
Philip dan Bella terus melaju mengikuti jalan yang mereka lalui tadi tetapi bukannya menemukan jalannya menuju perkotaan mereka malah semakin tersesat di tengah hutan yang gelap. Tentu saja Bella semakin panik dan ketakutan karena tak kunjung menemukan jalan besar.
Philip juga pusing melihat jalanan yang mereka lewati, gelap gulita dan tak ada penerangan disana. “ Bell kayaknya kita sudah lewat pohon besar ini lima kali deh, kita kayaknya mutar- mutar Bel... bagaimana dong?” ucap Philip sambil menunjuk pohon besar di sebuah jalan bercabang .
“ Pakk jangan nakut nakutin begitu ihh... masa iya gak ingat jalannya kemana? Pohon besar mana lagi , orang semuanya pohon besar, kita bagaimana ini pak, bagaimana kalau ada binatang buas, atau orang jahat atau pemburu atau perampok, kita bisa mati,saya belum mau mati muda pak.....” rengek Bella yang sama sekali tak berani menatap kegelapan.
“ ck... mana ponselmu, kau bawa kan?” tanya Philip
Bella merogoh kantongnya,” lah ponsel saya ketinggalan di meja makan pak, bapak sih pakai tarik tarik tangan saya waktu ngajak keluar tadi, kan jadi tinggal...” ucap Bella.
“ kok jadi salah gue semua Bel, lo yang ngajak gelud makanya kita sampai nyasar kesini, dasar nyebelin lo!?!" kesal Philip.
“ hisshh... ponsel bapak?” tanya gadis itu.
“ bentar gue lihat, baterainya 2 % lagi Bel.. mana bisa buka GPS,” ucap Philip sambil mengeluarkan ponselnya.
“ ya dicoba dulu...” paksa Bella.
Philip menatap ponselnya, tak ada sinyal sama sekali sehingga dia tidak bisa mengakses internet untuk mencari tau letak mereka.
“ gak bisa, jaringan gak ada,” ucap pria itu dengan suara pasrah.
“ What? Terus kita bagaimana pak? Ini sudah malam banget loh, jam 12, kiita mau bagaimana ini, cepat cari jalan dong pak...” Bella merengek lagi, gadis cengeng itu membuat keributan di tengah hutan yang malah mengundang perhatian penghuni hutan itu.
Sruruuhhhhhhh..
“ Bell diam lo ribut banget.. lo gak denger suara tadi hah!? gue merinding...” ucap Philip sambil menutup mulut Bella dan menatap sekeliling mereka yang semakin lama semakin gelap dan menyeramkan.
Bella terdiam dengan tubuh gemetaran, dia juga merasakan hal yang sama dengan Philip, bulu kuduknya merinding.
“ kita cari jalan dan lo tetap diam , jangan nangis, atau kita dalam bahaya, ini gelap di tengah hutan,” ucap Philip.
Bella hanya mengangguk sambil menahan agar suara tangisannya tidak keluar, ada sedikiti rasa menyesal karena mengajak pria di sampingnya itu berdebat sampai mereka tak sadar sudah berada jauh dari jalur perkotaan.
Philip mengikuti kata hatinya, meskipun dia harus mencubit kakinya sampai berkali-kali untuk meredam sesuatu yang membuatnya merasa ketautan dan panik. Dia mengemudikan mobilnya dengan perasaan kacau, tangannya tak berhenti mencubit pahanya untuk membuatnya tetap sadar dan tidak takut.
Bella memperhatikan Philip yang tampak serius namun tangannya terus mencubit pahanya sendiri, entah sudah seperti apa bekas cubitan di paha pria itu saat ini.
__ADS_1
“ Ada apa dengannya? Kenapa dia menyakiti dirinya sendiri?” batin Bella, dia menatap Philip dengan tatapan khawatir, tingkah ini baru pertama kali Bella saksikan setelah bekerja bertahun-tahun sebagai sekretaris pria itu.
Philip melaju dengan kencang melewati pepohonan yang gelap dan suram, hingga mereka akhirnya tiba di sebuah pedesaan sepi yang ternyata terletak di pinggiran kota, entah bagaimana mereka malah bisa tersasar di tempat yang sangat jauh dari tempat mereka seharusnya berada.
“ pak di depan ada kampung, kita bisa kesana dan menanyakan jalan!” seru Bella yang terlihat bahagia melihat sebuah perkampungan di depan sana.
“ iya, kita lihat dulu,” jawabnya singkat dengan suara yang tak biasa.
“ Anda baik baik saja?” tanya bella.
Philip menoleh sebentar lalu tersenyum,” aku baik baik saja, kau pikir aku lemah seperti dirimu?” celetuk Philip sambil tersenyum namun matanya mengatakan semuanya.
Saat hampir tiba di pedesaan itu, tiba-tiba hujan mengguyur jalanan membuat mereka berdua terkejut .
“ Hujan? Ya ampun, jangan di saat seperti ini,” ucap Bella terkejut.
Philip semakin aneh, ketika hujan datang dan suasana gelap bersamaan membuatnya semakin gemetar, entah apa yang terjadi tetapi dia bertingkah seolah tak terjadi apa apa, dia berusaha untuk tetap tenang dan membawa mobilnya dengan tenang.
“ ck... kenapa harus hujan,” gumam pria itu sambil menatap jalanan yang mulai basah terkena guyuran hujan.
“ Bagaimana ini, bakalan bahaya kalau lanjut jalan terus, apalagi sudah malam dan gelap,” ucap Bella.
Sebenarnya yang Philip takutkan adalah dirinya sendiri yang tak bisa mengendalikan kecamuk di dalam hatinya yang akan segera keluar.
Bella menatap pria itu sejenak, tangan Philip gemetaran, tetapi dia tetap bertingkah seoah tak ada yang terjadi.
“ Baillah kita cari penginapan,” ucap Bella.
Mereka memasuki desa itu dan mencari penginapan berharap mereka bisa menginap disana. Mobil itu mengelilingi lingkungan desa dan mencari lokasi penginapan. Namun sampai beberapa menit mereka mengelilingi desa itu, penginapan tak kunjung di temukan.
“ Waduhhh gak ada bel..” ucap Philip .
“ Kita cari lagi, kesana, kita belum lewat lokasi itu,” ucap Bella.
Philip menerobos hujan hingga akhirnya mereka tiba di sebuah penginapan desa, keduanya memasuki area itu.
Philip berjalan terlebih dahulu dengan Bella yang mengikutinya dari belakang,”Bu apa masih ada kamar kosong? Kami butuh dua kamar,” tanya Philip sambil menarik Bella ke bawah atap agar tidak basah terkena hujan.
__ADS_1
Wanita yang menjaga disana melihat daftar kamar,” ummm tersisa satu kamar, kalian bisa menempati kamar itu,” ucapnya .
“ masa kami harus satu kamar bu? Apa gak ada kamar lain?” protes bella tak setuju.
“ tidak ada, kalau tak mau ya sudah, sana pergi, tak ada penginapan lain di desa ini,” ketus si ibu,” kami sudah mau tutup,” ucapnya dengan wajah kesal.
“ehhh baiklah bu, kami ambil kamarnya, tetapi beri tambahan selimut,” ucap Philip sambil memberikan uang penginapan dan tambahan uang agar si ibu menurut.
“ Baiklah, semuanya bisa dibicarakan denagn uang,” ucapnya smabil menghitung uang itu dengan senyum merekah,” ikut aku,” ajaknya.
Bella menarik lengan Philip,” pak masa kita satu kamar? “ bisik Bella tak setuju.
“ ya sudah lo tidur di mobil sana, gak usah banyak protes, beruntung masih dapat penginapan di jam segeini,” ketus Philip.
“ Bella menatap jamnya yang sudah menunjukkan pukul 1 malam, “ haihhh benar juga sih...” gumam gadis itu.
Akhirnya kedua manusia beda gender ini menginap di satu kamar yang sama dengan tambahan kasur dan selimut dari si ibu yang bermurah hati.
“Selamat malam, semoga mimpi indah,” si ibu pemilik penginapan pergi dari sana meninggalkan keduanya di kamar berukuran medium itu.
“ Mari kita tidur,” ucap Philip yang langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, rasanya dia lelah dan sangat mengantuk.
“ pak... jadi kita tidur disini? Haihhh ini sangat menjengkelkan,” gumam Bella. Dia naik ke atas tempat tidur di samping Philip lalu berbaring disana.
Bella menatap langit langit, siapa sangka dia akan terjebak di tempat ini bersama bosnya. Bella berbaring lalu memiringkan tubuhnya menatap Philip yang terlelap,” pak sudah tidur?” tanya Bella. Namun pria itu tak menjawab.
“ cepat sekali,” pikir Bella.
Dia mencoba menutup matanya hingga akhirnya terlelap tanpa tahu pria di sampingnya sedang menahan rasa takut yang besar sambil mencengkram kakinya sendiri.
“ Jangan sekarang... kumohon.....
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen