Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh

Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh
134


__ADS_3

Di rumah Utama keluarga Dalton,


Phineas sedang berkutat dengan serangkaian alat komputer canggihnya yang berjejer di atas meja dengan serangkaian data yang terpampang i hadapannya. Tampaknya pria berusia 29 tahun itu memiliki banyak pekerjaan dan kasus yang harus segera dia tangani. Beberapa dokumen butuh persetujuan darinya, selain itu dia juga harus memeriksa pekerjaan anggotanya.


Padahal Phineas baru tiba dari kantor setelah sehari semalam nangkring dengan kasus kasus yang masih dalam penyelidikan. Tubuhnya yang lelah seolah tak ada artinya. Dia bukan hanya mengamati semua kasus tetapi dia mengawas adiknya Cherry yang tinggal sendirian di rumah.


"Syukur si dodol ini langsung menghubungi Cherry, jika tidak aku akan membawa lari gadis itu, dasar bodoh, istri sendiri di telantarkan!" kesal pria itu.


Tangannya mengetik, matanya menyelidik dan bibirnya bergumam menyelesaikan satu persatu kasus yang semakin hari semakin banyak. Biasanya kepala kepolisian tidak mengurus hal hal seperti ini, mereka sering melimpahkan tugas mereka kepada bawahan tetapi Phineas adalah orang yang jelas memiliki tanggungjawab yang berbeda.


Saat pengangkatan jabatan dia jelas mengatakan kalau lebih suka bekerja sebagai detektif yang handal tetapi jika diberi kesempatan menjadi kepala Kepolisian maka dia akan menjadi Kepala Kepolisian paling dibenci oleh para kriminal. Dan dia si pria berprinsip dengan tingkah seperti Siberian Husky menghajar seluruh dunia pertahanan dengan kemampuannya.


"Akhirnya selesai, setidaknya aku punya waktu istirahat, walau sedikit!" gumam pria itu. Sejak Cherry mengomel soal jam tidurnya, dia selalu ingat untuk meluangkan waktu untuk tidur.


"hoaaammm... aku mengantuk, kangen masakan Cherry, lapar banget ahhhkkk...." Pria itu mengusap usap perutnya yang sudah keroncongan karena bekerja terus tanpa mengisi perutnya.


Di saat yang sama, kepala pelayan rumah Dalton mengetuk pintu ruang kerja yang dipenuhi dengan banyak buku dan pelayan canggih itu.


"Tuan muda, saya Kepala Pelayan, ada titipan untuk anda dari tuan Jack," ucap pria yang sudah renta itu. Jika dilihat, beliau sudah menginjak usia 50 tahun.


Phineas beranjak dari kursinya lalu membuka pintu dan segera menutup nya, dia tak sembarang membiarkan orang masuk ruangannya sekalipun itu orang terdekatnya sendiri.


"Ada apa Pak Andre?" tanya Phineas.


"ini tuan, ada kiriman dokumen dari tuan Jack," jelasnya dengan singkat.


" Ahh baiklah, terimakasih pak," ucap Phineas sambil.menerkma dokumen itu.

__ADS_1


"Apa Mom dan Daddy sudah tidur? aku tak mendengar suara mereka? dimana mereka?" tanya Phineas.


" Tuan dan Nyonya sedang berada di ruang baca tuan muda, nyonya besar seperti nya sedang mencari buku non Rara, sudah kebiasaan nyonya besar," jelasnya lagi.


"Ahh baiklah, tapi pastikan mereka tidur siang, jika ada apa-apa panggil aku!" ucap Phineas.


"Baik tuan, apa tuan tidak bertanya soal gadis itu?" Pak Andre menatap Phineas dengan wajah penasaran.


Phineas sempat terdiam,"Tidak," jawabnya singkat dan langsung masuk ke dalam ruangannya.


"Terimakasih pak, soal gadis itu biar aku urus sendiri," balasnya sebelum dia benar-benar menutup pintu.


Pak Andre tersenyum dengan sangat lembut. Sekalipun tuan mudanya memiliki sifat dingin dan keras kepala, tapi jauh dibalik itu, Pak Andre jelas tau kalau Phineas adalah seorang pria berhati lemah lembut, terbukti dari bagaimana pria itu menemani Alesha semalaman, duduk di bibir ranjang hanya untuk memastikan gadis itu tidak lagi mengalami mimpi buruk.


