Sistem Dewi

Sistem Dewi
Menyelesaikan misi


__ADS_3

Tim 3 kini sudah bergerak dengan kapolres yang memimpinnya. Tim 3 hanya ada sekitar 20 orang, 8 di antaranya bertugas untuk mengamankan pintu keluar dari berbagai sudut gedung apartement.


Sedangkan 8 petugas lainnya masuk ke dalam apartemen, dan dua penembak jitu yang berada di gedung sebelah apartemen itu. Sedangkan 2 orang lagi bertugas memberikan arahan penghuni lain agar tidak panik.


Beberapa orang melihat tim khusus datang pada malam hari, cukup membuat orang gusar. Namun setelah di jelaskan oleh orang yang bertugas mereka tenang dan mengikuti arahan untuk tetap berada di dalam unitnya masing-masing.


Beruntung itu terjadi tengah malam, jadi sebagian besar penghuni apartemen tengah beristirahat.


"Suaranya terdengar dari di sini, Pak" ucap pelan salah satu anggota dengan wajah memerah.


Bukan hanya dirinya saja, semua orang yang ada di ruangan itu wajahnya memerah saat mendengar suara dari balik pintu.


"Buka pintunya!" perintah Kapolsek pada bawahannya.


"Siap laksanakan pak" ucapnya


Ia tidak peduli sedang apa orang di dalam kamar di depannya. Semua orang juga tahu aktivitas kegiatan macam apa yang sedang di lakukan orang di dalamnya, hanya dengar mendengar suaranya saja.


Ceklek!


"Tidak di kunci ternyata, Pak" ucap petugas menggelengkan kepalanya, ceroboh sekali ternyata.


"Empat orang ikut saya masuk, sisanya berjaga di luar kamar" ucap Kapolsek


"Siap Pak" ucap lainnya.


Sedangkan dua orang yang tengah berpacu dengan gaya misionaris itu menulikan pendengarannya. Mereka terlalu sibuk dengan kegiatan mengasyikan yang sedang mereka lakukan, hingga tidak menyadari ada orang masuk dan menyaksikan Film biru secara Live.


"Angkat tangan, kalian sudah di kepung!" teriak Kapolsek.


Tentu saja teriakan itu menghentikan kegiatan mereka, pria itu yang tak lain Setyono sampai oleng karena terkejut. Sedangkan wanita yang kita sebut Mawar, berteriak dan sembarangan menarik yang bisa di jangkaunya untuk menutupi tubuh polosnya.


Setyono yang terkejut, bingung mengangkat tangannya atau menutupi pusaka mini nya yang masih mengacung tegak menantang belum tertuntaskan.


"A-ada apa ini Pak?" ucap Setyono berusaha tenang, yang sebenarnya cukup ketakutan melihat Kapolres kota S ada di depannya. Bahkan anggota di belakangnya mengacungkan senjata di depannya.


Kapolsek menatap ke arah salah satu anggota yang di balas anggukan kepala. Anggota itu melemparkan pakaian yang teronggok di lantai ke arah Setyono setelah memeriksa tidak ada senjata di sana.


Begitu pun dengan pakaian wanita muda yang meringkuk ketakutan di sana.


"Pakai itu! Menjijikan!" ucap Setyono jelas di matanya memandang keduanya dengan jijik.

__ADS_1


Mereka lekas memakai pakaian dengan cepat dan canggung. Karena tatapan tidak lepas dari mereka yang ada di depannya, yang masih setia menodongkan pistol ke arah kedua nya.


"Borgol keduanya, Bawa mereka ke kantor untuk di interogasi!" ucap Kapolsek.


"Kenapa saya di tangkap, pak? Ini hanya kekhilafan saya, kenapa tangan saya mesti di borgol, Pak?" tanya Setyono yang belum menyadari kesalahannya. Ia pikir ia di tangkap karena melakukan perzinahan, jadi dia bingung karena di tangkap seperti penjahat besar.


"Jelaskan nanti semuanya di kantor, bawa mereka sekarang juga!" perintah Kapolsek lagi.


Kapolsek juga menyuruh dua orang menggeledah di setiap sudut Apartemen milik kekasih gelap Setyono, dan mereka menemukan senjata api Laras pendek yang ada di sebuah laci meja, yang tidak lain milik Setyono.


...


Semua orang yang ada di ruangan menatap bingung ke arah Alyssa dan kantong plastik yang kini berada di tangan mereka. Meskipun bingung, mereka tetap membawa kantong plastik itu.


Pintu ruangan sebelah kanan terbuka, beberapa orang masuk kecuali Alyssa, Alvin, Tama Erick dan Kapolda.


Ruangan itu sangat gelap hingga mereka menyalakan senter. Bau khas semerbak memenuhi Indra penciuman mereka yang masuk ke dalam ruangan.


