Sistem Dewi

Sistem Dewi
Perasaan Ibra


__ADS_3

Alyssa saat ini melihat semuanya melalui video yang di kirimkan Aras. Bibirnya menyungging saat rencananya berjalan lancar, namun tak lama ia menepuk kepalanya saat melihat respon calon mertua, Sandra.


Tak mau terjadi kesalahan pahaman, Alyssa langsung menelepon Sandra dan memintanya untuk ketemuan.


Sandra yang melihat calon menantu kesayangannya ingin bertemu, tentu langsung menyetujuinya.


Dan saat ini mereka berdua berada di Wareg resto. Keduanya sangat akrab sudah seperti kakak beradik, karena Sandra sudah mengkonsumsi pil kecantikan sebelumnya dari Alyssa, jadi terlihat seperti gadis muda.


Alyssa langsung mengatakan rencananya dengan Alvin untuk Larasati, agar Sandra tidak salah paham dan mengacaukan rencana mereka.


Sandra awalnya terkejut, kemudian ia manggut-manggut mengerti dengan penjelasan Alyssa.


"Jadi begitu? Ah, hampir aja mamah labrak tuh wanita sundal, jika kau tidak mengatakannya terlebih dahulu" ucap Sandra


"Maaf mah, Ica baru mengatakannya sekarang" ucap Alyssa


"Tidak apa-apa sayang, justru mamah yang minta maaf, karena hampir merusak rencana kalian. Oh iya, kapan rencana selanjutnya?" ucap Sandra


"Nanti malam mah" ucap Alyssa menyunggingkan senyumnya.


...


Setelah pertemuan dengan sang calon mertua, Alyssa langsung kembali ke kediamannya. Merebahkan dirinya dan matanya menerawang ke langit-langit kamar.


Hari sudah memasuki malam, ia sudah mengurus semua pindahan sekolah Rayhan, yang mulai besok akan bersekolah di penabur internasional School.


"Tama" panggil Alyssa pelan


"Saya nona" ucap Tama yang berada di sampingnya.


"Kamu sudah seperti hantu saja" ucap Alyssa terkekeh


"...."


"Bisakah aku minta tolong" ucap Alyssa


"Silahkan beri perintah, Nona" ucap Tama


"Buat Ibra meminum obat ini" ucap Alyssa tanpa basa-basi


"Baik nona" ucap Tama masih berada di sana, belum menghilang seperti biasanya.


"Kenapa kau masih di sini? Biasanya Udah langsung ngilang" ucap Alyssa mengulum senyum


"...." Tama hanya diam.


"Pergilah, jalankan tugasmu sekarang" ucap Alyssa


Tama mengangangguk dan kemudian menghilang.


Tak lama bunyi sistem terdengar.


[ Selamat Host, anda memicu sebuah misi. Memberikan pelajaran dan sanksi hukuman pada orang-orang yang berniat jahat pada Rayhan. Hadiah : ? ]

__ADS_1


"Huh, tanpa di suruh pun. Aku akan memberikan pelajaran untuk orang yang berani menyentuh adik kesayanganku" ucap Alyssa dalam hati.


...


Perumahan tempat tinggal Ibra.


Ibra duduk di ruang tamu, ia memandang pintu masuk rumahnya berkali-kali. Sudah larut malam, namun Larasati belum juga pulang, ia sangat khawatir.


Banyak pertanyaan dalam benaknya saat ini, mengapa beberapa hari belakangan Larasati jarang sekali di rumah.


"Dia belum pulang? Kemana dia? Apa dia sudah di terima kerja? Tapi kenapa tidak memberitahuku?" Gumam Ibra


Ibra merasa khawatir, bagaimna pun Larasati adalah wanita yang ia cintai, terlepas dari permintaannya dulu agar mendekati Alvin untuk membalas rasa iri dengki di hatinya.


Ceklek!


Pintu terbuka dari luar, Larasati masuk dengan wajah bahagianya, karena beberapa hari ini, Alvin sering menunjukkan semacam kode, jika laki-laki itu mencintainya.


Tanpa ia sadari jika Ibra memperhatikannya sejak ia masuk dan senyum-senyum sendiri saat ini.


"Sepertinya kau sedang bahagia, sayang" ucap Ibra mengagetkannya.


"Ah, sayang. Kau belum tidur?" ucap Larasati mengalihkan pembicaraan


"Kau belum menjawab pertanyaanku, kau senang kenapa? Dan dari mana saja kau jam segini baru pulang?" ucap Ibra penuh selidik.


"Tentu saja aku pulang menjalankan misi dari kamu, aku senang karena salah satu rencana kita akan berhasil" ucap Larasati


"Apa yang berhasil?" ucap Ibra mengangkat sebelah alisnya


"Benarkah?" ucap Ibra


"Tentu saja sayang, bagaimana untuk merayakannya. Aku buat kau mengerang kenikmatan malam ini" ucap Larasati sambil memainkan tangannya abstrak di dada laki-laki itu.


Ibra mengeram, dan menikmati sentuhan Larasati. Ia terbuai dan terjadilah pergulatan panas malam itu.


