
Kaki yang kecil dan gemuk putih itu berjalan dengan begitu girang menyusuri jalanan di pinggiran sawah. Membawa sebuah bakul yang berisi dengan beberapa jenis kudapan. Rambutnya yang hitam, bergelombang melambai lambai kesana kemari mengikuti hembusan angin yang begitu lembut menyapu rambutnya.
Gadis cantik bertubuh gemuk dan sehat, kesukaannya adalah air kelapa muda dan idi kelapa muda yang sangat segar dan sehar. Kulitnya putih bersih tanpa ada cacat sedikit pun sekalipun dia tinggal di desa.
“ Bibi, Ester bawa gorengan...” teriakan anak itu berhasil membuat burung burung yang hinggap di padi beterbangan kesana kemari saking melengkingnya suara anak kecil menggemaskan yang telah di buang oleh ibunya tepat setelah dia dilahirkan.
Esther namanya, tanpa nama belakang tanpa nama tengah. Gadis kecil yang baru menginjak usia lima tahun. Sudah tinggal di desa itu sejak lama dia dilahirkan.
“ Ya ampun Esther suaramu membuat burung burung beterbangan, melengking sekali,”
“ hahaha Esther cocok menjadi penjaga sawah, suaranya sangat lantang,”
Semua orang selalu tertawa ketika melihat anak kecil menggemaskan yang berparas cantik dan mewarisi wajah ayahnya.
Ibunya? Jangan ditanya.
Sejak mengetahui dia mengandung anak hasil pekerjaan malam yang dia lakoni, dia berusaha keras menggugurkan anak malang itu. Padahal malam itu jelas pria yang tidur dengannya mengatakan akan bertanggungjawab jika dia hamil.
Tetapi dia adalah seorang tenaga profesional namun sialnya keperawanannya justru diambil malam itu. Dia sudah tahu risiko yang harus dia hadapi jika melakoni pekerjaan mengerikan itu.
Tetapi demi uang dia akan melakukan segalanya, sebab dia butuh uang untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya yang hedon. Dan saat ini pun, setelah lima tahun hanya sekali dia mengirim uang untuk biaya putrinya tanpa menanyakan kabar anak itu sekali pun.
Esther tahu jelas siapa ibunya, pernah sekali dia melihat wanita itu dan berlari memeluk perempuan yang sedang menggandeng pria kaya yang menjadikan dirinya sebagai mainan baru, tetapi yang didapat Esther hari itu adalah sebuah tamparan keras yang mendarat di kepalanya dan hinaan mengerikan yang terlontar dari bibir Ibu yang melahirkannya.
Sekalipun dia pulang kampung, dia hanya akan memamerkan uang dan harta yang dia dapatkan dari hasil kerja malam yang dia lakukan selama bertahun-tahun, dengan bangga mengatakan pada semua orang kalau dia memiliki banyak aset di kota dan membawa para perempuan yang butuh uang ke luar kota dengan maksud lain yang tidak bisa dibayangkan.
“ Bibi dimana Mama? “ teriak anak itu sambil membawa bakul dengan kaki kecilnya. Sepertinya dia sudah terlatih berjalan di persawahan itu tanpa terjatuh sama sekali.
“ Mama? Itu di dalam kolam sedang mengejar ikan jahir yang lepas, ada ada saja gadis itu, apa dia di dalam kolam bersama si upik!” celetuk wanita berambut keriting yang sedang duduk di gubuk yang terletak di pinggir sawah.
__ADS_1
Esther berlari menuju gubuk lalu meletakkan bakul itu disana. Dengan senyum sumringah dia berlari memakai sepatu boot miliknya yang tersedia disana.
“ mau kemana neng?”
“ Mau sama Mama, nangkap cebong bibi heheheh buat makan si upik,” celetuk Esther sambil tersenyum sumringah menatap mereka.
Esther melangkahkan kedua kakinya sambil membawa plastik tempat kecebong yang sering dia tangkap jika datang ke sawah.
Anaak malang yang dibuang oleh ibunya dan dikatakan sebagai pembawa sial ini diangkat menjadi anak oleh seorang gadis di desa itu. Gadis baik hati yang dulunya adalah teman dekat sang ibu.
