
Di sebuah ruangan kamar yang luas dan tenang, terlihat Xavier sedang berbaring sambil menaruh tangannya di atas kepalanya.
Tidak bisa dia menghilangkan wajah anak perempuan yang jelas terlihat mirip dengan dirinya. Mata bersinar berwarna abu-abu, rambut hitam panjang yang bergelombang, kulit putih dan wajah yang sangat cantik itu masih jelas tergambar di kepala Xavier padahal sudah sebulan sejak acara itu berlalu.
Dia gelisah, pikirannya kacau, dia terus mencoba melupakan wajah anak itu tetapi seperti ada magnet kit yang menarik dirinya untuk terus mengingat dan mencari lebih tentang gadis kecil itu.
Dia mencoba menghilangkan wajah itu dari pikirannya dengan banyak melakukan pekerjaan, latihan fisik, mengunjungi rumah sahabat-sahabatnya, mengikuti pesta minum teh para wanita dan menemani Hansel dan Alvaro latihan bela diri.
Tetapi tidak satu pun dari kegiatan itu yang berhasil mengalihkan pikirannya dari anak kecil menggemaskan yang berbicara dengan begitu bersemangat dengan Hansel hari itu.
Masih jelas dalam ingatannya pakaian yang dikenakan gadis kecil itu. Hanya sebuah gaun lusuh berwarna cokelat yang sudah pudar tetapi tidak menghilangkan kecantikan pada wajah yang indah itu.
“ sialan, siapa anak itu sebenarnya, kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya? Seharusnya sudah kulupakan, tetapi kenapa dia memiliki wajah yang mirip denganku, apa dia anakku?” pikir Xavier sambil menggenggam kertas sketsa yang berisi wajah anak kecil itu.
Bukan hanya satu sketsa tetapi puluhan lembar sketsa berserakan di atas lantai kamarnya. Sketsa wajah gadis kecil dengan berbagai ekspresi yang bisa dia ingat dengan jelas ketika anak itu berbicara dengan Hansel.
Wajah marah, tertawa, kesal, cemberut dan berbagai ekspresi lainnya teringat jelas dalam kepala pria itu. Baru kali ini dia seperti itu, tidak pernah dalam sejarah hidupnya dia memikirkan seorang anak sampai dia tidak nyenyak tidur.
“ Ya ampun Xavier, kau mau ubah rumah ini jadi kandang sapi hah? Lihat semua barangmu berserakan di atas lantai, sedang apa kau disini?” suara Grape terdengar menggelegar di rumah milik Xavier. Dia membawa anak-anaknya ke rumah itu untuk menemui Xavier dan berbincang tentang banyak hal.
Xavier terperanjat,” ahhh kalian sudah datang, hehh maafkan aku, aku sangat malas belakangan ini banyak yang mengganggu pikiranku, aku lelah,” ucapnya sambil duduk dan menggendong Hansel dalam pelukannya.
“ Apa kau masih memikirkan anak perempuan itu?” tanya Grape sembari menyingkirkan beberapa kemasan makanan yang teronggok begitu saja di atas lantai, pria ini sangat kesal jika melihat ruangan berantakan.
“ Seperti katamu, aku terus memikirkannya, padahal sudah kuusahakan untuk melupakan gadis kecil itu, benar-benar menyebalkan,” gerutu Xavier.
“ Kami menemukan rumahnya, kau pergilah ke sana bersama anak-anak, aku menitip mereka padamu, kau bisa bawa mereka, akan lebih mudah mendekati anak itu jika kau membawa Hansel,” ucap Grape sembari memberikan sebuah alamat di desa terpencil yang jauh dari perkotaan, selain itu sinyal juga susah dan rata-rata penduduknya bekerja sebagai petani di sana .
“ Alamat? Apa kalian melacaknya?”
__ADS_1
“ Cherry tidak tahan melihatmu uring-uringan di rumah, dia meminta tim Alpha melacak alamat gadis kecil itu. Awalnya sangat sulit, karena disana tidak ada jaringan internet, sinyal juga susah, tetapi setelah dilacak dan tim kami datang kesana mereka menemukan alamat gadis itu, kau akan tahu setelah sampai disana,” ucap Grape.
