
Dante menarik tangan Sarah menuju lantai dua dimana dia sudah memesan tempat untuk menonton konser musik dengan tenang. Dengan senyuman lebar pria itu berhenti sejenak di dekat bar di sisi ruang konser,” mau minum apa?” tanya Dante.
“ Ehh aku... kita kenapa kesini? Alesha masih Sakit loh dan kak Rania tiba tiba pergi kalau mereka butuh bantuan bagaimana?” Sarah masih belum beradaptasi dengan suasana.
“ Tenang saja, tadi sudah diijinkan oleh Phineas, Rania mungkin sedang ada urusan, jangan mikir yang lain lain, fokus saja pada kita,” ucap Dante sambil mengangkat tangan Sarah dan tersenyum sumringah.
“ Give me 2 Cola and the Choco Bread..” Dante memesan cemilan untuk mereka.
“ ayo..” ajak pria itu .
Mereka berdua naik ke lantai dua yang jelas adalah area VVIP yang pelayanan dan kualitas menontonnya labih tenang dan tidak berdesak desakan seperti di bawah.
Sarah menatap kerumunan yang sangat banyak pada konser musik yang menghadirkan banyak tokoh musik,” Wahhh sudah lama aku tidak keluar seperti ini..” gadis itu berdiri di pinggir pagar pembatas sambil menatap jauh ke depan. Dante meletakkan cemilan mereka di atas meja sambil menatap Sarah dan tersenyum senang.
Kakinya yang jenjang itu melangkah dan mendekati Sarah dengan dua buah Cola di tangannya,” Sekali sekali nikmati hidupmu, kau bekerja terus, datang ke sini pun kudengar kau bekerja, apa tidak lelah?” Dante memberikan minuman itu pada Sarah.
“ Aku senang bekerja, itu membuatku merasa hidup,” jawab Sarah sambil menerima minuman itu,” terimakasih untuk minumannya,” ucap Sarah sambil tersenyum.
“ Lalu bagaimana kalau tiba tiba ada yang mengajakmu menikah tapi kau dilarang bekerja, apa yang akan kau lakukan?” tanya Dante.
“ aku akan meninggalkan orang itu, jelas jika dia melarangku berarti dia tidak benar benar menghargai aku, itu tandanya dia membenci pekerjaanku, padahal Sarah yang ini tidak akan dikenal jika dia bukan bagian dari Militer,” Jawab gadis itu dengan tegas.
Seutas senyuman tergambar di wajah Dante, tangannya lagi lagi mendarat di kepala gadis itu.
Sarah selalu terdiam sepeti anak kecil yang terkejut ketika diperlakukan dengan begitu lembut dan manis oleh Dante. Lagi lagi alunan genderang di dalam dadanya ditabuh begitu keras sampai membuat wajahnya memerah seperti kain kirmizi. Sarah mengulum bibirnya lalu menatap ke depan.
Mengenal Dante beberapa waktu belakangan ini membuat Sarah gugup dan mendapat banyak hal yang baru dari pria itu. Belum lagi cara Dante memperlakukan seorang perempuan tentu saja membuat gadis yang baru pertama kali seumur hidupnya dekat dengan pria dalam urusan cinta merasa berbunga bunga.
__ADS_1
“ Huffhh kenapa aku jadi gugup begini?” gumam Sarah. Ternyata Dante masih bisa mendengar ucapannya, pria itu menyesap colanya, dia berjalan ke belakang Sarah lalu melingkarkan tangannya di tubuh gadis itu,” hei... aku menyukaimu...” bisik Dante tepat di telinga Sarah.
Gadis itu sontak terkejut,” sialan!" tiba- tiba Sarah berteriak. Bahkan Dante sampai terkejut dengan teriakan Sarah, dikira dia salah ucap,” Sarah aku...” Dante terkejut dia melepaskan tangannya dari Sarah.
Gadis itu terlihat panik,”ehh ma.. maaf... aku juga menyukaimu tapi sepertinya ini bukan momen yang tepat Dante... kau lihat orang itu kan?” Sarah menunjuk seorang pria berkuliut putih dengan tubuh tinggi dan kekar di seberang bangunan mereka.
Dante sempat melamun saat mendengar jawaban Sarah tapi dia malah ditarik gadis itu untuk melihat seseorang di seberang sana yang sedang menunjukkan gerak geraik mencurigakan sedangkan beberapa orang dari kejauhan tampak mengawasi orang itu.
