
Bukannya menurut, Esther yang dibentak malah menangis histeris karena dimarahi oleh Aurel.
Gadis kecil itu menangis histeris seolah dia terkena pukulan.
" Aurel, tumben sekali kamu membentak putrimu, ada apa denganmu!??" tegur Bibi Yuni yang kebetulan berada disana.
"Lihat dia menangis seperti itu, ada apa denganmu, dan lagi kamu bilang penginapan tutup? tutup apanya rel, malah belum ada pengunjung sudah lima hari, kamu ini kenapa tiba-tiba begini!??" ucap Bi Yuni menghampiri mereka.
Aurel terdiam, dia masih menggenggam tangan Esther dengan wajah ketakutan.
" Hahaha lihat wajah si Aurel, heh perempuan nakal, tumben sekali kamu membentak putrimu anak haram itu, biasanya kamu selalu menyanjung dia, kupikir anakmu kuat mental, taunya dibentak begini malah menangis hahahah...."
Ejekan dari tetangga di depan rumah Aurel kembali terdengar, mereka semua menertawakan Aurel dan menyebutnya sebagai perempuan tidak baik.
" ohh ayolah, kenapa kalian membuat masalah sore sore begini, tidak bisa kah kami tenang menikmati kopi kami??" kesal para pelanggan yang duduk di kursi pelanggan di halaman rumah Aurel.
"Cihh.... anak haram itu memang sangat cengeng ya, ini pasti cara ibunya untuk menggaet pria pria tampan," ejek yang lain.
Aurel menahan air matanya, meski bukan sekali dua kali dia mendengar itu tetapi rasanya tetap sakit saat dirinya dikatai yang bukan bukan oleh semua orang.
Perhatian Xavier tertuju pada Esther yang menangis sesenggukan,tidak tega dia melihat putrinya dibentak seperti itu. Tetapi, sedikit banyak Xavier bisa mengerti dari cara Aurel menatap dirinya dan Esther bergantian, mungkin perempuan itu sudah menyadari sesuatu hanya dengan melihat wajah mereka yang mirip.
" Daniel, pegang Alvaro," ucap Xavier sambil mengoper Alvaro pada Daniel.
Dengan langkah berhati-hati,Xavier berjalan dan mendekati Esther yang menangis tersedu-sedu. Rasanya aneh saat mendengar tangisan hanya karena bentakan sekali itu.
" Hei gadis kecil," Panggil Xavier yang berjongkok di dekat Esther, dengan lembut dia menarik tangan Aurel yang menggenggam tangan Esther begitu kita sampai membuat tangan gadis kecil itu merah.
" Mau apa kau!! dia putriku, tidak akan kubiarkan kau...
Bibir Aurel berhenti bicara saat pria itu menatapnya dengan tatapan tajam. Dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya, jantungnya lagi-lagi berdegup kencang diiringi rasa takut yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
" Tenangkan dirimu, aku akan mengurus putriku," bisik Xavier pelan lalu kembali berjongkok dan menatap Esther dengan tatapan penuh kelembutan dan kehangatan.
Aurel terdiam, dia tidak bisa melawan, jika sampai dia berteriak, maka orang kampung itu akan tau siapa Esther sebenarnya, yang datang akan lebih parah dari sekedar hinaan, bahkan Esther mungkin akan diasingkan karena ibunya adalah perempuan yang sangat dibenci oleh orang-orang desa itu.
Xavier menatap Esther dengan lembut sambil menepuk kepalanya," Nak, lihat padaku," panggil Xavier sambil menurunkan tangan Esther yang menutupi wajahnya yang sembab.
" Hiks hiks hiks... Esther nakal... Esther bukan anak baik, Esther...
"Husshh siapa bilang, Esther itu anak baik, kemari biar kugendong ya sayang, kita masuk ke rumah," ucap Xavier sambil menarik anak itu dengan lembut dan memeluknya.
Ini kali pertama Esther mau dipeluk oleh pria dewasa. Ini kali pertama anak kecil itu merasakan kenyamanan dan kehangatan dalam pelukan orang dewasa.
"Paman..... siapa? kenapa wajahnya mirip Esther? " tanya anak itu pelan.
Xavier tersenyum tipis sambil menggendong putrinya, dia menatap wajah Aurel," boleh kami ke dalam? kau uruslah warungmu dahulu, " ucap Xavier.
__ADS_1
Melihat mata pada tetangga yang mulai julid, Aurel segera mengangguk dan membiarkan mereka masuk ke dalam rumahnya," Ka... kalian masuklah," ucapnya pelan.
Xavier, Esther, Daniel dan kedua anak ayam masuk ke dalam rumah sederhana itu dengan iringan mata para tetangga yah penasaran dengan siapa sosok pria bertubuh tegap dan berkharisma itu.
Mereka masuk ke dalam rumah, cepat-cepat Aurel merapikan lapaknya.
" Kalian pulanglah, hari ini tutup, datang setelah kami buka lagi!!" ucap Aurel.
" Loh nggak bisa gitu dong, kami juga pelanggan, mereka kan mau menginap jangan ganggu kami dong, mana permainannya baru mulai!!"