Namun tanpa mereka sadari, ada sosok yang mengawasi mereka berdua sejak tadi.


Setelah lelah bermain kuda-kuda an, mereka pun akhirnya tertidur nyenyak. Sekelebat bayangan muncul tiba-tiba di samping Ibra berbaring.


Bayangan itu adalah Tama, ia membuka mulut Ibra, dan menotok titik tubuhnya. Hingga obat yang di masukan segera tertelan olehnya.


"Tugas berhasil" Gumam Tama pelan kemudian menghilang kembali.


...


Pagi harinya, Larasati terkejut mendapati Ibra yang tidak bisa bergerak maupun berbicara. Ia kemudian menelepon ambulans dan membawanya ke rumah sakit segera.


Larasati mondar mandir di depan pintu pemeriksaan. Ia bertanya-tanya, apa gerangan yang membuat Ibra bisa seperti itu.


Tak lama pintu terbuka dan dokter pun muncul.


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Larasati.

__ADS_1


"Anda siapanya pasien?" tanya dokter


"Saya adiknya" ucap Larasati mengaku sebagai adiknya


"Kalau begitu ikut saya ke ruangan, ada beberapa kabar yang harus saya sampaikan pada anda" ucap Dokter


Larasati mengikuti dokter masuk ke sebuah ruangan. Di sana ia duduk di depan meja dokter yang menangani Ibra.


"Apa yang terjadi Dok?" tanya Larasati


"Sepertinya kakak anda mengalami kelumpuhan sistem syaraf di semua organ tubuhnya secara permanen" ucap Dokter


"Apa??!!!" ucap Larasati terkejut.


"Kondisi pasien saat ini hampir sama dengan mayat hidup, karena tidak bisa bicara dan bergerak" ucap Dokter lagi


"Kok bisa? Tadi malam dia baik-baik saja dok" ucap Larasati terkejut.


"Saya belum menemukan penyebab pasti, kenapa ini semua bisa terjadi. Kasus ini pernah terjadi sebelumnya di kota M, tapi tidak ada dokter yang bisa mengobatinya" ucap Dokter


Larasati menghela nafasnya, ia kembali ke ruangan Ibra yang tengah berbisik saat ini menatapnya. Larasati menatap lekat manik kekasihnya itu.


"Cih, tiba-tiba ia lumpuh. Dia sudah tidak lagi berguna buatku, buat apa aku pertahanin" ucap Larasati dalam hati.


Ibra mengedipkan matanya beberapa kali, Larasati berdecak keras. Ia tidak menutupi sifat aslinya lagi. Ia memandang jijik laki-laki di depannya yang terbaring lemah.


Tiba-tiba HP-nya berdering. Di liatnya nama Alvin terpampang di sana. Raut wajah Larasati berubah sepat begitu ceria dan hangat.


"Halo kak" ucap Larasati lembut


"...."


"Aku ada di kontrakan, Hmm aku lagi masak buat kakak" ucap Larasati berbohong


"...."


"Iya sa-sayang, aku ke sana sebentar lagi. Tunggu aku" ucap Larasati lagi


Setelah telepon di tutup, Larasati tersenyum bahagia. Karena yang meneleponnya adalah Alvin. Bahkan Alvin tak malu-malu lagi memanggilnya dengan sebutan sayang barusan.


Larasati melirik sekilas Ibra, ia tersenyum miring. Karena Ibra sekarang sudah tidak berguna lagi baginya, maka ia kan membuangnya dan fokus dengan Alvin yang akan menjadi prioritasnya. Pikir Larasati


Melihat Ibra mengedipkan matanya, Larasati tersenyum tipis dan mendekatinya.


"Ibra sayang, maaf yah. Mulai saat ini, aku tidak jadi mengurusmu, apalagi dalam kondisi kamu yang saat ini lumpuh total. Yang pastinya hanya akan menjadi beban saja buat ku. Tapi syukur deh, dengan begitu aku bisa lepas darimu dengan mudah, sayang" ucap Larasati, Ibra melotot terkejut.


"Ah, aku lupa mengatakannya hal penting lainnya padamu. Asal kau tahu, aku tidak benar-benar mencintai kamu, pria bodoh. Dan kau tahu? Pria yang sangat aku cintai itu adalah ALVIN!" ucap Larasati tidak lagi pura-pura


"Aku awalnya ingin mengikuti rencanamu, hanya saja dengan akhir yang berbeda. Bukan Alvin yang mati, tapi KAMU!! Aku ingin sekali membunuhmu sekarang, tapi melihat kondisi kamu saat ini, aku berbaik hati melepaskanmu. Karena tanpa aku bunuh sekalipun, kamu akan mati juga, karena merasakan nikmatnya lumpuh seumur hidup" ucap Larasati pedas kemudian ia melangkah pergi keluar dari ruangan.


Air mata Ibra menetes, jantung nya berdebar cepat karena marah, hatinya sangat sakit. Fakta ini menyakiti hatinya, wanita yang ia cintai, tega membuang dan menyakiti hatinya saat dirinya dalam kondisi terpuruk.


..._¤_...

__ADS_1


Maaf up satu bab dulu, Author masih sibuk saat ini ☺🙏


__ADS_2