
Alyssa kini mengerjapkan matanya, ia melihat Enzy yang sedari tadi terus menatapnya heran. Alyssa menghela nafasnya.
"Sial, gara-gara sistem nih, kan dokter nyangkanya aku nggak bisa bisu" ucap Alyssa dalam hati kesal
#Flashback beberapa detik setelah Alyssa sadar dari komanya.
"Nona, anda sadar?" ucap Enzy senang. Ia kemudian memencet tombol di samping ranjang berkali-kali.
Alyssa mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum ia memejamkan matanya sejenak karena menyesuaikan cahaya di dalam ruangan.
Enzy sangat peka, ia kemudian menghalangi cahaya dengan telapak tangannya.
"Nona" ucap Enzy dengan raut wajah bahagia, saat Alyssa membuka matanya kembali. Mulut Alyssa bergerak hendak berbicara namun tidak jadi. Justru terlihat kening Alyssa berkerut setelahnya, sebelum ia diam tidak menjawab ucapan Enzy.
Karena bersamaan dengan itu suara sistem terdengar.
[ Selamat host, anda memicu sebuah misi : Tidak berbicara maupun berekspresi selama 24 jam. Hadiah : ? ]
[ Kebetulan secara bersamaan, sistem juga mengalami upgrade selama 1x24 jam. Yang mana segala jenis pembelian, tidak bisa di lakukan selama masa upgrade ]
"Sialan, kenapa misinya mendadak seperti ini?" tanya Alyssa dalam hati
[ Menjawab host, itu sudah dari sananya. Tidak bisa di ganggu gugat ]
"Bagaimana dengan ruang penyimpanan?" tanya Alyssa lagi
[ Itu masih bisa di gunakan seperti biasa ]
#Flashback Off
...
Kini dokter Fadilah dan Dokter Nisa saling berpandangan dan mengangguk. Di tatapnya Enzy yang tengah menunggu hasil pemeriksaan Alyssa.
"Bagaimana dok? Nona baik-baik saja kan?" tanya Enzy
"Nona Enzy, sepertinya Nona Alyssa tidak bisa bicara. Penyebabnya belum kami ketahui, kami sarankan untuk sekali lagi melakukan CT Scan dan pemeriksaan pita suara. Kemungkinan ada syaraf di kepalanya yang terjepit atau masalah di tenggorokannya" ucap Dokter Fadilah
"Apa maksud anda?? Siapa yang yang syarafnya terjepit? Dan tenggorokan siapa yang sakit?" ucap Alvin yang baru masuk mengagetkan semua orang, Doni yang di belakangnya mengikuti di belakangnya.
"Tuan Alvin itu..." ucap Dr. Fadilah terpotong
"Ica, kau sudah sadar sayang?" ucap Alvin yang baru saja melihat Alyssa sedang duduk di brankar
__ADS_1
Alvin langsung menghampiri kemudian ia mendekap Alyssa dan menangis.
"Sayang, syukurlah kau sudah sadar. Aku sangat merindukanmu, hiks" ucap Alvin dengan tangis bahagianya.
Alyssa hanya membalas pelukan Alvin tanpa mengatakan sesuatu, ekspresinya pun datar saja, sangat sulit ia tahan agar tidak ikut menangis saat ini.
"Sistem sialan, sistem prik!! Menyiksaku sekali...Arrgghh" maki Alyssa dalam hati
"Sayang, Apa kamu baik-baik saja??" tanya Alvin kebingungan saat melepas pelukannya
Alyssa sama sekali tidak merespon ucapannya, bahkan ekspresi di wajahnya pun tidak ada.
"Sayang, apa kau mengingat siapa aku?" tanya Alvin takut saat ini Alyssa melupakan siapa dirinya.
Namun ia lega saat Alyssa mengangguk. Itu artinya Alyssa masih mengingatnya.
"Kenapa kamu tidak bicara? Kamu tidak apa-apa kan sayang?" tanya Alvin, dan respons Alyssa hanya diam saja. Karena jujur Alyssa tidak tahu apa yang harus ia lakukan selain diam.
"Ada apa dengan Calon istriku?" tanya Alvin menatap tajam ke kedua dokter.
GLEK!!!
Keduanya menelan salivanya takut, melihat tatapan setajam silet dari Alvin.
Alvin terkejut, hatinya merasa sakit. Ia kembali meneteskan air matanya dan melirik ke arah Alyssa dan kembali mendekapnya dengan erat.
