
Kini Alyssa, Juna dan juga Tama tengah duduk di ruang keluarga. Mereka membahas tentang kejadian sebenarnya yang terjadi pada Juna dan juga Ayahnya.
Meskipun Alyssa sudah mengetahui garis besarnya, namun ia ingin mengetahui versi lengkapnya sebelum bertindak.
"Jelaskan padaku, tanpa harus ada yang di tutupi atau di lebih-lebih kan" ucap Alyssa.
"Jujur saja aku bingung menceritakannya dari mana! Dan itu terlalu panjang. Mungkin aku akan meringkasnya sedikit" ucap Juna
"Jadi saat itu aku dan ayahku baru selesai menjalankan tugas negara dan ingin melapor ke atasan yaitu Mayjen Setyono. Namun saat di depan pintu kami berdua mendengar suara tembakan dari dalam ruangan. Kami bergegas ke sana untuk memeriksanya. Namun kami justru mendengar dan melihat sesuatu yang membuat kami terkejut, saat itu kami melihat Mayjen Setyono menembak mati salah satu perwira polisi. Dan dari percakapannya dengan dua orang lainnya di dalam ruangan. Aku dan Ayah mendengar jika ia menembak mati perwira itu karena perwira itu mengetahui sisi gelap dan tindakan penggelapan dana dan juga menerima suap yang di lakukan Setyono" ucap Juna
"Saat itu Ayah menarikku untuk segera pergi dari sana. Namun entah bagaimana, rumah kami tiba-tiba di grebek, tak lama setelah kami pulang dari kantor pimpinan, kurang lebih 2 jam setelanya. Yang lebih herannya lagi, mereka menemukan bukti penggelapan dana yang di lakukan oleh Mayjen Setyono justru berada di kamar ayah dan di kamarku dan bukti itu mengarah pada kami berdua. Sehingga kami di tetapkan menjadi tersangka" ucap Juna menahan emosinya, terlihat dari kepalan tangannya yang mengepal kuat.
"Saat itu Ayah dan aku membantah bukti yang sama sekali tidak kami tahu dan perbuatan yang tentu saja, tidak kami lakukan. Lalu kami di tangkap secara paksa. Saaat ada kesempatan, Ayah menyuruhku untuk kabur dan mencari bukti kebenarannya sendiri. Karena jika tidak, kami berdua akan di jadikan tersangka tanpa ada yang membela dan bukti yang sebenarnya" ucap Juna
"Lalu luka tembak ini?" tanya Alyssa menunjuk ke arah luka Juna
"Ini aku dapatkan saat memasuki hutan, aku di tembaki oleh sekitar tujuh orang dan salah satu dari mereka berhasil menembak kakiku sebelum aku berhasil kabur" ucap Juna.
"****!!!" teriak Alyssa saat menyadari jika orang-orang yang di lihatnya di hutan adalah orang yang sudah melukai kakaknya, dan tentu saja Alyssa geram marah karenanya.
"Kenapa Al?" tanya Juna heran
"Nggak apa-apa. Lalu apa kakak dan paman tidak mengatakan jika sebenarnya bajingan itu yang melakukan korupsi dan juga pembunuhan?" tanya Alyssa
"Sudah, tapi penyelidik mengatakan jika Setyono bersih dari segala tuduhan, karena tidak ada satu bukti pun yang mengarah padanya. Dan aku yakin jika CCTV di ruang kerjanya saat membunuh perwira itu, kemungkinan sudah di rusak" ucap Juna.
"Hmm, aku mengerti. Biar aku mencari tahu tentang hal itu. Kak Juna bisa memulihkan luka dulu, dan hubungi Diana. Aku yakin Anak itu pasti terkejut dan juga khawatir tentang keadaan kakak" ucap Alyssa
"Aku tidak yakin, mungkin dia mengira aku benar-benar seorang kriminal dan seorang buronan sekarang" ucap Juna tertunduk lesu dengan wajah sendunya.
"Aku yakin itu tidak mungkin.Aku mengenal Diana sangat dalam, dan dia bukanlah sosok gadis yang memandang sesuatu hanya dari satu sisi tanpa mengkonfirmasi pada yang bersangkutan terlebih dulu" ucap Alyssa
"Benarkah?" tanya Juna merasa sedikit ada harapan.
"Kakak bisa menanyakannya langsung padanya. Gunakan saja ponsel ini" ucap Alyssa menyodorkannya pada Juna.
__ADS_1
"Terimakasih Al, aku pinjam dulu ponselnya" ucap Juna kemudian beranjak menuju kamarnya.
Sedangkan Alyssa duduk di kursi dengan Tama yang hanya datar saja dan tidak menganggu tuannya yang sedang memikirkan sesuatu itu.
Alyssa memikirkan bagaimana caranya untuk memecahkan masalah ini. Bahkan Aras hanya mendapatkan bukti video pembunuhan dan pertemuan dengan dengan beberapa kolega Setyono. Setelah memulihkan bukti yang sebelumya di rusak oleh Setyono.
Tidak ada bukti penggelapan dana ataupun catatan penerima suap. Di rekening miliknya dan juga properti yang di miliki Setyono atas nama dirinya dan juga keluarganya tidak ada yang mencurigakan.
Alyssa memijat pangkal hidungnya, otaknya ia paksa untuk berputar lebih keras lagi. Lalu tiba-tiba ia duduk tegak dan memandang Tama dan jam tangannya bergantian.
"Aras" ucap Alyssa
"Saya nona" Jawab Aras
"Cari tahu, kegiatan Setyono dalam kurun waktu sebulan terakhir. Tempat mana yang paling sering ia kunjungi. Aku minta data itu paling lambat setengah jam" ucap Alyssa
"Baik" ucap Aras
"Dan Kau Tama, patahkan kedua kaki mereka yang menembaki Kak Juna!" ucap Alyssa
"Baik nona" Tama langsung menghilang setelahnya.
Baik itu hal baik maupun hal buruk, semuanya akan di balas dengan cara yang sama seperti yang orang lain lakukan padanya dan orang-orang yang ia sayangi.
....
Juna di dalam kamar memandangi ponsel milik Alyssa dengan sedikit ragu saat ingin menekan tombol untuk menelepon Diana.
Dia sedikit takut respons yang di berikan kekasihnya itu meleset dari dugaannya dan juga Alyssa. Namun dalam hatinya Juna merindukan dan butuh semangat dan dukungan dari Diana.
Dengan sedikit ragu-ragu, Juna akhirnya menekan tombol telepon.
Tuuuuttt Tuuuuuttt
Bunyi telepon terdengar, dengan detak jantung bergemuruh Juna menunggu telepon itu di angkat. Namun Diana tidak mengangkatnya, sampai Juna mencoba menghubunginya tiga kali.
__ADS_1
Juna menyerah dan menutup telponnya, namun dia urungkan saat suara yang sangat ia rindukan terdengar.
"Halo Al, maaf tadi aku sedang ada kelas. Ada apa kau menelepon ku?" ucap Diana
"Cabi..." panggil Juna
Degh!!!
Jantung Diana mendengar panggilan kesayangan dan suara kekasihnya, berdetak dengan kencang. Tak lama kemudian terdengar suara menangis di ujung telepon.
"Hiks...Hiks... K-kau kemana saja Hiks, ken-kenapa kau baru menelepon ku?" ucap Diana sambil menangis.
Untungnya dia berada di dalam toilet dan toilet sepi karena hanya dia sendiri saat itu yang berada di sana.
"Maafkan aku Bi, jangan menangis tolong, aku tidak sanggup mendengar nya" ucap Juna, ingin sekali ia menarik Diana masuk ke dalam dekapannya.
"Huuuuu huuuu apa yang sebenarnya terjadi? Kamu di mana? Apa kamu baik-baik saja di sana?" tanya Diana masih sesenggukan
"Ceritanya panjang sayang, aku baik-baik saja. Aku di tempat yang aman bersama Alyssa sekarang" ucap Juna
"Syukurlah hiks, aku lega mendengarnya" ucap Diana.
"Apa kau tidak membenciku? Kau sudah melihat beritanya bukan?" tanya Juna
"Selama kau menyangkal dan mengatakan tidak, aku akan mempercayai mu. Aku yakin kamu bukan orang seperti itu" ucap Diana
"Terimakasih sayang, jangan khawatir kan aku. Ada Al di sini yang membantuku untuk menemukan bukti kebenarannya. Dan tolong rahasiakan pada siapapun jika aku pernah menghubungi mu. Aku tidak ingin kau terlibat dalam masalah nantinya" ucap Juna
"Hmm aku mengerti" ucap Diana.
"Aku tutup dulu teleponnya, aku harap kamu bersabar dan menjaga dirimu baik-baik. Jangan sampai sakit karena memikirkanku. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja, dan setelah itu aku akan ke rumahmu dan melamarmu" ucap Juna
"Hmm, aku harap masalahmu cepat selesai. Kamu juga jangan lupa jaga kesehatan" ucap Diana.
Telepon itu berakhir dengan perasaan lega pada keduanya. Juna bersyukur Diana tetap mempercayai dirinya dan bertahan di sisinya juga mensuport.
__ADS_1
Diana juga merasa lega karena ia tahu keadaan Juna baik-baik saja. Setidaknya ia tahu kondisi kekasihnya itu.
...•••...