
Mereka bertiga masuk ke dalam restoran seafood. Dari lantai dasar sampai di depan restoran di samping Mall, di mana Restoran seafood itu berada. Semua orang menatap mereka bertiga, terutama pada Alvin yang sedang menggendong Alyssa.
Alyssa sangat malu, dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang nan hangat, milik Alvin. Alvin hanya merespon dengan senyuman tipis. Meskipun dalam hati ia ingin berteriak bahagia dan sangat gemas pada Alyssa, saat melihat wanitanya tak sungkan memeluk dan membenamkan wajah cantik itu di dadanya.
Diana yang melihat itu hanya menghela nafas dan mengelus dadanya.
"Nasib-nasib... baru beberapa saat jadi jomblo dan nyawa hampir melayang. Sekarang di Sajikan adegan kemesraan yang hakiki dan no filter. Astaga, aseeem bener dah" gumam Diana dalam hati.
Alyssa yang mendengar gumaman hati sahabatnya itu, terkekeh. Bahkan Alvin merasa sedikit geli, karenanya Alyssa masih dalam gendongannya, bergetar karena tertawa.
Meskipun ia heran kenapa wanitanya tertawa, namun ia diam saja.
Dengan hati-hati dan penuh kasih sayang. Alvin menurunkan dan mendudukkan Alyssa di kursi sofa. Diana mengikuti duduk di sofa depan Alyssa duduk.
Ketiganya kemudian memesan makanan, terutama Alyssa yang antusias ingin makan kepiting saus Padang, di mana menu itu menjadi best seller.
"Kaki kamu masih sakit?" tanya Alvin dengan lembut dan perhatian
"Nggak kok, hanya sedikit" ucap Alyssa tersenyum
"Kamu bawa obatnya kan sayang?" tanya Alvin
"Obat apa?" tanya Diana penasaran dengan obat yang di maksud kekasih sahabatnya itu.
"Ah, obat untuk mengobati tulang retak" ucap Alyssa.
Alyssa sengaja tidak memberi tahu kemampuan khusus ke Diana. Meskipun Diana adalah sahabatnya, Alyssa tidak berniat menceritakan ataupun menyembunyikannya jika suatu hari nanti Diana tahu sendiri tentang kemampuannya.
Lagian saat ini mereka berada di tempat umum, tidak mungkin Alyssa menjelaskan khasiat obat yang ia punya, seperti Magic Liquid.
Alvin juga hanya diam, dia menghargai Alyssa yang tidak berkata jujur, jika ia memiliki obat yang bisa menyembuhkan segala penyakit.
"Woow, benarkah? Kamu dapat dari mana, Al?" tanya Diana
__ADS_1
"Aku belajar meraciknya sendiri" ucap Alyssa yang membuat Diana terkagum-kagum.
Kemudian Alyssa meminum sisa Magic Liquid yang ia simpan, setelah beberapa tetes ia gunakan untuk mengobati luka di tangannya beberapa waktu yang lalu.
Alyssa pikir, itu tidak mengubah khasiat dari obat, meskipun dosis yang ia minum berkurang, karena sudah terpakai. Namun ia yakin bisa sembuh, karena luka yang dia rasakan tidaklah begitu parah.
Benar saja, setelah beberapa saat setelah meminum Magic Liquid, Alyssa merasakan perasaan hangat menjalar ke kakinya. Dan perlahan sakit itu memudar dan menghilang.
"Bagaimana?" tanya Alvin masih dengan raut khawatir
"Itu berhasil seperti biasa. Aku sudah sehat, bahkan bisa berlari sekarang juga" ucap Alyssa terkekeh dan berdiri dengan tegak dan berjalan sebentar.
Alvin menghela nafasnya lega, sedangkan Diana hanya melongo, tidak percaya.
"Wooow" ucap Diana sangar takjub, melihat betapa efektifnya obat yang di minum Alyssa
Ketiganya kemudian menyantap makanan lezat, yang di sajikan di meja depan mereka. Alvin dengan telaten mengupaskan kulit udang untuk Alyssa. Membuat Diana lagi-lagi menghela napasnya.
"Kalian ini ya, tidak menghargaiku sama sekali. Aku jomblo nih, jom-blo. Kalian malah asik lempar kemesraan di depanku" ucap Diana cemberut.
Alvin hanya terkekeh, mendengar dua wamita bersahabat itu berbincang. Malah sekarang Alvib berani mencium pipi Alyssa sekilas, karena gemas, Alyssa tertawa lepas.
