
Menjelang malam di mansion hanya terdengar dentingan sendok yang beradu. Mereka berenam termasuk Noah di dalamnya makan dengan lahap dan tenang.
Tidak seperti biasanya suasana begitu hening kala Noah dan Azka saling berhadapan. Jika kemarin-kemarin keduanya selalu saja ada yang di ributkan.
Justru sekarang Azka terlihat sesekali melirik ke arah adiknya, yang masih lahap makan makanan yang di depannya.
Merasa ada yang memperhatikan, Alyssa menoleh ke arah kakaknya yang sedang menatapnya dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Gimana aku tanya ke Al ya, kalau banyak orang gini. Apa Al Udah bilang ke mamah masalah orang itu yang mau ke ibukota? Apa nanti mamah akan setuju kita berdua ketemu dengan Dia" ucap Azka dalam hati.
Al paham yang di pikiran Azka saat ini, tapi ia tetap makan seperti biasa. Setelah makan malam selesai, Alyssa menoleh ke arah Ameera yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Mah, ada yang ingin Alyssa bicarakan. Mau bicara di sini aja atau di ruang kerja Al" ucap Alyssa
"Tentang apa sayang?" tanya Ameera tidak biasanya Al seperti ini. Biasanya Al akan langsung bicara padanya.
"Hanya tentang beberapa hal kok mah" ucap Alyssa melirik ke arah Noah dan yang lain, membuat Ameera mengerti.
"Baiklah, ayo kita bicara di ruangan kerja kamu saja" ucap Ameera
Keduanya langsung menuju ruang kerja, sebelumnya Alyssa meminta maid menyiapkan teh di ruang keluarga saja, karena ia tidak akan lama di ruang kerja dan akan bergabung dengan yang lain nantinya.
"Ada apa sayang?" tanya Ameera
"Mah, Orang itu ingin bertemu denganku dan Azka, dia gelisah dan khawatir memikirkan aku dan kakak sebulanan ini. Sepertinya ikatan batin antara ayah dan anak tidak bisa di lepaskan begitu saja. Dia merasakan kekhawatiran saat Alyssa koma kemarin selama sebulan" ucap Alyssa to the poin
"...."
"Orang itu mengatakan jika ia ingin sekali ke ibukota untuk menemuiku dan kakak, hanya saja Dia takut kehadirannya membuat mamah kurang nyaman. Al paham mengenai perasaan mamah yang tidak ingin bertemu dengannya. Tapi Al juga tidak akan menyembunyikan sesuatu dari mamah mengenai hubungan Al, Kak Azka dan Orang itu" ucap Alyssa
"...."
Melihat Ameera hanya terdiam, Alyssa menghembuskan nafasnya dan melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Seberapa pun bencinya Al dan Kak Azka pada orang itu, atas pengkhianatan yang Dia lakukan pada mamah. Tidak bisa mengubah kenyataan jika kita adalah anak-anaknya, darahnya mengalir ke tubuhku dan Kak Azka" ucap Alyssa memandang ke langit-langit ruang kerja miliknya.
"Dia sudah menerima karma atas semua yang ia perbuat dulu. Mamah tahu saat ia sekarat, Al memang mengobati dan menyembuhkannya hingga sehat. Namun tidak dengan satu hal. Om Yoga saat menyiksa orang itu dengan memotong masa depannya" ucap Alyssa
Terlihat raut wajah Ameera yang begitu terkejut mendengar ucapan putrinya itu.
"Saat Al memberikan ia pilihan dan kesempatan untuk pulih dan bisa normal kembali. Orang itu menolaknya, ia mengatakan biarlah tetap seperti itu, karena itu adalah karma atas apa yang ia perbuat di masa lalu. Penferitaan yang ia derita tidak sebanding dengan rasa sakit yang ira rasakan waktu itu. Itu yang dia katakan" ucap Alyssa
Terlihat Ameera sudah berkaca-kaca, dan Alyssa tidak tahu apa yang di rasakan ibunya saat ini. Sakit, menyesal atau kesal.
Ia tidak bisa membaca data ibunya, dan ia juga tidak mendengar batinan Ameera saat ini. Entah karena saat ini ia memang tidak bisa mendengar atau Ameera yang sedang tidak memikirkan apapun.
"Jujur saja, Al sudah mengikhlaskan semuanya, dan sudah memaafkan kesalahan orang itu. Bolehkah Al dan Kak Azka ketemu dengan Dia? Apa lagi sebentar lagi kak Azka nikah, tidak mungkin kita tidak mengundangnya bukan, bagaimana pun dia ayah kandung kita?" ucap Alyssa
"Baiklah, maafkan mamah yang egois dan masih terbayang luka di masa lalu. Mamah paham apa yang kamu dan Azka rasakan. Terlebih kamu yang sudah lama tidak merasakan kasih sayang seorang ayah. Maafkan mamah" ucap Ameera memeluk Alyssa dan Alyssa membalasnya dan tersenyum.
