
Alvin makan dengan santai, meskipun dengan terpaksa. Namun ia ingin terlihat alami dan mencurigakan.
Lagi pula makanan yang di beli larasati, adalah makanan dari Wareg Resto. Yang mana itu merupakan salah satu usaha milik Alyssa.
"Makanannya enak" puji Alvin
"Benarkah? syukurlah kalau kakak suka" ucap Larasati tersenyum lebar
"Sepertinya aku harus jadi langganan restoran itu, karena makanan di sana sesuai selera Alvin" gumam Larasati dalam hati.
"Kak, boleh Larasati tanya sesuatu?" ucap Larasati, Alvin mengangguk.
"Apa benar, kakak sekarang sudah memiliki kekasih, yang mana wanita itu adalah pemilik AL Group?" ucap Larasati pelan
Alvin terdiam sebentar dan mengangguk setelahnya.
"Apa kakak mencintainya?" tanya Larasati lagi
"Hmm" ucap Alvin berdeham dan mengangguk dengan pelan
Namun di mata Larasati, jawaban Alvin yang seakan ragu seperti karena terpaksa. Membuat Larasati tersenyum tipis. Ia yakin jika Alvin tidak memiliki rasa cinta yang besar pada Alyssa.
"Aku sedih, jujur aku kecewa kak. Kakak tahu bukan, jika Laras mencintai kakak" ucap Larasati dengan raut wajah sedihnya
"Maaf... " ucap Alvin dengan raut wajah sendu yang di buat-buat, dalam hati ia jijik karena harus bersikap pura-pura lembut dan peduli.
Lagi-lagi Larasati mengira jika Alvin menyesal karena memiliki hubungan dengan Alyssa, jadi ia bertekat untuk membuat Alvin jatuh cinta padanya. Terlebih seorang Alvin sudah peduli padanya.
"Tidak apa-apa, Laras senang jika kak Alvin bahagia. Yang terpenting adalah kakak bahagia, itu lebih dari cukup buat laras" ucap Laras mengusap air matanya palsunya.
"Jangan menangis" ucap Alvin memandang Laras dengan tatapan tidak berdaya.
"Nggak kok, ini adalah air mata bahagia" ucap Larasati tersenyum.
"Seandainya kau tidak kabur saat itu, mungkin aku lebih memilih kamu untuk menjadi istriku laras" Gumam Alvin, yang di sengaja agar Laras bisa mendengarnya.
"Kakak tadi bilang apa?" ucap Larasati terkejut dan ingin memastikan.
"Ah, kakak tidak bilang apa-apa" ucap Alvin tersenyum
Dag! Dig! Dug!
__ADS_1
Jantung Larasati berdetak, ia tidak salah dengar, jika dulu Alvin menginginkan dia menjadi istrinya. Dan pula Alvin tersenyum padanya, ia kenal betul Alvin yang sangat dingin dan tidak pernah tersenyum padanya begitu lembut.
"Sial, tahu begitu aku tidak akan kabur. Mungkin sekarang aku sudah jadi istri Alvin dan hidup bahagia. Astaga Alvin tersenyum padaku, mungkin Alvin memang memiliki perasaan suka padaku" ucap Larasati dalam hati senang tiada tara.
...
Di kota M, Alyssa memperhatikan video yang di kirim Aras melalui HP-nya. Ia melihat pertemuan antara Larasati dan tunangannya, Alvin.
Alyssa tersenyum kecut, walaupun itu hanya drama kebohongan, tapi entah mengapa hatinya terasa sakit. Namun ia juga lega karena Alvin tidak membiarkan wanita itu menyentuhnya, sesuai janjinya.
Rayhan sudah di perbolehkan untuk pulang, namun Alyssa tidak membawanya ke panti, melainkan membawanya ke apartemen miliknya.
Bu Titik juga ikut ke sana sementara, karena besok rencananya Alyssa akan membawa Rayhan ke Ibukota.
"Benarkah itu nak?" ucap Bu Titik terkejut, saat Alyssa mengatakan sesuatu tentang Rayhan.
"Benar bu, dan Ica punya buktinya. Agar Ray aman, biarkan dia ikut Alyssa besok ke ibukota" ucap Alyssa
"Lalu bagaimana dengan sekolahnya? Terus ia akan tinggal di mana?" tanya Bu Titik.
"Ibu tidak usah khawatir, Ica akan urus semuanya. Rayhan bisa sekolah di sekolah milik Ica, dan tinggal bersama ica di sana. Bukannya Rayhan juga ingin kuliah di ibukota, tahun depan?" ucap Alyssa
"Baiklah, ibu setuju. Apa yang terbaik untuk anak-anak asuh ibu, ibu akan mendukungnya" ucap Bu Titik.
