Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh

Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh
161


__ADS_3

Langit abu abu terlihat sangat berat. Bulir-buliran air hujan mendarat di atas permukaan bumi mengguyur daratan di kota itu. Warna abu abu yang sangat pekat menutupi seluruh wilayah perkotaan itu. Petir juga ikut menyambar dan menambah riuh suasana derasnya hujan dan kencangnya angin yang bertiup kesana kemari.


Phineas terkejut saat melihat suasana menyeramkan itu. Sudah berada di depan rumah, dia malah kehujanan. Kaki kekar kepala kepolisian itu berlari dengan kencang memasuki rumah. Dia benar benar basah setelah guyuran hujan yang sangat deras.


" Wahhh aku disiram langit, basah kuyup semua!" ucapnya sambil menepuk nepuk pakaiannya yang basah. Pak Andre kepala pelayan rumah Dalton langsung menghampiri tuan mudanya dan memberikan handuk lebar berwarna putih bersih untuk mengeringkan tubuh tuan mudanya.


" Segera mandi tuan muda, anda bisa sakit kalau terkena hujan seperti ini, anda ingat tubuh anda lemah pada air hujan," ucap Pak Andre dengan penuh perhatian. Bagi Pak Andre, Phineas dan Elton sudah seperti anaknya sendiri,selama tuan dan nyonya Dalton bekerja, dia yang mengurus kedua pria itu bahkan setelah kepergian Rara.


" Terimakasih pak, wahh hujannya sangat deras, sepertinya harus menunggu agar bisa ke tempat Cherry dan Grape," ucap Phineas sambil mengeringkan tubuhnya.


" Tuan muda Elton dimana? apakah bersama tuan dan nyonya besar?" tanya Pak Andre sambil melangkah mengikuti tuan mudanya.


" Kak Elton di rumah baru Grape dan Cherry, semuanya berkumpul disana, mom dan Dad juga dibawa kesana, bagaimana rumah? apa ada yang datang?" tanya Phineas.


" Ahh sayang mengerti tuan,"


" Rumah aman aman saja, dan tidak ada tamu yang datang, hanya saja tadi ada telepon dari tuan muda Sony, " jelas Pak Andre.


" Sony? ada apa? apa dia kesulitan lagi? apa dia masih mengeluh tentang proyek itu? sudah kubilang lepas saja jika tak sanggup, apa dia masih mengomel dengan mulut cerewetnya itu!??" ketus Phineas.


" Ahhh bukan seperti itu tuan muda, tadi tuan Sony menghubungi rumah ingin menanyakan kabar tuan dan nyonya Dalton, beliau mengatakan agar tuan muda Menghubungi nya jika saya sudah menyampaikan pesan ini," jelas Pak Andre .


Phineas mengangguk paham" hmmm baiklah, kerja bagus pak, kalau begitu Phineas ke atas dulu, bapak beristirahatlah, ini hujan deras, besok bapak libur dan pulang kampung, ibu dan adik adik pasti merindukan Bapak, sudah lama bapak tidak pulang," ucap Phineas.


Mendengar hal itu malah membuat Pak Andre panik, dia berpikir kalau tuan mudanya marah karena pekerjaannya tidak becus. Segera pria itu duduk berlutut di depan Phineas dengan tangan gemetaran" Tu.. tuan muda maafkan saya, apakah ada pekerjaan saya yang tidak beres?? mohon maafkan saya, mohon jangan pecat saya, saya masih butuh pekerjaan ini... " ucap Pak Andre dengan tubuh gemetaran dan penuh ketakutan.


Bagi pelayan seperti mereka, disuruh pulang oleh majikan adalah hal yang sanga menyeramkan bahkan lebih menyeramkan dari amukan si ibu kost.


Mata pencaharian mereka berasal dari majikan mereka. Jika mereka tiba tiba disuruh pulang berarti mereka melakukan kesalahan besar dalam pekerjaan mereka.


Phineas tak menyangka Pak Andre akan melakukan itu. Tubuh yang sudah renta dan lemah padahal usianya baru akan menginjak kepala 6 terlihat lemas dan tak berdaya . Padahal Phineas tidak memiliki maksud lain, dia hanya ingin Pak Andre kepala pelayan di rumah itu menikmati waktunya bersama keluarganya karena sudah setahun beliau tidak pulang.


Phineas ikut duduk berlutut, dia duduk di depan Pak Andre dan menepuk bahu pria yang pernah mengalami kecelakaan naas untuk menyelamatkan Phineas saat pria itu masih remaja.


pukk...


Tepukan tangan Phineas di bahu Pak Andre terdengar lembut," Pak jangan over thinking dong, ya kali Phineas pecat bapak nya Phineas yang ganteng ini, Phineas cuma minta bapak pulang kampung bukan maksud lain, Bapak udah kerja keras selama ini, bapak juga kangen kan sama anak anak, istri dan cucu kakek, Phineas pengen bapak bersantai, setelah itu pulang ke sini," jelasnya dengan lembut.