"Mamah tidak salah, Al mengerti apa yang di rasakan mamah. Bisakah mamah melupakan semuanya dan membuka lembaran baru, dengan orang yang mamah cintai dan dengan orang yang mencintai mamah juga" ucap Alyssa
Mendengar itu, entah mengapa pipi dan telinga Ameera bersemburat merah.
Alyssa yang mendengarnya tersenyum, ia menyadari perasaan Ameera yang sudah mulai tumbuh dan menerima Noah.
Laki-laki konyol yang senantiasa mengutamakan kebahagiaan mamahnya, di luar jarak usia yang terbentang jauh. Noah memang pilihan terbaik untuk menemani Ameera menata hidup di masa depan.
Dan Alyssa juga senang, karena ia bisa mendengar batinan mamahnya. Ternyata memang Ameera tadi tidak memikirkan apapun dan fokus mendengarkan ucapannya.
...
Di ruang keluarga di saat yang bersamaan dengan Alyssa dan Ameera masuk ke ruangan kerja.
"Aku dengar kamu sebentar lagi akan menikah, Azka? Selamat, aku turut senang mendengarnya. Semoga semuanya lancar sampai hari pernikahan nanti" ucap Noah tulus
"Hmm, terimakasih" ucap Azka ringan
__ADS_1
"Tumben lagi jinak, biasanya kita sudah kaya Tom & Jerry saat bertemu He-he" ucap Azka terkekeh
"Aku sedang tidak mood. Oh iya, aku ingin memberi tahu sesuatu padamu. Kemungkinan orang itu akan ke ibukota untuk menemuiku dan Alyssa besok" ucap Azka
"Orang itu? Siapa?" tanya Noah tidak mengerti
"Mantan suami mamah, dan kemungkinan saat aku menikah nanti ia juga akan datang" ucap Azka membuat Noah sedikit terkejut.
"Oh seperti itu" ucap Noah menetralkan hatinya yang sedikit tidak tenang.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Azka, ia ingin melihat tanggapan dari Noah.
"Maksudmu?" tanya Noah
"Mengenai pertemuan aku, Alyssa dan Dia. Juga mengenai Aku yang mengundangnya saat aku menikah nanti" ucap Azka
"Itu terserah kamu dan Alyssa. Bagaimana pun Dia adalah ayah kandung kalian, itu tidak akan berubah meskipun dunia berakhir atau maut menjemput salah satu dari kalian. Aku tidak bisa berkomentar lebih, karena itu pilihan kalian" ucap Noah
"Apa kau tidak apa-apa jika ia datang ke kehidupan mamah lagi? Kau tidak takut Dia akan merebut hati mamah?" tanya Azka
"Aku tidak takut, tapi jujur saja aku sedikit kurang nyaman. Kau tahu, Aku sangat mencintai ibumu, meskipun nantinya bukan aku yang mendampinginya di masa depan. Aku tidak masalah, yang penting dia bahagia dengan pilihan yang ia buat. Tapi sebelum ia sah menjadi milik orang lain, aku akan terus berjuang untuk mendapatkan hatinya. Dengan cara yang sehat tentunya" ucap Noah tersenyum tipis
"Baguslah, dan teruslah berjuang" ucap Azka
"Dukung aku nih ceritanya?? Ciiiieee,,, Udah luluh ya sama calon ayah. Uluh-uluh senangnya dapat perhatian dari anak tampan ayah" ucap Noah terkekeh
"Sial... Nyesel aku bicara baik-baik tadi. Ayah pala lu peang, kapan aku bilang dukung kamu heh" ucap Azka dengan nada bicara kesal, sedangkan Noah tertawa kencang melihat Azka yang kesal dan mulai ribut lagi.
padahal dalam hati Azka, ia kagum dengan pemikiran Noah yang dewasa. Cocok untuk menjadi pendamping mamahnya.
Azka sudah kasih lampu hijau?
Sebenarnya Azka setuju-setuju saja. Hanya saja ia ingin tahu sebesar apa perjuangan seorang Noah demi mendapatkan hati Ameera dan juga restu kedua anaknya.
__ADS_1
Sedangkan di sisi Noah, dia senang menggoda Azka, bahkan sering ribut jika bertemu. Dengan begitu hubungannya dengan Azka tidak terasa canggung dan lebih dekat.
...