
Phineas masih di rumah sakit. Setelah berhasil berkeliaran dengan bebas di gedung itu, dia meretas semua sistem keamanan dan menghapus jejaknya yang terekam CCTV. Merusak beberapa kamera dan mengganti sudut pandang CCTV.
Jam menunjukkan pukul 9 malam, dan Phineas telah bersiap dengan semua rencana yang dia susun. Pria itu hanya memberitahu Elton, Philip dan Grape. Dia meminta mereka untuk merahasiakan hal itu dari para gadis agar mereka tidak panik, terutama Cherry yang sudah jelas akan histeris jika melihat Alesha dalam kondisi mengenaskan seperti yang dia lihat tadi.
Tangan pria itu mengetik dengan cepat, membajak sistem keamanan dan merancang kan keributan di rumah sakit itu.
"Mereka harus datang tepat waktu!" batin Phineas.
drrtt... drrttt....
"Kau dimana!?" Suara bariton seseorang dar balik telepon itu terdengar menusuk di telinga Phineas, siapa lagi kalau bukan Grape yang juga ikut dalam misi ini hanya karena tidak senang melihat air mata istrinya tumpah karena mengkhawatirkan gadis itu
"Aku di dalam ruang pasien di sebelah ruangan Alesha, sudah sepi, saatnya Philip beraksi!!" ucapnya.
"Baiklah, kami sudah siap, aku akan mengambil alih sistem keamanan, kau pergilah temui dahulu gadis itu, sepertinya kasus ini tidak melibatkan lingkaran yang kecil. Mereka terlibat dengan orang berpengaruh, aku takut pengawasan terhadapnya diperketat, kita harus segera bergegas!" ucap Grape di dalam mobil Van hitamnya yang lain.
Pria itu sedang berkutat dengan semua teknologi canggih yang terpampang dengan jelas di hadapannya. Berbagai data berhasil dia dapatkan dalam waktu singkat, dan tak ada yang terlewatkan.
"Akan kulaksanakan!" jawab Phineas.
Phineas menutup ponselnya, pria itu hanya mengandalkan sebuah gawai Pipih tetapi berhasil mengendalikan sistem keamanan, tentu saja semua itu berkat ilmu peretasan si raja peretas yang sedang duduk dengan serius di dalam mobil Van mengawasi semuanya agar berjalan dengan baik.
Kepala kepolisian yang juluki dengan sebutan siberian husky tersebut membuka pintu dengan perlahan lalu menjulurkan kepalanya keluar dari dalam ruangan itu dan melihat kekanan dan ke kiri memastikan bahwa situasi sudah aman baginya untuk bergerak.
"Baik aman," gumamnya. Phineas keluar dari dalam ruangan itu dengan langkah yang sangat pelan tidak lupa Dia memakai masker dan pakaian dokter yang dia ambil secara paksa tadi. dengan sebuah stetoskop yang menggantung di lehernya pria itu berjalan dengan normal dan berarti dengan sebaik mungkin memasuki kamar Alesha.
Dia menatap ke dalam ruangan itu melirik apakah alesha ada di sana. Betapa terkejutnya dia saat melihat kondisi Alesha yang semakin lama semakin menyedihkan. Tangan dan kakinya diikat ke sisi ranjang seolah dia adalah pasien dengan gangguan jiwa. kepalanya yang terluka karena bekas cukuran tidak segera diobati karena para perawat berpikir kalau dia akan segera mati dan menderita penyakit yang sangat berbahaya.
"Bagaimana bisa mereka berbuat sekejam itu ada seorang gadis lemah!" Phineas membuka pintu kamar dengan pelan lalu masuk dan menutupnya kembali dengan cara yang sama.
Mendengar seseorang masuk, Alesha membuka matanya dan menggerakkan kepalanya dengan pelan. Dia sangat terkejut melihat seorang pria misterius yang masuk ke dalam ruangannya. Tatapan mata itu jelas mengatakan kalau dia panik dan ketakutan.
__ADS_1
"Akhh... akhh..... akhh......" Ingin dia bicara, tapi yang keluar dar bibirnya hanya suara rintihan kesakitan yang tentu saja berhasil membuat Phineas terkejut dan langsung menoleh pada Alesha.
Dia mendekati Alesha, menatap wajah menyedihkan itu. Lagi lagi bayangan kematian dan Bullying yang dialami adiknya kembali tersirat dengan jelas di otak jeniusnya itu.
