
Enzy masuk ke ruangan rawat inap Dion. Saat pintu terbuka suara lembut dari seorang remaja laki-laki menyapanya.
"Kak Stella, kau dari mana?" tanya Dion
"Kakak habis dari ruangan dokter, bagaimana kondisi kamu sekarang?" ucap Enzy
"Setelah minum obat dari kakak, aku merasa sudah sangat sehat sekarang" ucap Dion tersenyum
"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Dion, ada yang ingin aku bicarakan denganmu" ucap Enzy
"Tentang apa?" tanya Dion
"Kakak ingin membawa kamu ke ibukota, dan tinggal bersama denganku, di kediaman Nona Alyssa" ucap Enzy
"Apa nona yang kakak maksud, dokter ajaib yang menyembuhkan aku?" tanya Dion
"Benar, beliau yang memintaku membawa kamu ke ibukota untuk meneruskan pendidikanmu di sana, dan aku juga bisa menjaga dan mengawasimu setiap hari" ucap Enzy
"Apa tidak apa-apa jika aku tinggal disana, apa tidak merepotkanmu?" ucap Dion
"Tentu saja tidak merepotkan, Nona adalah orang sangat baik dan juga orang yang luar biasa. Kedepannya kamu harus bersikap sopan padanya. Dan juga, mulai sekarang jangan panggil aku dengan nama Stella lagi. Kau harus terbiasa memanggilku dengan nama Enzy, mulai dari sekarang?" ucap Enzy
"Kenapa?" tanya Dion heran.
"Enzy adalah nama yang di berikan nona padaku, juga sebagai identitas baruku. Aku akan menceritakan padamu saat kau sudah sehat dan ikut denganku ke ibukota" ucap Enzy
"Baik, aku ikut kemana pun kak Stella, eh Kak Enzy berada" ucap Dion
"Anak pintar" ucap Enzy tersenyum mengelus kepalanya lembut.
Teringat saat Dion baru saja sadar dari komanya, pasca operasi.
Dion terkejut melihat wajah Enzy yang kembali cantik seperti dulu. Terakhir mereka bertemu, wajah Enzy sudah cacat dengan bekas luka memanjang di pipinya.
Enzy perlahan menceritakan, jika dirinya di sembuhkan oleh seorang dewi berwujud manusia, yang juga penolong Dion di saat kritis.
Itu yang membuat Dion merasa kagum dengan Alyssa, meskipun dirinya belum bertemu dengan Nona dari kakak sepupunya itu.
Enzy mengupas buah untuk Dion, dan menyuapi Dion makan. Walaupun Dion menolak, namun Enzy memaksa untuk merawat Kerabat terdekat satu-satunya itu.
Selang beberapa waktu, HP Enzy berbunyi, itu telepon dari Noah. Dia meminta nomor Alyssa, namun Enzy menolak memberikan nomer telepon Nonanya, tanpa izin.
Noah pasrah, dan menitipkan pesan untuk Alyssa melalui Enzy. Mengenai ajakannya makan malam, malam ini.
Setelahnya Enzy menghubungi Alyssa.
"Halo Enzy, ada apa?" tanya Alyssa setelah menekan tombol jawab di Layar HP nya.
"Nona, tuan Noah menghubungiku tadi. Dia meminta nomer telepon anda, namun saya tidak memberikannya tanpa izin dari anda" ucap Enzy
"Kerja bagus Enzy, kau tak perlu memberikan nomer teleponku padanya. Jika ada perlu, dia bisa menghubungiku melalui kamu" ucap Alyssa
"Baik Nona. Dia memintaku untuk menyampaikan pesan. Jika Tuan Noah mengajak anda makan malam di Mercure Hotel nanti malam" ucap Enzy
__ADS_1
Alyssa mendengar itu, cukup terkejut. Karena dia sudah mengiyakan saat itu, tidak ada alasan untuk dirinya menolak.
"Baiklah, kamu temani saya nanti malam kesana" ucap Alyssa
Dia memutuskan datang bersama dengan Enzy, dia tidak mau mengambil resiko, jika Alvin salah paham terhadapnya.
Dia harus tetap menjaga perasaan Alvin, yang sudah sangat mencintai dirinya itu.
"Saya ikut, nona?" ucap Enzy kaget
"Ya, apa kamu keberatan?" tanya Alyssa
"Tidak nona, saya akan datang sesuai perintah anda" ucap Enzy
"Kalau begitu jemput saya di Giant Hotel nanti malam" ucap Alyssa
"Baik nona" ucap Enzy kemudian menutup teleponnya.
¤
Setibanya di ibukota, Alvin langsung bergegas menuju perusahaannya. Karena hari ini ada meeting pbahasan kontrak kerja sama dengan mitra kerjanya.
Masih ada sekitar 2 jam sebelum meeting, Alvin mengecek semua persiapan dari tangan Nino.
Sekretaris barunya cukup cekatan dan berkinerja baik. Alvin merasa lebih nyaman menggunakan sekretaris pria, sekarang.
Alvin tidak mau membuat masalah, apalagi membuat Alyssa marah dan cemburu karena adanya wanita lain di sekelilingnya.
