Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh

Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh
149


__ADS_3

Kedua pria itu berjalan mendekati Cherry dengan mulut terkunci rapat dan wajah sendu. Keduanya tampak kacau. Si Siberian Husky dipenuhi dengan rasa bersalah karena kejadian semalam sedangkan Philip dipenuhi dengan rasa khawatirnya jika sampai Cherry tau masa lalunya, dia tak ingin membuat gadis itu khawatir.


Cherry menatap mereka berdua, dia sadar semua orang di dunia ini memiliki masa lalu dan rasa sakit mereka sendiri. Dia sadar kalau tak semua bisa diungkapkan, dia sadar kalau rasa sakit itu terkadang lebih baik dikubur bersama kenangan masa lalu daripada mengulang luka yang sama.


Karena dirinya pun sama, dia menyimpan banyak luka yang tidak dia ungkapkan. Ada kalanya diri ini merasa aman ketika menyimpan satu, dua atau lebih rahasia yang hanya diketahui oleh diri sendiri atau orang paling dekat dengan kita. Cherry paham rasa itu.


Dia berdiri, menatap kedua pria yang di anggap sebagai kakaknya. Jujur dia tak senang melihat mereka berkelahi hanya karena masalah kemarin. Sekalipun apa yang dilakukan Phineas salah, Philip seharusnya menahan diri karena Phineas juga belum pulih seutuhnya.


Grep....


Gadis itu memeluk kedua kakaknya dengan erat. Tangannya yang kecil memeluk kedua orang itu seraya mengusap lengan mereka berdua. Tinggi badan Cherry yang hanya sampai dada membuatnya kelihatan seperti anak kecil yang sedang memeluk paman pamannya yang suka membuat masalah.


" Jangan berkelahi, tenangkan diri kalian, kalian orang dewasa bukan anak TK yang setiap saat mengalami tantrum, Hansel saja tidak seperti kalian, bahkan Alvaro lebih dewasa dari kalian, malu sama umur kak!" celetuk Cherry.


Phineas dan Philip saling melirik, Cherry sama sekali tidak menanyakan tentang ucapan Philip tadi, bahkan tak membahas kejadian semalam. Keduanya membalas pelukan Cherry, rasanya seperti mereka mendapatkan kembali adik kecil yang mereka rindukan.


Ketiganya kini duduk di ruang tengah dengan Cherry memegang salep luka dan mengoleskan nya ke wajah Phineas sambil terus diam tanpa menanyakan apa pun.


Cherry membersihkan luka di wajah Phineas, mengompres lebamnya dan menutup luka pria itu dengan lembut dan rapi. Tangan Philip dia beri salep karena lecet.


" Selesai," ucapnya sambil tersenyum.


" Apa kamu tak bertanya Cher?" tanya Phineas.


Cherry menggelengkan kepalanya," nggak perlu, untuk apa ditanya kalau toh akan membuat kalian mengulang rasa sakit yang sama? Cherry gak.mau kakak kakak Cherry terluka," jelas gadis itu.


" Syukurlah kami tepat waktu semalam, jujur saja kak, Cherry kecewa dengan mental kakak yang lemah, benar kata kak Philip, mengambil keputusan sembrono seperti ini tidak akan memberikan hasil apa pun, yang ada kakak hanya akan membuat kami semua terluka karena tak bisa melindungi kakak dari perasaan tertekan, Cherry mohon....." gadis itu menggenggam tangan Phineas.

__ADS_1


"Jangan melakukan hal seperti ini lagi, Rara pasti akan kecewa melihat kakak yang sanga dia sayangi, kakak yang menurutnya paling tampan, kakak yang menurutnya paling suka memainkan rambutnya dulu mengambil keputusan segampang ini,dia pasti sedih melihat kakaknya yang sangat menyukai kacang ini mengikuti jejaknya," ucap Cherry sambil menatap Phineas dengan mata berkaca-kaca.


Jika saja dia terlambat, mungkin Phineas sudah bersarang di rumah sakit saat ini.


" Kumohon kak, demi Rara... kakak jangan melakukan hal seperti ini lagi hiks hiks hiks...." Cherry tak bisa menahan tangisannya. Dia menumpahkan air matanya di depan kedua pria itu.


Phineas dan Philip terkejut dengan ucapan Cherry dan semua fakta yang dia katakan.


" Cherr... bagaimana kamu tau?!" Tanya Phineas dengan wajah heran.


