
Tak... tak... tak....
Syuutttt.... tak....
Anak panah berhasil menembus papan sasaran bahkan membuat lobang di tengahnya. Berkali kali di serang di titik yang sama membuat papan panahan itu tak bertahan lama.
" Huffthhhh...." Hela nafas berat terdengar dari bubur indah pemilik rahang tegas itu.
Dante menyeka keringatnya, dia berada di dalam ruangan olahraga pribadinya di dalam perusahaannya. Hari sudah menjelang malam, tetapi pria ini tampak menghabiskan waktunya sepanjang hari di dalam ruangan itu setelah bertemu dengan keluarga Cornelius pagi tadi di makam ayahnya.
Ruangan berwarna hijau loreng itu, dengan gradiasi dan perpaduan warna yang indah membuat mata yang melihatnya kembali segar.
Dante menatap ruangan itu sambil menghela nafas berat. Hidupnya benar-benar kesepian akhir akhir ini. Dia selalu sembunyi dan mengurung diri dari masalah. Benci bertemu dengan orang lain dan bekerja dari ruang pribadinya.
Dia telah kehilangan kepercayaan dirinya karena tubuhnya tidak lagi sempurna. Kakinya masih nyeri dan sakit. Rasanya dia ingin segera mati karena kejadian mengerikan itu.
Tangannya membuka penutup botol, sambil membuka pesan di ponselnya dia menatap pesan yang dikirim Sarah 2 tahun yang lalu, ketika gadis itu pamit tugas kedinasan tetapi sampai saat ini dia belum juga pulang ke negeri ini.
Dante membaca kembali pesan itu. Dia menatapnya," Apa aku masih diterima? dengan kondisiku saat ini? aku tidak ingin serakah, tapi aku... aku selalu menunggumu disini Sarah, aku selalu menunggumu disini," lirih Dante.
Di saat yang sama, seseorang menghampirinya di dalam ruangan itu," Tuan muda, saatnya pertemuan dengan grup D'OR, sebaiknya kita bergegas," ucap seorang perempuan yang selama ini mendampingi Dante selama masa pengobatan sampai pengambilalihan perusahaan itu.
" Ahh apa aku tidak bisa beristirahat Lia? aku lelah dan kakiku terasa sakit," ucap Dante.
Tampak wanita bernama Lia menatap Dante dengan tatapan tidak suka," Tuan muda, anda adalah penerus perusahaan, ini seharusnya anda melanjutkannya dengan cara yang sama seperti tuan Laurent, kenapa anda jadi lemah!? sebaiknya anda bersiap-siap, saya akan menyediakan tempat untuk rapat, jangan selalu menaruh posisi anda di tempat yang lemah, anda itu penerus Presdir, tanggung jawab Anda besar!" tegas wanita itu dengan berani membuat seolah dia harus dituruti.
Dante mengangguk paham, sebenarnya apa yang diucapkan oleh Lia itu benar, dia harus bertanggungjawab atas perusahaan itu sepenuhnya dan tidak boleh bersikap manja.
" Baiklah, aku akan bersiap dahulu," ucap pria itu.
Lia mengangguk lalu pergi begitu saja setelah meletakkan dokumen berisi penjelasan rapat di atas meja begitu saja tanpa memberitahu pada Dante.
__ADS_1
Sepertinya Dante tidak terlalu diterima di perusahaan ini, terlihat dari bagaimana cara karyawan menatap dan mengejeknya karena dia cacat.
Dante menatap kakinya, dia berdiri dari kursi roda nya lalu berjalan dengan tongkat. Namun tiba-tiba suara Lia terdengar begitu berisik," Tuan sebaiknya pakai kursi roda anda supaya lebih cepat, rapat akan segera dilaksanakan, kenapa anda begitu lamban!" ucap wanita itu seolah dia adalah bos di perusahaan itu, dan para karyawan menurut padanya.
Dante menatap geram pada seisi kantor yang jelas adalah orang-orang munafik, tetapi dia tidak bisa sembarang mengambil keputusan untuk memecat orang-orang itu hanya karena mengejeknya, kekuatannya belum sepenuhnya berkuasa disana, selain itu karyawan mana yang akan menurut pada pemimpin baru yang cacat.
Belum lagi, Lia dulunya adalah asisten ayahnya yang sangat dipercaya, tetapi sekarang bertingkah seolah dia adalah bos di tempat itu.
Dante berjalan menggunakan tongkatnya, tidak peduli dengan ucapan dan cibiran pedas dari Lia dan karyawan yang sudah biasa dia dengar setiap hari.
Tanpa dia ketahui, seorang gadis misterius menatapnya dari luar ruangan itu, berjalan dengan celana kulot panjang dan tubuh tegap yang indah. Memakai kacamata dan masker hitam, berjalan dengan tegas setelah mengintip ruangan itu menuju ruangan rapat.
Gadis misterius itu berjalan dengan anggun, mempercepat langkahnya lalu...
Brukkk...
Dengan sengaja dia menabrak tubuh Lia yang berjalan di depannya.
Terlihat bekas luka yang memanjang dari alis, kelopak mata hingga bawah matanya, mirip seperti karakter anime, tetapi kali ini versi manusia.
Lia terdiam dengan wajah kesal kala dia terjatuh dan malah merosot ke atas lantai karena ulah perempuan berwangi elegan dan mahal itu. Sangat berkelas, bahkan cara berjalannya begitu indah.
Dengan sarung tangan karet hitamnya, dia berjalan sambil melambai tanpa menoleh pada Lia.
Lia terdiam, dia mengepalkan kedua tangannya dengan kesal, lalu matanya turun melihat pakaiannya yang tidak semenarik perempuan itu," sialan, siapa dia!? beraninya berpakaian lebih mewah dari diriku, hanya aku yang boleh memakai benda semewah itu disini!!!" geram Lia.
Dia mengeraskan rahangnya, lalu berjalan dengan cepat menuju lift ke lantai bawah.
Dante mencium aroma yang sangat menenangkan, aroma jeruk nipis yang sangat dia sukai," wangi ini!?? si..siapa tadi itu!??? wanginya sama seperti Sarah!!!" mata Dante terbelalak, dia menyisir seluruh ruangan dan menatap kesana kemari mencaritahu siapa gerangan yang menyebarkan wangi yang sangat dia rindukan itu.
"Ahhhh apa aku berhalusinasi lagi?? CK... aku seperti nya sudah overdosis obat, bagaimana bisa aku mencium aroma sampo Sarah disini? yang benar saja," Dante hanya geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, akhirnya semua orang dan pejabat ekslusif berkumpul di ruangan pertemuan dimana pertemuan kali ini akan diikuti secara langsung oleh Presdir baru setelah sekian lama.
Semua orang sudah bersiap di posisi mereka masing-masing untuk menyerang dan merencanakan penggulingan posisi Dante sebagai Presdir di tempat itu.
Semua orang sudah diberitahu oleh Lia agar membuat perlawanan terhadap Dante dan meminta pria itu turun dari jabatannya, lantaran menurut mereka Dante tidak pernah menunjukan pekerjaan yang sesungguhnya di perusahaan itu.
Semua orang berbisik bisik, ada sekitar 20 orang di dalam ruangan itu, hanya satu diantara mereka yang terlihat diam dan dengan santai membaca majalah yang diletakkan di dalam ruangan itu.
Siapa lagi kalau gadis Badas yang berhasil membuat Lia panas hati beberapa saat lalu.
" terlalu berisik, dasar kampungan, memalukan!!" gumam wanita itu sambil mengunyah kacang yang dia taruh di depannya sendiri.
Seolah dia sedang menonton drama di perusahaan itu.
" Baiklah semuanya, Presdir untuk pertama kali tiba di ruangan ini, " Lia datang dengan Dante yang berjalan menggunakan tongkat di belakangnya.
Semua orang berbisik, mereka justru memberi hormat pada Lia tetapi mencibir Dante dan langsung duduk saat pria itu masuk.
Dante mengepalkan kedua tangannya, dia jelas tidak diterima di perusahaan ayahnya sendiri, mereka seolah sedang dikendalikan oleh sesuatu.
Lia melirik pria itu dari ekor matanya dan tertawa kecil merendahkan Dante.
Semuanya duduk tanpa menatap Dante tetapi, wanita diujung sana membuat sebuah kehebohan besar dengan berdiri sambil membungkuk hormat ke arah sang Presdir.
"Grata Praeses Director! (Selamat datang predir!)" ucapnya dengan fasih menggunakan bahasa Latin sambil membungkuk 90° penuh hormat.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 🤗