
Kedatangan Alyssa di sambut hangat oleh Siswanto, Direktur cabang Health Hospital Kota M. Siswanto menunjukkan kamar rawat inap Bu Titik yang berada di ruangan VVIP nomor 2.
Alyssa masuk ke dalam kamar perawatan Bu Titik. Bu Titik yang melihat Alyssa datang tersenyum ringan dan tulus.
"Ica, pasti kau yang membawa ibu ke sini kan?" ucap Bu Titik menatap manik anak asinnya itu
"Iya bu" ucap Alyssa duduk di kursi samping ranjang dan memegang tangan Bu Titik
"Di sini biaya perawatan mahal, ibu pulang saja, ya. Sebaiknya uangnya kamu simpan atau di berikan pada adik-adik kamu di panti yang jauh lebih membutuhkannya. Masa depan mereka masih panjang. Mereka butuh tempat tinggal, makan dan pendidikan yang layak" ucap Bu Titik menangis mengingat kondisi anak asinnya yang terlunta-lunta.
"Bu Titik tidak usah khawatir masalah biaya rumah sakit. Biar Ica yang urus semuanya. Dan masalah panti, Ibu juga jangan banyak pikiran. Alyssa sudah memberikan mereka tempat tinggal yang baru dan layak. Jadi Ibu tidak usah khawatir di mana mereka tinggal, masalah Makan, dan pendidikan mereka. Semuanya sudah Ica urus" ucap Alyssa
"Benarkah?" ucap Bu Titik menangis haru mendengar ucapan Alyssa
"Ya Tuhan, terimakasih atas pertolongan Mu. Akhirnya anak-anak tidak terlunta-lunta di jalan, dan memiliki tempat tinggal. Terimakasih sudah mengirim kami malaikat penolong dalam diri Ica, anak asuh kesayanganku" ucap Bu Titik dalam hati, Alyssa tersenyum mendengarnya.
"Tentu, Mereka sangat senang mendapat rumah baru. Untuk sertifikat rumah panti yang baru, nanti Ica kasih ke Ibu untuk di simpan baik-baik. Ica setiap bulan akan kirim uang untuk keperluan kalian. Jadi Ica harap kalian bisa hidup dengan baik-baik, dan jangan sungkan untuk meminta bantuan Ica kedepannya" ucap Alyssa
"Terimakasih Ica, kau sangat baik. Ibu sangat menyanyangimu nak" ucap Bu Titik memeluk Alyssa
"Sama-sama. Ica juga sangat sayang sama ibu dan adik-adik panti" jawab Alyssa membalas pelukan lembut Bu Titik.
Setelah menengok Bu Titik, Alyssa dan Enzy hendak kembali ke Ibukota. Kini ia dan Enzy menaiki mobil menuju bandara. Walau bagaimana pun Alyssa adalah seorang mahasiswa dan mengambil dua jurusan sekaligus.
Ring! Ring! Ring!
Tiba-tiba HP Alyssa berbunyi, nama Denis muncul di layar. Alyssa langsung menjawab telepon itu.
"Halo Kak" ucap Alyssa
"Halo Al, kamu ada di mana sekarang?" Tanya Denis dengan nada seperti sedang panik dan suara yang serak.
__ADS_1
"Di kota M, kakak kenapa?" tanya Alyssa
"Kebetulan kamu ada di kota M, bisa kamu bantu kakak? Kakak mohon, tolong bantu papah. Kakak akan lakukan apa saja, asal kamu mau membantu kami" ucap Denis dengan nada memohon
"Ada apa Kak? Apa yang terjadi dengan Om Hilman? Al pasti akan bantu jika Al mampu" ucap Alyssa meyakinkan
"Terimakasih Al. Begini, aku dapat kabar dari orang yang bekerja di perusahaan Warman Group, jika saat ini kondisi Perusahaan sedang Failed. Dua pabrik mengalami ledakan dan terbakar. Dana perusahaan juga di bawa kabur orang kepercayaan papah. Banyak karyawan yang belum di bayar upahnya. Belum lagi biaya kompensasi untuk karyawan yang terluka karena ledakan di pabrik. Papah sekarang mengalami serangan jantung dan di rawat di rumah sakit. Kakak sudah cari tiket pesawat ke kota M namun kosong. Jadi kakak akan ke sana menggunakan jalur darat. dan kemungkinan 5 jam baru sampai. Tolong selamatkan papah dan perusahaan Al. Kakak mohon, kakak tidak tahu minta tolong sama siapa lagi. Karena sekarang keluarga Bryan juga dalam krisis keuangan dan tidak bisa membantu banyak. Dan hanya bisa membantu membayar kompensasi untuk korban yang terluka" ucap Denis
"Ya Tuhan! Kakak tenang saja, aku akan mengurus hal di sini. Kakak hati-hati di jalan, jangan pikirkan apapun, dan fokus berkendara" ucap Alyssa kemudian mematikan sambungan teleponnya.