"Tolong, lakukan pemeriksaan dan pengobatan apa saja demi kesembuhan calon istriku" ucap Alvin
"Baik" ucap Dr. Fadilah dan Dr. Nisa bersamaan.
Puk-Puk-Puk
Alyssa menepuk lengan Alvin ringan, membuat Alvin menatap Alyssa yang tengah menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Kau tidak ingin melakukan pemeriksaan?" tanya Alvin seperti tahu apa yang ingin di ucapkan Alyssa
Dan Alyssa hanya merespon dengan anggukan kepala mengiyakan.
"Tapi sayang, pemeriksaan itu perlu. Kamu pasti sembuh seperti dulu lagi sayang, aku yakin itu" ucap Alvin meyakinkan Alyssa.
"Bodoh, itu tidak perlu... Aku akan pulih lagi setelah 24 jam. Hais, dasar sistem prik, kan jadi repot sendiri nggak bisa ngomong. Mana nggak boleh ber ekspresi juga lagi" ucap Alyssa dalam hati
Alyssa menautkan kedua tangannya di dada seperti memohon dan dia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa kamu yakin?" tanya Alvin yang juga di respon anggukan kepala.
"Juga, baiklah. Dokter, tidak usah lakukan pemeriksaan" ucap Alvin pasrah
"Tapi tuan..." ucap Dokter Nisa terpotong
"Turuti saja! Aku yakin Nona pasti punya Alasan sendiri, dan aku percaya Nona akan menemukan solusinya" ucap Enzy menimpali
"Baiklah" ucap Dokter Nisa kemudian keluar dari ruangan bersama dengan Dr. Fadilah
...
Alvin saat ini menyuapinya Alyssa makan, dengan telaten dan sabar. Enzy dan Doni yang berada di ruangan itu hanya tersenyum saja seraya duduk di sofa.
Mereka berdua bersyukur Alvin masih menerima keadaan Nonanya, di tengah kekurangan yang Alyssa miliki saat ini.
"***Syukurlah, Alvin tetap menerima kondisi nona apa adanya. Aku harap keduanya tetap bersama dan bahagia. Dan semoga nona juga bisa menerima keadaannya sendiri nantinya" ucap Enzy dalam hati
"Aku senang tuan muda masih tetap mencintai Nona Alyssa dengan tulus. Setelah mengetahui kekurangan dari wanita yang ia cintai itu" ucap Doni***
...Alyssa mendengar itu, namun ia pikir yang di maksud Enzy dan Doni adalah keadaannya yang tidak bisa bicara dan ber ekspresi saat ini, bukan tentang hal lainnya....
"Ica, aku janji pada diriku sendiri. Apapun keadaannya, aku tetap cinta dan akan selalu di samping kamu. Aku tidak akan meninggalkanku apalagi mengkhianatimu karena kekuranganmu. Aku akan tetap mencintaimu, aku bahagia asalkan itu bersamamu, sayang" ucap Alvin dalam hati
Alyssa sangat bahagia mendengarkan ucapan Alvin, dia terharu. Karena Alvin tetap mencintai dirinya menerima kondisinya seperti saat ini.
Alyssa mengangkat tangannya, karena ia merasa sudah kenyang. Alvin mengerti dan meletakkan mangkuk di nakas samping ranjang, sambil tersenyum.
"Sudah kenyang Hmm?" ucap Alvin lembut, Alyssa hanya mengangguk.
"Nona, apa kau membutuhkan alat tulis untuk menyampaikan sesuatu?" ucap Enzy memberikan saran
"Astaga, kenapa aku nggak kepikiran dari tadi" ucap Alyssa
Alyssa mengangguk, Enzy pun mengambil sticky note dan bolpoin dari tasnya. Dia memang selalu membawa itu kemanapun ia pergi di tasnya, kemudian ia memberikannya ke Alyssa.
Alyssa menerimanya dan langsung menulis sesuatu
......"Aku tidak apa-apa, tidak usah khawatir. Aku hanya perlu waktu untuk memulihkan suara dan melemaskan otot wajah. Dan tolong jangan katakan pada yang lain jika aku sadar, terutama mamah. Kalian bisa mengabari mereka besok saja"📜......
Alvin dan Enzy membacanya dan hanya menganggukan kepalanya seraya tersenyum. Meskipun saat ini mereka bingung, bagaimana menjelaskan pada Alyssa tentang kebenaran jika saat ini dirinya sudah tidak bisa mengandung.
...
__ADS_1