa-apa barusan.
“ Ya.. ya ampun... apa tadi itu....” Suara gadis itu bergetar, dia menepuk dadanya yang berdebar sangat kencang, terduduk dnegan wajah syok sambil menatap Phineas yang pergi dengan santai.
“ jantungku... arrrkkhhhhh aku mau tenggelam saja!!!! ini sangat memalukan
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen