
Alyssa hari ini berangkat ke kantor, karena dia hanya ada kelas jam 2 siang nanti. Jadi dia pergi ke perusahaan untuk mengecek pekerjaan yang sudah cukup lama ia tinggalkan.
Di mobil milik Enzy, Alyssa masuk dan duduk di depan. Enzy yang melihatnya hanya tersenyum saja, karena dia sudah terbiasa dengan sikap Nonanya, yang tidak pernah menganggap dirinya bawahannya jika sedang di luar pekerjaan.
"Enzy, aku ingin mengatakan sesuatu padamu" ucap Alyssa
"Tentang apa Nona?" Tanya Enzy
"Tentang pamanmu" ucap Alyssa
Enzy kaget, namun dirinya masih bisa mengontrol emosinya, saat Alyssa membahas tentang orang yang paling dia benci itu.
"Kenapa dengan bajingan itu?" tanya Enzy yang masih menahan emosinya saat berbicara
Alyssa juga menyadari itu, jika Enzy merasa kurang nyaman karena menyebut orang yang paling dia benci di hidupnya itu.
"Dia sepertinya mengetahui jika Dion sekolah di Penabur internasional School. Dia kemarin datang dan bertanya tentang alamat rumahku dan juga nomer teleponku pada kepala sekolah" ucap Alyssa
"Lalu apa kepala sekolah memberi tahu apa yang dia mau nona?" tanya Enzy dengan tangan mengepal
"Tidak, kau tenang saja, kepala sekolah tidak memberikan informasi apapun mengenai kita. Lalu apa yang ingin kamu lakukan pada perusahaan orang tuamu, saat membalaskan dendam pada bajingan itu?" ucap Alyssa
"Entahlah Nona, mungkin saya akan menyerahkan perusahaan orang tuaku pada Nona saja, pastinya akan lebih maju." ucap Enzy
"Ha-ha-ha kau lucu sekali. Bagaimana bisa, aku mengelolanya dengan baik? Sedangkan perusahaanku sendiri saja, bisa maju seperti ini karena tangan emas kalian, terutama kamu yang berperan sangat penting di sana" ucap Alyssa jujur
Yang di pikiran Enzy justru kebalikannya, dia percaya jika Nonanya ini adalah jenius bisnis di usianya yang sangat muda. Sedangkan dia hanya menjalankan perusahaan ketika Nonanya sudah mengakuisisi banyak perusahaan besar.
"Ini, kamu simpanlah baik-baik. Di dalamnya terdapat semua bukti kejahatan bajingan itu, kamu bisa menjatuhkannya kapanpun kau mau" ucap Alyssa
"Terimakasih nona" ucap Enzy mengambil flashdisk dari tangan Alyssa, dan menggenggam erat benda kecil itu.
"Tidak perlu berterima kasih, itu kewajibanku membantu orang paling berharga di hidupku. Bagiku, kau sangat berharga Enzy. Kau adalah tangan kanan sekaligus kakakku yang paling cantik dan aku percayai. Aku juga ingin kamu bahagia kedepannya" ucap Alyssa tulus
"Nona..." ucap Enzy berkaca-kaca
...¤...
Azka sedang mengemudikan mobilnya, dia menggenggam erat tangan kekasihnya, sesekali ia membawa tangan mungil itu untuk ia kecup.
Ayu yang melihat perlakuan Azka hanya tersenyum simpul. Dia merasa bahagia dan ia juga bersyukur memiliki Azka dalam hidupnya, sekarang. Namun kadang ia juga sangat takut secara bersamaan, takut akan di tinggalkan karrna banyak yang lebih baik dari dirinya.
__ADS_1
"Apa kau sudah menyelesaikan skripsimu, Hon?" tanya Azka
"Sebentar lagi selesai, hanya tinggal Bab terakhir" ucap Ayu tersenyum
"Syukurlah, senang mendengarnya" ucap Azka yang juga tersenyum manis.
Mereka berdua kemudian sampai di area parkir perusahaan setelah beberapa saat. Azka dan Ayu tidak berjalan bersamaan. Ayu keluar terlebih dahulu setelah beberapa lama di susul Azka yang turun juga dari mobil.
Azka harus pasrah dan mengikuti keinginan kekasih hatinya itu, karena Ayu tidak ingin karyawan lain tahu jika mereka memiliki hubungan.
"Sampai kapan kita sembunyi-sembunyi seperti ini, Honey" gumam Azka dalam hati.
Azka berjalan menuju ruangan adiknya, di depan ruangan Alyssa, ia melihat kekasih tercintanya sedang sibuk di meja kerjanya.
Ingin sekali ia menyapanya dengan penuh cinta dan mengumumkan pada dunia, jika wanita yang tengah ia pandangi itu adalah calon istri masa depannya.
"Apa Nona Alyssa ada di dalam?" tanya Azka dengan bahasa formalnya.
"Ada tuan, Nona sudah menunggu anda, silahkan masuk!" jawab Ayu dengan sopan.
Azka hanya menghela nafasnya, ia tidak ingin berinteraksi seperti ini dengan Ayu, namun ia juga harus profesional dalam bekerja.
Pintu kerja Alyssa ia buka dengan pelan, dapat Azka lihat, adiknya sedang berkutat dengan dokumen yang lumayan menumpuk di depannya, karena sudah beberapa hari tidak ia kerjakan, karena sibuk kuliah.
"Duduk dulu Kak, aku selesaikan ini sebentar" ucap Alyssa
Azka menurut dan duduk dengan tenang di sofa panjang, di ruangan adik sekaligus atasannya itu. Ayu pun datang memberikan kopi yang ia letakan di meja tamu.
"Terimakasih calon istriku" ucap Azka di telinga Ayu yang memerah karena malu dan bergegas keluar.
Alyssa mendengar bisikan cinta Kakak pada calon kakak iparnya itu, karena ia memiliki pendengaran yang tajam. Alyssa hanya tersenyum saja mendengarnya.
Setelah beberapa saat Alyssa berjalan menghampiri kakaknya dan duduk di kursi tunggal di sana.
"Apa yang ingin kamu bicarakan dek?" tanya Azka
"Masalah mamah dan Noah" ucap Alyssa yang membuat Azka terkejut.
"Apa kau sudah tahu?" tanya Azka
"Ya, beberapa hari yang lalu, Noah datang ke kantor Alvin kebetulan aku ada di sana saat itu. Dia bilang padaku, jika dia menyukai mamah, dan meminta izin untuk mendekati mamah" ucap Alyssa
__ADS_1
"Lalu kau izinkan?" tanya Azka nada menyelidik
"Aku tahu jika dia tulus, jadi aku tidak masalah dengan itu. Tapi aku juga bilang padanya jika itu terserah pada keputusan mamah, aku sebagai anak hanya mengikuti dan mendukung apapun yang terbaik untuknya" ucap Alyssa
"Tapi dia seumuran dengan kakak dek, itu hanya perasaan sesaat dia saja. Karena penampilan mamah yang sangat cantik dan terlihat muda" ucap Azka tidak suka
"Lalu apa kakak akan menentang hubungan mereka?" tanya Alyssa
"Enyahlah, kakak rasa, itu hanya perasaan sepihak. Mamah bahkan bilang jika dia tidak memiliki perasaan khusus dengannya" ucap Azka.
"Lalu, jika seandainya mamah mencoba membuka hati dan jika kedepannya mamah mencintai Noah. Apa tanggapan kakak?" ucap Alyssa
"Kakak tidak tahu" ucap Azka
"Kak, mamah juga pantas bahagia. Mungkin saja Noah itu jodoh mamah. Meskipun umur mereka sangat jauh, tapi orang yang melihat jika mereka berdua jalan, pasti mengira mereka pasangan yang cocok. Bahkan mamah terlihat lebih muda dari Noah" ucap Alyssa
"Kakak tidak tahu, dek" ucap Azka lagi, dia memang tidak tahu harus berkata apa.
Dia memang terkesan dengan keberanian Noah. Namun ia juga khawatir, bagaimana pun umur keduanya terpaut sangat jauh. Dia tidak ingin mamahnya terluka lagi nantinya.
"Semisal Aku dan mamah tidak menyetujui hubungan kakak dengan Ayu, apa yang akan kakak lakukan? Atau sebaliknya, orang tua Ayu tidak menyetujui. Apa yang akan kakak lakukan?" Tanya Alyssa
"Tentu saja aku akan terus memperjuangkan Ayu, aku hanya berusaha untuk meluluhkan hati kalian atau orang tua Ayu, dan membuktikan cintaku yang tulus padanya, hingga kita bisa bersama." ucap Azka
"Nah itu kakak tahu, sama halnya dengan Noah. Yang saat ini sedang berjuang mendapatkan cinta mamah, dan juga memenangkan hati anak dari wanita yang ia cintai" ucap Alyssa
"Tapi jelas beda dek. Umur mereka terpaut sangat jauh" ucap Azka kekeh
"Cinta tidak memandang usia Kak. Kakak lihat, mantan suami mamah yang umurnya sama atau bahkan lebih tua dari mamah, apa yang dia lakukan pada mamah kita? Menyakitinya bukan? Bahkan trauma itu masih ada. Kita tidak bisa mengukur tingkat kedewasaan pola pikir seseorang, hanya dari umurnya. Apa salahnya kita memberikan kesempatan untuk Noah, memperjuangkan cintanya pada mamah. Mungkin saja Noah adalah orang yang Tuhan kirim untuk menyembuhkan luka di hati mamah dan membuatnya bahagia" ucap Alyssa
Azka terdiam dan mencerna ucapan Alyssa, memang benar apa yang di katakan adiknya itu.
"Baiklah aku mencoba menerimanya, tapi aku tidak akan membiarkan dia mendapatkan mamah dengan mudah. Aku ingin lihat seberapa besar perjuangannya" ucap Azka
"Itu lebih baik" ucap Alyssa tersenyum
"Tapi bagaimana tanggapan keluarga Noah, setelah tahu Usia sebenarnya dari mamah?" tanya Azka
"Noah pasti bisa mengatasi hal itu, jika dia tidak bisa. Maka dia tidak layak mendapatkan berlian seperti mamah kita. Lagian itu pun jika Noah berhasil mendapatkan hati mamah. Jika tidak? Ya wasalam, kita tidak bisa memaksakan perihal hati manusia" ucap Alyssa tegas
Azka mengangguk dan setuju dengan pendapat adiknya. Dia harap mamahnya bisa bahagia dengan pilihan yang akan dia buat nanti.
__ADS_1