
Cherry memutar otaknya, dia melihat ke arah CCTV, lokasi perginya Alex dan Vera adalah titik buta kamera, jejak mereka tidak akan terekam oleh kamera pengawas.
Cherry menatap sekeliling lokasi itu, tak ada pengawal karena tak ada penghuni yang perlu di kawal di tempat itu dan lagi pula semuanya bertugas di dalam rumah. Tak ada petugas taman karena taman baru dibersihkan kemarin.
Dari tadi gadis itu berjalan kesana kemari sambil menggigit jari jarinya, dia benar benar bingung dengan apa yang harus dia lakukan, sementara Vera tidak tau bagaimana nasibnya.
"Akhir-akhir ini banyak kasus perempuan dan anak anak yang hilang loh, kita harus terus waspada jangan sampai jadi korban!!" Ucapan seorang pelayan yang menemaninya bercerita saat tiba di tempat itu tadi kembali terngiang di kepala gadis cantik yang surainya jelas telah berubah menjadi warna biru langit sempurna.
Cherry tak tau harus bagaimana, gadis itu mengambil ponselnya dan mencari nama suaminya, belum lagi Pak Alex tidak juga keluar dari tempat itu.
"Sebenarnya mereka pergi kemana sih!??" Pikir Cherry. Cherry sembari mengubungi suaminya, dengan segala rasa penasarannya berjalan memasuki jalan kecil melalui taman itu. Entah kenapa instingnya mengatakan kalau dia harus menghubungi suaminya.
Cherry melihat banyak tanaman jalar yang tumbuh disana seolah dibiarkan berkembang biak untuk membuat suasana segar seperti saat ini.
Cherry berjalan perlahan, dia merasa aneh dengan sikap Pak Alex.
"Jika aku memanggil yang lain, aku mungkin akan dipikir gila karena menuduh pria itu tanpa bukti, kamera tak merekam dan saksi lainnya malah kabur sambil menangis, jika memang dia itu psikopat gila maka nyawa Vera sedang terancam, aku tak bisa membiarkan ini terjadi!!!" Batin Cherry yang terus berjalan menyusuri tempat itu hingga dia bertemu jalan buntu yang ditutupi dengan tanaman sulur.
"Bagaimana masuk ke tempat in!??" Pikir Cherry.
Di saat yang sama matanya tertuju pada bercak darah di beberapa helai daun di bagian sudut kanan atas benda yang terlihat seperti sebuah dinding pembatas itu.
Tangan Cherry mencoba untuk menarik sulur tanaman untuk melihat apa yang ada di balik dinding itu.
"Ini bercak darah!!!" Pikir Cherry.
"Halo Cher, ada apa!??" Suara Grape dari ponsel gadis itu terdengar jelas di telinga Cherry.
__ADS_1
"Grape... Bagaimana ini aku... Aku melihat rekan kerjaku dipukul dan diseret oleh kepala pelayan, apa yang harus kulakukan, bagaimana kalau dia kenapa kenapa!?? Grape bagaimana ini!!!??" Tanya gadis itu to the point.
"Dia juga menatapku dengan tatapan aneh, tapi kurasa dia orang baik karena sudah lama bekerja di rumah ini, tapi yang kulihat tadi jelas kalau dia memukul dan menarik kepala gadis itu ke arah taman halaman utama yang jauh dari pengawasan kamera!!!" Ucap Cherry dengan jelas.
"Aihh kenapa juga aku jelasin detailnya, kamu kan gak pernah kesini, maafkan aku, tapi nyawa Vera seperti nya terancam karena aku menemukan bercak merah di ujung jalan masuk tempat ini!!!" Ucap Cherry.
Di seberang sana Grape terbelalak dengan apa yang diucapkan oleh Cherry. Istrinya sedang mengejar kepala pelayan yang memukul pelayan lain.
"Cherry kau dimana sekarang!!!? Kau tidak mengikuti orang itu kan!??? Kau tetap ditempat ramai dan aman jangan pergi sendirian!!!" Ucap Grape yang malah jadi panik dan khawatir di rumah nya.
"Ehh aku pergi sendirian, habisnya gak akan ada yang percaya kalau aku ngadu kalau Pak Alex itu....
"Aku ke apa sayang!???" Suara bariton seseorang membuat Cherry terbelalak kaget saking terkejutnya ketika mendengar suara pria itu di belakang tubuhnya.
"Pa..Pak Alex!!!" Cherry tekejut bukan main, dia menggenggam erat ponselnya dan memasukkannya ke dalam pakaiannya.
"Hahhaha sayangku, kau mau main petak umpet denganku!?? Lihat ini baju yang kau belikan untukku sayang, keren kan!?? Sudah ku bilang kalau kau tahu seleraku!!!" Alex berdiri di hadapan Cherry sambil tersenyum menyeringai dengan tangannya yang berlumuran darah dan wajahnya yang terluka.
"pa..pak Alex mau apa kau!?? Dimana Vera!!!??" Pekik Cherry yang berjalan mundur saat melihat pria itu semaki mendekat dengan seringai gila di wajahnya.
"Vera!??" Tangan Alex mengusap lengan Cherry dengan sensual sambil tersenyum .
"Singkir tangan kotor mu itu dari tubuhku bajingan sialan!!!" Pekik Cherry dengan wajah kesal.
Pak Alex tampak tidak senang dengan cara Cherry membalasnya dan cara gadis itu menatapnya.
"Cherry sayang, aku tau kau marah karena aku tidak mengumumkan hubungan kita, tapi kurasa kita bisa melakukannya setelah kita bersenang-senang sayang kau lihat ini benar benar sudah sesak!!!" Ucap pria itu sambil menunjuk bagian inti tubuhnya yang menonjol di balik celana jeans-nya.
__ADS_1
"Ya Tuhan... Ka..kau mau apa pria gila, pria mesum bajingan beraninya kau padaku!!!!"pekik Cherry, dia terdengar ketakutan apalagi melihat tatapan seram dari wajah pria itu membuat nya merasa gugup dan terintimidasi.
Sementara itu ponsel Cherry terus menyala dan masih terhubung dengan Grape. Grape sudah panik di ruangan bawah tanah. Pria itu berusaha untuk berdiri hendak berlari mengejar istrinya yang ada dalam bahaya. Bahkan Rania dan yang lain juga dibuat panik saat mendengar ucapan Alex melalui sambungan telepon itu.
"Ayo kita segera kesana!!!!!" Pekik Grape sambil memukuli kakinya yang tiba tiba tak berdaya karena terlalu khawatir terhadap keadaan istrinya.
"Grape jangan memukuli kakimu kau bisa sakit!!!!" Pekik Rania.
"Akhhh aku tidak berguna Kak, harusnya aku berlari dan mengejar Cherry, Sekarang dia dalam bahaya, sialan kenapa aku terus seperti ini!!!!" Pekik Grape yang terjatuh di atas lantai dengan kondisi kakinya sama sekali tidak bisa bergerak.
"Ayo kita kesana Grape, kami akan menolong mu!!!!" Ucap Philip yang langsung menaikan Grape ke atas punggungnya. Phineas mengubungi rekannya di kepolisian untuk memeriksa rumah itu lebih dulu sedangkan Elton sudah kabur lebih dulu dengan mobil angkotnya menuju rumah itu dengan perasaan kalut dan takut saat mendengar suara teriakan Cherry.
Grape mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga istrinya, bahkan di saat seperti ini kakinya tidak berdaya sama sekali. Padahal ingin dia berlari dan menyelamatkan Cherry secepat mungkin.
"Akhhh sialan, aku tidak bisa bergerak!!!!" Pekik Grape, rasa panik dan khawatir kini menghantui pikiran pria itu. Rania dengan cepat mengubungi Bian dan memberitahukan tentang apa yang sedang terjadi pada Cherry ipar mereka.
Sementara mereka dalam perjalanan, Cherry tampak di desak ke dalam sebuah ruangan luas di belakang dinding pembatas itu. Leher Cherry di cekik sedang pria itu memeluk Cherry dari belakang dengan hasrat yang mulai menggebu-gebu.
"Lepaskan aku Alex sialan!!!" Pekik Cherry sambil meronta-ronta disana.
"Hihihi... Sayang aku tau kau sangat bersemangat tapi aku akan melakukan yang terbaik nanti!!" Ucap pria itu sambil terus mendorong Cherry menuju sebuah ranjang yang entah bagaimana diletakkan secara bebas disana karena memang tak ada satu pun yang lihat.
Mata Cherry celingak-celinguk kesana kemari mencari dimana gerangan Vera berada," dimana Vera!!?? Aku harus menemukan dia dahulu baru menghabisi pria sinting kurang ajar yang berani beraninya memelukku padahal suamiku saja jarang memelukku!!!!" Kesal gadis bar bar pecinta keributan yang hakiki itu.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen 🤗