“ Ada apa?” Dante menatap ke arah kejauhan , tepat pada titik yang ditunjuk oleh Dante,” Dia seorang buronan narkoba.... dia yang sedang kami selidiki makanya aku datang ke negara ini, jaringannya sudah sampai masuk ke dalam pertahanan, jika terus dibiarkan dia akan merusak bagian pertahanan negara,” ucap Sarah.
Dante menghela nafas, ini risiko terbesar ketika dia memilih menyukai seorang pekerja keras dan seorang gadis yang sangat mencitnai pekerjaannya, perempuan itu bahkan tidak bisa tenang ketika pekerjaannya terus memburu.
“ Lalu apa kau mau menangkapnya?” tanya Dante sambil menaikkan sebelah alisnya.
” apa itu bahkan sebuah pertanyaan Dante?” Balas Sarah dengan saura Datar, dia meletakkan colanya di atas meja lalu beranjak dari sana sambil mengeluarkan senjatanya.
“ hey.. kan aku yang bawa kesini... aku...
“ Aku juga menyukaimu, ingat saja itu, ini pertama kali bagiku, rasanya sedikit canggung dan aneh.. tapi aku harus melaukan pekerjaanku Dante... aku harus menyelesaikan bajingan itu...” Ucap Sarah yang masih menyempatkan dirinya menyatakan perasaannya pada Dante.
Jujur saja, dia bukannya tidak peka dengan perbuatan Dante, dia bukannya tidak tahu kalau pria itu pasti menaruh hati padanya, hanya saja dia merasa ini terlau cepat untuk hubungan mereka, dia butuh proses dan dia butuh menyesuaikan diri bahkan menyesuaikan pekerjaannya.
Dante terdiam di tempat, dia tak menyangka Sarah mengatakan ha itu sekali lagi, pengakuan yang jelas di dengar oleh pria tampan berkahrisma itu.
“ Sarah kau.... “
Dante menatap Sarah untuk waktu yang lama. Dia terdiam dan terpaku menatap Sarah sedang berkoordinasi dengan rekan-rekannya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, saat Sarah sudah pergi dan mengurus buronan itu dengan cara diam diam agar tak membuat konser kacau, tiba-tiba rekan kerja Dante menghampiri pria itu.
“ Wah tuan Dante senang bertemu dengan Anda, tak kusangaka bisa bertemu dengan wajahnya Phoenix disini..” suara bariton seorang pria yang sudah berusia setengah abad terdengar jelas di telinga pria itu.
Dante berbalik dan mendapati salah satu rekan bisnisnya di sana,” tuan Hermanto.. ahh senang bertemu Anda...” Dante menyambut mereka sekalipun ekor matanya masih mengawasi Sarah dari atas sana.
“ Baiklah, dia juga punya perasaan yang sama, persis seperti diriku, aku pun mencintai pekerjaan ku, aku harus menghargainya dan membiarkannya bekerja karena aku juga punya pekerjaaan disini, alasan aku membawa Sarah ke tempat ini,” batin Dante.
Sebenarnya Dante datang ke area konser itu bukan hanya untuk mengajak gadis pujaannya untuk berkencan tetapi memiliki tujuan bisnis bersama rekan rekannya yang akan segera tiba di tempat itu.
Kedua orang ini sama sama tipe gila kerja, Sarah mengurus pertahanan negara dan Dante mengurus pertahanan Phoenix grup yang dia dan Philip pimpin.
“ Kebetulan sekali kita bertemu disini, saya juga ada rapat dengan tuan Jaka dan Mr. Ali, hanya saja mereka beum tiba, silahkan duduk tuan.. nona,” ucap Dante dengan profesional memberi mereka duduk .
Tampak gadis yang duduk di samping tuan Hermanto mencuri-curi pandang pada Dante, jelas gadis itu sangat agresif terbukti dari caranya menarik roknya sedikit ke atas agar menunjukkan pahanya yang putih dan mulus itu, tetapi jangan salah, yang dia hadapi adalah seorang pria sedingin dan sekaku es, tak akan berhasil dia menggoda si datar dari Phoenix itu.
“ Halo tuan.. perkenalkan saya Rebecca, putri tertua tuan Hermanto,”gadis itu menjulurkan tangannya namun hanya dibalas anggukan kepala oleh Dante. Dengan cueknya dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang disana.
Rebecca menatap Dante sambil menyipitkan matanya, dia benar benar tertarik dengan pria itu, “ Benar benar seleraku, dia ikan besar yang sangat sulit digapai... hummm.,.... akan menyenangkan kalau kami bermain malam ini... ikan besar tak boleh lepas...” batin nya dengan senyuman licik sedangkan tangannya sudah bergerak menuju kaleng soda yang diletakkan di dekat Dante.
.
.
.
Liek, vote dan komen
__ADS_1