
Xavier dan Aurel sama-sama terdiam. Gadis itu terlihat gugup, dia memalingkan wajahnya dan tidak berani menatap Xavier.
" Aku tau semuanya, bahkan sebelum kau memberitahu hal itu padaku Aurel, aku tau kalau Dian menjanjikan rumah murah yang nyaman untuk dirimu dan Esther, tetapi kau bahkan dengan mudahnya tertipu, apa kau bodoh sampai kau menerima tawaran itu" Xavier terlihat marah dan kesal.
Pasalnya, hasil penyelidikan tim Alpha menemukan aktivitas mencurigakan dari Dian ibu kandung Esther yang berhubungan dengan orang-orang dari dunia bawah yang artinya dia menjalankan bisnis gelap.
Bisnis gelap yang tidak lepas dari memanfaatkan perempuan sebatang kara seperti Aurel juga memelihara anak kecil seperti Esther sampai dewasa lalu dijual pada pebisnis yang membutuhkan tubuhnya dalam banyak arti.
"Dia kan ibunya Esther, dia wajib menunjukkan rasa sayang pada Esther dengan memberi kami rumah yang nyaman, bukannya itu hak normal? ju..justru yang perlu kami takuti adalah dirimu yang tiba-tiba muncul dan tidak jelas asal usulnya!" ucap Aurel dengan berani.
" cihh.. dasar bodoh, kau ini memang bodoh atau pura-pura bodoh Aurel, bagaiman bisa seorang ibu punya pikiran sedangkan itu, akan jadi apa putriku nanti kalau dia dirawat perempuan tanpa perhitungan seperti dirimu!?" ujar Xavier.
" Kau bahkan tidak tau apa yang dilakukan Dian di luar sana ,menjadi simpanan para pejabat dan menemani tidur mereka, berhubungan dunia hitam dan penjualan Manusi, kau... kau dan Esther akan dijual jika kau ikut dia ke kota Bodoh, kau akan dia buat jadi target bisnis selanjutnya oleh perempuan sialan itu!!!" jelas Xavier sejelas mungkin.
"Ti... tidak mungkin, dia tidak mungkin melakukan itu, dia mengatakan kalau dia bertobat dan tidak melakukan pekerjaan itu lagi, kenapa kau memfitnah dia??" Aurel bertanya lagi.
Xavier mengeraskan rahangnya, balasan gadis ini sungguh konyol dan membuatnya kesal," kau ini bodoh ya," ketus Xavier. Dia membuka ponselnya lalu memutar rekaman percakapan ponsel Dian yang sudah di retas oleh tim Alpha.
" Dengarkan ini baik-baik dan pakai otakmu untuk berpikir, kau berteman dengan perempuan paling munafik di dunia ini dan kau masih bisa membelanya? hah .. aku tidak habis pikir Aurel, dia jelas tidak mungkin mau menjual darah dagingnya hanya seharga sepasang sepatu, kau pikir dia bodoh? kau yang bodoh dan terlalu naif, bahkan sampai tidak curiga sama sekali!!" kesal Xavier sambil memutar rekaman itu..
Isi rekaman,
"Kapan kami akan menerima gadis yang kau katakan? kami butuh gadis perawan untuk teman main bos kami, jika tidak ada kau akan menanggung akibatnya sendiri, atau kami akan langsung membawanya dari desa itu!!"
"ohh ayolah, kalian sangat tidak sabaran, dia juga butuh mematangkan diri sampai wadahnya siap dan tubuhnya dipoles unik permainan panas yang menggoda. Tentu kalian tidak ingin memberikan makanan yang mengecewakan bukan? tenang saja, akan kupastikan Aurel menjadi milik bos kalian, dan tambahannya adalah gadis kecil itu, dia akan jadi perempuan cantik dan menggoda saat usianya remaja, kalian pelihara si Esther sampai besar lalu jadikan mainan baru kalian!" ucap Dian yang terdengar seolah sedang menyesap rokoknya
." Kau benar-benar gila, bisa sampai setega itu kau menjual teman dan putrimu sendiri, kau bukan manusia Dian, kau gila!"
__ADS_1
" Hahahahhaha... menjadi bukan manusia adalah kebanggan bagiku, "
" Segera bawa mereka, kuberi waktu sebulan, bawa yang paling cantik dan molek!!"