__ADS_1


" Tapi tuan muda benar kan? saya tidak melakukan kesalahan kan?" tanya Pak Andre dengan wajah ketakutan.


"Bapak akan melakukan kesalahan kalau bapak ga menurut!" ucap Phineas dengan tegas.


" Eh.. ta...tapi tuan....


" Hahaha sudahlah pak, tak apa pokoknya Bapak lakukan saja ya," ucapnya dengan lembut lalu membawa pak Andre berdiri.


" Ya sudah, Phineas ke atas dulu, dingin loh..." ucapnya.


tiba-tiba.


Ptarrrrrrrr..... grrrraaarrrr......


Suara Sambaran petir yang sangat kuat menggelegar di atas rumah itu. Seisi rumah itu terkejut dengan suara genderang dari langit di sertai kilatan petir yang sangat panjang dan derasnya hujan yang mengguyur bumi.


" Astaga petirnya benar benar kuat, kalian semua masuk ke ruangan, jangan ada yang di luar, hentikan pekerjaan kalian, istirahat lah!!" titah Phineas pada seluruh pelayan di rumah itu.


Di saat yang sama mereka mendengar suara teriakan dari ruang perawatan di lantai dua bersebelahan dengan kamar Phineas.


Prangg...... Brukkk...


Sontak Phineas dan para pelayan panik. Pria itu berlari menaiki tangga dengan langkah yang sangat cepat. Wajahnya panik kala mengingat ucapan Cherry tentang ketakutan gadis penghuni ruangan perawatan itu dengan petir dan hujan.


" Alesha, bagaimana bisa aku lupa!!" ucap pria itu sambil membuka pintu kamar perawatan dengan cepat.


" Alesha!" teriaknya saat membuka pintu.


Terlihat tiang infus yang terjatuh dan jarum infus yang tercopot dan berlumur darah di ujungnya. Mata pria itu menyisir ruangan itu. Betapa terkejutnya dia saat melihat Alesha berdiri di sudut ruangan sambil memukul-mukul telinganya dan menangis sesenggukan berputar putar di sudut ruangan itu


" hiks hiks hiks.... tolong... tolong .....


Gadis itu meracau ketakutan, dia menangis sesenggukan dengan wajah pucat. Traumanya akan kilatan petir kala dia dibuang dan ditelantarkan di tengah hutan saat Makcik Nyonyo membawa mereka berpiknik tapi nyatanya dia malah ditinggalkan sendirian di tengah hutan yang kala itu hujan deras dengan petir menyambar kesan kemari.


Ingatan kelam itu berputar di kepala Alesha, setiap kali dia mendengar suara petir dan hujan deras gadis itu akan berteriak ketakutan, memukul telinganya sambil berputar-putar.


Tiba-tiba tangan seseorang menutup telinganya dan mendekap dia dari belakang. Sontak gadis yang awalnya tidak tenang itu terdiam dengan tubuh gemetaran.

__ADS_1


Phineas menutup telinga Alesha sambil bersenandung seperti yang dia lakukan jika mendiang adik perempuan menangis dan ketakutan. Rara dan Alesha memiliki kesamaan, keduanya sama sama takut dengan petir dan hujan.


" Shhhh.... tenanglah... hujan tak kan mengusikmu... ku ada disini... tenanglah bintangku.... semua kan baik saja......


Senandung Phineas yang lembut dan menenangkan berhasil membuat Alesha terdiam dan merasa tenang. Phineas membawa gadis itu ke arah kasur sambil menuntunnya berjalan dengan tangan yang masih menutup telinga Alesha.


Petir masih menyambar nyambar di langit. Phineas tau kalau gadis itu tidak bisa ditinggal sendirian disana.


" Duduklah, tidak apa apa..." ucap Phineas.


Alesha hanya menurut sambil mengusap air matanya dengan tangan yang gemetar.


Tangan pria itu masih setiap menutup telinga Alesha," Pak Andre,," panggilnya. Pak Andre yang berdiri di dekat pintu langsung masuk ke dalam.


" Ya Tuan muda," jawabnya.


" Tolong ambilkan penutup telinga di kamarku, penutup telinga yang merah, aku tidak bisa meninggalkan dia," ucap Phineas dengan sopan.


" Baik tuan..."


"Apa kau takut?"tanya Phineas dan dibalas anggukan kepala oleh gadis itu.


Phineas paham rasa takut itu, dia mengambil topi rajut Alesha dan menutupi kepala botak nya agar gadis itu tidak kedinginan," Tenanglah,setelah hujan reda kita akan bertemu dengan Cherry dan yang lain, berbaringlah," ucap Phineas.


" Jangan pergi....


" Aku akan disini, berbaringlah," ucapnya lagi.


" terimakasih..." ucap Alesha tetapi Tangannya sudah menggenggam pakaian Phineas.


.


.


.


like, vote dan komen 🤗

__ADS_1


__ADS_2