
Mendengar suara grape membuat Cherry menoleh, dia menatap suaminya sambil menangis, entah kenapa melihat wajah Grape membuat hati gadis itu lega,” kak... “ lirih gadis itu sambil menatap Grape yang terduduk di atas tanah dengan rasa bersalah yang besar, sambil mengumpat dirinya sendiri dan memukuli kedua kakinya.
Elton paham dengan maksud Cherry, dia menurunkan Cherry tepat di samping Grape. Cherry menghentikan tangan suaminya sambil menangis, dia menarik Grape ke dalam pelukannya, dia bisa paham perasaan Grape saat ini. Pria itu pasti merasa tidak berguna sebagai seorang suami yang cacat. Dengan lembut Cherry memeluk suaminya dengan erat sambil menangis.
“ Maafkan aku membuatmu khawatir hiks hiks hiks... aku baik baik saja, jangan pukuli dirimu seperti itu Grape... tidak apa- apa.... aku baik-baik saja...” gadis itu menangis sambil memeluk erat suaminya dengan air mata yang terus berjatuhan.
“ Aku membuatmu khawatir, maafkan aku, seharusnya aku tidak mengikuti pria itu tadi, tapi jika tidak demikian aku tidak akan tau apa yang terjadi pada rekan kerjaku, maafkan aku malah membuat kalian semua panik...” lirih Cherry. Bisa bisanya gadis itu masih mengkhawatirkan perasaan mereka padahal nyawanya saja sudah dalam bahaya.
Grape membalas pelukan istrinya, setidaknya dia merasa lega karena Cherry selamat dari kejadian ini meski gadis itu terluka. Dia bisa merasakan punggung gadis itu basah karena darah dari lukanya yang terbuka.
“ punggung mu Cher... kau terluka...” Grape tampak panik dia menatap wajah Cherry, gadis itu hanya membalasnya sambil tersenyum. Dia mengusap wajah Grape,” nggak apa apa aku baik baik saja kok, aku sudah berpikir kalau aku tidak akan bertemu dengan suamiku yang tampan ini lagi hiks hiks hiks... syukurlah... Tuhan masih mengijinkanku untuk bahagia, membuatku selamat...” lirih Cherry sambil mengusap wajah suaminya sambil menangis. Baginya luka di punggungnya itu bukan masalah besar.
Ketakutan paling besar yang tak ingin dia hadapi adalah berpisah dan membuat Grape sedih.
“ Aku bersyukur aku masih bisa selamat dan menatap kakak kakakku juga, itu saja sudah membuatku senang, luka ini bukan apa apa ...” ucap Cherry sambil menatap Phineas, Philip dan Elton. Sedangkan Rania menyembunyikan diri di belakang punggung lebar Elton.
Rania dan ketiga pria yang berada di dekat mereka terdiam melihat tatapan tulus dari gadis itu. Tatapan penuh kasih dan hangat yang membuat hati mereka yang dingin seolah mencair. Philip dan Elton malah menangis, selain bar bar kedua pria ini juga sedikit cengeng. Phineas menghela nafas lega, baginya keselamatan gadis itu yang paling penting. Rania sendiri menangis sesenggukan di belakang punggung Elton. Dia sangat ingin memeluk Cherry sekarang, tapi dia tak bisa membongkar identitasnya untuk saat ini. Dia bahkan sampai memakai masker dan topi untuk menutupi identitasnya sebagai Rania.
Di sudut rumah itu ada satu pria lagi yang bisa bernafas lega setelah melihat Cherry selamat, dia adalah Bian anak bungsu dari tiga bersaudara Cornelius yang baru saja tiba setelah dihubungi oleh kakak perempuannya.
“ Ahhh syukurlah Cherry selamat, syukurlah.... kakak ipar kau harus bertahan, kami akan melindungimu, sebentar lagi semuanya akan kembali ke tempat semula,” batin Bian yang langsung beranjak dari sana setelah memastikan kakak iparnya selamat.
“ Ayo kita cepat ke rumah sakit, lukamu harus segera ditangani,” ucap Phineas.
Elton menggendong Cherry lagi, sedangkan Grape dibantu oleh Philip untuk naik ke atas kursi rodanya. Mereka semua pergi dari tempat itu, mata seluruh pelayan tertuju pada mereka. Cherry melirik rekan rekannya sebagai pelayan di rumah itu.
“ Cherry... maafkan aku hiks hiks hiks... harusnya aku tidak kabur... maafkan aku...” Nani berlutut meminta maaf saat melihat Cherry dan yang lainnya lewat.
__ADS_1
“ Dia yang memberitahuku dimana posisi bajingan itu membawamu,” bisik Elton. Cherry menghela nafas lega, dia pikir Nani akan kabur begitu saja. Saat melihat wajah Nani, gadis itu tersenyum lembut sambil mengangguk dengan jari jempolnya naik ke atas seolah mengatakan terimakasih .