"Nino, coba periksa kembali berkasnya, dan juga kamu dan Doni ikut denganku di ruang meeting" ucap Alvin
Nino kemudian kembali ke mukanya dan mengecek kembali berkas untuk meeting. Setelah memeriksa dan tidak ada masalah, Nino menyusun berkas itu dengan rapih.
setelah dua jam berlalu, Alvin, Doni dan Nino berjalan menuju ruang meeting. Klien sudah datang 2 menit lebih awal.
"Halo, Pak Sentosa" ucap Alvin menyapa dengan ramah dan mengulurkan tangannya
"Halo Pak Alvin" sambut Sentosa dengan senyum di wajahnya.
"Silahkan duduk!" ucap Alvin.
Sentosa dan seorang wanita berparas cukup cantik di sampingnya duduk setelahnya.
Mata gadis itu tak lepas dari menatap Alvin, dia baru pertama kali bertemu dengan sesosok lelaki, berparas sempurna seperti Alvin.
Sebelumnya dia hanya pernah melihat Alvin di majalah Bisnis terkemuka. Dan dia sudah jatuh cinta sejak saat itu.
"Perkenalkan ini putri saya, Andin" ucap Sentosa memperkenalkan putrinya.
"Andin" ucap Andin tersenyum manis dan mengulurkan tangannya.
Namun senyum itu tak bertahan lama, setelah uluran tangannya tidak di abaikan oleh Alvin. Andin kemudian dengan malu, menarik kembali tangannya, dan namun tetap memaksakan senyum di wajahnya.
"Alvin" ucap Alvin tanpa ekspresi dan tanpa membalas uluran tangan wanita di depannya.
__ADS_1
Sentosa yang melihat itu sedikit geram, pasalnya putri nya merasa di rendahkan dengan sikap Alvin yang mengabaikan putri cantiknya itu.
Namun dia sebisa mungkin menahan rasa kesalnya.
"Bagaimana dengan kerjasama kita di bidang pertambangan. Apakah berkasnya sudah di buat?" ucap Alvin to the point
"Tidak ada masalah, berkas sudah saya buat dan tinggal di baca dan di tanda tangani. Tapi saya mengajukan satu syarat untuk perjanjian kerja sama itu" ucap Sentosa
"Oh apa itu?" tanya Alvin, dia penasaran dengan syarat agar kerja sama senilai triliun an ini, berjalan dengan lancar.
"Saya ingin mengajukan sebuah pernikahan bisnis" ucap Sentosa
Alvin mendengar itu mengangkat sebelah alisnya. Dia sedikitnya bisa menebak tujuan dari mitra bisnis di depannya.
"Pernikahan Bisnis?" ucap Alvin
"Benar, saya ingin mengajukan syarat pernikahan bisnis, antara anda dan putri satu-satunya saya, Andin" ucap Sentosa merasa bangga
"Oh, bagaimana jika saya menolak" ucap Alvin langsung
Sentosa mendengar itu mengerutkan keningnya, tidak suka.
"Jika anda menolak, kontrak kerja sama jangka panjang kita, yang bernilai triliunan ini tidak akan terlaksana" ucap Sentosa, dia yakin tawaran kali ini sangat susah untuk Alvin tolak.
"Kalau begitu batalkan saja kontrak kerja samanya" ucap Alvin
Sentosa lagi-lagi terkejut, bagaimana tidak? Bagaimana Alvin bisa menolak syaratnya.
Sebenarnya ia mendapat ide ini secara mendadak. Karena putrinya tergila-gila dengan ketampanan Alvin.
Dirinya pun tak menolak jika memiliki menantu hebat seperti Alvin. Namun, kini Alvin menolaknya dengan tegas.
Bukan hanya kecewa putrinya di tolak, namun ia juga tak mau kehilangan kesempatan bekerja sama dengan Alvin.
Bagaimanapun, perusahan Alvin adalah yang terbesar di negara ini dan juga di Asia. Juga karena kedepannya, keuntungan yang dia dapat dari kerja sama ini bernilai fantastis.
"Kenapa kau menolak, putriku sangat cantik, dia berpendidikan tinggi dan juga sangat berbakat" ucap Sentosa tak menyerah
"Kekasihku lebih dari segalanya di banding dengan putrimu" ucap Alvin ringan
"Kau sudah punya kekasih?" ucap Andin spontan, dia merasa kecewa di hatinya
"Kau bisa menjadikan putriku sebagai istri sahmu, dan menjadikan kekasihmu sebagai selirmu. Bukankah kau bisa memiliki keduanya" ucap Sentosa tidak tahu malu
"Ayah" ucap Andin tidak terima
"Beraninya kau merendahkan kekasihku!! Selain kekasihku tidak ada yang layak menyentuhku, apalagi menikahiku, termasuk putrimu!!" ucap Alvin Geram
"Doni!!" teriak Alvin lagi
"Ya, tuan muda" ucap Doni
"Tekan saham Sentosa Corp sampai sejatuh-jatuhnya. Buat perusahaan itu bangkrut dalam waktu dua hari. Beraninya tikus rendahan menghina wanitaku" ucap Alvin
__ADS_1
Sentosa dan Andin yang mendengar itu langsung jatuh gemetar tak bertenaga, dan terduduk di lantai.