
Saat ini Alyssa sedang berjalan seorang diri menuju gerbang depan, setelah menyelesaikan kelasnya hari ini. Ia akan ke toko buku sebelum pulang, karena dia punya tugas dari dosennya.
Dia mulai sibuk, karena jadwal kuliahnya yang sangat padat, namun Alyssa menikmatinya. Ini adalah pilihannya mengambil dua jurusan sekaligus. Bahkan otaknya pun masih sanggup menampung semuanya, tidak ada yang menyulitkan bagi dirinya.
"Alyssa.. " panggil Bryan yang berlari mendekatinya.
"Hai.. " sapa Alyssa tersenyum tipis
"Kau sudah mau pulang?" tanya Bryan
"Iya" jawab Alyssa seperti biasanya singkat padat dan jelas
"Kau tidak bawa mobil?" tanya Bryan yang di jawab anggukan kepala oleh Alyssa. "Kalau begitu biar aku antar saja bagaimana?" ajak Bryan.
Sejujurnya Bryan masih sangat sulit untuk melupakan rasa cintanya pada Alyssa, yang sudah tumbuh besar di hatinya. Namun Bryan tidak mau hanya karena perasaannya, pertemanan di antara mereka menjadi renggang.
Biarlah perasaan ini dia kubur di dalam hati, dan biarkan dia sendiri yang menanggung rasa sakitnya. Dia hanya berharap, wanita pujaannya bisa bahagia dengan pilihannya. Meskipun pilihan itu bukanlah dirinya, dia mencoba untuk ikhlas.
"Boleh, tolong antar aku ke perpustakaan pusat kota" ucap Alyssa
"Tentu!" balas Bryan dengan senang hati.
Mereka kemudian berjalan beriringan, menuju mobil Bryan di area parkir.
Alyssa tahu jika Bryan adalah pria yang sangat baik, dan dia tidak memiliki niat jahat pada dirinya ataupun pada hubungan antara dirinya dan Alvin.
Juga tidak ada masalah dia memiliki pertemanan dengan Bryan, meskipun ia tahu jika Bryan menyimpan perasaan lebih untuknya. Namun ia mengacungi jempolnya pada pria di sampingnya, karena dia mampu menekan ego dan perasaannya, hanya untuk mempertahankan hubungan pertemanan mereka.
Bryan setia menemani dan ikut mencari buku yang saat ini Alyssa butuhkan untuk tugasnya. Setelah mencari sekitar hampir setengah jam, Alyssa menemukan buku yang ia butuhkan dan ia juga membeli beberapa buku referensi lainnya.
Meskipun sebenarnya dia tidak membutuhkan itu semua, karena ia punya sistem yang mahakuasa. Namun saat di kampus, ia harus menjadi mahasiswi normal seperti yang lainnya.
"Sudah ketemu?" tanya Bryan
"Hmm sudah" ucap Alyssa
__ADS_1
Mereka kemudian pergi ke kasir untuk membayar. Awalnya Bryan ngin sekali membayar buku-buku itu, namun ia menghalau dirinya sendiri untuk tidak melakukannya. Bukan karena dia pelit untuk mengeluarkan beberapa lembar uang, dia hanya tidak ingin di cap yang tidak-tidak. Jadi dia hanya membiarkan Alyssa membayar bukunya sendiri.
Alyssa pun sama, dia merasa bersyukur Bryan tidak membayar buku yang ingin dia beli. Jika iya, dirinya akan merasa canggung kedepannya. Untungnya Bryan memahami itu semua.
"Ayo pulang, sudah sore!" ucap Bryan melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.
"Ya, ayo" ucap Alyssa yang mengikuti Bryan menuju Mobilnya.
Ring! Ring! Ring!
Telepon Alyssa berbunyi, dari nomor yang tidak ia ketahui.
"Halo, maaf ini siapa?" ucap Alyssa begitu menekan jawab di layar HP nya.
"Halo, Selamat siang. Apa benar ini nomer Nona Alyssa?" tanya balik seorang pria di seberang telepon.
"Siang, Ya saya sendiri" ucap Alyssa
"Perkenalkan nama saya Guntur, Kepala sekolah Penabur Internasional School. Maaf sebelumnya baru menyapa anda nona Alyssa dan salam kenal." ucap Guntur
"Ah, sebenarnya saya hanya ingin memberitahukan sesuatu pada anda, Nona. Jika siang tadi ada seorang pria paruh baya yang datang ke sekolah. Dia menanyakan soal Adik anda, Dion. Dia datang dan mengaku sebagai pamannya. Dia juga menanyakan alamat dan nomer telepon anda" ucap Guntur
"Hmm, terus apa yang anda jawab?" ucap Alyssa
"Tentu saja saya tidak memberikan informasi yang dia minta. Sesuai arahan dari Nona Enzy belum lama ini" ucap Guntur
"Kerja bagus..." ucap Alyssa tersenyum puas
"Terimakasih atas pujiannya nona" ucap Guntur bangga.
"Oh iya Nona, berkas siswi bernama Tiara Dewi Lunardi, sudah kami proses. Dia sudah bisa mulai sekolah di sini besok lusa. Untuk seragam baru, saya sudah menitipkannya lewat Dion siang tadi" ucap Guntur lagi
"Terimakasih atas bantuannya Pak Guntur" ucap Alvin tulus
"Sama-sama nona, senang bisa membantu anda" ucap Guntur.
__ADS_1
Bryan menoleh sebentar ke arah Alyssa, dia penasaran apa yang di bicarakan di telepon. Namun ia tidak berkepentingan dan juga tidak memiliki hak untuk bertanya tentang urusan orang lain, jadi dia hanya diam saja.
Setelah mengetahui kediaman Alyssa di Mansion King's Village no.1, Bryan begitu syok. Dia tersenyum kecut, dia merasa jarak antara dirinya dan Alyssa benar-benar sangat jauh dan tidak mungkin ia gapai. Ia merasa keputusan yang sangat tepat saat ia menyerah akan cintanya pada Alyssa.
...¤...
Hanin saat ini tengah jalan berdua dengan Kenan, setelah beberapa saat lalu Kenan menjemputnya di sekolah. Dia menikmati momen berdua, jalan di AKM Mall sembari bergandengan tangan mesra, seperti pasangan kekasih pada umumnya.
"Tante Hanin..!!!" Teriak Rindu yang melihat Hanin lewat di depannya.
Hanin yang merasa di panggil oleh suara yang sangat akrab, menoleh. Dia terkejut sekaligus senang melihat Rindu. Bocah kecil menggemaskan yang sudah lama tidak ia temui, semenjak ia memilih untuk berhubungan dengan Kenan, Hanin juga memutuskan kontak dengan Raffi saat itu juga.
"Hai cantik, ko kamu sendirian" ucap Hanin lembut dan berjongkok menyamakan tingginya dengan anak itu.
"Rindu lagi sama papah. Tuh papah ada di sana" tunjuk Rindu ke arah Raffi yang sedang mengobrol dengan seorang pria paruh baya.
Rindu kemudian menarik tangan Hanin menuju ke arah Papahnya berada, Hanin menoleh ke arah Kenan. Kenan hanya tersenyum dan mengangguk. Hanin pun jadi lega dan mengikuti Rindu yang berjalan dengan terus menarik tangan Hanin.
"Papah, lihat siapa yang Rindu bawa" panggil Rindu sambil berteriak senang.
Raffi menoleh ke arah putrinya, seketika dia terkejut melihat Hanin, wanita yang sangat ia cintai sendang berjalan di gandeng putrinya.
Jantung Raffi berdegub kencang melihat Hanin yang semakin terlihat cantik, setelah beberapa bulan tidak bertemu.
"Hanin..." ucap Raffi tersenyum sangat senang
Kenan yang melihat itu Sejujurnya cemburu dan gelisah, ia takut hati Hanin akan goyah setelah bertemu dengan mantan kekasihnya itu. Ia menoleh ke arah Hanin melihat Ekspresi wajah kekasihnya itu.
"Hai Raf, apa kabar?" ucap Hanin dengan raut wajah biasa saja, tidak ada ekspresi kebahagiaan juga tidak ada ada ekspresi kebencian. Hanya datar dan biasa saja, itu membuat Kenan bernafas lega. Dan dia percaya Hanin akan menjaga hati dan perasaannya untuknya.
"Baik, kamu sendiri sehat? Kamu sama siapa ke sini?" ucap Raffi masih dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Namun senyum itu seketika luntur saat ia melihat Kenan berada tidak jauh dari mereka, dan melangkah menuju ke arah Hanin.
"Apa Hanin datang bersama Kenan??" Gumam Raffi dalam hati, dia sangat cemburu. Dia merasakan perasaan takut kehilangan Hanin sangat kuat, saat melihat Kenan ada di sana juga.
__ADS_1