"Tiga... Dua..." Alyssa mulai menghitung


Ketiga orang lainnya menatap Alyssa heran, mengapa Alyssa menghitung mundur


"Satu..." ucap Alyssa


"Hoooeeeekkkk"


Setelah hitungan Alyssa, beberapa petugas yang masuk, terlihat berbalik keluar dan memuntahkan isi perutnya di kantong plastik di tangannya. Kini mereka tahu apa gunanya kantong plastik yang di berikan nyonya muda Ardhana itu.


Erick dan Kapolda terkejut, kenapa anggota yang lain sampai muntah-muntah setelah beberapa detik di dalam sana.


Sedangkan Alvin sudah memperkirakan jika pasti ada sesuatu, melihat gelagat sang istri. Jadi ia tidak terlalu terkejut.


"Kalian kenapa sampai muntah-muntah begitu?" tanya Erick penasaran


"Bau busuk Pak, Astaga, bau darah dan bau daging busuk sangat menyengat. Banyak sekali bel*tung dan potongan mayat dan juga kerangka manusia, Pak" ucap salah satunya saat ia merasa sudah cukup lega mengeluarkan isi perutnya.


Tentu saja pernyataan itu membuat ketiga orang terkejut kecuali Alyssa dan Tama.


"Astaga, apa ini sejenis pembantaian?" ucap Erick syok mendengar itu


"Bisa di bilang seperti itu" ucap Alyssa

__ADS_1


"Kau tahu sesuatu nak?" tanya Erick pada menantunya yang di balas anggukan.


"Itu adalah mayat dari orang-orang yang di duga oleh Setyono menjadi hambatan di pekerjaannya. Bahkan ada beberapa petugas kepolisian yang mengetahui sepak terjangnya dan di rasa menjadi ancaman langsung di tembak mati, di mutilasi dan di buang di sini" ucap Alyssa


"Ya, Tuhan..." ucap Kapolda menutup mulutnya.


Alyssa memberikan masker yang sudah di berikan aroma therapy. Setidaknya membantu agar tidak begitu mual. Hanya ada 3 yang ia bawa, dan itu ia berikan pada Alvin, Erick dan Kapolda.


"Pakai itu, itu akan meredakan bau menyengat di dalam ruangan sana" ucap Alyssa


"Kau tidak ikut masuk, sayang?" tanya Alvin, Alyssa menggeleng.


"Aku hanya membawa tiga masker itu, dan aku tidak ingin masuk. Bahkan memikirkan makhluk kecil menjijikan itu, pasti aku langsung mual" ucap Alyssa bergidik


Tentu saja itu apa adanya, Alyssa bisa bertahan dengan bau yang menyengat. Namun tidak untuk melihat mahkluk kecil yang menjijikan itu.


"Baiklah, kamu tunggu di sini!" ucap Alvin.


"Hmm, dan di dalam sana ada satu sandera yang masih hidup. Selamatkan dia! Dia adalah adik ipar Setyono dari istri pertamanya. Dia bisa di jadikan saksi hidup" ucap Alyssa yang di angguki ketiganya sebelum masuk.


Penggrebekan itu berakhir, Zacky yang menjadi sandera di bawa ke rumah sakit untuk segera di tangani. Sedangkan tulang dan potongan tubuh manusia di kumpulkan dan di kuburkan secara bersamaan.


Dengan data dari Alyssa, dapat di ketahui siapa saja yang menjadi korban pembantaian Setyono. Berita itu tersebar begitu cepat, media masa mengangkat itu sebagai topik berita paling fenomenal.


Keluarga korban menangis saat tahu keluarganya, kerabatnya menjadi korban. Masyarakat umum juga berbondong mengutuk Setyono dan menuntutnha untuknya di hukum mati.


Erick dan Alvin mewakili menerima lencana kehormatan dan naik jabatan, sebagai orang yang sudah berhasil membongkar sebuah tindak kejahatan yang sangat besar.


Seharusnya yang mendapatkan itu adalah Alyssa, namun Alyssa menolak dan tidak ingin selain yang terlibat di penggrebekan tahu. Jika ia yang mengungkap semuanya. Karena Alyssa ingin hidup tenang, tanpa di usik hal-hal yang tidak perlu.


"Sayang, kamu sangat hebat" ucap Alvi. yang bangga pada istrinya itu. Kini mereka berada di markas besar militer kota S.


"Papahj uga bangga padamu nak" ucap Erick mengacungkan jempol pada menantunya


"Terimakasih Nyonya" ucap serempak semua anggota beserta petinggi lainnya, yang memberikan hormat pada Alyssa.


Bagi mereka Alyssa kini menjadi, wanita terhebat di mata mereka. Dan mereka sangat bangga bisa menjadi bagian dalam penggrebekan malam itu.


[ Selamat host anda berhasil menyelesaikan sebuah misi, datang ke kota S, bantu Juna menyelesaikan masalahnya. Anda mendapatkan Hadiah : Metode jam pintar dan saham 100% Universal studio di negara S ]


Suara sistem terdengar di benaknya.

__ADS_1


...••••...


__ADS_2