Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh

Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh
138


__ADS_3

Phineas keluar dari kamar rawat Alesha setelah berbincang dengan gadis itu sebentar. Alesha terlihat sangat terbuka dan mengungkapkan semuanya yan telah terjadi padanya meskipun memberitahukan dengan menulis di kertas.


Pria itu keluar setelah memastikan Alesha terlelap karena efek obat yang diberikan petugas medis. Gadis itu kembali tidur untuk memulihkan tubuhnya.


Phineas sudah mengatakan kalau Alesha akan tinggal disini sampai gadis itu benar benar pulih dan siap bertemu dengan yang lain. Agar tidak membuat ketiga gadis bar bar di luar sana khawatir, Phineas mengirimkan pesan palsu seolah itu berasal dari Alesha.


Pria tinggi yang kerap disebut pria nanas karena rambut blondenya ini keluar dari kamar sambil menggaruk kepalanya.


"Apa aku khawatir!? bagaimana bisa? dan tadi aku bicara banyak dengan seorang gadis!? apa ini aku atau sedang kesurupan!?" pikir Phineas Nyang bahkan heran dengan dirinya. Bukan hanya dia yang heran bahkan semua orang yang bekerja di rumah itu dibuat tercengang dengan perilaku Phineas yang sangat baru bagi mereka.


Pria itu mengacak-acak rambutnya, memikirkan hal itu saja sudah membuatnya pusing.


"Hati manusia lebih susah dipelajari dibandingkan kasus tersulit sekalipun!" ucapnya sambil menuruni anak tangga.


"piuuuiitttt.... ciee ciee yang lagi berduaan sama calon masa depan! hahahah...." Suara celetukan manusia minim akhlak terdengar jelas di telinga Phineas. Sontak pria itu menoleh ke ruang tengah .


"cih.... kadal kampret!" ketus pria itu saat mendapati sosok Elton yang sedang duduk bersama tuan dan nyonya Dalton.


"Mom, si Nanas bawa cewek loh ke rumah, dia bawa calon mantu heheheh...." celetuk Elton yang sedang mengikat rambut nyonya Dalton yang duduk di depannya.


" Bawa menantu!? mana menantu? Nanas siapa!? kamu siapa? Rara... Daddy Rara kenapa belum pulang? sudah sore loh, si Abang juga dimana? " celetuk wanita itu seraya menatap kesana kemari mencari anak anaknya padahal jelas Phineas berdiri di depannya.


Elton dan Phineas saling menatap, tuan Dalton tak menggubris ucapan istrinya, dia hanya terdiam dan melamun menatap sang istri yang disebut sebut sudah gila.


Hati Phineas dan Elton sangat sakit, rasanya mereka seperti hancur berkeping-keping karena kondisi ibu mereka yang tak juga membaik padahal sudah bertahun-tahun sejak kepergian Rara.


"Rara... Mom mau cari Rara dan si Abang Phineas, Bang Biru ikut mom ayo, cari Rara dan Phineas, mereka gak pulang padahal sudah sore, kita masak juga ayo...." Nyonya Dalton menarik lengan Elton dan membawa pria itu keluar dari sana.


Phineas menatap Mommynya dengan tatapan sedih, ingin rasanya pria itu merasakan kasih sayang Mommynya lagi. Dia sangat ingin ibunya kembali normal seperti dulu, mengenali dirinya dan berbicara berbagai hal padanya.

__ADS_1


"Mom... Phineas disini, Mom mau kemana?" tanya Phineas dengan suara lirih, mata pria itu berkaca kaca, hatinya sangat pilu. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada tak dikenali oleh ibu kandung sendiri.


Mendengar suara Phineas, wanita tua itu terdiam sejenak sambil menggenggam tangan Elton. Dia menoleh ke arah Phineas yang berdiri di depannya dengan wajah diselimuti kesedihan mendalam.


"Ini Phineas Mom, Mom mau kemana? ini Abang, ini anak mommy... apa Mom gak kenal Abang? Mom... please jangan begini sama Abang, Abang kangen banget sama Mom...." lirih pria itu. Tanpa terasa air matanya mengalir membasahi kedua pipinya.


Elton tak tega melihat saudara angkatnya itu, Dia tau beban di pundak Phineas, dia tau perasaan sakit itu.


"Pembohong!" ucap nyonya Dalton dengan wajah marah. Tiba-tiba dia berjalan dan melepaskan tangan Elton. Dia beranjak mendekati Phineas dengan wajah marah sembari mengepalkan kedua tangannya. Nafasnya naik turun, wajahnya memerah dan rahangnya mengeras.


Plakk....