Isi percakapan yang begitu menyayat hati dan menjadikan perempuan seolah menjadi wanita paling mudah dibodohi di dunia ini.
" Ti..tidak mungkin dia melakukan ini, tidak mungkin !! katakan padaku kalau itu hanya bohongan, ti..tidak mungkin dia menipuku dan anakku!!!" Aurel menangis lemah, dia menangis sambil menatap Xavier dengan kedua mata yang berlinang air mata, begitu kecewa dan sedih.
" Katakan kalau itu bohong tuan, bagaimana bisa Dian melakukan itu!?? dia bicara dengan lembut padaku, dia berbicara dengan manis dan sudah berubah, meskipun masih tidak mengakui Esther, aku... aku tidak percaya padamu!!!" tegasnya.
Xavier memijit pelipisnya, tidak dia sangka gadis ini begitu kerasa kepala. Sebenarnya tentu saja Dian berpikiran demikian.
Bayangkan seorang pria asing, ayah dari anak angkat tiba-tiba datang dan mengatakan kalau sahabat dekat kita adalah penipu, siapa yang mau dipercaya disini?
Tetapi Xavier tidak kehabisan ide, semakin sulit Aurel diyakinkan maka semakin banyak cara untuk membuatnya percaya.
"Dian masih bekerja di klub malam, dia hidup berbeda dengan hidup kita, jelas kau sudah dengar pembicaraan perempuan itu dengan rekannya, kau masih tidak mau percaya!?"
" CK... dasar bodoh!" ejek Xavier.
" Tentu saja untuk mendapatkan uang, Esther juga akan dia jual, apa kau mau gak itu terjadi!??" tanya Xavier dengan nada kesal.
Aurel cepat cepat menggelengkan kepalanya," aku tidak bisa membiarkan itu terjadi!" balasnya sambil mengusap air matanya.
" Kalau begitu ikut dengan rencana ku, aku akan memastikan kalian berdua selamat, aku menjanjikan itu, aku tidak akan merebut Esther!" ucapnya sambil menatap perempuan itu.
"Ba..baiklah, kumohon jangan sampai Esther terluka karena hal ini, anak itu sudah menderita terlalu banyak, aku tidak bisa membiarkannya menangis lagi,"
__ADS_1
Xavier berdiri, dia paham dengan ketakutan Aurel, tetapi dia pasti akan menjaga mereka dengan baik.
" Tidurlah, besok kita bicarakan lagi, banyak yang harus dibahas, " ucap Xavier sambil melangkah keluar dari kamar itu.
" Emmm... tuan, kalau boleh tau nama anda?" tanya Aurel.
" Apa kau lupa namaku? " Xavier berbalik dan menaikkan sebelah alisnya.
" Ma...maksud anda!??" dia memicingkan matanya dan menatap Xavier dengan tatapan bingung.
Xavier tersenyum tipis," Apa kau memang tidak ingat padaku atau kau lupa? tidak ingatkah kau bocah laki-laki yang kau tari dari pinggir sungai ketika kau berpikir kalau anak SMA itu akan bunuh diri padahal kau sendiri yang akan bunuh diri? tidak ingat??" celetuk Xavier sambil tersenyum lembut.
deghhh....
Bagaikan film layar lebar, ingatan Aurel dipulihkan kembali seolah dia baru saja menerima pencerahan. Seketika kejadian saat dia duduk di bangku SMP terbayang di kepalanya.
" Ti... tidak mungkin anak laki-laki kurus dan cungkring itu ka..kau, la...lagi pula dia pendek!!!" ucap Aurel dengan suara bergetar.
" Hei itu Hinaan yang cukup sesuai dengan fakta, hah... kau ternyata sudah pikun, sampai hal itu saja kau lupa, ya sudahlah, selamat malam Ibu Persit hahhahaha...." Celetuk Xavier seraya tertawa ringan meninggalkan kamar Aurel.
Aurel masih tidak percaya, bagaimana bisa pria kurus waktu itu, yang dia kira akan bunuh diri padahal dirinya sendiri yang hendak bunuh diri karena tekanan keluarga justru adalah Xavier, pria bertubuh tegap dan bobot tubuh yang sempurna.
" Di...dia anak lelaki tukang es cendol itu!?? ba..bagaimana bisa!???" mulut Aurel menganga, matanya membulat sempurna dan tidak percaya .
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 🤗