
Suara tawa mereka terdengar sampai ke luar rumah.Bahkan sampai membuat Aurel yang sedang melayani pembeli bersama Daniel terkejut mendengar suara tawa putrinya yang begitu bahagia.
Esther anak yang terkadang bisa dingin dan hangat di sisi yang lain.
Biasanya dia akan sulit berkomunikasi dengan orang baru apalagi orang dewasa laki-laki.
Esther sering berwajah kecut apalagi selepas pulang bermain dari taman, lapangan desa atau sawah. Bila ditanya dia hanya akan menjawab sambil menggelengkan kepalanya dan pergi tidur memeluk Upik tanpa memberitahu apa yang terjadi padanya.
Tetapi, hari ini tampaknya anak dara itu memiliki suasana hati yang berbeda. Bukannya senang, ibunda yang mengurusnya justru takut kalau Esther terlalu nyaman dengan pria yang sudah jelas dan pasti adalah ayah kandung putri angkatnya.
Aurel merasa kalau pria bertubuh kekar itu akan membawa Esther dari sisinya dan memisahkan mereka. Dia tidak bisa menerima hal ini.
"Ya ampun Aurel, airnya sudah penuh kenapa kau mengisinya terus, kau mau kami mandi di warung ini hah!?? fokus dong!!!"
" Ehh... Ya ampun ma..maaf bang, saya melamun" balas Aurel yang tersadar kalau gelas yang dia isi dengan teh kosong itu sudah meluap bahkan terpercik sedikit ke celana pelanggan nya.
" Ck... kau fokuslah, biasa kau tenang dan tidak seperti ini!? bikin kesal saja, untung ku lihat, jika tidak aku sudah mandi teh gara gara ulahmu!' kesal pria itu.
" Aduh... maaf bang, gak akan saya ulangi, saya kurang fokus, maaf ya maaf," Segera dia membungkuk meminta maaf pada langganannya, beruntung yang kena bukan langganan yang suka bertangan kasar, tetapi efeknya tetap fatal karena berpengaruh pada penghasilan Aurel.
Beberapa jam berlalu, akhirnya warung dan lapak kopi Aurel tutup tepat pada pukul 9 malam, lebih lama satu jam dari biasanya karena berita tentang tamu Penginapan Aurel yang tampan begitu cepat tersebar ke seluruh penjuru desa.
Mereka penasaran dengan sosok Pendatang itu, tetapi yang mereka lihat hanya si tampan dan tegap Daniel yang berwajah datar dan dingin kala pelanggan meneriaki Aurel.
" Dimana letak piring kotornya nona? biar saya angkat semua," tanya Daniel sambil memasukkan piring kotor dan gelas kosong ke dalam ember.
" Letakkan disini saja tuan, biar saya yang bersihkan," ucap Aurel.
Tapi Daniel tetaplah Daniel, seorang pria yang tidak akan menurut jika diminta orang lain kecuali tuannya.
" Ahhh disini kerannya, nona bersihkanlah lapaknya, biar saya cuci piring!" teriak Daniel.
" Tapi...
"Cepatlah, ini sudah sangat larut, " ucap Daniel lagi.
Benar kata Daniel bahwa jam terlalu larut, dia dengan cepat membersihkan lapak dan merapikan semuanya kembali pada tempatnya.
__ADS_1
Sedangkan para tetangga sudah berubah jadi jerapah berleher panjang yang mengintip dan menaikkan leher mereka sampai setinggi pagar, mematai matai Aurel dan tamu penginapannya.
" Aurel, Bibi istirahat dahulu ya! " teriak Bibi Yuni yang kebetulan ikut nongkrong disitu.
" Baik bi, terima kasih sudah menemani Aurel,"
"Terimakasih nasi gorengnya," ucap Bi Yuni sambil mengangkat seember air dan....
Byyuuuurrr.....
"Arrkhhhhh apa apaan ini!!!" suara teriakan jerapah jadi jadian terdengar karena guyuran air cucian piring yang disengaja di siramkan oleh Bi Yuni.
Bibi Yuni tertawa cekikikan, rencananya berhasil, dia membubarkan para biang gosip dan lambe turah kampung yang selalu mencari ribut dengan kehidupan pribadi Aurel.
“ apa kalian tidak tahu apa yang dinamakan privasi, ayolah orang orang bodoh, kenapa kalian begitu munafik,” ejek Bi Yuni sambil masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumahnya.
Anehnya sejahat dan sepedas apa pun ucapan Bi Yuni, tidak ada yang berani melawan wanita itu karena silsilah keluarga Bi Yuni dari keluarga Veteran perjuangan kemerdekaan dan karakter Bi Yuni yang keras juga tidak segan memukul baik itu pria maupun wanita.
Aurel tertawa kecil melihat ulah Bi Yuni yang mengusir habis para tentangga julid yang terkena apes karena ulah Bi Yuni akibat sifat mereka sendiri.
