
Di hadapan rumah keluarga Bella, kini pasangan pengantin baru itu berdiri sambil menggenggam tangan satu sama lain sambil menatap bangunan mewah itu namun masih tak seberapa jika dibandingkan dengan semua rumah yang dimiliki oleh suami Bella.
Wanita itu menggenggam erat tangan suaminya untuk mengurangi rasa takut yang menjalar dalam diri perempuan itu. Bella terlihat terpaku menatap rumah yang penuh dengan kenangan buruk itu. Bagi Bella rumah itu tak lebih dari sekedar rumah singgah alias rumah kos yang dihuni oleh seorang ibu kos yang sangat kejam.
Sejak kejadian itu terjadi Bella sering mendapat perlakuan buruk dari kedua orang tuanya yang sangat membenci aib Bella. Bella mereka anggap sebagai anak pembawa sial yang tak pernah diharapkan kehadirannya dalam keluarga itu.
Bella kerap mendapat kekerasan dan ejekan dari keluarganya bahkan semua orang dari keluarga besar ayah dan ibu Bella menghina perempuan itu sebagai perempuan yang tak bisa menjaga dirinya sendiri sampai bisa di tiduri oleh seorang bocah SMP. Padahal jelas Bella adalah korbannya disini tetapi seolah semua kesalahan dilimpahkan pada perempuan itu.
Bella menarik nafas dalam dalam, dia takut, gugup dan khawatir kalau gangguan kecemasan yang dia derita akan kembali kambuh jika masuk ke dalam ruang penuh sesak itu.
Kejadian terakhir saat Bella berlari dalam keadaan tubuh penuh luka terjadi tepat di depan rumah itu saat malam hari. Bella di paksa untuk menuruti keinginan bejat pria yang ditunangkan pada dirinya, karena melawan, pria itu mengancam akan mengirim foto foto tak senonoh tentang Bella ke publik agar perempuan itu merasakan malu yang luar biasa.
Orangtua dan kakaknya melihat kejadian itu tetapi betapa kejinya mereka hanya membiarkan Bella di pukuli oleh pria itu.
Bella yang tak kuasa mengumpulkan keberaniannya dan menghajar balik pria itu meskipun tubuhnya yang sudah terluka kembali mengalami luka dan memar.
Setelah itu dia kabur dengan mobilnya dan menghampiri rumah lama Cherry dan Grape , dimana mereka semua tinggal beberapa waktu lalu.
Saat ini pun Bella masih dihantui dengan kenangan buruk, tangan Philip merangkul bahu istrinya,” tenang sayang, kamu Bella yang kuat, jadilah dirimu sendiri, jangan takut dan lawan mereka, kalau ada yang perlu dipatahkan serahkan padaku maka akan kuremukkan tulang tulang mereka sampai benar benar hancur..”ucap Philip.
“ Kamu takut?” Philip menarik wajah Bella dan menatapnya dnegan tatapan mendalam.
“ Aku hanya merasa terintimidasi karena kejadian buruk yang ku alami kurang lebih terjadi di tempat ini, “ jawabnya pelan.
Philip paham, pasti sulit menghadapi trauma sebesar itu, Bahkan dirinya sendiri belum lepas dari trauma yang menghantuinya selama ini. Tak semudah membalikkan telapak tangan, butuh latihan dan butuh waktu ekstra untuk bisa menenangkan diri dan melupakan semua yang telah berlalu.
__ADS_1
“ Dengar aku sayang,” Philip memegang bahu istrinya dari kedua sisi.
“ kamu harus kuat, kamu harus bisa dan kamu harus katakan pada mereka dengan jelas apa yang kamu mau, bukan menuruti apa yang mereka mau, lagi pula, mereka tak akan bisa berkutik lagi setelah kita masuk ke dalam..” ucap Philip dengan percaya diri sambil menatap rumah itu dengan senyuman yang tak bisa diartikan.
“ kamu melakukan apa ? aku jadi penasaran.."
“ Kejutan sayang, ini kejutan yang sangat besar... ayo masuk.. ingat ya jadi dirimu sendiri, jadi Bella yang bar bar dan tukang marah, jangan lemah, kamu pasti bisa..” seru Philip yang terus menerus menguatkan sang istri.
“ Baiklah.. karena ada lampu neon, mak lampir ini pasti akan bangkit dan meratakan mereka semua...”ucap Bella dengan semangat.
Keduanya tersenyum. Mereka masuk ke lingkungan rumah itu, tanpa Bella ketahui, tim Alpha sudah berada di sekeliling rumah itu sesuai dengan koordinasi yang diatur oleh Cherry , nyonya muda mereka yang sangat senang menyusun taktik perang.
