Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh

Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh
264 kopi


__ADS_3

Ruangan semi klasik yang terlihat suram. Tidak banyak yang berlalu lalang di sekitar ruangan itu. Pemiliknya tidak pernah dihargai sebagai pimpinan disana.


Bagaimana Upik abu yang selalu disingkirkan, demikian nasib Dante di perusahaan ayahnya sendiri. Bukan tidak mampu melawan dan memecat mereka semua, tetapi Dante masih punya hati nurani untuk melihat apa yang membuat mereka sangat menolak kehadirannya.


Bagaikan kacang lupa kulitnya, Lia dan beberapa orang disana dengan angkuh dan secara terang-terangan menunjukkan sikap tidak percaya pada Dante. Sekalipun demikian, masih ada beberapa orang yang bersikap netral dan ada yang memihak padanya.


Dante selalu menyibukkan diri di dalam ruangannya dan menyusun target yang harus dicapai oleh perusahaan dalam kurun waktu tertentu. Sekalipun kondisinya membuatnya hancur, tetapi sifat gila kerjanya itu semakin menggebu-gebu demi menunjukkan pada mendiang sang ayah dan pada perusahaan itu bahwa dia mampu meraih kejayaan bagi perusahaan produksi makanan yang dikelola oleh ayahnya terdahulu.


Semua pencapaian yang diperoleh Dante seolah tidak ada apa-apanya di mata para karyawan. Prestasi yang dia hasilkan justru dianggap sebagai hasil pekerjaan Lia si asisten manajer yang angkuh dan arogan.


Tak... Tak... Tak.. takk...


Jari-jari yang terlihat indah itu menari-nari dengan lihai di atas papan komputer. Mata biru khas keturunan Alchemis itu bersinar di bawah sinar lampu ruangan itu.


Fokus dan konsentrasi nya dipusatkan pada serangkaian data dan analisis yang berjejer di dalam layar komputer di depannya.


Di saat yang sama, sekretaris Dante masuk sambil membawakan minuman untukmpria itu.


" silahkan tuan," ucapnya sambil membungkuk dan meletakkan benda itu di atas meja.


Dante hanya mengangguk tanpa menoleh.


"Ummm... Stevani kemari sebentar!" Ucap pria itu sambil mengambil sebuah map berisi beberapa dokumen yang sudah dia siapkan.


" Ada apa tuan?" Tanya gadis itu sambil mendekat dan menatapnya dengan tatapan penuh perhatian.


"ini jadwal untuk pertemuan berikutnya, tolong susun ulang semua jadwal yang diberikan Lia padaku, atur sesuai keinginanku!" Ucap Dante dengan tegas.


Stevani, pemilik Surai blonde dengan tubuh indah bak gitar spanyol, salah satu gadis populer di perusahaan itu dan merupakan sekretaris yang berada di bawah Dante.


"Tapi apakah anda sudah berdiskusi dengan nona Lia tuan, maksud saya seha...


" Apakah seorang Presdir butuh ijin dari asistennya untuk mengatur ulang jadwal? Jenis peraturan dari mana itu!? Kau lupa siapa yang menggajimu disini !??" Dante terdengar sarkas dan tegas.


Sontak gadis itu langsung terdiam setelah mendengar ucapan kasar dari Dante.


"Maaf tuan, tentu saja tidak ada yang melarang tuan mengganti jadwal, akan saya konfirmasi pa..

__ADS_1


" jangan mengkonfirmasi apa pun pada siapa pun itu tanpa seijinku jika kau masih ingin tetap bekerja di sini Stevani, jangan membuat rasa percayaku padamu berkurang, atau aku akan menggantimu!!!" Tatapan, suara dan tindakan Dante yang dingin berhasil membuat gadis itu terdiam.


Ini kali pertama Dante menunjukkan sisi dirinya yang tidak biasa. Bahkan Sejak masuk ke dalam ruangan itu, Stevani sudah bisa merasakan aura Dante yang berubah.


"Ba.. baik tuan... Akan saya laksanakan!" Jawabnya sambil membungkuk hormat dengan rasa takut yang membuatnya merinding.


"Pergilah, dan umumkan pada semua departemen, aku butuh laporan setahun belakangan dan sudah harus ada di mejaku besok pagi, bagi siapa pun yang tidak menuruti perintahku, bersiap kehilangan pekerjaan dan karir mereka!"


"Sampaikan kata kataku itu dengan detail, persis seperti apa yang ku katakan!" Ucapnya.


"Baik tuan!" Jawabnya sambil undur diri dari ruangan Dante.


Stevani berjalan dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di tebak, dia tampak menggenggam dokumen itu dengan sangat erat. Ujung jarinya terkena noda kehitaman.


Tidak seorang pun yang tau sikap gadis itu, entah dia pro atau kontra dengan kehadiran Dante. jika diulas selama bekerja dengan Dante, dia terlihat menunjukkan dukungan pada pria itu, tetapi dalam beberapa kesempatan dia terlihat memihak Lia si asisten Presdir terdahulu.


Sikapnya abu-abu, tidak jelas apakah dia akan jadi batu sandungan ataukah jadi batu loncatan bagi Dante dan perusahaan itu.


Dante menatap pintu dimana Stevani menghilang, sambil menyeruput kopi yang dibawakan gadis itu, dia menganalisis semua gerak gerik orang yang ada di sekitarnya.


" Apa dia?" Gumam pria itu.


"Si..siapa!??" Stevani tersentak kaget, terlihat dari bagaimana dia berjalan mundur kala melihat gadis bermasker itu berdiri di ujung sana.


Bamhhh....


"Kau tau tidak kecepatan senapan angin milikku yang sudah dimodifikasi ini bahkan bisa menembus kepalamu bahan sebelum kau sadar, bagaimana..." Kepala gadis itu dimiringkan dan menatap Stevani dengan smirk licik di wajahnya.


"Sekali tarik...." Dia mengarahkan senapan ke kepala Stevani lagi," boommm!!! Kepalamu hancur berantakan hahahahhhahaha....." Teriak gadis pembuat onar itu sambil tertawa terbahak bahak melihat ekspresi ketakutan gadis itu.


"Ka..kau... Ba..bagaimana bisa berkeliaran disini dengan senjata ilegal, jika nona Lia tau kau...


" Ummm...umm... Kau kurang update ya, sana tanya padanya siapa aku," seloroh gadis itu sambil berjalan mendekati Stevani.


"Dan..." Dia menaruh tangannya di bahu Stevani, matanya melirik tangan gadis itu," ini bukan senjata ilegal, kau harus pakai mata, oh iya kau kan tak punya mata hahah... Mulai dari kalung, cincin, anting dan bajumu bahkan sepatumu hanyalah barang tiruan yang dijual di pasar gelap, boleh boleh saja sih, tapi jangan sok bilang barang orang lain ilegal, barang sendiri tidak dilihat... Bubyee.... Muahhh..." Gadis itu pergi meninggalkan Stevani setelah membuat kesal gadis itu.


"Kenapa dia bisa masuk sembarangan, pembuat onar itu... Siapa dia!!!"

__ADS_1


Gadis itu berjalan dengan langkahnya yang indah ditemani dua pengawal pribadinya.


Namun tiba-tiba langkahnya semakin pelan kala mereka semakin dekat dengan ruangan Dante. Dia menurunkan senapannya, jantungnya berdebar kencang, dia menatap area itu dengan mata berkaca-kaca.


Tangannya mengepal kuat, matanya menatap ruangan Dante yang entah sejak kapan sudah berada di depannya.


" Nona, anda baik-baik saja?" Tanya salah satu pengawal.


Gadis itu mengangguk," aku pasti bisa!" Gumamnya sambil mendorong pintu masuk ke ruangan Dante.


Gadis itu melangkah dengan yakin sekalipun gejolak besar di dalam hatinya hampir membuatnya hancur dalam tangisan.


Matanya menatap ke arah pria yang tidak menolah sama sekali dan fokus dengan pekerjaannya.


"Dante..." Gumam gadis itu.


Kedua pengawal berdiri di luar ruangan setelah dia masuk kesana.


Di saat yang sama, Dante menoleh dan melihat siapa yang masuk.


Dante menatap gadis pembuat masalah itu, dia berdiri sambil menyerngitkan keningnya.


"Nona?ada perlu apa kesini?" Tanya Dante .


Gadis itu berdiri diam di tempatnya sambil menatap Dante dengan tangan yang bergetar.


Perlahan-lahan dia membuka masker dan kacamata nya. Seolah semuanya bergerak dengan sangat lambat, dengan menahan tangisan gadis itu menunjukkan siapa dirinya.


"Aku... Pulang... Dante..." Ucap Sarah si kopral cantik sambil menatap Dante dengan air mata yang lolos begitu saja dari kedua pelupuk matanya.


"Sa..Sarah.. kau... Sarah!!!"


Gadis itu berlari sambil menangis dan menghamburkan pelukannya pada Dante," aku pulang Dante, maafkan aku... Maafkan aku... Hiks hiks hiks hiks.... Aku merindukan mu Aku...sangat merindukanmu hiks hiks hiks......"


.


.

__ADS_1


.


Like, vote dan komen 🤗


__ADS_2