"Sudah kewajiban ibu, nak" ucap Bu Titik membalas pelukan Alyssa.
..._¤_...
Keesokan harinya, Alyssa dan Rayhan sudah bersiap-siap berangkat ke Ibukota. Mereka pamit dengan Bu Titik namun tidak dengan penghuni panti yang lain.
Alyssa sudah memberitahu bu Titik, Jika ada yang menanyakan perihal Rayhan, jawabannya adalah tidak tahu. Dan Bu Titik berjanji tidak akan memberitahu siapapun, sampai situasi tentang kejadian kecelakaan Rayhan yang di sengaja, sudah mereda.
Bagaimana pun ini semua demi kebaikan bersama.
"Wooaahh, jadi begini rasanya naik pesawat" ucap Rayhan saat ia sudah berada di dalam pesawat dan sudah take off.
Alyssa hanya tersenyum saja, beruntung ia berada di kabin kelas 1. Dan di sana hanya ada beberapa orang dengan jarak yang cukup jauh, jadi tidak ada yang mendengar ucapan Rayhan. Kalau tidak, mungkin jika nanti Rayhan sudah dewasa dan mengerti, ia akan merasakan malu jika mengingatnya.
"Apa kamu senang ikut kakak ke ibukota?" tanya Alyssa
"Tentu, aku ingin bersama Kak Ica, kakak tahu bukan jika kak Ica adalah panutan Ray. Ray ingin suatu saat nanti Ray bisa sesukses Kak Ica" ucap Rayhan berbinar.
__ADS_1
"Tentu, kau pasti bisa. Mungkin nanti kau bisa lebih sukses dari pada kakak" ucap Alyssa tersenyum menyemangati.
"Kak, aku dengar kakak sudah bertunangan" ucap Rayhan, Alyssa hanya mengangguk.
"Woah, aku penasaran seperti apa pria yang bisa menaklukkan wanita hebat seperti kakak" ucap Rayhan penasaran
"Kakak akan mengenalkannya padamu nanti" ucap Alyssa, Rayhan mengangguk antusias.
...
Alvin berada di kantornya, ia menerima pesan jika Alyssa sedang dalam perjalanan menuju ibukota siang ini, dan membawa Rayhan bersamanya.
Tentu saja Alvin merasa senang, wanitanya pulang. Karena ia sudah sangat merindukan Alyssa. Untuk Rayhan, Alyssa sudah menceritakan semuanya, jadi ia tahu jika Rayhan sudah seperti adik Alyssa, dan akan ia anggapnya adik juga kelak.
"Kak, ayo makan. Laras sudah membawakan makan siang untuk kakak" ucap Larasati.
Di dalam hati, Alvin mendengus kesal. Karena wanita di depannya seperti cicak yang mengikutinya kemanapun sejak kemarin.
Bahkan banyak karyawan bergunjing, dan bertanya-tanya mengenai hubungan apa Alvin dan Larasati. Karena yang mereka melihat, Larasati mengikuti kemanapun Alvin pergi.
"Siapa wanita itu? Kelihatan dekat sekali dengan Pak Alvin"
"Jangan-jangan ia wanitanya Pak Alvin. Bagaimana hubungan Pak Alvin dengan Bu Alyssa? Apa mereka Putus?"
"Wah jangan-jangan benar, Pak Alvin putus dengan Bu Alyssa. Karena sudah dua hari ini Bu Alyssa tidak kelihatan ke kantor Pak Alvin"
"Benar, apa mungkin karena kehadiran wanita itu ya? Wah pelakor dong?"
"Cih wanita pelakor itu tidak ada apa-apanya di banding bu Alyssa. Jelas bu Alyssa lebih dari dirinya dari segi manapun"
"Tapi Pak Alvin juga biasa saja jalan bersama wanita itu, tidak seperti biasanya. Bukannya Pak Alvin suka menolak dengan tegas, jika di dekati wanita selain Bu Alyssa?"
"Kau benar. Dan mungkin saja wanita itu memiliki tempat sendiri di hati pak Alvin"
Begitu desas desus yang beredar di perusahaan, hingga sampai di telinga Sandra. Jelas Sandra yang tidak tahu menahu mengenai rencana Alyssa, geram dan marah.
Ia pikir pembicaraannya dengan Alvin saat itu, mengira anaknya sudah terbuka jalan pikirannya mengenai Larasati. Tapi apa yang ia dengar kali ini membuatnya marah.
Jika benar desas desus mengenai hubungan putranya dengan Alyssa renggang bahkan putus. Ia tentu sangat marah dan akan membenci putranya, karena menyakiti menantu kesayangannya.
Sandra juga akan memberikan pelajaran pada Larasati, Jika semua itu benar. Ia tidak peduli jika Alvin akan marah padanya nanti, saat ia menyentuh Larasati.
__ADS_1
...