Cherry mengangkat wajahnya dan menatap Phineas," dulu sekali... aku dan Rara.. gadis yang ada di figura itu pernah bertemu saat dia masih kelas satu SMA, saat itu dia mengalami perisakan, aku dan Bella membantunya, tak kusangka kalau dia tetap mengalami hal itu bahkan kini dia pergi... dia gadis yang baik dan ramah, meski bertemu sekali aku jelas tau kalau dia orang yang layak mendapatkan kasih sayang, terutama dari seorang kakak seperti kak Phineas," jelasnya sambil menangis


" Jadi demi diri kakak,Cherry mohon jangan lakukan hal seperti ini lagi...Kami akan gila kalau Kakak melakukan hal seperti itu," ucap Cherry sambil menangis sesenggukan.


Phineas terdiam, pilihan gegabahnya semalam telah membuat Cherry menangis. Hal yang paling dia benci adalah membuat gadis baik itu menangis.


" Minta maaf pada diri kakak sendiri, kakak itu berharga, apa pun yang sedang kakak hadapi kakak harus kuat, kami ada di sisi kakak, om dan Tante pasti akan kembali seperti dulu, hanya menunggu waktu dan sedikit perjuangan, semua akan baik baik saja!" tegas gadis itu.


Phineas mengangguk pelan.


"Sekarang dimana Alesha!!" ucap Cherry dengan wajah tegas dan kesal.


Kedua pria itu sontak saling menatap, mereka terdiam saat melihat wajah galak itu menatap mereka seolah dia ingin memakan keduanya.


Phineas membawa Cherry menuju kamar rawat Alesha sembari menjelaskan dengan singkat apa yang terjadi pada Alesha selama gadis itu tidak menampakkan diri pada mereka.


Cherry terdiam mendengar penjelasan Phineas. Dia benar-benar terkejut dengan kejadian tak terduga yang menimpa Alesha. Dia tak menyangka bibi Alesha tega menjadikan gadis itu sebagai alat jual belinya.Bahkan fakta bahwa Alesha bukan keluarga kandung Makcik Nyonyo membuat Cherry syok.

__ADS_1


Ternyata selama belasan tahun hidup bersama wanita penghisap darah itu, Alesha hanya dimanfaatkan sebagai alat untuk mencari uang bagi Makcik Nyonya Dia dibesarkan lalu saat sudah tiba waktunya bagian bagian tubuh gadis itu dijual untuk mendapatkan uang dan memenuhi perut buncit Makcik Nyonyo dan keluarganya tanpa peduli dengan nasib Alesha.


" Disini, dia sepertinya masih terlelap, semalam Mom mengamuk dan membuat Alesha terjatuh, aku belum sempat berbicara dengannya," ucap Phineas sambil membukakan pintu untuk Cherry.


Kaki Cherry terlihat gemetar, dia memasuki ruangan itu dengan wajah sendu. Alesha, gadis dingin dan datar itu tak pernah menunjukkan pada orang lain kalau dia sedang dalam keadaan sulit.Dia selalu menyimpan rasa sakitnya. Dia selalu menahan semuanya sampai akhirnya terjatuh dan kesakitan sendiri tanpa ada yang tau.


" Alesha..." lirih Cherry dengan mata berkaca-kaca sambil menghampiri tempat tidur Alesha yang masih terlelap karena pengaruh obat. Semalam gadis itu sempat terbangun namun pingsan lagi karena tubuhnya melemah.


Tangan Cherry gemetaran, penjelasan Phineas tadi cukup membuat dirinya sedih. Melihat keadaan Alesha yang begitu menyedihkan membuatnya merasakan kesedihan mendalam.


" Apa dia sudah di tangkap kak? apa wanita sinting itu sudah ditangani!?" tanya Cherry dengan air mata berderai di kedua pelupuk matanya.


" Kami sedang mengumpulkan bukti Cher, kita belum bisa melakukan tuntutan karena tak ada bukti yang jelas dari kejadian yang menimpa Alesha.Wanita itu bukan orang sembarangan,dia telah lama bekerja di dunia bawah, menyebabkan koneksinya sangat luas dan kuat, entah kenapa Alesha harus berhubungan dengan orang seberbahaya itu," ucap Phineas.


Cherry menangis lagi, dia menatap Alesha, mengusap wajah gadis itu dengan lembut," Dia tak pernah merasakan kebahagiaan selama hidupnya, bahkan panti tempat dia dibesarkan selalu diancam akan dihancurkan, dia berjuang mati matian mencari uang hanya untuk mempertahankan panti asuhan itu... dia... dia terlalu banyak mengalami luka batin kak, terimakasih sudah menyelamatkan Alesha, aku sangat berterima kasih kak," ucap Cherry.


Philip dan Phineas paham perasaan Alesha, karena mereka juga seperti itu. Jika salah satu dari mereka berempat terluka pasti mereka akan merasa sedih dan tak berguna.


" Kakak akan menjaganya Cher... Kakak akan menjaga gadis ini sampai dia benar-benar pulih, jangan khawatir.." ucap Phineas sambil menepuk punggung Cherry.


.


.


.


like, vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2