Setelah selesai bersih-bersih, Aurel masuk terlebih dahulu sedangkan Daniel memarkir mobil di halaman rumah gadis itu.
Di dalam rumah, Esther mengambil ikat rambut warna-warni miliknya lalu berdiri di depan Xavier dan Alvaro.
Bersama Hansel dia menatap kedua pria itu dengan senyuman sumringah,” Nenek sihir lihat ini...” celetuk Hansel menunjukkan Alvaro yang duduk anteng sambil menguap sedangkan adiknya yang jahil menguncir dua rambutnya ke atas, bukannya jelek, Alvaro malah semakin menggemaskan.
“ Uwah hahhahaha... kakak es batu ini tampan juga, tapi lebih tampan Papa...” seru Esther sambil menunjukkan Xavier yang rambutnya juga di kuncir dua dan diberi jepitan pita di masing masing kunciran.
“ Kamu jahil ya,”
“ heheh... “ Esther tertawa, dia tiba-tiba menarik tangan pria itu dan memeluknya dengan erat,” Kalau Paman memang Papa Esther,” dia menangkupkan kedua tangannya di wajah pria itu,” kenapa Papa meninggalkan Esther ? Apa Papa...
“ Papa nggak meninggalkan kamu sayang, Papa mencarimu dan Ibu kandungmu, tapi dia hilang, Papa mencari keberadaan kalian bertahun-tahun, tetapi baru beberapa waktu lalu Papa menemukan keberadaan kamu setelah melihatmu di pesta hari itu,” jelas Xavier.
Melihat Esther yang begitu polos, dia tahu sekalipun anak itu tinggal di desa, dia mewarisi seluruh Gen dari Xavier termasuk kecerdasannya.
Kasarnya, Esther hanya lahir dari rahim yang salah. Dia hidup dengan sifat lembut dan tegas yang diajarkan Aurel dan menuruni karakter Xavier yang pemberani.
__ADS_1
“ Benarkah?” tanya Esther sambil mengusap wajah tampan bergaris rahang yang tegas dan kokoh bak menara Eiffel itu.
“ Tidak, itu tidak benar, Esther kembali ke kamarmu dan tidur sekarang!" suara Aurel menghentikan pembicaraan mereka.
Tentu mereka semua terkejut mendengar bantahan dari gadis itu.
Wajah Xavier sontak berubah, dia menarik Esther ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat lalu melemparkan tatapan tajam ke arah Aurel yang tampaknya mulai menunjukkan perlawanan pada dirinya.
“ Mama? Sudah tutup? Oh iya Ma, ini Papa Esther, jelas sekali kan? Wajah kami juga mirip heheh... Esther senang, Esther akhirnya kete..
“ Tidak!! dia bukan ayahmu, cepat masuk ke kamarmu Esther, atau Mama akan memukulmu!” bentak Aurel sambil mengeraskan rahangnya.
Apa pun akan dia lakukan termasuk memisahkan Esther dari Xavier selama hal itu bisa menghalangi jalan Xavier merenggut putrinya dari dirinya.
“ Mama... tapi...
“ Masuk sekarang, kamu nggak punya ayah, ayahmu sudah mati, bukannya Mama sudah pernah bilang hal itu hah? Kenapa kamu menyebut orang asing ini sebagai Papa kamu?” ucap Aurel lagi.
Rasa takut kehilangan itu membuatnya gelap mata. Jelas yang ada dihadapann Xavier saat ini bukan perempuan yang sedang membangkang, tetapi perempuan yang sedang ketakutan kalau putrinya akan dibawa pergi.
“ hiks hiks hiks...Mama... jangan marah... Esther... Esther hanya senang karena tahu Esther punya Papa seperti anak anak lain, ke... kenapa Mama marah?” ucap anak itu sambil menangis sesenggukan.
“ Husshh sayang, tenanglah, tidak apa, nggak usah dengar apa kata Mama kamu, biar Papa peluk kamu nak, jangan menangis sayang tenanglah,” ucap Xavier.
Dia memeluk anak gadisnya dengan erat lalu menatap Aurel dengan tatapan kesal.
Aurel mendekati mereka,” berikan putriku, jangan menyentuhnya, kau hanya orang asing, kenapa kau mengatakan kalau kau ayah kandung putriku, dia anakku, bukan anak orang lain, dan kau bukan suamiku...” ucap Aurel yang berusaha mengambil Esther dari pelukan Xavier.
“ Apa yang kau coba lakukan, jaga emosimu atau aku benar benar akan membawa dia sekarang darimu,” ucap Xavier dengan nada mengancam.
“ Dia putriku, kenapa kau membawa putriku, apa kau penculik? Berikan dia padaku sekarang!” pekik Aurel.
Xavier mengeraskan rahangnya, dia menatap gadis itu," Kau membuatku marah!!"
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen