Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh

Setan Kecil Tuan Muda Lumpuh
150


__ADS_3

Alesha membuka kedua matanya. Dia mengedipkan kedua matanya seraya menyesuaikan penglihatannya dengan ruangan kamar itu. Gadis itu sudah membaik setelah dirawat dengan intensif.


" Berapa lama aku tertidur?" batin Alesha sambil menatap ruangan itu.


Di saat yang sama, dia melihat sosok Phone berjalan ke arahnya sambil membawa bubur yang sudah dihaluskan. Atas saran dokter, Alesha sudah bisa makan meski harus memakan bubur yang sangat halus agar memudahkan gadis itu untuk makan.


" Bagaimana keadaanmu?" tanya Phineas dengan deep voicenya sambil duduk di dekat Alesha tanpa rasa canggung. Alesha terdiam melihat sosok gagah itu duduk di depannya. Hanya dengan kaos oblong dan celana pendek pria itu sudah terlihat maskulin dengan otot kekar di balik pakaian sederhana nya itu.


Alesha mengambil buku tulis dan menulis disana," Aku sudah membaik, terimakasih tuan," tulis gadis itu.


" Apa lehermu masih sakit? kata dokter kau sudah bisa makan tetapi makan bubur halus, bagaimana apa menurutmu kau bisa?" tanya Phineas.


Alesha menulis lagi, tangannya dengan cepat menulis apa yang ingin dia ucapkan, dan Phineas terlihat sabar menghadapi gadis itu.


"Tidak terlalu sakit, tapi masih sedikit bengkak, hanya saja suaraku belum pulih, kalau untuk menelan aku harus mencobanya dulu supaya tau tuan," jelas Alesha dalam kertas itu.


Phineas mengangguk paham,dia menyendok bubur halus yang dibuatkan Cherry sebelum gadis itu dan Philip pergi dari rumah Phineas Karena Alesha belum bangun juga dan keduanya memiliki urusan yang harus mereka selesaikan.


" Aku sudah memberitahukan kondisimu pada Cherry, dia tadi datang kesini dan memasakkan bubur untukmu, aku sudah berjanji akan menjagamu, makanlah, Cherry sangat khawatir tetapi dia percaya kau bisa sembuh," jelas Phineas.


" Kuharap kau tidak marah karena aku memberitahukan keadaanmu padanya, dia juga berhak tau karena kau penting baginya," jelas Phineas.


Alesha terdiam sejenak sambil menatap Phineas dengan mata terkejut. Dia pikir Phineas tak akan melakukan hal itu, namun nyatanya pria itu memberitahu yang lain tentang keadaannya.


Dia menulis lagi," Terimakasih tuan," tulus ya singkat.


Phineas sedikit merasa kecewa dengan jawaban singkat itu Tetapi kembali lagi ke kepribadian Alesha, dia adalah gadis impulsif yang selalu menggunakan logikanya sampai dia dijuluki si gadis datar.


" Dia sangat dingin, pantas saja mereka menyebutnya kembaranku," batin Phineas.


" makanlah," ucap Phineas sambil mengarahkan satu sendok bubur untuk Alesha.Namu gadis itu menggelengkan kepalanya, dia mencoba mengambil sendok itu dari Phineas tetapi pria itu malah mengalihkan tangannya," jangan melawan, kau ingin sakit lagi!? cepat makan!" tegas Phineas.

__ADS_1


Sontak Alesha terkejut dengan ucapan pria itu, dia pikir Phineas bukan pria perhatian, namun nyatanya apa yang dilakukan Phineas saat ini berhasil membuat Alesha terkejut.


"Makanlah, aku bisa di omeli si ibu kost kalau kau tidak makan," omel Phineas. Ini kali pertama Alesha bahkan pelayan mendengar pria itu mengomel.


Alesha mengangguk dengan wajah heran," Apa dia setakut itu pada Cherr? sampai mengikuti perintah Cherry? " pikir Alesha sambil membuka mulutnya.


Phineas mengarahkan sendok ke mulut gadis itu, dia bisa melihat rongga mulut Alesha yang masih sedikit bengkak.


" Jika sakit katakan padaku,"ucap Phineas dan langsung dibalas anggukan kepala oleh Alesha.


Mereka berdua menghabiskan waktu di ruang kamar itu dengan Phineas yang merawat Alesha dengan seksama sesuai janjinya pada Cherry.


Sementara itu di rumahnya, Terdengar Suara lantang di Mak lampir cerewet tukang omel dan jadi musuh utama si Presdir lolipop. Kali ini pun dia dan Pak Presdir tak jadi akrab seperti saat membawa anak-anak ke kantor Philip.


" Pak Philip kenapa gak bilang kasus ini dari hari itu sih!??? kenapa bapak diam!??? padahal saya udah tanya tanya terus tapi bapak bilang gak ada apa apa !!! pekik Bella sambil berlari mengejar Philip dengan sapu rumah yang dia bawa sambil mengejar pria itu.


Bella berlari tanpa memakai alas kaki mengejar Philip sampai ke halaman rumah yang berbatu dan berumput pendek. Philip berlari sekuat tenaga menghindari ayunan tongkat sapu dari si Mak lampir yang tak ada sopan santunnya pada atasannya sendiri.


" Kemari pak, saya mau kasih pelajaran Sama bapak, harusnya bilang dari awal kondisi Alesha bukan sekaran,g apa bapak pikir kami gak khawatir, dasar Presdir sinting pecinta kolor ijoooo?!!!" pekik Bella sekuat tenaga bersamaan dengan semakin kencangnya langkah kaki gadis itu.


" Arrkhhh sialan, tolong aku ada mak lampir ngamuk arkkhhhh beraninya kau Bella!!!!" pekik Philip yang terus berlari tanpa peduli kakinya sudah melepuh menginjak aspal sekeliling komplek perumahan itu.


Di depan teras ada enam manusia sedang menatap kedua manusia itu sambil geleng-geleng kepala. Cherry, Sarah, Elton, Hansel, Alvaro dan Daniel asisten sekaligus pengawal pribadi Cherry.


" Ya ampun Tante Bella dan Om Gulali seperti anak kecil, gak malu main kejar kejaran di depan rumah orang ih.. ih... ih...."celetuk Hansel yang cara bicaranya sudah semakin membaik karena dilatih oleh Cherry.


Mereka menatap bocah itu dengan tatapan heran, biasanya dia menyebut Philip sebagai Daddy gulali tapi sekarang dia mengubah panggilannya.


" sayang kenapa panggilannya berubah?" tanya Cherry terkejut.


" Hansel diajarin sama ibu guru supaya bisa membedakan panggilan, kata ibu guru lebih baik panggilnya seperti itu agar tidak membuat orang yang mendengarnya bingung mommy, Ndak apa apa kan!?" celetuk Hansel sambil menatap wajah Cherry dengan tatapan menggemaskan, dia duduk di atas pangkuan gadis itu.

__ADS_1


Hansel dan Alvaro sudah mulai bersekolah, Alvaro duduk di kelas satu SD dan Hansel di play group.


" wahh pinter anak mommy, bener kata ibu guru manggilnya begitu supaya lebih tersistem," ucap Cherry.


Mereka tersenyum melihat tingkah manis ibu dan anak itu. Namun berbeda dengan Alvaro, anak kecil itu terlihat diam sambil berdiri di depan ibunya dengan tatapan mata posesif menatap Bella yang berlarian dengan sapu yang menurut perkiraan nya bisa terbang dan patah kapan saja bahkan bisa mengenai mommy dan adiknya.


Dia terlihat serius seolah dia adalah penjaga kedua orang itu.


Melihat hal itu membuat Elton terenyuh, Alvaro jadi anak yang posesif dan protektif karena pengalaman hidup yang dia jalani begitu keras. Pria itu mengangkat Alvaro dan meletakkannya di atas pangkuannya.


" Tidak apa-apa, sapu itu tak akan patah dan terlempar pada Mommy dan adikmu, jarak mereka juga jauh, kamu tenang saja," ucap Elton sambil mengusap kepala Alvaro dengan lembut.


" Bagaimana Da.. ekhmm.. om bisa tau?"tanya Alvaro yang juga sudah mengubah panggilannya.


"tentu om tau sayang, kamu kan anaknya Daddy Elton juga meski panggilannya berubah," ucap Elton sambil mengusap kepala anak itu.


Di saat yang sama Elton mendapatkan panggilan dari apartemennya.


" Ada apa!?" tanya Elton.


" tuan nyonya.....



.


.


.


like, vote dan komen 🤗

__ADS_1


__ADS_2