
Cherry dan Grape serta semua orang di dalam ruangan itu terkejut bukan main saat mengetahui upaya penculikan dua anak menggemaskan itu. Bahkan Nathama juga tak menyangka ada yang mengancam keselamatan keponakannya di kota ini.
"Ziora... Ziora... Ziora...." Grape mengepalkan kedua tangannya dan mengeraskan rahangnya, matanya menatap tajam. ke arah OKI yang dibawa untuk mengakui perbuatannya pada mereka semua.
Hati Grape panas, dadanya berkecamuk, ingin rasanya dia saat ini mencakar cakar wajah wanita ular keket tidak tau diri itu. Amarahnya mencapai puncak ubun-ubun, beraninya seorang Ziora mengusik ketenangan Grape yang terlihat kalem tetapi siapa sangka dibalik sikapnya itu dia adalah Psikopat sejati.
Cherry menatap suaminya, ini kali pertama dia melihat Grape sampai semarah itu. Bahkan seluruh pembuluh darah Grape sampai menegang menahan amarahnya yang menjadi - jadi. Keheningan terjadi di dalam ruangan besar itu, semua orang hanya terdiam dan tak berani mengucapkan sepatah kata pun setelah melihat Grape dalam mode marah.
Cherry menggenggam tangan suaminya dengan lembut," sayang, tenanglah," bujuknya dengan pelan sambil menepuk punggung Grape. Tentu saja kata-kata Cherry selalu berhasil membuat Grape meredam amarahnya mau separah apapun puncak kemarahan pria itu.
Grape menatap mata istrinya, satu-satunya tempat yang bisa membuatnya merasa tenang dan damai sekalipun dia berada dalam banyak masalah," Maaf sayang, aku janji akan menyelesaikan wanita itu secepat mungkin, maaf membuatmu khawatir," ucap Grape.
Cherry mengangguk sambil tersenyum lembut, tangannya mengusap rahang tegas nan sempurna milik Grape," aku percaya padamu, " balas Cherry dengan senyum lembut.
Mereka berdua tidak tau kalau yang lain sudah merasakan panas nya api asmara sepasang sejoli yang sedang dimabuk cinta ini.
" Ekhmm.. ekhmmm... gerah woi gerah, pacar gue gak disini!!" celetuk Elton seraya mengipasi dirinya dan menatap jengkel ke arah pasutri romantis itu.
" Panas.. panas... gini nih rasanya ngontrak di bumi, romantisasinya gak mikir mikir, gerah gue euhhh..." celetuk Philip seraya mengipasi dirinya dan memberikan tatapan mengejek ke arah Grape dan Cherry.
Pletkkk...
" Bisa diam gak sih!?" ketus Phineas dan Elton bersamaan. Sontak Philip menutup mulutnya rapat-rapat sedangkan yang lain terkikik geli melihat tingkah mereka bertiga.
" Nak, sebaiknya cepat selesaikan masalah dengan perempuan itu, Tante takut cucu-cucuku ini dalam bahaya, beruntung nak Alesha cepat tanggap hari kemarin, jika tidak kita pasti sudah kehilangan mereka berdua," ucap Nyonya Dalton dengan suara lirih menatap kedua anak itu.
Tuan Dalton sendiri menatap putranya yang sejak tadi terdiam, dia jelas tau arti ekspresi Phineas saat membicarakan orang yang membully Mendiang putri mereka Rara.
" Om harap kalian melakukan yang terbaik, terutama kamu nak, gunakan pikiran jernih menyelesaikan masalah ini, Daddy tidak mau kamu melakukan hal buruk, sekalipun dia..." tuan Dalton berhenti sejenak Hatinya terasa pedih saat mengetahui salah satu dalang pembullyan putrinya.
" Sekalipun dia penyebab Rara pergi, Daddy harap kamu bijak nak," nasehat Tuan Dalton dengan lembut.
Phineas hanya diam sambil mengepalkan kedua tangannya. Entah apa yang akan dilakukan oleh pria itu pada pembully adiknya.
"Akan Phineas usahakan,"jawabnya singkat lalu bibir itu kembali bungkam.
Grape menatap sahabatnya, dia tak pernah menyangka bahwa perempuan yang jadi cinta pertamanya sekaligus orang yang menghancurkan hatinya ternyata adalah pelaku pembullyan terhadap Rara. Grape bersyukur setidaknya dia dan wanita itu dipisahkan dengan cara yang ekstrim, sekalipun dia tak tau kalau pelakunya adalah Asraf.
__ADS_1
Sedang Asraf tersenyum simpul, dia sangat senang saat Ziora menjadi target selanjutnya.
" Tunggu kau binasa wanita sialan, instingku tak pernah salah, aku yakin kau akan habis di tangan tuan Phineas dan juga pria berkursi roda ini!" Batin Asraf.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Sarah, dia juga tak terima kalau adik yang seharusnya bisa bergabung bersama mereka dan sudah dia temui di masa lalu meregang nyawa karena ulah Ziora.
" Aku akan mengerahkan tim ku jika perlu, wanita itu harus disiksa!!" ucap Sarah dengan tatapan psikopatnya yang tajam dan mengerikan.
Mendengar itu membuat si dingin Dante melirik Sarah dari ekor matanya, gadis itu memang membuatnya terkesan karena terlalu berani untuk seukuran gadis bertubuh kecil tetapi tinggi dan tegap itu.
"Heh jangan mengada-ada, badanmu masih sobek-sobek mau menghajar siapa, dasar berandal!" ketus Bella seraya mengetuk kepala Sarah.
" Biar kami yang tangani Bella, kamu harus istirahat sampai semua lukamu sembuh," ucap Phineas.
" Mereka benar Sarah, jangan memaksakan diri, nggak baik buat kesehatan kamu, lihat tanganmu saja masih koyak koyak mau nambah lagi!??" celetuk Cherry.
Sarah terkekeh, dia merasa seperti seorang gadis kecil yang diperhatikan penuh oleh kakak-kakaknya, gadis itu tersipu malu," baiklah aku akan beristirahat," jawabnya dengan senyum manis.
Melihat senyuman Sarah, hati Phineas melembut, dia menepuk pucuk kepala adiknya dan mengusapnya dengan lembut," Jangan terluka lagi, kakak gak suka," ucap Phineas.
Karena hari yang semakin larut, Nathama izin pulang begitupun dengan Tuan dan Nyonya Dalton yang dijemput oleh Sony. Ada yang harus mereka bicarakan dan sudah direncanakan sejak beberapa waktu lalu.
Keluarga Cornelius muda bersama dua anak ayam, Bella, Sarah, Philip dan Dante kembali ke rumah mereka, Elton sendiri langsung melaju menuju rumah sakit menemui sang pujaan hati.
" Sebaiknya saya pulang ke tempat saya," ucap Dante saat mereka berada di parkiran.
Melihat jam sudah larut malam dan cuaca tak baik, Cherry dan yang lain tidak setuju kalau Dante harus pulang.
" Tinggal di tempat kami saja, cuaca buruk, dan jarak ke rumahmu memakan waktu 45 menit, kau bisa terjebak hujan," ucap Phlip.
" Tapi Philip aku..
" Sudah, ayolah jangan bawel!!" Philip langsung menarik Dante masuk ke kursi penumpang dimana Sarah sudah duduk terlebih dahulu. Mobil itu dikemudikan oleh Asraf.
" Tapi..
" Masuk saja!!"
__ADS_1
Dante dengan terpaksa masuk dan ikut mereka ke rumah Cornelius muda.
Jarak ke rumah mereka cukup dekat dan tak memakan waktu banyak. Di dalam mobil, Sarah melirik pria dingin yang duduk di sampingnya itu," Tuan, terimakasih" ucap Sarah dengan suara pelan tetapi masih di dengar oleh Dante.
Pria itu menoleh dan menatap Sarah," untuk?" tanyanya sambil menaikkan satu alisnya.
" Karena mengikuti petunjukku, anda menyelamatkan saya," jelasnya singkat.
" Ahh... kencan hari Sabtu ku jemput dari rumah Cornelius!" ucapnya tiba-tiba.
" Hah? " sontak, Philip, Sarah dan Asraf sama-sama terkejut mendengar jawaban dari pria itu.
" Ma.. maksudnya?" tanya Sarah terkejut.
" Kau bilang Terimakasih kan? untuk menebusnya berkencanlah denganku hari Sabtu, sekali saja setelah itu kita lihat..." Dante berhenti," kita lihat apa kita cocok, jika iya maka kau akan jadi pilihanku," lanjut nya di dalam hati.
" Ke..kencan!?? ta..tapi..." Sarah terlihat gugup.
" Kenapa? apa kau sudah punya pasangan!?" tanya pria itu dengan nada datarnya lagi.
" Ah... Bu..bukan begitu, tapi ka..kalau kencan ha..harus seperti apa? Sa..saya belum pernah!" jawabnya jujur sambil menyembunyikan wajahnya yang merah karena malu.
Dante, Asraf bahkan Philip sampai tercengang, gadis sehebat itu belum pernah berkencan? yah benar saja!??
" Hahahahahah...... hahahhaha.... Philip terimakasih!!!"ucap Dante yang tiba-tiba tertawa terbahak bahak setelah mendengar jawaban polos dari Sarah.
Pria yang tak pernah tertawa dan selalu berwajah dingin itu terlihat sangat tampan saat dia tertawa, bahkan Philip yang sangat mengenali kepribadian sepupunya itu terkejut saat melihat pria itu tertawa.
" Dia tertawa!?? jangan jangan... Sarah dan Dante!??"
.
.
.
like, vote dan komen 🤗
__ADS_1