" Iya, gak asik kamu, biasanya juga kita main sampai jam 8 malam, kenapa sekarang tutupnya cepat, kalau gini mah kita gak mau lagi datang kesini!!"
" iya bener, mending kita ke lapak lain saja, mengesalkan sekali,"
Para pelanggan mulai protes, Aurel tidak tau harus berbuat apa, pikirannya sangat kacau.
" Ta... tapi kami hanya tutup sehari saja, ja..jangan begini dong, biasanya juga kan...
" Halah... ya sudah kami pindah lapak saja, dasar penjual tidak ramah, kami jauh jauh kesini buah beli kudapan sore tapi kamu usir, seterusnya tidak usah kesini lagi!!!"
"Rel udah buka aja dulu, kamu kenapa sih, sayang loh kalau mereka sampai minggat dari lapak ini, yang ada para manusia julid sana makin senang!" bisik Bibi Yuni.
" Aduhh gimana dong...." Aurel terlihat sangat bingung. Di saat yang sama Daniel keluar dari dalam rumah dan menghampiri Aurel," kami akan menginap disini nona jadi silahkan lanjutkan bisnis anda, tidak perlu tutup lebih awal, kami akan menunggu," ucap Daniel.
" Saya akan membantu jika ada yang berbuat dan berucap tidak pantas," bisik pria itu yang tentu saja atas perintah Xavier.
" Ba..baiklah kalau begitu,"
Akhirnya Aurel tetap membuka warungnya sekalipun pikirannya tidak fokus dan terus menerus memikirkan pria tadi dan ucapannya.
" Apa dia akan membawa Esther, nggak boleh, Esther itu putriku, aku tidak bisa memberikan nya pada orang lain, tapi...hiks hiks...bagaimana ini..." Aurel menangis di dalam hati.
Sementara itu di dalam rumah sederhana itu, Xavier sedang duduk bersama dua anak ayam dan putri kecilnya yang menatapnya dengan mata sembab.
" Paman siapa?" tanya Esther dengan suara lembutnya yang menggemaskan.
Alvaro dan Hansel saling melirik, mereka menatap paman mereka menanti jawaban pria itu.
"No... no... no..." Tiba-tiba Hansel berbicara sambil menggerakkan jari telunjuknya.
" Bukan Paman tapi Papa!" celetuk anak itu yang tidak tahan dengan rahasia yang tak kunjung dibongkar ini.
" Hansel!!"
" Kan memang benar Paman Papanya nenek sihir cerewet ini, kenapa nggak langsung bilang sih? ribet banget!" celetuk Hansel.
" Kau tuh ya Hansel, gak sopan tau!" balas Alvaro memarahi adiknya.
__ADS_1
" Papa!? Paman ini Papanya Esther!??" gadis kecil itu tersentak bahkan dia sampai berdiri dengan wajah terkejut dan menatap Xavier seolah tidak percaya.
" Iya, paman ini papanya nenek sihir, Papa kandung kamu!" balas Hansel lagi.
" Bukan nenek sihir Hansel, namanya Esther, jangan diganti!"
" Sama saja kak, dia itu nenek sihir, tukang omel!!" ucap Hansel.
" Nggak mungkin, nggak mungkin dia Papa Esther!!!!!" tiba anak itu berteriak dengan suara melengking yang hampir membunuh telinga mereka.
" Ini Papa kamu nak, Papa kandung kamu!" Xavier akhirnya angkat bicara.
Mendengar itu Esther terdiam dengan tubuh membeku menatap Xavier dengan tatapan tidak percaya.
Xavier jutsru dibuat takut dan hampir serangan jantung karena ekspresi yang tidak bisa dia artikan itu.
"Esther, Ka...kamu baik-baik saja??" panggil Xavier.
"Apa dia menolakku? atau dia membenciku!??" pikir Xavier.
Esther tiba-tiba mendekati Xavier, dia menatap wajah itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Kedua tangannya terangkat ke atas dan...
Pukk...
" Ini terlalu tampan!!!! tidak mungkin ini papanya Esther, terlalu tampan dan berkharisma!!!!" teriak gadis kecil itu dengan tatapan heran menatap wajah tampan pria di depannya.
Saking terkejutnya, Esther meraba-raba wajah Xavier berganti meraba wajahnya sendiri, memasukkan jarinya ke mulut dan lubang hidung pria itu, menarik telinganya, menarik bulu mata Xavier, memegang aslinya bahkan sampai menarik bibir Xavier .
" Ini asli hahahah... benar benar sama seperti Esther!!!!"
" Pffthh hahahahhahaha........ "
Kedua anak ayam tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan laknat anak si letnan yang sedang memeriksa apakah bapaknya asli atau tidak.
" Hei kelinci Rakus ini benar benar Papanya Esther kan? asli,original, authentic? bukan barang palsu kan!??" celetuk Esther dengan wajah berbinar-binar.
"hahahahha ya asli lah nenek sihir cerewet, itu Papa kamu bukan barang palsu!" balas Hansel yang tidak bisa menahan tawanya melihat kelakuan absurd bocah kecil itu.
" Ya ampun, darimana anakku mendengar kata kata itu? dan tingkahnya ini...persis seperti diriku saat kecil, "
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 🤗