Cherry mengatur posisi semua orang agar Bella dan Philip aman, sebab dia tahu rencana besar ini melibatkan orang orang dengan gangguan psikologi yang akut. Termasuk orangtua philip.
“ heheh apa reaksi mereka saat mendengar kalau Bella dan Philip sudah menikah ? “ Cherry mengunyah sate padang sambil menatap komputer dengan tatapan buas.
Seluruh aktivitas di rumah itu telah diretas oleh tim Alpha, kamera CCTV dipasang secara diam diam oleh pelayan palsu yang masuk ke rumah itu pagi tadi. Semuanya sudah direncanakan dengan matang.
Sementara itu, terlihat jelas di daam rumah itu Nyonya Marina duduk anteng di kursi tamu dengan Elsa kakak perempuan Bella yang duduk di seberangnya. Nyonya Marina tersenyum menatap gadis cantik dan terlihat sangat lembut dan baik di matanya.
“ Ahhh Aku tidak sabar , ck.. kenapa juga dia datangnya lama sekali, pernikahan ini akan jadi pernikahan ganda, akan menyenangkan kalau kita berbesan...” ucap Nyonya Marina sambil tersenyum bangga menatap Elsa yang cantik jelita dan terlihat penurut.
“ Benar nyonya, putri bungsu kami juga lama sekali datangnya, padahal pengantin prianya sudah disini, anak anak muda memang sering terlambat ya...” ucap nyonya Vina, ibu Bella dan Elsa. Hanya saja Ayah Philip tampaknya belum tiba di rumah itu, tentu saja belum karena Cherry telah mengatur peran mereka masing masing dalam drama kali ini.
“ Elsa, kamu kelihatan pucat, apa kamu sakit?” tanya Nyonya Marina saat melihat Elsa terlihat tidak nyaman dan berkeringat, seolah sedang menahan sesuatu beberapa kali gadis itu menggigit bibir bawahnya dan mencengkram gaunnya.
__ADS_1
“ahhh....” Sebuah lenguhan keluar dari bibir nya yang sontak membuat semua orang menatap gadis itu.
“ perutku sakit, ma.. Elsa ke belakang dulu.. aduhh... tadi kebanyakan makan cabainya...” elak nya sambil berlari terburu buru keluar dari ruangan itu.
“ Dia memang tidak tahan dengan pedas, mudah sekali sakti perutnya.”
“ tak apa, saya maklum kok,” ucap Nyonya Marina sambil tersenyum menatap Elsa yang sudah menghilang dari pintu.
Di saat yang sama, Jack, pria yang dijodohkan pada Bella berdiri mondar mandir di ruang kamar dimana dia beristirahat selama beberapa hari menginap di rumah itu. Dia tampak gelisah, beberapa kali dia menggaruk garuk kepalanya sendiri, berjalan seperti setrikaan dan tampak gusar seperti sedang menahan sesuatu di dalam dirinya.
Tangannya mengeluarkan sebuah benda kecil seperti remote, berwarna ungu, dia menggenggam benda itu dan menatapnya sambil tersenyum.
Tiba tiba pintu dibuka lalu ditutup dengan kasar oleh Elsa yang berlari masuk ke dalam kamar itu sambil menahan sesuatu yang akan segera meledak dari dalam dirinya.
“ ja..Jack.. ahhh.... aku.. aku gak tahan.. getarannya terlalu keras, kau membuatku gila.. akhhh...” gadis itu langsung berlari dan menghampiri Jack yang berdiri di ruangan itu.
“ kupikir kau akan tahan sayang, apa sudah mau meledak hmmm?” Jack membawa gadis itu berbaring dan langsung melucuti semua pakaian mereka, bergulat di atas ranjang dan mencurahkan perasaan mereka di atas ranjang itu. Bersentuhan satu sama lain .
“ ahh benda ini..” Jack menarik sebuah benda kecil berbentuk melengkung dari dalam area terlarang milik Elsa,” kau sudah tak tahan sayang... ternyata ini berhasil.. jujur saja, saat melihat wajahmu tak tahan di depan tadi , aku benar benar ingin menarik mu kesini, ahhhh kita lanjutkan disini ya..” bisiknya dengan senyuman gila sambil melemparkan alat itu ke sembarang arah.
Tanpa hubungan yang jelas, kedua saing mencumbu di dalam ruangan luas itu.
.
.
__ADS_1
..
Like, vote dan komen