“ Wahhh jadi Cherry yang berinisiatif, dia sangat peka , ucapkan terima kasihku padanya,” seru Xavier dengan wajah segar dan senang.
“ Dasar kau ini, makan siangmu habiskan dahulu, setelah itu kalian pergi, aku tidak bisa ikut, Cherry dan si kembar tidak ada yang jaga, yang lain sibuk dengan keluarga mereka, “
“ siapa juga yang mengharapkan keikutsertaanmu, benar kan anak-anak,”
“ ck... dasar sialan kau, jaga anak-anakku, kalau sampai ada satu saja goresan di kulit mereka, habis kau di tanganku,” ucap Grape sambil mengepalkan kedua tangannya menatap Xavier.
“ Laki laki tanpa goresan itu cemen bro, goresan tanda perkasa,” celetuk Xavier sambil menarik kaosnya dan menunjukkan perutnya yang penuh dengan bekas luka hasil peperangan.
Bugh...
Bogeman mentah mendarat dari tangan Grape di perut pria songong di depannya itu.
Setelah menghabiskan makan siang, sesuai ucapan Grape, Xavier dan kedua anak ayam dibawa menuju alamat yang ditemukan oleh tim Alpha.
“ Kau bilang kau tidak ikut tapi mereka semua ikut? Ini mau cari alamat atau mau tawuran Grape?” Xavier terbelalak menatap tim Alpha yang berbaris berlapis lapis di depan mereka dengan setelan jas hitam berdiri dengan tegap siap mengawal perjalanan Xavier dan dua anak ayam .
“ Tentu saja, memangnya apa yang salah?” tanya Grape yang merasa tak bersalah sama sekali.
“ Sama saja kami melakukan perjalanan pariwisata berkelompok dengan sekelompok pria berbaju hitam , bukannya bertemu anak itu, kami malah diusir karena dikira gangster, kau ini gila ya?” kesal Xavier.
“ aku hanya ingin memastikan kedua putraku aman, itu saja, “ ucap pria itu dengan enteng.
“ Ya ampun Grape, kalau begitu tidak perlu kubawa kalau kau khawatir,” ucap Xavier.
“ Kau tidak akan bisa mendekati anak itu jika tidak bawa mereka, yakinlah padaku Xavier,” ucap Grape.
__ADS_1
“ Ck kalau begitu aku tidak perlu membawa semua pengawal itu, cukup bawa Daniel saja, dia sudah cukup jangan tambah yang lain, sangat merepotkan,” ucap Xavier dengan wajah kesal.
“ hmmm... baiklah,”
Akhirnya setelah mempersiapkan barang bawaan, Xavier, kedua anak ayam dan Daniel berangkat menuju desa terpencil yang dimaksud sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Grape.
“ Dahh Daddy,,,” teriak Hansel yang melambaikan kedua tangannya keluar dari jendela.
“ Daddy nanti abang kasih kabar ya,” imbuh Alvaro sambil melambaikan tangannya.
“ Baiklah sayang, bersenang senanglah di sana,” teriak Grape,” kami pasti akan menyusul, tunggu demam si kembar turun dulu,” lanjutnya dalam hati menatap kepergian Xavier dan yang lainnya.
“ Kuharap kau menemukan kebahagiaan mu Xavier, jangan membuat keributan terus di rumah kami, aku sudah pusing melihatmu marah marah tidak jelas,” batin Grape
Tim Alpha, telah menemukan lokasi perempuan yang dicari Xavier selama ini. Mereka memang sangat kesulitan melacaknya, sama persis dengan Xavier yang kesulitan menemukan posisi wanita yang dia tiduri malam itu.
Semua informasi tentang wanita itu sangat sulit di dapatkan. Dia tidak punya media sosial, jejak terakhirnya adalah kereta api di salah satu stasiun kota itu.
Selain itu seolah ada yang mengubur informasi tentang perempuan itu sehingga Xavier sulit melacak keberadaannya.
Tetapi Tim Alpha berhasil melacak keberadaannya dalam seminggu mencari dan terjun langsung atas permintaan sang Ibu bos.
.
.
.
Like, vote dan komen
__ADS_1