"Sial, mata ku ternodai" ucap Diana
"Ahh, sayang, Maaf. Abisnya kamu gemesin" ucap Alvin tanpa tahu malu setelah mendapatkan cubitan maut dari Alyssa
"Isshh, menyebalkan... Aku pergi nih" ucap Diana kesal
"Ha-ha, maaf na. Alvin memang seperti itu, ada kesempatan ya gitu nyosor kaya soang (angsa)" ucap Alyssa
"Ngomong-ngomong, kamu kenapa dengan cowok tadi? berantem?" tanya Alyssa, meskipun ia tahu inti permasalahan sahabatnya itu dengan mantan pacarnya barusan. Namun ia ingin mendengarkan langsung dari Diana.
"Malas sebenarnya cerita itu Al. Yah, tadi itu mantan pacar aku. Kita baru jadian seminggu yang lalu, eh hari ini aku mergokin dia jalan dan bercumbu di lorong bersama selingkuhan ja**ng nya itu" ucap Diana mendadak emosi kembali saat teringat peristiwa tadi.
__ADS_1
"Jadi cowok tadi mantan pacarmu? Tapi kenapa kamu terlihat biasa aja, nggak ada tanda patah hati sama sekali? Yang ada cuma terlihat kesal saja" tanya Alyssa, sambil makan kepiting telor di depannya saat ini.
"Hmm... Sebenarnya aku belum ada rasa pada Reno" ucap Diana cuek, sambil memakan cumi asam manis miliknya
"Lah, kenapa kalian jadian, kalau nggak cinta?" tanya Alyssa bingung.
"Dia deketin aku selama beberapa bulan yang lalu, setelah aku memutuskan kuliah di kota B. Dia adalah kating 2 tingkat di kampus. Aku pikir dia adalah orang yang sangat baik dan pengertian. Akhirnya saat minggu lalu dia menyatakan cintanya padaku, aku memutuskan untuk membuka hati, dan belajar untuk mencintainya juga. Ternyata dia jalan dengan wanita lain yang dia akui sebagai temannya itu. Mana ada teman bergandengan tangan mesra dan ciuman. Orang Bodoh juga bisa tahu, melihatnya sekilas. Aku beruntung aku belum memiliki perasaan padanya, jadi aku tidak merasakan sakit saat dia mengkhianatiku. Malah hati aku lega saat hubungan ku dengannya berakhir. Hanya saja aku merasa kesal karena sudah di bohongi" ucap Diana
Alyssa mengangguk paham, dia juga bersyukur Sahabatnya itu tidak mengalami patah hati setelah putus cinta.
Ring! Ring! Ring!
Telepon Alyssa berbunyi, Nama Hanin tertera di sana.
Karena posisi tangan Alyssa sedang kotor karena sedang makan kepiting, begitu juga dengan Alvin. Alyssa meminta tolong Diana untuk mengangkatnya.
...¤...
Kota S.
Juna saat ini sedang berjalan menuju kediaman orang tuanya yang berada di pingiran kota S. Karena kedua orang tua Juna suka ketenangan.
Jarak antara rumahnya dan orang tuanya hanya berjarak sekitar 14 km. Namun dia tempuh hampir 50 menit, karena jalanan yang sangat macet karena saat ini sudah masuk makan siang.
Sebelum menjalankan Mobilnya dari perempatan lampu merah di depannya. Netranya menakap sesuatu di pinggir jalan.
Dia sangat terkejut dan memutuskan untuk berhenti dan memarkirkan mobilnya, tak jauh dari lampu merah.
Juna melangkah ke arah perempatan tadi, dia ingin memastikan yang ia lihat itu benar atau tidak. Setelah memastikan yang ia lihat itu benar, Juna sangat terkejut.
Ia saat ini melihat Raiden, yang ia ketahui adalah ayah dari sahabatnya, Azka. Kini sedang ngesot di pinggir jalan, dengan baju yang sangat kotor dan wajah yang babak belur.
"Om Raiden!" ucap Juna, membuat pria paruh baya yang mengesot itu mendongak melihat orang yang baru saja memanggilnya.
__ADS_1
"Ju-juna!" ucap Raiden dengan tubuh yang bergetar. Bukan karena takut, tapi karena badannya saat ini sedang lemas. Karena sudah 2 hari ia belum makan apapun.