"Tuan muda banyak berubah," ucap Pak Andre.


Wajah Pak Andre langsung berubah kesal, satu sentilan mendarat di kening gadis berambut kepang dua dengan behel warna warni itu.


"Surti gak usah urusin ini, sana potong rumput bantu Pak Bimo! kamu bikin kepala bapak pusing saja, datang tak diundang pulang tak diantar, mirip jelangkung!"kesal Pak Andre sambil menarik lengan Surti untuk menjauh dari ruangan itu.


Sementara itu, di dalam kamar, Phineas membuka dokumen kiriman Jack, rekan kerjanya sekaligus salah satu anggota kebanggan Dinas Kepolisian karena bakat luar biasanya yang berkembang pesat di bawah bimbingan Phineas. Dia digadang-gadang sebagai calon Kepala Kepolisian berikutnya saking hebatnya bakat pria itu.


Phineas membuka dokumen tentang latar belakang Alesha serta kronologi kejadian yang menimpa gadis itu. Bagi mereka sangat mudah untuk mencari bukti, hanya saja untuk memberatkan pelaku mereka harus melakukan penyelidikan resmi dan mengatur skenario untuk menangkap pelaku.


" Apa yang sebenarnya terjadi pada gadis ini?" gumam Phineas sambil membuka lembar demi lembar dokumen hasil penyelidikan Jack itu.


Alesha seorang gadis berusia 26 tahun, satu tahun lebih tua dari Cherry, Bella dan Sarah adalah seorang anak yatim piatu yang sejak usia 1 tahun tinggal di panti asuhan. Lalu ketika usianya menginjak usia 8 tahun, Bibi dan Pamannya menjemput dirinya dari panti asuhan dengan dalih baru mengetahui kelahiran Alesha .

__ADS_1


Gadis itu tidak punya nama belakang atau nama tengah, dia hanya disebut sebagai 'Alesha'.


Alesha tinggal bersama Bibi, Paman dan kedua anak keluarga Bibinya. Namun sudah bisa ditebak skenario apa yang terjadi di dalam rumah itu.


Alesha tinggal bersama mereka sampai dia tamat SMA. Dia si sekolahkan di sekolah biasa dan dipaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan membayar kost pada Bibinya. Alesha kerap mendapatkan perlakuan buruk dari Paman dan Bibinya serta kedua sepupunya.


Perlakukan buruk berupa pukulan fisik, penghinaan Verbal dan hampir mendapatkan pelecehan saat dia berada di tahap akhir SMA. Pamannya hampir saja merenggut kesuciannya dan ini menjadi alasan gadis itu keluar dar rumah meski dengan syarat yang mengerikan. Dia harus membayar semua biaya yang dia pakai selama tinggal di rumah itu dan harus menuruti perkataan Bibinya.


Alesha tak bisa berkutik. Kehidupan gadis ini sangat menyedihkan, jika dia tak menurut maka Bibinya bisa melakukan apa saja untuk membuat kehidupan Alesha terancam. Bahkan si Makcik Nyonyo selalu mengancam akan menyakiti ketiga sahabatnya jika Alesha tidak menurut.


Jika anak anak pada umumnya diberi kasih sayang orangtua, maka Alesha tak pernah merasakan apa itu namanya kasih sayang. Alesha berubah menjadi anak yang pendiam dan memendam semua perasaan nya di dalam hati.


Namun setelah bertemu dengan Cherry, dia menjadi anak yang memiliki warna. Alesha kerap menjadi korban bully di sekolah, dia sering diejek karen ayam tau nama lengkapnya, dia sering diejek karena tak punya orang tua. Bukan hanya diejek, bahkan para guru tak punya simpati dengan gadis ini. Karena melihat kekerasan pada Alesha, Cherry si tukang onar di SMP memberontak dan menghajar semua anak yang membully Alesha. Bahkan guru pun di tantangnya dengan menggunakan nama Raharja.


Dan selalu berhasil membeli mulut para pecundang yang menyiksa Alesha.


Alesha hidup bagaikan robot yang terus dipaksa bekerja untuk memenuhi keinginan bibinya. Bahkan sampai bekerja di perusahaan Philip pun gaji Alesha harus disisihkan untuk bibinya.


"Ini jaman apa? masih ada penjajahan seperti ini? cih... manusia setan!" umpat Phineas.


.


.


.


like, vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2