Nani mengangguk sambil menangis, setidaknya rasa bersalahnya berkurang. Tentu kejadian ini membuat semua orang di rumah besar itu bertanya-tanya belum lagi kedatangan orang orang penting yang dikenal oleh para pelayan dan penjaga lama yang tentu tau siap Grape dan gengnya itu.
Cherry di bawa ke rumah sakit dengan pengawasan penuh. Rania mengikuti mereka dan duduk di samping Elton yang membawa mobil. Cherry menatap gadis yang duduk di sebelah Elton dengan tatapan penasaran, gadis itu menarik tangan suaminya lalu berbisik," dia siapa Grape?" Tanya gadis itu sambil melirik Rania dengan wajah penasaran.
"Kakak iparmu, dia kakak tertuaku," jawab Grape yang tak ingin lagi menyembunyikan identitas mereka dari Cherry.
Gadis itu terkejut, dia memang tidak tau apa apa tentang keluarga suaminya. Dan anehnya gadis itu malah penasaran dengan sosok Rania di saat seperti ini.
"Apa dia membenciku!? Kenapa dia tidak menyapaku?" Bisik gadis itu lagi.
"Nanti sayang, kau ini cerewet sekali bahkan di saat punggungmu terluka seperti itu, apa kau tidak kesakitan!?" Tanya Grape yang malah heran dengan kelakuan gadis itu.
"Ahkhhh sakit sih... Tapi penasaran hihihi...."Cherry tertawa cekikikan sambil meringis kesakitan di saat yang sama.
"Pria itu mau... Mau melecehkanku jadi..." Cherry berhenti sejenak, dia mengepalkan kedua tangannya. Tentu saja dia trauma.
Grape tak menyangka istrinya akan mengalami hal seperti ini, seperti sebuah bencana yang tidak pernah mereka harapkan untuk datang. Gadis itu gemetar ketakutan, dia menggenggam tangannya sendiri, terasa dingin dan dia terbayang bayang dengan kejadian tadi.
Hancur sudah hati Grape dan Rania saat mendengar itu. Begitu pilu hati mereka saat tau kalau Cherry menjadi sasaran pria gila itu.
Grape menggenggam tangan Cherry, dia bisa merasakan betapa dinginnya tangan gadis itu.
"Cherry maaf seharusnya aku tidak bertanya, maafkan aku..." Ucap Grape sambil menatap istrinya dengan penuh penyesalan, seharusnya dia tetap diam dan menunggu sampai gadis itu lebih baik lagi.
"Tak apa...." Balas Cherry yang memegang erat tangan Grape untuk menghilangkan rasa takut nya yang semakin menjadi jadi.
__ADS_1
"Aku... Aku takut kalau aku tidak akan selamat tadi, bagaimana kalau hal itu benar benar sampai terjadi padaku, aku tidak tau apa yang harus kulakukan, satu satunya cara aku harus memukulnya meski punggung jadi korban, setidaknya... Aku... Aku bisa...
Cherry yang masih berusaha untuk menceritakan semuanya dengan baik berakhir menangis lirih dengan kejadian itu. Tentu saja dia ketakutan, dia adalah korban disini.
"Hiks hiks hiks..... Grape apa salahku kalau aku ramah pada orang lain? Kenapa dia menanggapinya berlebihan? Hanya karena aku menyapa nya setiap bekerja dia berpikir kalau aku menyukainya, hari itu saat aku membeli pakaian untukmu dia ternyata mengikutiku, dia dengan sengaja menubruk bahuku, pria itu melihat pakaian yang kubelikan untukmu, dan kau tau!? Dia... Dia membeli pakaian yang sama dan mengatakan kalau aku membelinya, tak kusangka dia orang yang segila itu!!!" Ucap Cherry sambil menangis sesenggukan, bahkan dia sampai sulit bernafas.
Grape, Elton dan Rania yang mendengar cerita gadis itu mengeraskan rahang mereka masing-masing. Bagaimana bisa pria itu melukai gadis yang biasanya ceria ini.
" Dia... Dia hampir melecehkan ku, dia memukuli gadis gadis lain, dia... Hiks hiks hiks... Dia akhhhh........
greepp....
"Tak apa, semua akan baik baik saja sayang, semua akan baik-baik saja, kau sudah aman sekarang, " Grape memeluk istrinya, menenangkan Cherry dalam pelukannya.
Rania masih menangis sesenggukan di dekat Elton, dia menahan dirinya agar tidak sampai terisak disana. Elton melirik gadis itu," hei kakak ipar jangan menangis seperti itu, nanti adikmu melihat, dia akan semakin sedih," bisik Elton.
"Aku tidak tahan Elton, Cherry... Aku ingin memeluk nya," lirih Rania.
"Nanti saja, peluk aku saja supaya kau tenang," goda Elton untuk membuat suasana hati gadis itu lebih baik.
"Cihh... Bisa bisanya kau bercanda sekarang!!!" Ketus Rania.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 🤗