
Sarah terdiam mendengar ucapan Dante, tak dia sangka pria itu akan sangat marah setelah mendengar berita dari dirinya.
LDR, memang akan sangat sulit dilakukan apalagi dengan seseorang yang menyukai physical touching sebagai bentuk love language mereka. Terutama untuk pria seperti Dante yang menginginkan banyak perhatian karena rasa haus akan kasih sayang membuatnya merasa kalau melakukan hubungan jarak jauh akan sangat sulit.
" Apa kau tidak bisa menolaknya Sarah? apa kau tidak memikirkan aku!??" Dante terlihat kecewa, terdengar dari suaranya yang protes akan keputusan gadis itu untuk mengikuti dinas.
" Ini pekerjaan ku Dante, aku tidak bisa menolaknya, bahkan jika aku bisa, aku tak akan pernah menolak tugas yang diberikan padaku, itu prinsipku, kumohon kau mengerti, aku tau akan sulit menjalani hubungan jarak jauh, tapi kita belum mencobanya kan!??" Sarah mengungkapkan pendapatnya.
Pasangan ini kini diuji dengan jarak dan waktu, baru saja memulai, tetapi mereka harus berpisah selama 5 bulan. Tentu saja bagi Dante hal ini tidak adil, mengingat usia hubungan mereka yang masih sangat muda, bahkan berkenalan saja baru beberapa Minggu.
"Apa kau tidak bisa memikirkannya sekali lagi? jujur saja aku tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh, itu akan menyiksaku Sarah, demi kita kumohon jangan pergi..." Dante meminta pada gadis itu.
Sarah menggelengkan kepalanya," Tidak, aku tidak bisa Dante, kumohon kau mengerti, ini kehidupan ku dan ini pekerjaan ku, jika aku menolaknya hanya demi hubungan yang belum seumur jagung ini, Sama saja aku menghancurkan mimpi dan prinsipku sendiri, bukankah kita harus mencoba dahulu? tidak bisakah kau memahami dunia ku Dante??" Sarah menggenggam tangan pria itu.
Jujur saja, dia kini di hadapkan pada pilihan yang berat. Antara menolak ikut ke perbatasan demi menjaga hubungannya dengan Dante atau memilih ikut dan mempertaruhkan hubungannya dengan Dante.
Di satu sisi, Sarah mencintai Dante dengan tulus, dia juga ingin terus berada di dekat pria itu, tetapi di sisi lain, dia punya misi, punya tugas dan pekerjaan yang harus dia kerjakan sebagai seorang anggota militer.
" Jadi kau akan tetap pergi!??" Suara Dante terdengar berat, dia berbicara tanpa menatap gadis itu lagi.
Sarah mengangguk lemah," Aku harus pergi, ini duniaku, dan ini pekerjaanku, kuharap kau paham, aku juga ingin terus berada di sisimu, tapi siapa sangka kami akan ditugaskan ke perbatasan membantu tim militer negara lain, aku tidak bisa menolak Dante," ucap Sarah.
" Baiklah, aku jadi tau sampai mana nilai dirimu... dan bagaiman kau menganggap hubungan ini," Dante melepaskan tangan Sarah, dia pergi dari sana dengan wajah datar dan dingin..
Bahkan Sarah tidak tahu bagaimana perasaan Dante saat ini. Yang jelas dia melihat kalau Dante sangat kecewa dengan keputusan gadis itu.
Dante pergi keluar dar rumah sakit begitu saja, melewati Pasangan Philip-Bella yang baru tiba setelah dari luar beberapa jam yang lalu.
" Kenapa kau!? hei ada apa denganmu!??" teriak Philip heran dengan tingkah Dante.
" Aku mau pulang ke Indonesia, ada rapat besar, kau akan menyelesaikan nya untukmu, pekerjaanku banyak," balas Dante dengan nada dingin.
__ADS_1
Philip dan Bella saling menatap dan menyerngitkan wajah mereka," Dia sudah gila!!" ucap mereka berdua kompak.
Keduanya berjalan sambil merangkul satu sama lain, jika pasangan normal lainnya akan terlihat sangat romantis terutama pengantin baru, maka kedua manusia ini malah terlihat seperti kakak beradik dari cara berbicara dan gaya berpakaian mereka yang tidak menunjukkan kalau mereka pasangan suami istri.