Tetapi kini hubungan merea tidak lagi sedekat itu, dan ibu kandung Esther menjual anaknya seharga 2 juta rupiah pada gadis bernama Aurel, gadis cantik berusia 25 tahun yang dengan penuh kasih merawat Esther dan mendapatkan hak asuh anak itu sepenuhnya dengan dokumen resmi dari ibu kandungnya dan perjanjian yang dicatat dan ditandatangani dengan meterai dan di sahkan di depan pengadilan.
Aurel memilih menjaga Esther yang malang dengan segala risiko yang dia dapatkan. Baginya Esther adalah kehidupannya saat ini, apa pun yang terjadi kedepannya dia akan memperjuangkan Esther.
“ Maaaakkkkkk..... Esther tangkap cebong yaaaa...” teriak anak itu lagi.
“ hahhaha... ya maaf mamake ku sayang, Mama sih serius banget,” celetuk Esther yang dengan aktif mengejar kecebong kecil di dalam aliran air jernih di sebelah kolam di tengah sawah.
“ kamu hati hati, nanti banyak bekicot bersarang di kaki kamu,”
“ Siap mama, jangan khawatir, bekicot itu teman Esther hehehehe....” balas anak itu sambil tersenyum manis.
Aurel berdiri tegak sambil menyeka keringat yang membasahi wajah naturalnya yang sangat cantik. Kedua mata yang bersinar sehangat sinar mentari, gunung yang menjulang tinggi di atas bibir indahnya yang berbentuk hati, perpaduan yang sangat sempurna dan jelas membuat banyak perempuan iri.
Dia menatap Esther yang bermain dengan bahagia bersama Upik, anjing kampung berwarna hitam yang mereka pelihara.
“ Dasar anak ini, datang ke sawah mainnya sama anjing dan cebong, anak mana lagi coba yang suka main di sawah,” gumam Aurel sambil menatapnya dengan tatapan lembut.
Keseharian mereka jelas, dari pagi sampai menuju petang mereka akan menghabiskan waktu di sawah, menanam kangkung, mengusir burung, menangkap ikan dan banyak kegiatan lain yang mereka lakukan di sana.
__ADS_1
Hari tampak terik dan panas tetapi tidak pernah mengalahkan semangat mereka untuk bekerja mencari cuan di ladang yang luas dan indah itu.
Aurel hanya bekerja sebagai petani dan terkadang bekerja serabutan di ladang orang tetapi dia mengumpulkan uangnya dan merencanakan masa depan yang indah untuk Esther. Usianya begitu muda, dia tidak serakah, semua yang dia lakukan adalah untuk kebahagiaan Esther karena jika anak itu tertawa dia pun akan merasa puas dan bahagia.
Terkadang dia menulis novel online yang pendapatannya cukup membuatnya merasa tenang selama tinggal di desa. Malam hari dia akan membuka warung kopi dan menjadi lapak berkumpulnya anak anak muda kampung itu . Lapaknya ramai dan digemari orang namun semakin gemar orang ke lapaknya maka semakin banyak yang syirik dan menyebarkan informasi palsu tentag gadis itu.
Tetapi semua hinaan itu akan dia tepis demi putrinya Esther. Bukan putri kandung tetapi dia sangat menyayanginya.
Waktu terus berlalu, Setelah mengambil buah buahan segar dan sayuran hijau yang ditanam di pinggiran sawah, Aurel mengajak putrinya untuk pulang ke rumah. Aurel hanya tinggal berdua dengan Eshter bersebelahan dengan Bibi Yuni yang sering membawa Esther ke kota untuk kerja chatering makanan.
“ Sayang pulang yuk, sudah mau malam,kita harus masak dan buka warung,” panggil Aurel sambil membasuh buah-buahan itu dan menaruhnya dalam bakul yang bersih.
“ pergilah lebih dahulu, aku akan membawanya Aurel, kau tidak lihat dia sudah berubah jadi manusia lumpur, akan kubawa dia, cepatlah pulang, lumayan buka cepat hari ini,” ucap bibi Yuni, wanita baik hati yang menjaga Esther dan Aurel selama ini.
“ Ahh terimakasih Bi Yuni, Aurel pulang dulu,” ucapnya sambil tersenyum lalu mengangkut buah buahan segar itu di atas kepalanya.
“ Ma... Esther boleh minta dibuatin nasi goreng tidak?” teriak anak itu.
“ akan Mama buatkan kalau kamu cepat ke rumah,” ucap Aurel yang sudah berjalan jauh.
“ Woppp... siap Maaa...”seru anak itu sambil tersenyum.
.
.
.
Like, vote dan komen
__ADS_1