
Selepas kepergian Noah, Alvin terduduk mengacak rambutnya.
"Aaaarrrggghhhhh!!!" teriak Alvin
Doni yang saat ini hanya diam melihat atasannya itu, dia memahami apa yang di rasakan Alvin saat ini.
Kemudian dia beranjak keluar dari ruangan Alvin, dia yakin Alvin memerlukan waktu untuk sendiri dan berpikir jernih.
"Apa yang harus aku lakukan??" Gumam Alvin
Perasaannya bercampur aduk di dadanya. Seketika dia melihat bingkai photo di atas meja kerjanya. di sana terdapat gambar dirinya memeluk Alyssa dari belakang, saat di kota B dulu.
Alvin mengambil dan mengelus gambar Alyssa di photo itu. Dia tidak mungkin meninggalkan wanitanya, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, jika dalam hidup ini hanya akan bersama dengan Alyssa apapun yang terjadi.
Dia dalam kondisi yang dilema sekarang. Entah keputusan apa yang seharusnya dia ambil.
TING!!! Pesan masuk dari Alyssa
[ Apa kau bisa menjemputku di rumah sakit? Jika tidak bisa, aku akan meminta Enzy untuk menjemputku, aku sedang tidak membawa mobil saat ini ]
Alvin melihat pesan yang di kirim kekasihnya itu, lalu dia meletakan HP nya di atas meja kerjanya.
Dirinya masih dalam kondisi yang kacau, tak menggubris pesan dari Alyssa. Yang di pikirannya saat ini adalah dia harus menentukan pilihan.
Namun sebuah bayangan Alyssa yang sedang menangis menunggunya di rumah sakit, menyadarkannya.
Dia beranjak ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya, kemudian dia mengambil HP dan kunci mobilnya lalu keluar dari kantornya.
Setelah sampai di rumah sakit, dia mengirimkan pesan pada Alyssa jika dia sudah sampai di area parkir G1.
Tak berselang lama Alyssa keluar dari rumah sakit dan berjalan menghampiri mobilnya.
"Terimakasih sudah mau menjemputku" ucap Alyssa tersenyum, begitu ia duduk di samping kemudi.
Melihat senyum wanitanya, Alvin merasakan perasaan bergejolak di hatinya. Dia tidak ingin kehilangan momen bersama dengan Alyssa, baik sekarang ataupun nanti.
"Kau ingin pulang atau jalan-jalan?" tanya Alvin dengan tersenyum yang di paksakannya.
"Terserah padamu, aku tidak ada tujuan" ucap Alyssa tersenyum manis.
Alvin kemudian membawa Alyssa ke sebuah mansion yang sangat kental dengan kesan modern klasik, di daerah blok 3.
Alyssa hanya mengikuti Alvin, saat Alvin masuki mansion itu.
__ADS_1
Alvin menggandeng tangan kekasihnya itu menuju sebuah kamar di lantai 2, dan mendudukan Alyssa di atas kasur empuk itu.
"Rumah siapa ini?" ucap Alyssa menatap takjub dekorasi dari luar sampai di dalam kamar.
"Ini rumahku, rumahmu juga" ucap Alvin, kemudian dia memeluk Alyssa dengan erat.
Alyssa merasakan adanya sesuatu beban yang sedang Alvin alami saat ini. Namun ia tidak tahu apa.
"Ada apa Hmm?" tanya Alyssa mengusap rambut Alvin yang kiki berada di dalam dekapannya.
"Bolehkah aku menciummu?" tanya Alvin
"Tentu saja, biasanya kau tak pernah bertanya terlebih dahulu dan langsung menciumku semaumu" ucap Alyssa terkekeh
Alvin melepaskan pelukannya, ia menatap Alyssa dengan rasa cinta yang meluap di matanya.
Dia menekan Alyssa di tempat tidur dan mencium bibirnya dengan penuh perasaan, lembut namun menuntut.
Alvin menggigit kecil bibir Alyssa, membuat lidahnya saling membelit.
Ciuman itu sangat panjang, bahkan beberapa kali Alyssa kesulitan untuk mengambil napas.
Namun melihat Alvin yang sangat bergairah, Alyssa tetap membalas ciuman Alvin sama bergairahnya dengan kekasihnya itu.
Setelah melepas ciuman di bibirnya itu, ciuman Alvin beralih ke leher dan pundaknya yang terbuka.
Alvin tersenyum dan mengucapkan banyak kata cinta, dan menyelipkan rambut Alyssa menggunakan dua jarinya ke belakang telinganya.
Namun terlihat jelas, jejak kesedihan dan kebimbangan di matanya. Dan itu terlihat oleh Alyssa.
Alyssa menatap Alvin dengan rasa penasaran, apa yang sebenarnya terjadi?
Apa yang sedang di pikirkan Alvin saat ini? Mengapa tatapan matanya begitu sendu?
Alyssa kemudian menggunakan Skill pemindai, untuk mencari tahu.
Dia bernafas lega saat melihat nilai kesukaan Alvin tidak berkurang sedikitpun padanya.
Namun saat melihat data rahasia milik Alvin, Alyssa mengerutkan keningnya. Hanya satu kata di dalam panel data itu.
'Larasati'
Kata itu seperti nama perempuan, seketika rasa sakit menusuk ke hatinya. Alyssa langsung bangkit terduduk.
__ADS_1
Banyak sekali pertanyaan yang ada di dalam benaknya.
Siapa Larasati? Bukankah itu nama seorang perempuan? Apa Alvin mengkhianatiku? Tapi mengapa nilai kesukaan Alvin tidak berkurang padanya?
Alvin yang melihat Wanitanya tiba-tiba duduk dan terdiam dengan ekspresi aneh di wajahnya, merasa panik. Dia takut Alyssa merasakan sakit akibat ciumannya yang menuntut.
"Ada apa Ica? Apa kamu sakit? Apa aku menyakitimu tadi? Aku kita maaf" ucap Alvin cemas dan memeluk Alyssa
Namun Alvin terkejut, saat Alyssa melepas kasar pelukannya.
"Siapa larasati?" tanya Alyssa dengan wajah dan nadanya yang datar
Alvin terlonjak kaget mendengar Alyssa menanyakan tentang Larasati.
Dari mana Kekasihnya itu tahu mengenai larasati? Apa Alyssa mengetahui sesuatu?
"Kenapa tidak menjawab?" ucap Alyssa lagi
"Di-dia... " ucap Alvin bingung memulai dari mana menjekaskannya.
"Alvin, kamu tahu jika aku tidak menyukai sebuah pengkhianatan bukan? Kamu juga tahu aku sudah mengatakan berkali-kali, jika kau bosan denganku, dan menemukan wanita lain yang kau cintai. Kau hanya perlu memberitahukannya padaku, tanpa harus menutupinya dariku. Tanpa adanya kebohongan yang akhirnya hanya menyakitiku?" ucap Alyssa
"Ica, bukan seperti itu. Aku hanya..." ucap Alvin kemudian dia diam lagi tidak melanjutkan ucapannya.
Alyssa yang menunggu Alvin melanjutkan ucapannya, namun tidak ada kata yang terucap lagi.
"Jika kau tidak bisa menjelaskannya, tidak masalah. Anggap saja kita tidak pernah mengenal sebelumnya, lupakan soal pertunangan dan ucapan manis yang selalu kau katakan padaku. Kau bisa mengejar kebahagiaanmu sendiri dengan gadis yang bernama Larasati itu" ucap Alyssa kemudian beranjak berdiri.
Sebelum Alyssa membuka pintu kamar, Alvin menghentikannya dan memeluknya dari belakang.
"Lepas!!!" ucap Alyssa
"Tidak!! Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku sungguh-sungguh mencintaimu Ica, Kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku bukan?" ucap Alvin
"Apa kau juga sudah lupa ucapanku jika kau mengkhianatiku aku tidak segan-segan untuk meninggalkanmu? Apa gunanya aku bertahan Alvin, jika ada wanita lain di antara kita? Kau tahu aku sangat benci apapun yang berbau pengkhianatan, aku sering mengatakannya padamu" ucap Alyssa dengan menahan rasa sakit di dadanya dan menahan agar tidak menangis.
"Aku tidak mengkhianatimu, sayang. Sungguh. Tidak ada wanita lain di hatiku kecuali kamu" ucap Alvin mengeratkan pelukannya, tidak membiarkan Alyssa pergi.
"Lalu kenapa kau diam dan tidak bisa menjelaskan siapa itu Larasati, bahkan menyembunyikannya dariku" ucap Alyssa
"Aku akan menjelaskannya padamu, tolong dengarkan dan jangan pergi" ucap Alvin memohon, memegang tangan Alyssa dan berlutut di depannya.
Alyssa hanya diam, dia tidak menyangka Alvin sampai berlutut di depannya.
__ADS_1
Dalam hatinya dia ingin sekali percaya pada Alvin. Jadi dia memberikan kesempatan untuk Alvin menjelaskan padanya, siapa Larasati itu.