"Siapa ini hiks hiks hiks... tolong aku, siapapun kumohon selamatkan aku, aku akan melakukan apa pun untuk balas budi, kumohon hiks hiks hiks... aku tidak mau mati seperti ini, Mama Papa akhhh kenapa nasibku begini!!!" ingin rasanya Alesha meneriakkan kata-kata itu, tapi yang terdengar hanya rintihan kesakitan yang begitu menyayat hati.
Phineas tak kuasa mendengar suara gadis itu, dia berjalan mendekati Alesha lalu menatap gadis itu sambil membuka maskernya. Jelas dia melihat air mata Alesha mengalir begitu deras membasahi kedua pelupuk matanya. Dia tau trauma itu, dia tau ketakutan itu. Tanpa sadar tangannya mengusap air mata gadis itu dengan pelan sambil memberikan tatapan menenangkan.
"Ini aku, tenanglah Alesha," ucap Phineas menunjukkan wajahnya.
Alesha terkejut, dia berpikir kalau Phineas tidak akan peduli padanya, tapi ternyata pria itu kini datang dan berdiri di dekatnya.
Mata gadis itu berubah menjadi terang. Seolah matahari yang bersinar dengan indah sehabis sendu dari sang hujan.
"Tenang lah...
"A..akhhh... hiks hiks hiks... akhhh..... akhhh...
Yang bisa dilakukan Alesha hanya mengucapkan hal seperti itu. Bergumam dan mengeluarkan suara suara tidak jelas dari mulutnya. Tampaknya lidah gadis itu membengkak dan lehernya merah seperti mengalami peradangan.
"Tapi kita tidak boleh langsung keluar dari ruangan ini, tunggu sampai yang lain beraksi, aku akan melepaskan ikatanmu dahulu!" ucap Phineas sambil mengeluarkan pisau kecil dan membuka pengikat tangan dan kaki Alesha.
"Siapa yang melakukan ini padamu Alesha, jika Cherry dan yang lainnya melihatmu dalam kondisi seperti ini aku tak yakin mereka bisa tidur dengan nyenyak," gumam Phineas. Setelah melepaskan ikatan Alesha dia mencabut selang infus yang terhubung ke tangan gadis itu. Dia menjadi curiga dengan segala sesuatu yang ada di dalam ruangan itu. Suhunya dingin padahal setiap kamar memiliki penghangat ruangan, cahayanya sedikit redup dan sudut ruangan itu terlihat berdebu seolah kamar itu memang sengaja diberikan pada Alesha yang dianggap akan segera mati.
Pria itu menyibakkan selimut Alesha dan betapa terkejutnya dia saat melihat selimut itu penuh dengan bercak noda yang bercampur antara noda darah Alesha dengan noda urine gadis itu.
"Ya Tuhan, mereka benar benar memperlakukan mu seperti binatang!!!" ucap Phineas yang syok melihat tempat tidur Alesha yang sama sekali tidak steril. Bau menyengat juga keluar dari sana.
Phineas menarik selimut bau busuk itu lalu menatap Alesha dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Bertahanlah Alesha, Cherry dan yang lain menunggumu," ucapnya menguatkan gadis itu.
__ADS_1
Di saat yang sama, terdengar suara orang berlarian di sepanjang lorong rumah sakit dan terdengar suara ribut-ribut dan langkah kaki yang bergemuruh.Sontj Phineas menghentikan pekerjaannya dan bersembunyi di sisi lain Alesha sambil mengintip ke arah pintu dan bersiap akan serangan tiba tiba.
Alesha melirik ke arah pintu, dia juga menatap Phineas yang tampak bersiaga di sampingnya.
Tiba-tiba seseorang berdiri di depan pintu kamar Alesha, hal itu membuat mereka berdua terdiam sejenak.
Pria itu tampaknya membuka pintu dengan pelan seraya menatap ke arah orang yang berlarian.
Kriieeett....
Suara pintu yang dibuka membuat suasana sontak menjadi menegangkan dan membuat kedua manusia itu gugup sekaligus takut.
"Hei ayo cepat, ada keributan besar di lobi, pertumpahan darah terjadi, ayo cepat!!!" seseorang menarik lebah pria itu lalu mengajaknya berlari.
"Ehh baiklah!!!"
Blammm...
Pintu kembali ditutup rapat-rapat.
"haihhh.....
Phineas bernafas lega, dia menghela nafas setelah melihat orang itu pergi dari ruangan Alesha
Dengan cepat tangan pria itu menggendong Alesha tak peduli apakah dia bau atau tidak. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah keselamatan gadis itu.
"Aku akan membawamu keluar, tenanglah, semua akan baik-baik saja!" ucap Phineas dengan sangat yakin.
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen