Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh

Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh
135


__ADS_3

Kejadian yang menimpa Alesha selama tiga Minggu lalu,


Alesha gadis cantik dan pendiam itu dihubungi oleh Bibinya untuk segera pulang ke kampung dengan alasan ada yang ingin mereka bicarakan tentang keberadaan orangtua Alesha.


Alesha duduk di ruangan kamar apartemennya. Kamar hitam putih yang sederhana dan rapi ini menunjukkan karakter dingin dari gadis pemilik ruangan itu. Gadis itu sedang mengerjakan tugas kantor dan menyelesaikan beberapa dokumen untuk tim pemasaran yang dia pimpin.


Saat sedang mengetik, Bibi Alesha menghubungi.


Gadis itu mengangkat panggilan itu dengan wajah ragu. Saat itu dia sendirian di rumah, Bella sedang kembali ke rumahnya karena ada urusan dengan keluarga.


"Ha... Halo Bi.." jawabnya. Padahal belum bertemu secara langsung bahkan belum mendengar suara wanita itu tetapi tangan Alesha sudah gemetaran. Efek psikologis dari tindakan keras dan penyiksaan yang di dapatkan Alesha sejak dia kecil sudah merusak Mentalnya dan membuat dia menjadi gadis lemah yang sangat mudah ditindas.


"lusa kau pulang, ada yang ingin kubicarakan tentang kedua orangtuamu, jangan sampai terlambat, ambil cuti panjang akan ada banyak dokumen yang harus diurus, jika kau tidak datang aku akan menginjak Abrik apartemen mu!" ancam Bibi Alesha dan langsung diakhiri secara sepihak tanpa mendengar jawaban dari Alesha.


"Tapi bi... halo..?? Bibi!???" Alesha menghela nafas berat, bibinya adalah tantangan terbesar yang harus dia hadapi. Hidupnya seolah menjadi milik bibinya. Gadis itu mengusap dadanya, teringat akan bekas luka donor hati yang dilakukannya beberapa waktu lalu. Dia takut kali ini dia akan dipaksa, tetapi Bibinya membicarakan tentang orangtuanya. Sangat jarang wanita itu membahas orangtua Alesha dan hanya dia yang tau siapa orang tua gadis itu.


" Apa Papa dan Mama masih hidup? apa aku punya orangtua? atau aku .... hahh..... sudahlah..." lirih gadis itu.


Akhirnya Keesokan harinya Alesha meminta cuti pada Philip. Awalnya Philip menolak permintaan cuti 3 Minggu yang diminta gadis itu, tetapi melihat pergi bangan kinerja dan profit yang dihasilkan tim yang dipimpin oleh Alesha serta kedekatan Alesha dengan Cherry membuat pria itu dengan mudah menyetujui permintaan karyawan terbaiknya itu.


Akhirnya Alesha berangkat menuju kampungnya di Arah Utara Kota itu. Sebuah kota yang juga cukup hidup dan besar tak kalah maju dengan kota tempat Alesha bekerja.


Alesha hanya menulis surat dan mengirim pesan pada teman-teman nya terkait kepergian nya, dia tak menjelaskan dengan detail alasan kepulangannya ke kampung.


Dengan menggunakan kereta api, gadis itu berangkat menuju kota tempat dia tinggal setelah pindah dari panti asuhan. Alesha duduk merapat ke jendela, sambil mendengarkan musik kesukaannya dia menatap jalanan itu dengan tatapan kosong. Hatinya begitu dingin dan beku, sinar kehangatan yang dia dapatkan hanya dari sahabat-sahabatnya. Tanpa ketiga gadis itu, Alesha mungkin tidak akan bisa jadi seperti sekarang.


"Jadi teringat saat Bella memaksa untuk ikut ke kampung, dasar gadis itu, dia selalu yang jadi paling heboh," gumam Alesha sambil tersenyum tipis.


Saat SMA dulu, biaya sekolahnya yang tidak murah dibantu oleh ketiga sahabatnya tanpa sepengetahuan dirinya. Setiap kali akan membayar uang semester, semua tagihan sudah lunas bahkan biaya seragam dan buku paket sudah dibayarkan. Selama tiga tahun SMA dia tidak tau siapa yang melakukan itu, tetapi setelah lulus, gadis itu memaksa kepala sekolah membocorkan siapa yang membayar biaya sekolahnya selama ini dan ternyata semua itu ulah ketiga sahabatnya.

__ADS_1


Saat dia tanya kenapa mereka melakukan itu, ketiganya hanya pura-pura tidak tau dan mengatakan kalau itu bukan mereka.


Alesha tak bisa hidup tanpa sahabat sahabatnya. Bahkan saat mendaftar tempat kuliah saja dia terkejut ketika namanya sudah terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di universitas terbaik di negara itu bersama kedua sahabatnya Bella dan Cherry sedangkan Sarah begitu lulus SMA langsung masuk akademi militer. Semua biaya sudah dibayarkan Sampai gadis itu selesai kuliah.


Setiap kali Alesha bertanya, ketiga gadis itu pasti akan langsung mengalihkan pembicaraan mereka. Akhirnya Alesha Lulus dengan nilai terbaik di jurusan Management Pemasaran bersama Bella dan Cherry di jurusan mereka masing-masing.


Empat jam perjalanan akhirnya Alesha tiba di kampung tempat dia tinggal bersama Bibinya. Kampung ini juga yang jadi saksi pertemuan nya dengan Cherry, Bella dan Sarah. Mereka berempat dipertemukan di sekolah menengah pertama yang berdiri di kota itu. Ketiga gadis itu memang anak orang kaya, tetapi mereka memilih masuk sekolah biasa. Jika Bella dan Sarah masuk karena keinginan mereka untuk berbaur dengan orang biasa maka. Cherry memang di masukkan oleh ibu tirinya ke sekolah itu dengan maksud jahat.


Gadis itu menarik kopernya dan keluar dari kereta. Setibanya di luar stasiun, gadis itu memanggil taksi lalu berangkat menuju rumah bibinya dengan perasaan tidak enak.


"Kenapa aku merasa aneh ya? perasaanku tidak enak, tak pernah seperti ini!" batin Alesha.


ddrrtt... drrttt....


Ponsel gadis itu berbunyi, " Bibi Nyo" gumam Alesha membaca nama pemanggil itu.


"DIMANA KAU ANAK SIALAN KENAPA DATANGNYA LAMA SEKALI, APA KAU MELARIKAN DIRI HAH!?? KAU TAU TIDAK BETAPA SUSAHNYA AKU MENGUBUNGI KEDUA ORANGTUAMU AGAR DATANG KE SINI!!!" teriak wanita itu dari seberang sana. Makcik Nyonyo terkenal dengan tempramen buruknya, dia seorang rentenir dan berjalan dalam bisnis gelap.


Alesha terkejut mendengar teriakan Makcik Nyonyo, bahkan supir taksi yang membawanya juga sampai ikut terkejut.


"Maaf pak," bisik gadis itu tak enak.


"Lesha su.... sudah di jalan bi, tiga menit lagi sampai," jawabnya dengan suara gugup.


"Ah benarkah!? seharusnya kamu bilang dong, cepat ya nak, orangtua kamu sudah menunggu, mereka tak bisa lama," ucap wanita itu yang nada bicaranya tiba-tiba berubah.


"Ba..baik bi..


tuuttt... tuuut... tuuutt...

__ADS_1


Belum menyelesaikan kata-katanya, Makcik Nyonyo langsung mengakhiri panggilan telepon itu.


Alesha menghela nafas berat, dia tak berani melawan dia tak berani meminta tolong.


Akhirnya gadis itu tiba di rumah bibinya. Dengan jantung berdegup kencang dia menarik koper kecilnya dan melangkahkan kaki masuk ke dalam pekarangan rumah mewah nan besar berwarna warni seperti rambut lolipop Presdir tempat Alesha bekerja.


"Jadi teringat rambut pak Philip," gumam Alesha saat menatap rumah itu.


Sebentar terlihat tenang, tetapi tiba tiba penjaga rumah itu menariknya dengan paksa dan membawa masuk dengan cepat atas perintah si Mak Laron.


"Ayo cepat masuk, semua orang sudah menunggu!!!" ucap salah satu pengawal itu sambil menyuntikkan sesuatu ke leher Alesha.


"Akhhrkkk... hemphhh....


Teriakan kesakitan gadis itu disumpal dengan kain. Begitu cairan itu disuntikkan, tubuh Alesha bagai tak bertulang, dia melemah bahkan berjalan saja susah. Wajahnya pucat dan beberapa helai rambutnya rontok. Entah Obat apa yang mereka masukkan tetapi benda itu berhasil membuat Alesha seperti orang penyakitan yang harus ditopang jika berjalan.


"Akhhrr... ...


"Suaraku... tubuhku sakit, kerongkonganku rasanya terbakar, ada apa ini!?? apa yang mereka lakukan ,siapa pun tolong aku !!!!" Alesha menangis dalam diam, tubuhnya lemah dan tak bisa melawan.


"Hahahah selamat datang sumber uangku!!!" gumam Makcik Nyonyo yang menatap kedatangan Alesha dari pintu depan.


.


.


.


like, vote dan komen 🤗

__ADS_1


__ADS_2