" Widihh mbak kopral, kenapa sendirian disini, kenapa gak sama ayangnya!??" celetuk Philip seraya menggoda Sarah yang duduk sendirian di lobi.
" Jangan digoda, si Sarah kurvit nih Bae... lagi kurang vitamin cinta kayaknya," celetuk Bella yang langsung berlari seperti anak kecil menghampiri Sarah .
" Hei, melamun aja, Lo kenapa ibu kopral? Pacarnya baru pergi udah merindu ya...." Bella menggandeng tangan gadis itu.
Bukannya terhibur, Sarah malah menatap Bekal dengan wajah sedih.
" Ya ampun Bel Bel, Lo apain si Sarah, kan jadi nangis, awas Loh dimakan si Nanas... Lo pukul ya....." seloroh Philip.
" Ya ampun Lampu neon, Lo pikir gue kurang kerjaan sampai harus mukulin nih cewek batu? ya nggak lah...." balas Bella tak kalah sewot dengan suaminya.
"Lo kenapa Rah? kenapa sedih begini, lihat muka Lo tambah tua sepuluh tahun, kenapa lagi sih? udah dapat ayang, punya gaji besar, jabatan kopral, impian tercapai kenapa Lo sedih melulu sih!???" Bella menangkupkan tangannya di wajah gadis itu
" Ehh Lo mau pergi??" tanya Bella..
" Iya, lima bulan bel, ada tugas di perbatasan, besok aku dan tim akan berangkat ke USA," jelasnya singkat.
" Wahh pantas dia gak setuju, lima bulan emang lama sih Sarah, dia tipe orang yang suka dekat pacarnya, kalau ditinggal dia mungkin akan pindah ke lain hati," ucap Philip yang malah menambah sedih hati gadis itu.
" Yaaangg... kok bilang gitu, mikir dulu sebelum bicara .. ya ampun Lo ini gak berubah...." kesal Bella saat mendengar ucapan suaminya.
" Ya emang begitu kenyataannya Mak lampir, Lo ngomel melulu dah...." celetuk Philip.
" CK.... dasar kolor ijo kampret Lo, temen gue lagi sedih jangan Lo tambahin," balas Bella.
Philip hanya menjulurkan lidahnya dan mengangkat bahunya. Yang dia katakan benar, bahwa Dante tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh dan itu akan jadi tantangan besar bagi Sarah.
__ADS_1
" Rah... Lo yang tenang, entar Philip akan bicara sama Dante, kami akan coba yakinkan, iya kan yang???" Bella menatap suaminya dengan tatapan mengancam.
" Ihhh kok gue Bel, bukan tugas gue tau... jangan bawa bawa gue lah..." balas Philip tak setuju.
" Grrhhh kalau gitu nanti malam tidur di luar!!!" kesal Bella.
" Eh.. ja..jangan jatah gue diembat Bel, kok gitu sih??" protes Philip tak setuju. Jika sampai jatahnya dibatasi malam ini, dia mana bisa tidur tanpa ritual skidipapapap yang rutin dia lakukan bahkan sampai lima kali sehari, bukan cuma seperti makan obat, dia melakukannya hampir setiap ada kesempatan, pria ini terlalu dan istrinya terlalu sayang.
"Lo mau kan? entar lebih dari tiga deh, tapi ngomong dulu sama Dante," bujuk Bella.
Wanita itu tau, hanya Philip yang bisa memberi pengertian pada Dante, karena hubungan mereka sangat dekat.
" lima atau tidak sama sekali!!!" ucap Philip tak mau ditawar lagi.
" hmmm.... iya iya... lima deh lima, terserah, toh lo juga bakal minta lebih, dasar otak mesum," ejek Bella.
" Hahahah baiklah, kalau begitu aku berangkat dulu, ingat ya sayang nanti malam... ummah..." Seru Philip dengan senang hati sambil melonjak bahagia.
" Ini suami gue bocil apa gimana ya? kenapa kalau bahas yang begituan semangatnya full banget, dasar ya, tapi nikmat juga hahhaha....." gumam gadis itu tanpa sadar Sarah malah melongo tak paham dengan pembicaraan pasutri gila itu.
" Bell... kalian ngomongin apa sih?" tanya Sarah penasaran.
" Ronda malam sayang, skidipapapap ummah ummah... hahahahahah nanti kamu juga tau sayangku...." celetuk Bella.
.
.
.
like, vote dan komen 🤗
__ADS_1