"Dasar pembohong, bohong itu jahat, jahat itu dosa, dasar orang jahat!!" pekik Nyonya Dalton. Wanita itu berteriak di hadapan Phineas.


"Dimana Rara... dimana putriku... tidak... tidak hiks hiks hiks.... Rara sayang, pulang sayang !!! Rara dimana!!!!"


"Kau... Kau!!" Nyonya Dalton menunjuk Phineas dengan air mata berderai.


Nyonya Dalton Memukuli Phineas sambil menangis histeris. Ini menjadi salah satu alasan Phineas jarang bertemu keluarga nya sejak kematian Rara. Karena setiap melihat Phineas yang memiliki paras yang mirip sekali dengan Rara membuat Nyonya Dalton kambuh sama seperti saat ini.


" Pembunuh pembunuh, dimana anakku hiks hiks hiks.... dimana putriku, katakan dimana putriku!!!!!!" pekik nyonya Dalton sambil memukuli dada Phineas.Pria itu hanya berdiri dengan tatapan dingin, hatinya benar benar hancur setiap melihat ibunya seperti itu. Dia tak bisa menerima keadaan ini, sangat berat baginya melihat orang yang dia cintai hancur karena perbuatan manusia manusia tak bertanggung jawab.


"Mom ini Phineas kumohon sadar lah!!" Phineas membentak ibunya. Sontak wanita itu terdiam sambil menatap Phineas dengan air matanya yang mengalir dengan begitu deras .


" Hiks hiks hiks.... Rara... Rara anak Mommy....


"Mom, ayo ikut Elton, kita cari Rara yuk, Rada pasti sedang bermain di ruang belajar, ayo...kita cari Rara...." ajak Elton sambil menahan air matanya.


Nyonya Dalton menatap di rambut biru, dia menggelengkan kepalanya," nggak... hiks hiks hiks.... Rara sudah pergi...Rara sudah tidak di dunia ini...kalian berbohong, Rara anak Mom sudah pergi, hiks hiks hiks...... kembalikan Rara... Kembalikan anakku!!!" Nyonya Dalton meringsut ke atas lantai sambil menangis sesenggukan.

__ADS_1


Elton merangkul nyonya Dalton, tak ada yang paham rasa sakit kehilangan seorang anak. Rasanya bagi remuk dan hancur sampai ke tulang tulang. Hidupnya hampa, mati rasa dan tak ada semangat menjalani kehidupan setelah kepergian anaknya.


"Mom... Tenanglah... " lirih Elton sambil memeluk wanita itu dengan erat.


Phineas duduk berlutut di hadapan Mommynya, dia sangat sedih dengan keadaan sang ibu. Sedang tuan Besar Dalton hanya menatap istrinya dengan tatapan kosong, dia lebih banyak diam sejak kejadian besar itu, sama seperti nyonya Dalton, pria paruh baya itu mengalami kekosongan yang begitu dalam. Gairah hidupnya telah habis, semangatnya tak ada lagi.


"Maafkan Phineas Maaf karena tak bisa menjaga adik Phineas dengan baik Mom, ini semua salah Phineas... Phineas memang bukan anak yang berbakti, Phineas bersalah, seharusnya... harusnya Phineas... hiks hiks hiks.....


Dia tak sanggup melanjutkan kata-katanya, yang bisa dia lakukan hanya menangis meratapi nasib keluarga nya.


"Phineas, jangan salahkan dirimu, sadarkan dirimu!" bentak Elton.Dia paling tidak senang saat Phineas menyalahkan dirinya sendiri.


"Aku akan bawa Mom, kau tenangkan dirimu, jangan berbuat bodoh!" kesal pria itu sambil memapah nyonya Dalton.


Phineas terduduk lemas sedang Elton membawa Nyonya Dalton keluar dari ruang depan untuk menenangkan wanita itu.


"Maafkan Daddy nak, seharusnya Daddy menjaga kalian semua, tapi Daddy...


Tuan Besar Dalton berdiri sambil memegang bahu Phineas, " Berdirilah nak," pinta pria itu.


Phineas berdiri, dia menatap ayahnya yang jarang berbicara padanya. Pria tua itu menatap Phineas," Kau sudah melakukan yang terbaik nak, Rara pasti bahagia memiliki kakak seperti dirimu..."lirih Tuan Besar Dalton sambil menangis.


Phineas memeluk Ayahnya dengan erat, sangat berat bagi pria itu menghadapi semua ini. Kehidupannya bagai neraka setiap tahun.


Tuan Dalton menepuk bahu bidang putranya, tak ada yang bisa mereka lakukan selain menerima kepergian Rara.


.


.

__ADS_1


.


like, vote dan komen 🤗


__ADS_2