"Enzy, putar balik ke rumah sakit. Kita tidak jadi pulang ke ibukota" ucap Alyssa
Kemudian Mereka kembali ke rumah sakit dan menanyakan perihal pasien yang di rawat karena serangan jantung, bernama Hilman Aditya Warman.
Setelah tahu kamar rawat inap Hilman di VIP No.6. Alyssa langsung bergegas menuju ke sana.
Alyssa mengetuk pintu kamar itu dengan pelan, lalu seseorang membukanya dari dalam. Yang ternyata adalah Tante Hesti.
"Om kamu, masih belum sadar Al, Hiks,, " ucap Hesti menangis di pelukan Alyssa
"Tante tenang ya, Al akan berusaha menyembuhkan Om Hilman" ucap Alyssa menenangkan Hesti
"Kak Al, Hiks... " ucap Desti yang bergantian memeluk Alyssa
"Cantik jangan nangis. Ada Kak Al di sini, kakak janji akan menyelamatkan dan menyembuhkan papah kamu, hmmm" ucap Alyssa
"Iya Kak, Hiks.. Bukannya kakak ahli pengobatan, tolong selamatkan papah. Desti akan lakukan apa saja asal papah sembuh" ucap Desti
"Iya, kakak akan berusaha semaksimal mungkin. Kamu dan dan mamah kamu duduk dlu, kakak mau periksa papah kamu" ucap Alyssa
Alyssa lalu mendekati Hilman lalu memeriksa nadi nya dan juga kondisi jantungnya yang saat ini melemah.
__ADS_1
Ia lalu mengeluarkan jarum perak apukuntur dari dalam tasnya, dan menyerahkan pada Enzy untuk di sterilkan dengan alkohol.
Kemudian ia melihat kondisi dari Hilman yang masih bisa tertolong.
Alyssa menekan sembilan jarum ke titik apukunturnya. Gerakan tangan Alyssa sangat luwes dan lembut, namun jarum itu menancapkan dengan stabil.
Setelah beberapa menit, Hilman membuka matanya. Semuanya mengucapkan syukur, karena Hilman sudah sadar. Alyssa kemudian mencabut jarum apukunturnya, lalu menuliskan resep obat yang harus di buat sekarang.
Alyssa menekan tombol di samping ranjang, Suster datang beberapa saat kemudian. Alyssa meminta Suster menyampaikan ke dokter jika Hilman sudah sadar dan ia menyerahkan resepnya untuk segera di buat.
Suster yang tahu jika Alyssa adalah pemegang saham terbesar di Health Hospital, bergegas menjalankan perintah dari bos besarnya itu.
"Apa yang paman rasakan?" tanya Alyssa
"Le-mas" ucap Hilman
"Bagaimana keadaan Papah Kak?" tanya Desti
"Tidak apa-apa, hanya perlu istirahat yang cukup. Om sekarang makan dulu, lalu nanti minum obat yang Al resepkan. Setelah dua hari Om pasti sembuh seperti sedia kala. Dan jantung Om tidak akan kambuh lagi" ucap Alyssa tersenyum
"Terima kas-sih" ucap Hilman masih lemas, lalu ia teringat perusahaannya yang hampir gulung tikar itu, lalu ia menangis
"Papah kenapa?" tanya Desti dan Hesti Khawatir
"Maaf, papah tidak bisa menyelamatkan perusahaan dan merepotkan kalian" ucap Hilman merasa sedih dan juga kecewa pada dirinya sendiri yang Bodoh sudah kecolongan hingga perusahaan hampir bangkrut.
"Papah jangan sedih, ada kita di sini. Uang bisa di cari lagi, perusahaan bisa di bangun lagi, yang penting sekarang papah sembuh dulu" ucap Hesti menangis
"Om tidak usah khawatir. Jika Om percaya, Al bisa bantu om untuk mengatasi masalah di perusahaan" ucap Alyssa
Sontak semua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke arahnya, menatapnya penuh dengan harapan yang besar pada Alyssa. Karena mereka yakin, Alyssa bisa menolong mereka.
__ADS_1